
Kelas Reana telah bubar tapi Nico tak mendapati Reana dimanapun.
Dimana dia ? bukankah Reana tau kalau aku akan menjemputnya ? pikir Nico.
Laki-laki itu langsung mengambil ponselnya dan menelpon Reana.
"Reana kamu dimana ? " tanya Nico.
Reana mengangkat telepon dari Nico didepan tuan Malvin yang mengawasinya.
"Maaf kak, saya nggak bisa menunggu kakak, ada yang harus saya kerjakan" jawab Reana dengan perasaan yang tak menentu.
"Baiklah, tapi kamu dimana ? setelah selesai hubungi aku, agar aku bisa menjemputmu" ucap Nico lagi.
"Nggak usah kak, saya bisa pulang sendiri, saya juga nggak tau kapan selesainya" tolak Reana secara halus.
Setiap kali menjawab ucapan Nico, mata Reana melirik tuan Malvin, berjaga-jaga kemungkinan tuan Malvin tidak menyukai apa yang diucapkannya.
"Tolonglah Reana, biarkan aku menjemputmu, bukankah aku sudah berjanji akan mengantar dan menjemputmu kemanapun kamu pergi" sahut Nico merasa aneh dengan sikap Reana.
"Maaf kak Nico, maaf saya harus menutup teleponnya, maaf" ucap Reana segera mematikan ponselnya.
Tangan gadis itu gemetar, tak sanggup berbicara dengan Nico lebih lama. Reana tertunduk, air matanya berlinang.
"Tolong tuan, biarkan saya pulang" ucap Reana gemetar.
"Dan membiarkanmu bertemu dengan laki-laki itu ?" ucap tuan Malvin bersandar pada kursinya.
"Beri saya kesempatan berpamitan dengannya" mohon Reana.
"Tidak perlu" ucap tuan Malvin singkat.
"Saya juga harus bicara dengan ibu kost, saya tidak mungkin menghilang begitu saja" lanjut Reana.
"Aku yang akan menjelaskannya, kamu juga tidak perlu mengambil barang-barangmu, karena aku sudah menyiapkan segala keperluanmu" ucap tuan Malvin berdiri dari tempat duduknya dan menarik tangan Reana mengikutinya.
Gadis itu berjalan menyusuri ruangan demi ruangan hingga akhirnya tuan Malvin membuka lebar pintu double dihadapannya. Sebuah kamar bergaya klasik yang di design dengan perabotan dan segala ornamen serta elemen dekoratif yang juga mewah.
Pandangan mata Reana mengelilingi ruangan yang penuh dengan sentuhan dan aksen mewah pada hampir semua layer. Dekorasi dinding, teknik ukir dan pahat pada furnitur, hingga pilihan dan kombinasi warna yang lembut dan menenangkan.
Reana menatap kagum aksesori cermin serta gorden pada jendela, tempat tidur bergaya klasik dengan ukiran, pahatan dan teknik sepuhan adalah hasil kreasi yang sempurna.
Lapisan bantal dan sprei dengan kombinasi warna di atas tempat tidur juga menciptakan nuansa dan kemewahan yang melimpah.
"Kamu tidak perlu mengambil barang-barangmu, aku sudah menyiapkan semuanya untukmu" lanjut tuan Malvin sambil bergerak menuju walk in closet.
Sebuah ruangan untuk menyimpan pakaian dan aksesoris pendukung penampilan seperti sepatu, tas, handuk, perhiasan yang memungkinkan pengguna masuk ke dalamnya.
Dilengkapi dengan fasilitas kegiatan merias diri dan menampung produk perawatan dan kecantikan. Walk in closet dengan lampu chandelier dengan ornamen kristalnya dan closet island dengan menambahkan sofa di tengah ruangan.
Sistem ruangan yang hanya dinikmati oleh kalangan masyarakat menengah ke atas yang memiliki gaya hidup modern.
Dan semua itu dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan Reana. Namun Reana tidak tergiur, gadis itu hanya kagum sesaat. Lalu kembali pada pribadi sederhananya.
Kebahagiaan baginya tidak terletak pada harta, tapi dari hati. Ketulusan hati Nico yang dapat mengubah perasaan Reana dari seseorang yang dibenci menjadi seorang yang sangat berarti.
Meskipun sering mendapat penolakan dari Reana tapi Nico selalu datang dan berusaha membuat Reana bahagia, walau kadang hatinya tersakiti berkali-kali.
Nico berusaha selalu ada untuk Reana. Saat Reana bersedih dan membutuhkan teman. Nico datang untuk menghiburnya, menjadi seseorang yang bisa diandalkannya.
Bagaimana dengan tuan Malvin ? bukankah tuan Malvin juga seperti itu. Memberikan segalanya untuk Reana, melepaskan waktunya yang sangat berharga hanya untuk bertemu dengan Reana.
