Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 89 S2 ~ Di Apartemen ~


__ADS_3

Nico membuka pintu apartemennya setelah mendengar bunyi bel. Laki-laki itu terkejut saat melihat Reana telah berdiri di depan pintu apartemennya. Laki-laki itu termangu, antara percaya dan tidak percaya pada apa yang dilihatnya.


Setelah mencari-cari dan melakukan apa pun untuk mencari Reana, kini gadis itu justru muncul sendiri di depan pintu apartemennya. Nico khawatir kalau dirinya telah gila. Setelah merasa depresi karena kehilangan istrinya, kini istrinya tiba-tiba muncul tanpa tanda-tanda apa pun.


"Kak," ucap Reana dengan mata yang berkaca-kaca.


Setelah merindukan laki-laki itu sekian lama, akhirnya Reana berhasil bertemu lagi dengan laki-laki yang dicintainya itu. Namun, Nico sepertinya masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Reana maju lalu menyentuh lengan suaminya.


"Kak! Kak Nico!" ucap Reana mencoba menyadarkan Nico yang terpaku.


"Ini benar-benar kamu? Apa aku tidak bermimpi? Apa aku sudah gila?" tanya Nico bertubi-tubi.


"Nggak Kak, ini aku Reana, Kak Nico nggak mimpi. Kak Nico nggak gila. Ini benar-benar aku yang datang Kak. Aku ini Reana Kak!" ucap Reana sambil mengguncang-guncang tubuh Nico.


Melihat itu laki-laki yang tadi termangu kini sadar dan langsung memeluk tubuh gadis itu. Namun, Reana justru mendorong tubuh suaminya itu. Nico menatapnya heran. Melepas rasa rindu pada gadis itu justru dihalangi oleh Reana sendiri. Nico tak habis pikir.


"Aku kotor Kak," ucap Reana yang malu mengenakan gaun pengantinnya yang telah compang camping dan berkeringat setelah berlari dari area hotel bintang lima milik Tn. Malvin itu.


Nico mengangguk lalu mundur untuk mempersilahkan Reana masuk. Nico terpaku menatap penampilan Reana. Wajah yang lebam dan bibir yang berdarah ditambah lagi gaun pengantin yang telah robek di sana sini. Membuat laki-laki itu berpikiran lain.


Apa yang terjadi padanya? Kenapa sekarang dia bisa pulang sendiri? Apa yang dilakukan Tn. Malvin padanya? Gaun yang robek sana sini, wajah yang lebam dan bibir yang pecah. Apa yang Reana alami? Apa dia mengalami tindakan kekerasan seksual? Apa bajingan itu melecehkannya? Apa yang dialami Reana selama ini? Aku kotor? Apa maksudnya? Apa maksudnya ini? Batin Nico bertanya-tanya.


Reana meminta izin untuk membersihkan diri. Nico mengangguk mengizinkannya. Saat gadis itu berada di kamar mandi, Nico langsung menghubungi orang tuanya, ibu Ridha Lia juga teman-temannya. Semua mengucap syukur atas kembalinya Reana dalam keadaan selamat. Terlebih lagi Bu Ridha Lia yang tak putus-putusnya berdoa. Siang dan malam setiap saat teringat pada putrinya itu, ibu memilih tak menangis. Memilih berdoa lebih khusyuk untuk meminta perlindungan dari yang maha kuasa.


Tn. Malvin sayang padanya, dia tak akan menyakiti putriku. Tn. Malvin menculiknya karena terlalu mencintainya. Dia tak akan menyakiti putriku, dia tak akan menyakiti putriku, batin Ridha Lia.


Setiap saat meyakinkan hatinya kalau putrinya akan diperlakukan dengan baik oleh pengusaha kaya raya itu. Meski setiap hari berpikiran positif demi menguatkan hatinya, terkadang tetap timbul rasa khawatir. Saat seperti itu, ibunda Reana akan berserah diri dan berdoa meminta perlindungan untuk putrinya.

