
Iringan mobil mewah meninggalkan hotel, Reana menatap melalui kaca jendela. Air mata gadis itu masih mengucur, tanpa isak tangis atau sedu sedan. Hanya mengucur begitu saja, sesekali gadis itu menghapusnya.
Tuan Malvin hanya diam memandang ke depan, sama sekali tidak berusaha menghibur Reana. Kedatangan Nico membuat laki-laki itu bad mood. Tuan Malvin kesal disaat hatinya berbunga-bunga Nico datang merusak suasana.
Beruntung laki-laki itu segera pergi setelah Reana bicara. Meminta agar Nico tidak menemuinya lagi, tuan Malvin berharap kali ini laki-laki itu benar-benar menyingkir dari hidupnya dan Reana.
Dalam hati tuan Malvin berharap laki-laki itu bersikeras melawan para pengawal hingga titik darah penghabisan. Namun Reana menghentikannya, entah apa yang diucapkannya pada laki-laki itu.
Namun yang paling membuat tuan Malvin merasa di puncak kekesalan adalah ekspresi Reana yang masih mengkhawatirkan Nico. Jelas-jelas gadis itu masih menyayanginya.
Itu adalah perasaan cemburu yang ber-asalan. Padahal jika tuan Malvin lebih mengerti Reana, tuan Malvin akan sadar kelembutan hati Reana-lah yang menyebabkan gadis itu bersikap seperti itu.
Gadis itu tak akan tega melihat orang teraniaya dihadapannya meskipun orang itu bukan Nico, hanyalah orang yang tak dikenal.
Raut wajah sedih Reana setelah menemui Nico masih terbayang dalam ingatan tuan Malvin. Gadis itu terlihat tak rela meninggalkan laki-laki itu.
Air mata Reana yang dibiarkan begitu saja hingga berdiri dihadapannya, seolah-olah sengaja ditunjukkan Reana sebagai akibat dari pemaksaan tuan Malvin pada Reana.
Tuan Malvin membanting pintu mobil sekeras-kerasnya hingga membuat Reana yang akan melangkah keluar dari mobil jadi terkaget, begitu juga dengan para pengawal.
Padahal seorang pengawal sudah membukakan pintu untuk tuan Malvin dan bersiap-siap untuk menutupnya kembali. Tapi tuan Malvin justru mendahuluinya menutup pintu dengan keras menunjukkan dia ingin membanting sesuatu.
Reana melangkah ke kamarnya, gadis itu ingin segera berbaring. Tubuh, pikiran dan perasaan gadis itu terasa lelah. Para gadis penata rias yang langsung datang menyambutnya ditolak dengan halus, gadis itu benar-benar ingin sendiri.
Sementara tuan Malvin meminta pelayannya menyiapkan jacuzzi whirpool bath, dia ingin berendam di kolam air panas itu. Para pelayan sangat memahami kebiasaan tuan Malvin.
Karena itu mereka akan segera menyiapkan whirpool sesuai dengan kondisinya. Jacuzzi whirpool bath yang berguna untuk merelaksasi dan melemaskan otot-otot yang tegang.
Akibat aktivitas yang terlalu padat dapat membuat tubuh menjadi letih, otot tubuh tegang, dan badan terasa lemas. Kondisi seperti itu biasanya terjadi saat tuan Malvin baru pulang dari perjalanan bisnis yang menguras tenaga dan otaknya.
Para pelayan akan menyiapkan whirpool bath dengan menambahkan garam mandi kedalam kolam air panas itu. Mineral yang larut dalam air ini menawarkan berbagai manfaat seperti memerangi stress dan kelelahan.
Air panas whirpool bekerja melemaskan otot, sementara mineral yang terkandung di dalamnya berkontribusi dalam penyembuhan psikologis.
Pelayan juga menambahkan bath bomb, benda yang sekilas seperti kamper berukuran besar ini bila terendam air akan meledak dan mengeluarkan semburan minyak yang harum dan menyejukkan.
Namun untuk kondisi tuan Malvin sekarang ini, pelayan akan menambahkan Essential oil dengan meneteskan 2 - 3 tetes kedalam kolam air panas yang bermanfaat bagi tubuh mulai dari sebagai pewangi, aroma terapi dan untuk perawatan kulit.
Penggunaan minyak esensial ini dapat membuat mood tuan Malvin jadi lebih baik. Tak lupa pelayan memasang lilin beraroma untuk mengubah seluruh kamar mandi menjadi ruangan yang memanjakan laki-laki itu.
Tuan Malvin menikmati kenyamanan kolam air panas yang disiapkan para pelayannya untuknya, namun pikiran laki-laki itu tak pernah lepas dari Reana.