Tuan Malvin hanyalah seseorang yang terlambat, Nico telah lebih dulu mengisi hati Reana, dan sayangnya gadis itu bukanlah gadis yang mudah berpindah ke lain hati.
"Tuan saya mohon, biarkan saya pulang, saya belum siap" mohon Reana.
"Maaf Reana, aku terpaksa, aku sudah memutuskan pernikahan kita akan diadakan dalam minggu ini, kamu harus belajar melupakan laki-laki itu, dan itu dimulai dari sekarang" ucap tuan Malvin tegas.
Reana terbelalak, kakinya lemas tak berdaya, gadis itu jatuh terduduk di lantai, air matanya mengalir deras, Reana tak peduli suara tangisnya terdengar ke seluruh ruangan. Gadis itu tak ingin berpura-pura tegar lagi, Reana tak sanggup menahan lagi.
Disisi lain, Nico merasa ada yang aneh dengan Reana. Gadis itu tiba-tiba menutup teleponnya. Nico duduk dibangku berpikir apakah dia telah berbuat kesalahan. Pagi ini mereka bertemu, semuanya terlihat baik. Reana telah menerimanya kembali.
Rommy melihat Nico yang kebingungan. Melangkah cepat mendekati sahabatnya itu, dan duduk disampingnya.
"Tadi, ada kejadian yang menghebohkan disini" ucap Rommy bingung bagaimana memulai pembicaraan.
Nico mendengarkan.
__ADS_1
"Gue rasa dia adalah tuan Malvin yang pernah loe ceritain" lanjut Rommy.
Nico terkejut mendengar Rommy menyebut nama tuan Malvin.
"Dia kesini ? apa yang dilakukannya disini ? dia masuk ke kampus ini ?" tanya Nico dengan suara yang semakin meninggi.
"Dia membawa Reana" ucap Rommy dengan wajah menyesal.
Ucapan Rommy seperti petir yang menyambar. Nico langsung beranjak pergi, berlari.
"Nic, mau kemana, gue ikut ama loe" teriak Rommy mengejar.
Nico melarang Rommy mengikutinya. Dia terus berlari sekencang-kencangnya. Nico pernah mengalami ini sebelumnya, menghadapi pengawal-pengawal tuan Malvin untuk merebut Reana. Membawa Rommy hanya akan membuat sahabatnya terluka.
Nico parkir di basement hotel dengan tergesa-gesa. Segera memasuki lobby hotel dan menanyakan keberadaan tuan Malvin. Resepsionis yang tidak bisa menjawab pertanyaan Nico menjadi sasaran kemarahannya.
Nico semakin panik karena tak kunjung menemukan Reana. Laki-laki itu memaksa bertemu tuan Malvin tapi resepsionis tak bersedia menunjukan kantor tuan Malvin, bahkan memanggil security untuk memaksa Nico pergi.
Security itu bukanlah lawan Nico. Dengan mudah para security dikalahkan, seorang resepsionis melaporkan kejadian tersebut pada atasannya. Tak berapa lama kemudian muncul seorang bapak-bapak berumur lima puluh tahunan.
"Mengamuk membabi-buta tidak akan menyelesaikan masalah" teriak bapak-bapak yang tak lain adalah Manager Hotel.
Nico menghentikan perkelahiannya dengan para security dan langsung menemui bapak yang terlihat berwibawa itu.
"Dimana tuan Malvin, tunjukkan dimana kantornya ?" teriak Nico pada Manager hotel itu.
"Apa kamu tidak pernah diajari bagaimana cara berbicara dengan orang yang lebih tua?" tanya bapak itu dengan tenang.
Nico tercenung, sesungguhnya Nico adalah orang yang selalu bersikap sopan dan selalu menjaga tata krama dan etika. Tapi rasa panik yang dirasakan Nico membuat laki-laki itu lupa.
Nico terdiam, para security langsung memegangi kedua tangan Nico. Manager hotel itu mengangkat tangannya meminta security itu melepaskan Nico. Security urung membekuk Nico.
Manager hotel itu meminta para security untuk meninggalkan mereka dan melanjutkan pekerjaannya.
"Tolong pak, berita tau saya dimana tuan Malvin?" ucap Nico lebih tenang.
"Tidak ada diantara kami yang tau keberadaan tuan Malvin, kami akan mengetahuinya hanya jika tuan Malvin sendiri yang memberi tau" jawab bapak itu.
"Tapi saya harus menemukan pacar saya, dia telah membawanya" ucap Nico, dadanya turun naik terasa sesak.
"Tuan Malvin adalah seorang pengusaha yang sangat sukses. Hotel miliknya tidak hanya hotel ini, selain hotel, tuan Malvin juga memiliki resort dan villa-villa yang tersebar di seluruh negeri ini.