__ADS_1


Menjalani hari-hari dengan berharap segera mendapat kabar dari menantunya terkadang merasa lelah dan putus asa. Kini ibu itu dapat bernapas dengan lega setelah mendengar berita kepulangan Reana langsung dari menantunya. Ibu itu bersyukur dan berharap tak akan terjadi hal yang buruk lagi pada rumah tangga putrinya.


Dito dan Ardy langsung ingin datang mengunjungi sahabatnya. Namun, Rommy melarang mereka segera mengunjungi Nico dan istrinya. Rommy ingin sahabat-sahabatnya itu tak mengganggu kebersamaan Nico dan istrinya.


"Mereka baru saja bertemu lagi. Biarkan mereka, kita jangan menganggunya, nanti setelah beberapa lama, kita kunjungi mereka Ok?" tanya Rommy meminta persetujuan melalui sambungan telepon.


"Baiklah, sebenarnya aku sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Tn. Malvin selama ini pada Reana. Kenapa dia sulit ditemukan dan … ya sudahlah! Terlalu banyak yang ingin ditanyakan. Kamu benar Rom, jika kita datang pasti hanya akan mengganggu ketenangan Reana yang baru saja pulang. Kasihan dia, mudah-mudahan dia baik saja-saja. Dalam waktu dekat kita akan mengunjunginya Ok?" tanya Ardy yang selalu merasa bersalah pada Reana karena pernah berprasangka buruk pada gadis itu.


"Ya, kita doakan semoga mereka berdua baik-baik saja," ucap Rommy.


Mereka pun sepakat tak menemui Nico dan Reana dalam waktu dekat ini. Semua itu untuk memberikan kebebasan pada Nico dan Reana menjalani waktu bersama tanpa gangguan dari bermacam-macam pertanyaan yang timbul dalam otak mereka. Dalam hati mereka berharap Reana dalam keadaan baik-baik saja.


"Jangan ragu-ragu cerita padaku jika ada masalah, Ok?" tanya Rommy pada Nico melalui sambungan telepon itu.


"Ok! Jika aku butuhmu, aku akan menghubungimu lagi," ucap Nico.


"Baiklah, semoga semua baik-baik saja. Kami semua bahagia mendengar kepulangan Reana. Nikmatilah saat bersama kalian, kamu pasti sangat merindukannya bukan?" tanya Rommy.


Mereka pun mengakhiri percakapan melalui sambungan telepon seluler itu. Nico memandangi kamarnya di mana istrinya yang menghilang kini berada kamar itu. Rasa tak percaya membuatnya ingin masuk dan membuktikan kalau Reana benar-benar berada di kamar itu.


Jangan-jangan ini semua cuma khayalanku. Apa benar Reana ada di situ? Kenapa begitu senyap? Tak terdengar apa-apa? Jangan-jangan aku berhalusinasi karena telah putus asa, batin Nico bertanya-tanya.


Baru saja Nico hendak membuka pintu kamarnya ketika Reana muncul dengan mengenakan t-shirt longgar yang dulu pernah dia pakai. Nico terpaku menatap wajah yang dirindukannya itu. Namun, merasa miris saat melihat wajah Reana yang lebam.


Apa yang dilakukan Tn. Malvin padamu? Apa dia menyakitimu? Apa dia melecehkanmu? Apa dia memperkosamu sayang? Bagaimana caraku menanyakan semua ini tanpa menyinggung perasaannya? Batin Nico bertanya-tanya.


"Kak, aku pakai kaos ini lagi ya? Aku lupa tak punya baju di sini?" tanya Reana.

__ADS_1


Nico mengangguk. Reana pun mendekat tetapi merasa heran karena Nico yang tak lagi mau memeluknya. Gadis itu akhirnya memilih memeluk Nico terlebih dahulu. Dalam hatinya merasa Nico ragu-ragu memeluknya karena dirinya yang menolak dipeluk tadi.