Bagaimana cara mendapatkan hatinya ? apa yang dilakukan bajingan itu hingga bisa menaklukkannya ? batin tuan Malvin.
Tuan Malvin menghirup aroma ruangan yang menenangkan, laki-laki itu mulai merasakan manfaat dari kolam air panas itu. Pikirannya mulai tenang, tuan Malvin memejamkan mata, membayangkan Reana mendatangi dirinya masuk kedalam kolam lalu mendekatinya.
Merengkuh pinggang gadis itu, memeluk erat tubuhnya, mengulum lembut bibirnya, tuan Malvin tersenyum masih dengan memejamkan matanya, namun tiba-tiba bayangan Reana dengan air mata yang mengalir membasahi wajahnya terlintas begitu saja.
Tuan Malvin membuka matanya, kesal, menepuk air kolam didepannya hingga menyiprat kemana-mana. Tuan Malvin tertawa keras, Reana benar-benar membuatnya frustrasi namun laki-laki itu masih saja merindukannya.
Andai gadis itu benar-benar ada disini, menikmati kenyamanan ini bersamaku, entah berapa banyak gadis yang merasakan itu bersamaku, tapi aku tak bisa melakukannya dengan gadis yang betul-betul kuinginkan, ini karena dosaku, ini karmaku, jerit hati tuan Malvin.
Kembali tertawa sendiri.
Setelah puas berbaring Reana bangun, tapi tak tau harus berbuat apa. Reana memilih duduk bertopang dagu di depan jendela kamarnya. Melamun, memandang kosong taman bunga yang terhampar luas disamping rumah.
Terdengar ketukan dipintu, gadis pelayan berwajah lugu mempersilahkan Reana untuk makan siang. Reana mengikuti gadis pelayan itu. Dimeja makan sudah terhidang bermacam masakan, namun tuan Malvin masih belum terlihat.
"Tuan Malvin belum mau makan nona" jelas pelayan itu.
"Saya makan sendiri ?" tanya Reana melihat hidangan yang begitu banyak hanya untuk dirinya sendiri.
Gadis itu mengangguk mengiyakan, Reana mengajak gadis itu makan bersama, namun gadis itu menolak.
"Kami makan di ruangan kami sendiri nona, kami tidak pernah makan disini" ucap gadis itu memberi alasan.
Beginikah situasinya? jika tuan Malvin marah saya akan makan sendiri dimeja makan sebesar ini, bisik hati Reana.
"Bagaimana dengan gadis-gadis penata rias itu ? apa mereka mau makan disini ?" tanya Reana.
"Mereka makan bersama kami di ruangan khusus untuk kami nona" jawab gadis itu lagi.
Reana tertunduk, wajahnya terlihat begitu sedih. Dirumah yang begitu besar, begitu banyak orang di dalamnya tapi dia hanya makan seorang diri.
__ADS_1
Reana mempersilahkan gadis pelayan itu melanjutkan aktivitasnya. Reana mulai makan dengan mata yang terasa panas. Belum menikah dengan tuan Malvin, tapi gadis itu sudah merasakan bagaimana rasanya kesepian.
Setelah menyantap makan siangnya, Reana kembali ke kamarnya. Kembali menatap keluar jendela, air mata gadis itu menetes. Bukan kehidupan seperti ini yang diharapkannya.
Gadis itu kembali teringat pada Nico, berharap laki-laki itu baik-baik saja. Reana berdo'a semoga laki-laki itu menemukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia. Reana menangis terisak.
Terdengar suara ketukan pintu, gadis itu buru-buru menghapus air matanya. Para gadis penata rias meminta izin untuk masuk. Reana tersenyum mengizinkan. Melihat tingkah laku gadis-gadis itu Reana sedikit terhibur.
"Nona merasa lelah, kami pijit ya ?" tanya seorang gadis.
"Nggak usah, saya baik-baik aja" jawab Reana menolak.
"Nggak apa-apa nona, biar kami pijit. Kami disini memang untuk merawat nona, membuat tubuh nona nyaman dan segar menjelang pernikahan" ucap gadis yang lain.
Gadis-gadis itu mengajak Reana duduk di kursi malas, seorang gadis memijat kaki Reana dan yang lainnya memijat pundak gadis itu.
"Kami sangat senang disini, belum pernah kami melayani pelanggan dengan rumah sebesar ini. Dan lagi kami belum pernah menemui pelanggan yang seramah dan sebaik nona Reana" ucap gadis yang sedang memijit kaki Reana.
Gadis-gadis penata rias ini selalu menganggap Reana berasal dari keluarga kaya. Gadis itu merasa jengah dengan perlakuan gadis-gadis itu terhadapnya.
"Nggak usah panggil nona, panggil saja nama saya" ucap Reana.
