Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 147 ~ Pergi ~


__ADS_3

Setelah berperang melawan hati, menerima Reana yang rela berkorban kehormatan demi dirinya atau melepaskan Reana yang telah ternoda oleh pilihannya sendiri. Laki-laki itu tak bisa tidur sama sekali bukan karena menunggu hasil penetapan pemimpin perusahaan selanjutnya tetapi karena keputusan yang akan diambil terhadap istrinya.


Kamu kurang ajar Reana. Aku sudah memintamu untuk jangan pergi. Aku tidak akan menerima laki-laki lain. Dia akan semakin menertawakan aku. Dia akan semakin merendahkan aku. Kamu pikir apa yang kamu lakukan itu menolongmu? Tidak! Kamu sama sepertinya, kamu menghinaku! Kamu anggap aku tak mampu memenangkannya tanpa bantuan tubuhmu. Kurang ajar! Istri kurang ajar! Semua kamu lakukan untukku? Bullshit, kamu yang ingin tidur dengannya. Dengan seseorang yang begitu memujamu. Dasar istri kurang ajar! Kurang ajar! Brengsek! Batin Nico memaki-maki Reana.


Hingga tengah malam bahkan melewati tengah malam. Laki-laki itu masih terus memaki istrinya. Menganggapnya istrinya pembangkang. Istri yang rusak. Murahan dan maki-makian lainnya. Hingga laki-laki itu akhirnya tertidur lelap di ruang kerjanya sendiri.


Pagi-pagi terbangun karena teriakan ucapan selamat dari para bawahannya. Mulai dari top level management, middle level management hingga first line management. Semua dengan bahagia, ceria mengucapkan selamat atas terpilihnya Nico kembali menjadi pimpinan di perusahaan itu.


Tak hanya ucapan selamat Nico menerima ucapan selamat dan rasa bangga dari para bawahannya itu melalui buket-buket bunga yang diberikan padanya. Diluar Nico tersenyum tetapi dalam hati menangis, meringis karena pedih. Membara karena kesal atas pilihan istrinya untuk membantu menyelamatkan posisinya.


Nico akhirnya pamit untuk beristirahat pulang setidaknya itulah yang dikatakannya pada para bawahannya. Mereka mengerti, mereka memahami, Nico pasti ingin membawa berita gembira itu pada keluarganya. Benarkah berita gembira baginya? Begitu sampai di basemen. Nico melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumahnya. Sambil sesekali melirik buket-buket bunga yang tergeletak di kursi sampingnya.


Ini untukmu Reana. Ambil semua buket bunga ini. Bunga-bunga ini sangat wangi. Bisa menutupi bau busuk tubuhmu. Ya, ini sebenarnya untukmu karena ini hasil kerja kerasmu. Selamat Reana, aku akan berikan semua untukmu. Seperti kamu yang telah memberikan semua keinginan laki-laki itu. Ambil, ambillah semua untukmu, batin Nico.


Begitu sampai di apartemen Nico langsung menatap wajah Reana yang menantinya dengan rasa bahagia. Dengan senyum mengembang di bibirnya karena akhirnya suami kembali setelah semalaman tak kembali.


Namun, apa yang didapatnya? Nico melempar semua buket bunga itu ke wajah Reana. Melihat itu Reana langsung sadar kalau laki-laki itu telah marah padanya. Dengan air mata yang langsung mengucur, Reana mengikuti langkah suaminya.


"Ada apa Kak? Kenapa? Kenapa Kakak marah?" tanya Reana dengan bersimbah air mata.


"Kamu sudah mandi belum? Bahkan wangi bunga sebanyak itu saja tak bisa mengalahkan bau busuk tubuhmu," ucap Nico sambil menatap tajam kearah Reana.


"Kakak? Kakak kenapa? Kenapa berkata seperti itu?" tanya Reana sambil menangis.


"Kenapa menangis harus kamu bangga, ini semua adalah ucapan karena aku berhasil mendapatkan posisiku kembali. Ambillah semua buket bunga itu untukmu, karena itu semua hasil kerja kerasmu," ucap  Nico.

__ADS_1


"Apa maksud Kakak?" tanya Reana.


"Laki-laki brengsek itu sudah mendukungku, aku tetap menjadi CEO di perusahaan itu. Ini hasil kerjamu memuaskan hasrat laki-laki itu–"


"Kakak bukan seperti itu!" ucap Reana langsung.


"Jangan bicara lagi padaku! Aku sudah bilang padamu! Jika kamu pergi temui laki-laki itu maka kamu bukan istriku lagi!" bentak Nico lalu masuk ke kamar dan menguncinya.


"Kakak buka pintu! Dengarkan aku kak! Aku mohon kak!" seru Reana sambil menggedor-gedor pintu.


"Pergi! Aku tak butuh istri pembangkangan sepertimu! Pergi!" bentak Nico.


"Kak, dengarkan aku. Aku mohon, dengarkan aku," seru Reana sambil menangis terisak-isak.


"Baiklah, kamu tidak mau pergi? Biar aku yang pergi!" ucap Nico lalu membuka pintu kamarnya dan langsung melesat meninggalkan apartemen itu.


Nico meninggalkannya. Nico tak ingin lagi bersamanya. Meskipun Reana berusaha menjelaskan tetapi laki-laki itu sedikit pun tak mau mendengar. Reana tahu suaminya pasti telah salah paham. Menuduhnya memenuhi permintaan Hasbi yang ingin bermalam dengannya. 