Nico semakin panik, laki-laki itu meremas rambutnya, tak tau apa yang harus dilakukannya.
"Kamu tidak bisa mengalahkan seseorang hanya dengan mengikuti kemarahanmu, tidak bisa hanya dengan mengikuti jiwa mudamu. Kalahkan seseorang dengan mengikuti cara berpikirnya, dengan menggunakan prinsipnya" jelas Manager Hotel memberi nasehat.
Nico tercenung, heran dengan pemikirannya Manager Hotel itu.
"Tuan Malvin adalah seorang penakluk, dia tidak bisa menerima kenyataan nona Reana adalah gadis yang sulit ditaklukkannya" ucap Manager hotel itu.
"Bapak mengenal Reana ?" tanya Nico heran.
"Seperti yang saya katakan, kami akan mengetahui apapun yang tuan Malvin ingin, untuk kami ketahui" jawab Manager Hotel itu.
"Tuan Malvin tak mungkin memaksa gadis itu untuk berhenti kuliah bukan ? tentu saja kamu masih bisa menemuinya di kampus" saran bapak itu.
"Tapi pak, saya harus segera menemukannya, setiap detik tuan Malvin bersama Reana adalah sebuah penyiksaan bagi saya, saya seperti hidup di neraka" ucap Nico, sebulir bening menitik dari sudut matanya.
Manager hotel itu menghembuskan nafas berat melihat kesedihan Nico, sedikit banyak dia merasa kasihan dan prihatin dengan nasib laki-laki muda itu.
"Saya beritahu sebuah rahasia, tuan Malvin tidak akan memaksa seorang gadis, menurutnya itu adalah perbuatan rendah, tuan Malvin selalu menjaga kehormatan dan martabatnya.
Satu-satunya hal yang dilakukannya, hanyalah berusaha membuat seorang gadis menyerah dengan sendirinya. Apakah menurutmu nona Reana adalah orang mudah menyerahkan dirinya ?" tanya Manager Hotel itu.
Nico tercenung, hati laki-laki itu sedikit lega, menurutnya Reana bukanlah gadis seperti itu dan jika tuan Malvin benar-benar seorang yang bermartabat maka seharusnya laki-laki itu tidak akan memaksa Reana.
"Itu salah satu cara mengalahkan seseorang dengan cara menggunakan prinsipnya" ucap Manager Hotel itu menepuk bahu Nico sambil berlalu.
Nico memutuskan pergi ke rumah kost Reana. Laki-laki itu berharap bisa menemui gadis itu disana. Tapi rumah kost Reana tidak menerima tamu laki-laki hingga akhirnya Nico hanya bisa menunggu.
Nico telah mencoba menghubungi Reana tapi gadis itu tak mengangkat telponnya. Nico sangat khawatir karena itu, tapi ucapan Manager Hotel tadi membuatnya sedikit lega.
Dua orang gadis keluar dari rumah kost, Nico bertanya pada mereka, tapi tak satupun dari mereka yang yakin dengan jawabannya. Nico teringat pada restoran, ada kemungkinan gadis itu berada disana.
Tapi Nella mengabarkan kalau Reana meminta izin tidak masuk kerja. Tentu saja Nella sangat penasaran dengan apa yang terjadi hingga Nico menelponnya. Tapi Nico sendiri tak bisa menjelaskannya.
Akhirnya Nico memutuskan untuk pulang, laki-laki itu akan mencoba menemui Reana sehabis kuliah besok. Sementara itu dirumah tuan Malvin, Reana hanya diam memandang ke luar jendela.
__ADS_1
Bosan memandang keluar jendela gadis itu beralih memandang sekeliling ruangan, kamar bergaya klasik ini sangat indah, bahkan terlalu indah untuk disebut kamar tapi gadis itu justru merasa seperti di penjara.
Mungkinkah ini penjara yang dikatakan tuan Malvin, dia tidak takut dipenjara karena selama ini telah hidup didalamnya, pembohong, bagaimana mungkin orang merasa dipenjara dirumahnya sendiri, batin Reana.
Terdengar ketukan pintu, seorang gadis muda berwajah lugu masuk dengan menunduk.
"Maaf nona, tuan Malvin meminta nona turun untuk makan malam" ucap gadis bersuara lembut itu.
Reana memalingkan wajahnya, rasanya enggan untuk bertemu apalagi makan malam dengan tuan Malvin.
Apa yang akan terjadi kalau saya menolak ? apa gadis ini akan mendapat masalah ? batin Reana.
"Katakan padanya kalau saya tidak lapar" ucap Reana.
"Tapi nona, tuan pasti akan menyuruh saya kembali" ucap gadis itu ragu-ragu.