Nico membalas pelukan Reana yang memeluknya erat. Rasa rindu yang bercampur khawatir membuat pelukan itu berlangsung lama. Nico bahkan merasa belum yakin meski telah merasakan tubuh gadis itu menempel padanya.


"Kak Nico, aku sangat merindukan Kak Nico," ucap Reana pelan.


Nico mengangguk, semakin yakin kalau Reana benar-benar telah pulang. Meski telah menelpon teman-temannya, saat melihat gadis itu yang selama ini hanya bisa dikhayalkannya membuat Nico merasa ragu antara kenyataan dan khayalan.


Reana mengangkat wajahnya lalu menatap wajah suami yang dirindukannya itu. Reana sendiri tak yakin bisa kembali ke sisi Nico jika tak melihat dan merasakan sendiri wajah dan tubuh suaminya itu. Gadis itu membelai wajah suaminya dan Nico hanya diam membiarkannya.


"Kakak nggak rindu padaku?" tanya Reana dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tentu rindu padamu. Saking rindunya aku merasa kalau aku ini sudah gila. Bahkan bicara denganmu saat ini pun aku masih belum percaya. Karena setiap hari aku menantikan saat-saat ini. Setiap hari aku mengkhayalkan bertemu denganmu," jawab Nico.


Tapi tak seperti ini, aku tak pernah membayangkan kamu akan muncul di depan pintuku setelah diculik sekian lama. Bagaimana kamu bisa bebas darinya dan pulang sendiri? Apa Tuan Malvin sudah bosan padamu? Setelah puas menikmatimu? Apa dia bisa hanya sekedar menculikmu lalu melepasmu begitu saja tanpa mendapatkan apa-apa? Lalu dari mana kamu mendapat luka-luka ini? Dari pemaksaannya bukan? Lalu apa yang kamu lakukan agar bisa pulang? Memenuhi kebutuhan biologisnya hingga dia bosan? Apa kamu diperkosa atau akhirnya menyerahkan dirimu sendiri agar bisa bebas. Oh ya ampun, aku bisa gila dengan semua pertanyaan ini, jerit hati Nico.


"Kak Nico kenapa?" tanya Reana saat Nico menjambak rambutnya sendiri.


Gadis itu menoleh ke sekeliling ruangan itu. Merasa tak yakin dengan apa yang dialaminya saat ini. Berada di apartemen Nico adalah khayalannya selama diculik. Bisa memeluk laki-laki yang dicintainya itu adalah hal paling diinginkannya. Namun, begitu menjadi kenyataan, dirinya sendiri menjadi ragu apa ini sungguh-sungguh terjadi.


Tiba-tiba Nico merasakan ponselnya yang bergetar. Laki-laki itu segera menerima panggilan telepon itu. Melepas pelukannya dan melangkah sedikit menjauh dari Reana.


"Ya! Shafira? Ada apa?" tanya Nico sesaat menerima panggilan telepon itu. 


Reana tertegun mendengar nama orang yang menelepon suaminya. Namun, Reana hanya bisa diam menunggu. Meski Nico menjarak dengannya tapi Reana bisa mendengar perkataan Nico dengan jelas. Gadis itu akhirnya memilih melangkah menuju dapur. Rasa ingin tahu mendengar percakapan Nico membuatnya tetap ingin bisa mendengar ucapan-ucapan Nico.


"Ya! Tidak apa-apa! Ya … ya … sayang sekali. Ok … sampai jumpa besok," ucap Nico mengakhiri sambungan telepon selulernya.

__ADS_1


Lalu menatap Reana yang telah mengucurkan air mata. Gadis itu menatapnya sambil menopang tubuhnya pada wastafel. Namun, Reana tak mengucapkan apa-apa selain tertunduk hingga air matanya jatuh satu persatu ke lantai.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2