Kakak, aku tidak tidur dengannya. Aku tetap setia padamu. Aku tetap menjaga kehormatanku. Kak, dengarkan aku! Aku mohon kak, kembalilah padaku. Aku jelaskan semua padamu. Aku mohon dengarkan aku, batin Reana, menangis tertunduk di depan lift.


Sementara itu Nico pergi meninggalkan Reana dengan semua buket-buket bunga dari karyawannya. Nico ingin beristirahat tapi tak ingin kembali ke apartemen atau ke rumah orang tuanya. Akhirnya memilih tinggal di sebuah hotel. Seharian hanya termenung. Memikirkan nasib rumah tangganya. Demi Reana, demi menjaga kehormatan istrinya, Nico rela kehilangan segala-galanya. Kini dibalas dengan pengkhianatan antara istri dan rekan bisnis perusahaannya.


Reana berusaha menelpon Nico. Namun, ponsel laki-laki itu tak kunjung aktif. Tak henti-henti wanita itu menangis. Karena Nico yang tak kunjung mau menerima teleponnya. Reana akhirnya mencoba menghubungi Rommy.


"Kak Rommy tolong hubungi Kak Nico. Kak Nico nggak mau angkat teleponku," ucap Reana melalui sambungan telepon.

__ADS_1


"Reana, kamu dengar sendiri ucapannya semalam kan? Dia memintamu jangan pergi. Kenapa kamu membangkang perintahnya?" tanya Rommy.


"Kak, aku tak bisa diam begitu saja melihat Kak Nico putus asa. Aku harus lakukan sesuatu untuk menolongnya kak," ucap Reana.


"Dengan menyerahkan diri pada laki-laki lain? Apa kamu tidak menimbang perasaannya. Coba bayangkan bagaimana sakit hatinya membayangkan istri yang dicintainya tidur dengan laki-laki lain demi untuk menolongnya? Mungkin dia lebih memilih perusahaannya hancur daripada hatinya yang hancur. Reana, kakak tak bisa membantumu, kakak juga kecewa padamu," ucap Rommy lalu memutus sambungan teleponnya.


Reana termangu menatap sambungan ponselnya yang telah terputus. Bahkan Rommy pun tak mau membantunya menemukan Nico. Reana merasa dirinya sendirian menghadapi kesalahpahaman ini.


Reana mencoba mengirim pesan, menceritakan semua kejadian di malam itu di hotel. Namun, belum sempat terkirim wanita itu akhirnya membatalkannya. Nomor telepon Reana telah diblokir Nico.


Teganya Kakak memblokir nomor teleponku, benarkah kita tak akan bisa bersama lagi? Kakak salah paham padaku. Kakak pasti membenciku karena mengira aku tidur dengan Hasbi. Kakak salah paham. Aku tidak tidur dengannya, batin Reana menangis.


Begitu sedih karena nomor telepon telah diblokir. Sejak mengenal Nico, begitu banyak kesalahpahaman antara mereka. Namun, tak pernah Nico memblokir nomor ponselnya. Kini Reana merasa Nico sangat membencinya karena masalah ini.


Setiap hari mencoba untuk menghubungi Nico. Berharap kemarahan Nico telah mereda. Namun, hingga beberapa hari, Reana masih belum bisa menghubungi istrinya. Wanita itu akhirnya mencoba mendatangi rumah mertuanya. Sayang yang menemuinya hanyalah Angelica.


"Kak Nico nggak ada. Dia tidak mau pulang ke apartemen karena kamu. Wajarlah, kamu pasti tak becus mengurusnya. Kamu juga tak pantas untuknya. Mungkin karena dia tak ingin lagi bersamamu. Makanya dia kabur darimu setelah merasakan layananku. Kemarin Kak Nico datang mengabarkan pada Mommy dan Daddy kalau dia telah terpilih lagi jadi CEO. Kami semua bahagia. Lalu dia minta minum untuk berpesta dan kami tidur bersama," jelas Angelica sambil tersenyum-senyum.


Reana tertunduk, rasanya tak ingin percaya ucapan wanita itu. Tetapi Nico benar datang untuk memberi kabar pada orang tuanya. Reana hanya ingin percaya bagian itu saja, tapi Reana tak bisa menampik rasa cemburunya mendengar ucapan Angelica.


Wanita itu akhirnya meninggalkan rumah megah itu sambil tertunduk. Melajukan mobilnya di jalanan berharap melihat Nico. Wanita itu juga telah mencari hingga ke kantor. Nico hanya memberi kabar kalau dirinya tak masuk untuk beberapa hari.


Reana memarkirkan mobilnya di basement apartemen dengan wajah murung. Tiba-tiba Reana melihat mobil Nico melintas di depannya. Wanita itu langsung mengejar dan sambil memanggil nama Nico.


"Kak! Tunggu,aku mau bicara. Kak kembali! Kak Nico! Kak Nico!" teriakan Reana.

__ADS_1


Sambil menangis wanita itu terus berlari, mengejar dan memanggil. Suaranya menggema menyayat hati. Nico sendiri hingga menangis mendengarnya tetapi tak membuat Nico mengurangi laju kecepatan mobilnya. Justru menambah kecepatan laju mobilnya. Nico tak sanggup mendengar suara tangis memanggil itu menggema di lantai basement hingga terdengar di telinganya.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2