
Nico meyakinkan Reana dengan cara membakar foto gadis yang menjadi cinta pertamanya. Melihat itu Reana justru menangis. Gadis itu merasa kesedihannya tak sepadan dengan pengorbanan Nico. Reana menyayangkan Nico yang membakar satu-satunya foto kenangan cinta lamanya itu.
Nico yang melihat wanita itu tak bergerak dari tempatnya tapi justru berdiri menunduk sambil menangis di situ, Nico menjadi tak tega. Menganggap sikap ketusnya tadi yang menyebabkan Reana begitu sedih.
"Maafkan aku ya?" tanya Nico sambil memeluk Reana.
"Kenapa Kakak membakarnya?" tanya Reana dengan sesenggukan.
"Kenapa aku tidak boleh membakarnya?" ucap Nico balik bertanya.
"Nanti Kak Nico menyesal karena tak bisa melihatnya lagi," ucap Reana semakin terisak-isak bahkan membuat tubuhnya berguncang.
"Kalau aku tidak membakarnya, nanti malah kamu yang menangis," jawab Nico.
"Nggak apa-apa," jawab Reana lagi.
"Kamu pikir aku suka melihatmu menangis? Kamu pikir aku menikahmu untuk membuatmu menangis? Aku akan menyingkirkan apa pun yang membuatmu menangis. Meski itu adalah kenangan lamaku, satu-satunya kenanganku. Sesuatu yang tadinya sangat berharga bagiku, aku tidak peduli. Karena sekarang aku punya yang lebih berharga lagi. Kamu, satu-satunya yang berharga bagiku cuma kamu," ungkap Nico lalu mengecup bibir istrinya.
Reana menatap mata Nico. Ingin mencari kebenaran ucapan laki-laki itu di matanya. Reana mengira ucapan Nico hanya untuk menghiburnya. Namun, tak ada sedikit pun penyesalan di mata Nico melakukan semua itu. Nico tulus membakar foto itu tanpa ada penyesalan.
Meski tak ada penyesalan bagi Nico, bukan berarti Reana merasa lega. Reana tetap menyayangkan pilihan Nico. Bagi Reana lebih baik dirinya menangis daripada melihat Nico menyesal.
Nico ingin Reana melupakan kejadian tadi. Nico pun mengajak wanita cantik itu kembali ke kamar mereka. Saat melirik ke arah kamar itu, Reana melangkah ke kamar itu untuk menutup pintu. Reana pun menguncinya seolah-olah ingin mengurung kenangan Nico di dalam situ.
Keesokan harinya, Nico mengajak istrinya ke sebuah showroom. Menghadiahkan sebuah mobil untuk istrinya. Dengan raut wajah heran Reana menerima hadiah itu.
__ADS_1
"Tak lama lagi mungkin aku akan sangat sibuk. Mungkin sulit bagiku untuk menjemput dan mengantarmu. Aku juga tak setuju kalau kamu menggunakan taksi atau transportasi umum. Aku selalu khawatir sayang, melihatmu bertemu dengan orang-orang tak dikenal di luar sana. Kamu bersedia kan mengemudi sendiri?" tanya Nico.
Reana akhirnya mengangguk setuju. Kasih sayang Nico pada membuat laki-laki itu memperlakukan Reana seperti anak kecil. Namun, dapat dimaklumi. Setelah peristiwa demi peristiwa yang menimpa Reana, Nico merasa wajar untuk khawatir. Hal itu pernah diungkapkannya pada Rommy.
"Hidup Reana itu sering menyerempet bahaya," ucap Nico saat rasa khawatir Nico dianggap berlebihan oleh Rommy.
"Ya, benar juga, wajar jika kamu khawatir dia pergi sendiri dengan menggunakan fasilitas umum," ucap Rommy.
"Siapa orang yang kamu kenal yang pernah mengalami semua kasus ini, penculikan, penyekapan bahkan penembakan?" tanya Nico.
"Reana!" jawab Rommy langsung.
"Ya begitulah. Bagaimana aku tidak khawatir padanya. Kalau bisa dia itu aku kurung di rumah saja tapi apa mungkin? Dia pasti protes," ucap Nico.
Mereka pun tertawa bersama. Rommy adalah teman curhat Nico dalam segala hal. Masalah pribadi ataupun masalah bisnis. Nico sempat menyesali Rommy yang tak mau bekerja pada perusahaanya.