Dari kemarin Reana sangat ingin menyampaikan itu. Karena kemungkinan gadis-gadis itu berusia lebih tua darinya.
"Nggak mungkin nona, itu namanya minta dipecat sama tuan Malvin" ucap seorang gadis sambil tertawa.
Gadis yang tadinya asyik mengamati gaun-gaun yg tergantung rapi di walk in closet itu datang menghampiri Reana.
"Kami belum pernah melihat walk in closet semewah ini dan gaun-gaunnya cantik luar biasa, andai saja bisa memiliki gaun seperti itu" ucap gadis itu duduk sambil menyilangkan tangan didepan dadanya.
"Maaf saya tidak bisa memberikannya padamu" ucap Reana.
Gadis itu terkaget mendengar ucapan Reana, tak terniat sedikitpun dihati mereka untuk meminta gaun-gaun yang berharga puluhan juta itu.
"Semua gaun itu adalah pemberian tuan Malvin, saya yakin dia tidak akan suka jika pemberiannya diberikan pada orang lain" ucap Reana menyesal.
"Nggak nona, kami nggak mimpi nona akan memberinya kepada kami" ucap gadis itu memprotes pemikiran Reana sambil tertawa.
Reana tertunduk, sejak tinggal dirumah ini perlahan Reana mulai mengenakan gaun-gaun yang disediakan tuan Malvin. Meskipun gadis itu tidak terbiasa memakai gaun-gaun mahal dengan model seperti itu untuk dipakainya sehari-hari.
"Benarkah nona? benarkah kami boleh mencobanya? apa kami juga boleh selfie mengenakan gaun-gaun itu?" tanya gadis yang senang mengamati gaun-gaun itu.
"Sepertinya nggak masalah" jawab Reana.
"Tapi nggak ah, kalau tuan Malvin tau kami bisa dimarahi nona" ucap gadis lain.
"Kalau begitu tunggu tuan Malvin tidak ada dirumah, tapi kapan ya? besok lusa sudah hari pernikahan. Setelah itu tugas kalian disini akan selesai, kalian tidak disini lagi" ucap Reana lesu.
Terdengar ketukan pintu, tuan Malvin muncul, wajah dan tubuhnya terlihat segar, mengenakan kemeja casual dengan rambut yang disisir acak membuat laki-laki tampan itu terlihat lebih muda dan santai.
Semua terpesona melihatnya, tak terkecuali Reana. Gadis itu tak pernah melihat penampilan tuan Malvin yang berbeda sebelumnya. Selalu mengenakan jas dengan sisiran rambut rapi untuk menambah wibawanya.
"Apa yang sedang kalian lakukan? " tanya tuan Malvin menyapa semua gadis itu.
Reana hanya menunduk, mengelak memandang laki-laki itu, Reana tau tuan Malvin marah sejak kembali dari hotel, Reana tidak tau apa sebabnya, hanya bisa merasakan kalau tuan Malvin sedang marah saat laki-laki itu membanting pintu mobil dengan keras.
"Kami sedang berbincang sambil memijit nona Reana" ucap seorang gadis.
"Baiklah, kalau begitu rawat Reana dengan baik ya" ucap tuan Malvin dengan lembut lalu beralih memandang Reana.
Reana yang mendengar tuan Malvin menyebut namanya melirik kearah laki-laki itu, Reana kembali tertunduk saat mendapati tuan Malvin sedang memandanginya.
"Temanku mengadakan pesta bujang untukku, apa aku boleh datang?" tanya tuan Malvin pada Reana.
"Kenapa harus minta izin padaku?" Reana balik bertanya.
"Tentu saja, karena kamu calon istriku, masa aku harus minta izin mereka? " tanya tuan Malvin sambil melihat pada para gadis.
Para gadis tersenyum ditahan. Reana terdiam sejenak.
"Baiklah, tuan boleh pergi" ucap Reana kemudian.
"Trimakasih sayang" ucap tuan Malvin.
__ADS_1
Lalu berdiri mendekati Reana, mencium puncak rambut gadis itu, lama, laki-laki itu meresapi ciumannya. Reana jengah, tuan Malvin melancarkan taktiknya lagi, bersikap mesra didepan orang hingga Reana tak bisa menghindar.
Aroma wangi menenangkan memancar dari tubuh tuan Malvin. Reana dan para gadis ketagihan mencium aroma itu. Tapi mereka hanya diam menyimpan dihati tak ada yang berani mengungkapkannya.
Tuan Malvin berjalan, memegang gagang pintu lalu berbalik memandang Reana.
"Tolong jaga dengan baik calon istriku ya" ucap tuan Malvin sambil tersenyum, yang langsung dijawab oleh para gadis.
