Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 151 ~ Gadis Beruntung ~


__ADS_3

Nico menyusul Reana ke kampung halaman istrinya itu. Begitu merindukan wanita itu membuat Nico tak peduli lagi dengan masalah yang menimpa rumah tangga mereka. Cinta itu memaafkan, kata-kata Rommy itu selalu terngiang-ngiang di telinganya. Nico ingin memaafkan Reana dan melupakan semua yang terjadi antara wanita itu dan Hasbi.


Namun, saat berdiri menatap ke dalam rumah, hatinya ragu. Apa cinta Reana juga bisa memaafkan? Langkahnya langsung terhenti, terpaku. Derasnya hujan tak disadari hingga Reana muncul, berlari dan berhenti di hadapannya. Nico bahagia wanita itu masih begitu perhatian padanya.


Kata-kata maaf cukup untuk merubah semuanya. Tak perlu alasan ataupun penjelasan, karena mereka sama-sama saling merindukan, saling membutuhkan dan saling ingin menyalurkan hasrat cinta. Hujan membuat bibir mereka menyatu, tubuh mereka menyatu dan hati mereka menyatu.


Saat terbangun, Nico seperti tak percaya. Setelah melewati hari-hari sepi di kamar hotel. Ditemani bisikin Angelica  yang membuat kepalanya terasa pecah. Nico memilih melewati malam di sebuah Night Club. Tempat di mana orang-orang yang tak ingin melewati rasa sepi seorang diri. Night club meski ramai dan hingar bingar tetap membuat hati Nico terasa sepi.


Berbeda dengan saat ini, Nico merasakan hatinya terasa penuh. Terasa indah dengan bunga-bunga. Begitu indahnya serasa hampir tak percaya. Dalam pelukannya, ada seseorang yang begitu dicintainya.


"Aku mencintaimu," bisik Nico lagi.


Tak peduli didengar Reana atau tidak. Yang terpenting baginya, hanya ingin menyampaikan apa yang dirasakannya. Gerakan Nico mengecup bibir wanita itu membuat Reana terbangun. Perlahan merasakan tarikan lembut di bibirnya berulang kali. Membuat wanita tak tahan ingin membuka matanya.


"Oh, ternyata sudah bangun. Maaf ya aku membuatmu bangun," ucap Nico pelan.


"Sekarang aku tidur harus hati-hati. Ada pencuri di sini–"


"Apa?" 


Nico langsung kaget. Bagaimana Nico tidak kaget, mana mungkin dia membiarkan istrinya yang cantik tinggal dilingkungan yang ada pencuri. Namun, melihat kepanikan Nico Rena Justru tertawa. Wanita itu menangkup wajah suaminya lalu berkata sambil tersenyum.


"Pencurinya ada di rumah ini, seorang pencuri ciuman," ucap Reana sambil menahan senyum.


Merasa dikerjai, laki-laki itu langsung menggelitik pinggang istrinya. Reana tertawa tak bisa menahan geli. Mendengar suara itu Bu Ridha Lia tersenyum sambil mengangguk-angguk.


Ibu itu sadar dalam rumah tangga ada kalanya datang masalah. Asalkan cinta tetap ada, masalah itu akan bisa terlewati. Sambil bersiap-siap ibu itu tersenyum mendengar suara tawa putrinya. Tiba-tiba hening, ibu itu menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum. Bu Ridha Lia berpikir putri dan menantunya kembali bercumbu.


"Mama, maaf Reana telat bangun," ucap Reana mengagetkan Bu Ridha Lia hingga mengurut dada. Reana tertawa.


"Ngapain kamu di sini? Sana temani suamimu di kamar," ucap Ridha Lia.


"Aku di sini Ma," ucap Nico.


Bu Ridha Lia membalik badan karena tak menyangka menantunya juga masuk ke dapur itu. Ibu itu langsung tertawa melihat Nico yang mengenakan celana pendek dan baju kaos milik Reana. Celana begitu pendek dan kaos yang begitu ketat.


"Manis sekali kamu, jangan sampai kelihatan orang ya nanti kamu dilamar ibu-ibu buat putra mereka–"


"Ya ampun Ma, memangnya aku banci? Perkasa begini," tanya Nico sambil menunjukkan otot lengannya.

__ADS_1


"Awas nanti robek," ucap Ridha melihat baju Reana yang begitu sempit bagi Nico.


"Salah sendiri ke sini nggak bawa baju," ucap Reana sambil tersenyum sambil memasukkan pakaian mereka yang basah semalaman ke dalam mesin cuci. Bu Ridha menggelengkan kepalanya. 


"Ayo kita cari baju Papa dulu. Mama masih menyimpan di lemari. Meski tak dipakai lagi, satu kali dalam sebulan tetap Mama cuci," ucap Ridha Lia mengajak menantunya memilih pakaian.


Mereka masuk ke kamar yang tak terlalu luas itu. Sementara Bu Ridha dan Reana memilih pakaian yang cocok, Nico melihat ke sekeliling ruangan hingga akhirnya melihat foto ayah Reana terpampang di dinding.


Mata Nico terpaku pada foto itu. Laki-laki itu merasa seperti mengenali. Namun, semakin semakin diperhatikan semakin lupa. Laki-laki itu penasaran dan tetap mencoba mengingatnya.