Nico pernah membayangkan Rommy yang akan menjadi personal assistant-nya. Begitu menggantikan posisi ayahnya, laki-laki itu langsung menawarkan Rommy posisi itu dengan gaji yang berkali lipat dibandingkan yang diterimanya sekarang ini. Namun, Rommy tetap menolak.
"Aku tak ingin persahabatan kita rusak karena pekerjaan. Banyak pertentangan, pemikiran yang berseberangan dalam berbisnis. Aku juga takut tak maksimal mengembangkan pemikiranku pada orang yang aku kenal, menimbang ini, menimbang itu hingga akhirnya kinerja menjadi tidak maksimal. Kamu juga sama, tak setuju dengan pemikiranku, kamu timbul rasa kesal, tak enak hati, kebencian, hingga akhirnya bisa merusak persahabatan," jelas Rommy.
"Aku selalu iri melihat rekan bisnis yang bersahabat dengan personal assistant-nya," ucap Nico.
"Itulah bedanya. Sahabat tak bisa menjadi personal assistant tapi personal assistant bisa menjadi sahabat. Kamu hanya perlu mencari seseorang yang cocok dengan cara berpikirmu," ucap Rommy.
"Kalau seorang cewek cantik boleh nggak?" tanya Nico bercanda.
__ADS_1
"Kalau pendapat pribadi aku membolehkan tapi kalau pendapat istri pasti tidak dibolehkan," ucap Rommy.
Mereka kembali tertawa. Makan siang itu menjadi sesi curhat sekaligus hiburan bagi mereka. Berhubung mulai hari itu Reana menggunakan mobilnya sendiri untuk pergi ke mana-mana hingga hari itu, Nico memiliki kesempatan untuk mengajak sahabatnya itu makan siang bersama.
Nico menjalani hari-hari baru dengan perasaan yang sedikit lega karena istrinya tak lagi menggunakan fasilitas umum. Mereka hanya perlu saling menelpon jika merasa rindu. Sesekali, jika mendapat waktu yang pas mereka bisa makan bersama.
Menggunakan mobil masing-masing bertemu di tempat yang dijanjikan. Terkadang mampir ke kantor, terkadang saling mengirim makanan. Hari-hari mereka lalui tanpa masalah. Di rumah pun, Reana dan mertuanya tak ada masalah.
Sejak tinggal bersama di rumah orang tua Nico itu. Situasi justru menjadi tenang. Ny. Cathrina melihat sendiri cara hidup Reana yang baik-baik saja. Tak ada masalah, saat diperiksakan ke dokter kandungan, kondisi kandungan Reana baik-baik saja karena itu Ny. Cathrina tak bisa menyalahkan Reana lagi. Semuanya berjalan dengan damai tanpa ada masalah lagi.
Seperti hari itu, Reana ingin mengetahui suaminya masih berada di kantornya. Reana pun ingin memberi surprise untuk laki-laki yang dicintainya itu. Reana pun menunggu giliran masuk ke ruangan suaminya sambil duduk di kursi tamu di ruangan sekretaris Nico.
"Apa sebaiknya saya coba hubungi Tuan Nico, Nyonya?" tanya sekretaris itu.
"Tidak usah! Biar saya tunggu saja," ucap Reana.
Wanita itu lebih memilih menunggu dibandingkan mengganggu urusan suaminya. Tak lama kemudian pintu ruangan Nico terbuka. Reana pun segera berdiri. Bersiap-siap dengan senyum terbaiknya. Namun, Reana terkejut saat melihat siapa yang keluar dari ruangan suaminya.
"Rebecca?"
"Oh! Kamu di sini? Sudah lama menunggu?" tanya Rebecca.
Menyadari ada yang berbincang di luar ruangannya, Nico segera datang untuk melihat. Laki-laki itu terkejut saat melihat istrinya sedang bicara dengan salah seorang manager perusahaannya. Nico tahu Reana pasti kaget dengan munculnya Rebecca di perusahaan suaminya itu. Rebecca bukan hanya sekedar musuh selama masa kuliah bagi Reana tetapi Rebecca adalah musuh selama-lamanya bagi Reana dalam memperebutkan cinta Nico.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1