Gadis itu masih sangat muda, wajahnya sangat lugu, Reana merasa kasihan, jika gadis itu mendapat masalah karenanya. Akhirnya Reana setuju untuk makan malam.
Reana duduk didepan tuan Malvin, begitu banyak hidangan yang tersaji diatas meja makan dengan ukiran bergaya klasik ini. Gadis berwajah lugu tadi melayani Reana.
Begitu banyak gadis-gadis di sekeliling tuan Malvin, kenapa tuan Malvin tidak menikahi salah satu diantara mereka ? pikir Reana.
Reana memusatkan perhatiannya pada makanan didepannya karena gadis itu merasa tuan Malvin sedang menatapnya.
"Reana, kenapa kamu tidak mengganti pakaianmu. Semua yang ada walk-in closet itu adalah milik mu" ucap tuan Malvin mengingatkan Reana.
"Saya merasa tidak pernah membelinya" ucap Reana singkat.
"Aku membelikannya untukmu"
"Saya tidak pernah memintanya"
Tuan Malvin terdiam.
"Kamu berbeda dengan ibuku" ucap tuan Malvin pelan.
Reana memandang tuan Malvin, merasa aneh dengan nada suara itu.
"Ibuku rela meninggalkan aku dan ayahku demi harta. Memilih menikahi atasan ayahku yang jatuh cinta padanya" cerita tuan Malvin dengan nada sedih.
Reana urung menyantap makanannya, perhatiannya teralih pada cerita tuan Malvin.
"Ayahku memutuskan untuk keluar dari perusahaan, menjual rumah kami.
Memberi sebagian hasil penjualan rumah itu untuk ibuku, tapi ibuku menolak karena menurutnya hasil penjualan rumah itu tidaklah seberapa, pemberian suami barunya lebih banyak dari itu" cerita tuan Malvin berlanjut.
"Aku pernah berkata padamu bahwa aku telah lama hidup dipenjara, semua berawal dari kejadian itu.
Ayahku yang merasa terhina oleh sikap ibuku memiliki obsesi untuk mengalahkannya.
Sebagian hasil menjual rumah dipergunakan untuk membeli rumah baru yang lebih kecil, dan sisanya dipergunakan untuk modal usaha.
Ayahku merintis usahanya benar-benar dari nol. Sejak itu aku tak bisa seperti anak yang lain, yang bisa bermain sesuka hati mereka" ucap tuan Malvin, menghentikan makannya dan menyandarkan punggungnya
"Tugasku hanya belajar, terus belajar, ayahku menjadikanku asset masa depannya.
Memiliki sebuah usaha dan mewarisinya, itu adalah penjara baru bagiku, aku harus bertanggung jawab atas semua usaha ayahku.
Aku bahkan tidak bisa membebaskanku diriku sendiri" ucap tuan Malvin frustrasi.
"Apa yang dilakukan ibu tuan memang buruk, tapi lihat hasilnya, tuan memiliki segala-galanya, kenapa tidak mengambil hikmah dari semua itu" ucap Reana yang berbeda pendapat dari tuan Malvin.
"Karena aku tidak bahagia, hanya karena pemberian demi pemberian ibuku meninggalkanku, dan karena obsesi ayahku aku kehilangan masa kecilku" ucap tuan Malvin dengan suara meninggi.
Tuan Malvin kesal karena Reana tidak mencoba memahami dirinya.
"Kenapa tuan tidak mencoba bersyukur, berapa banyak orang yang menginginkan posisi seperti tuan sekarang ini, berapa banyak orang yang ingin memiliki, apa yang tuan miliki" ucap Reana.
"Bagaimana dengan mu ? apa kau juga ingin memiliki apa yang ku miliki ? kalau begitu ganti pakaianmu, karena aku telah mempersiapkan semuanya untukmu, kenapa kamu tidak bisa menerima pemberianku ?" teriak tuan Malvin.
"Karena aku tidak seperti ibu tuan, aku tidak ingin karena sebuah pemberian, seseorang bisa memilikiku" teriak Reana tak kalah keras.
"Aku sudah selesai" ucap Reana ketus sambil berdiri meninggalkan meja makan.
Tuan Malvin mengejar Reana, menarik kedua lengan gadis itu mendekat. Jarak mereka sangat dekat, Reana panik, takut, mata tuan Malvin terlihat beringas, tuan Malvin mendekap Reana, memaksa mencium bibir gadis itu.
Reana berontak, berteriak, meronta, mendorong, pelukan tuan Malvin akhirnya terlepas, Reana berlari menaiki anak tangga. Masuk ke kamar, menguncinya lalu duduk diatas ranjang sambil memeluk kedua lututnya yang gemetar. Air mata gadis itu mengalir.
__ADS_1
...*****...