"Lihat apa?" tanya Reana.


"Ini foto almarhum Papa?" tanya Nico yang dibalas dengan anggukan oleh Reana.


"Seperti pernah mengenal? Wajahnya seperti sudah pernah melihat," ucap Nico.


"Tentu saja seperti sudah pernah melihat, ni … kamu sudah melihatnya di wajah istrimu," ucap Ridha Lia sambil mengarahkan wajah Reana pada Nico. Laki-laki itu tersenyum.


"Semua orang bilang Reana itu mirip papanya. Mereka juga bilang anak perempuan yang mirip dengan papanya pasti beruntung," ucap Ridha Lia.


"Ternyata nggak ya Ma?" tanya Reana.


"Nggak beruntung," ucap Reana sambil matanya mengitari kamar sederhana ibunya.


Ibu itu langsung memutar tubuh putrinya menghadap ke arah Nico. Terlihat wajah laki-laki itu yang berubah murung. Reana tak mengerti ibunya memaksa untuk menatap suaminya.


"Siapa yang bisa mendapatkan dia itu sangat beruntung. Siapa yang bisa menyangka, gadis seperti kamu bisa mendapatkan laki-laki setampan dan sehebat itu?" ucap Ridha Lia.


Mendengar itu, Nico langsung tersenyum. Reana pun tersenyum. Wanita itu lupa, bisik-bisik para undangan pernikahan mereka. Ada yang menilai Nico beruntung, ada yang menilai Reana yang beruntung. Reana juga lupa begitu banyak wanita-wanita yang iri padanya karena bisa mendapatkan Nico.


"Tapi kita suruh ganti baju dulu, kalau nggak keberuntunganmu bisa hilang. Dilamar juragan bawang jadi istri yang keempat," ucap Ridha Lia.


Membuat Reana tertawa. Teringat cerita ibunya yang mengatakan juragan bawang itu matanya lamur. Semakin tertawa membayangkan Nico yang berkulit putih halus itu kalau diberi lipstik.


"Ya, juragan itu bisa jatuh cinta sama Kakak," ucap Reana sambil tertawa.


Yang ditertawakan jadi salah tingkah. Ibu Ridha menyerahkan kemeja dongker polos lengan panjang itu dan juga celana panjang milik papa Reana. Wanita itu membantu mengenakan pada suaminya sementara Bu Ridha Lia melanjutkan menyiapkan barang-barang dagangan.


"Wah ganteng sekali pake baju papa. Mama bisa jatuh cinta sama kakak," ucap Reana sambil tertawa.

__ADS_1


"Enggak lah mama tahu aku ini sudah dikontrak seumur hidup oleh putrinya," ucap Nico.


Membuat hati Reana melambung. Kata-kata seumur hidup membuat laki-laki itu menjadi miliknya selama-lamanya. Melihat istrinya yang terharu membuat laki-laki itu ingin menambah rasa haru di hatinya dengan memeluk dan mencium bibirnya. 


"Gimana? Pas nggak?" tanya Ridha Lia dari luar kamar. Mereka langsung melepas ciuman itu dan langsung menjawab.


"Pas Ma," ucap mereka serentak.


"Kompak gitu jawabnya," ucap Ridha Lia dari balik pintu.


Mereka tertawa lalu saling tatap dan tersenyum. Nico meraih tangan istrinya, mengecup telapak tangan itu sambil memejamkan matanya. Lalu mengecup kening wanita itu lekat-lekat.


"Mama salah! Bukan kamu yang beruntung dapatkan aku tapi aku yang beruntung dapatkan kamu," ucap Nico dengan tatapan sendu. Reana terdiam.


"Aku aduin ke Mama, berani bilang mama salah," ucap Reana langsung berlari keluar dari kamar sambil tertawa.


"Ya ampun," ucap Nico. Langsung menyusul istrinya ke dapur.


"Itu Ma, orangnya Ma," ucap Reana sambil berdiri di belakang ibunya.


Bu Ridha Lia langsung menatap Nico yang sekarang sudah mengenakan celana dan baju suaminya. Menatap dari bawah hingga ke atas. Lalu menoleh ke arah putrinya.


"Tapi emang benar kok, ucapan dia," ucap Ridha Lia yang membuat Reana terperangah.


"Tadi Reana bilang apa Ma?" tanya Nico.


"Kamu bilang kalau kamu lebih ganteng daripada suami mama," ucap Ridha Lia.


"Saya nggak ngomong gitu Ma," ucap Nico.


Keduanya pun tertawa, membuat Nico menjadi bingung. Mereka pun bersiap-siap untuk membantu ibu itu berjualan di kantin sekolah. Padahal Bu Ridha Lia sudah menolaknya.


"Sudah kalian di rumah saja," ucap Ridha Lia.


"Nggak apa-apa Ma, biar dapat pengalaman. Masa saya kalah sama Reana," ucap Nico.


Bu Ridha Lia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Mereka pun bersiap-siap untuk berangkat menuju sekolah. Langkah Reana dan Nico terhenti saat melihat Yose yang sedang melangkah di halaman rumahnya.


Saat melihat Reana yang bergandengan tangan dengan Nico. Yose langsung tahu kalau laki-laki di hadapannya itu adalah suami Reana. Wanita itu pun mengenal suaminya pada Yose.

__ADS_1


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2