"Baik tuan" ucap gadis-gadis itu, tersenyum melihat sikap romantis tuan Malvin.
Begitu tuan Malvin keluar, para gadis itu langsung heboh.
"Mmm... wanginya tuan Malvin, pikiran jadi melayang tinggi menembus awan" ucap seorang gadis.
"Sstt.. kamu ini, ada nona Reana, muji-muji calon suami orang nggak sopan tau" ucap gadis yang lain.
"Maaf nona, bukan begitu maksudku, aku cuma berpikir nona Reana sangat beruntung bisa menaklukkan hati tuan Malvin, kalau saya dengar-dengar, tuan Malvin itu banyak pacarnya, tapi nona Reana yang dipilih untuk menjadi istrinya, ooh... bukankah nona Reana sangat beruntung" jelas gadis itu dengan wajah terharu.
"Itu sih pemikiran kamu, kalau menurutku justru tuan Malvin yang beruntung mendapatkan nona Reana, pacar-pacar tuan Malvin itu hanyalah orang-orang yang hanya mengincar harta dan kemewahan yang dimiliki tuan Malvin" ucap gadis yang lain.
"Darimana kamu tau? " tanya gadis tadi.
"Kamu nggak baca berita, kamu tau nggak gimana gaya hidup glamour gadis-gadis yang menjadi pacar tuan Malvin. Tentu saja mereka senang menjadi pacar tuan Malvin karena tuan Malvin bisa membiayai hidup mewah mereka" ucap gadis itu.
"Wah.. kamu hebat banget, pengetahuanmu luas, tapi dalam hal gosip doang" ucap gadis yang dari tadi hanya diam.
Mereka tertawa bersama, Reana tersenyum, dalam hati gadis itu berpikir apakah dia bisa hidup bersama laki-laki seperti itu, meski tuan Malvin berkata akan melepas gadis-gadis itu, tapi apa tuan Malvin sanggup kehilangan mereka.
Tiba-tiba Reana teringat sesuatu.
"Bagaimana kalau sekarang saja kalian mencoba gaun-gaunnya" usul Reana.
Reana tak ingin lagi memikirkan tuan Malvin dan pacar-pacarnya. Para gadis penata rias melompat girang, mereka baru ingat ini adalah kesempatan bagi mereka selfie mengenakan gaun-gaun cantik Reana.
Reana membiarkan gadis-gadis itu mencoba semua gaun-gaun dan mengambil fotonya, mereka terlihat sangat senang, berlari kesana kemari.
Reana tertawa melihat kelakuan gadis-gadis ceria itu. Saat ini tingkah mereka menjadi hiburan baginya. Para gadis itu tak henti-hentinya berterima kasih pada Reana. Mereka sangat beruntung memiliki pelanggan yang ramah dan rendah hati seperti Reana.
Dengan latar belakang apa yang ada diruangan itu saja, hasil jepretan mereka terlihat sangat mewah. Seharian mereka melakukan pemotretan, kadang-kadang juga meminta foto bareng dengan Reana.
Sebagai kenang-kenangan katanya. Dan Reana bersedia, mereka terlihat sangat senang dan bangga bisa berfoto bersama Reana.
Menjelang malam mereka baru selesai melakukan aksi ala model mereka, kalau dilihat foto-foto Reana yang mereka ambil sangatlah cantik dan alami, suasana santai dan ceria membuat Reana tersenyum tanpa dipaksakan.
Mereka sangat mengagumi Reana, mereka berjanji akan menjadikan Reana pengantin yang paling cantik di dunia. Mengingat itu Reana kembali murung.
Para gadis telah kembali kekamar yang telah disediakan untuk mereka, kamar Reana kembali sunyi, Reana merasa kesepian lagi. Tak ada satupun kegiatan yang bisa dilakukannya dikamar ini.
Setelah makan malam seorang diri, Reana bergerak menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya. Dari tangga Reana menatap sekeliling rumah yang memiliki banyak penghuni namun terasa sunyi, entah kemana para pelayan itu bersembunyi.
Mereka hanya muncul saat melaksanakan tugas mereka, lalu pergi meninggalkan ruangan besar yang selalu sunyi.
Mungkin sama sepertiku, menjalani hari-hari sesuai dengan tugas yang wajib dikerjakan, lalu kembali bersembunyi dikamar masing-masing, bisik hati Reana.
Reana membuka pintu kamarnya, memandang sekeliling ruangan yang luas itu, Reana bingung apa yang harus dia kerjakan.
Reana teringat travel bag berisi baju dan buku-bukunya, Reana heran kenapa tak terpikirkan dari kemarin-kemarin.
Reana hanya perlu membuka buku untuk mengisi waktu. Reana memilih buku dan membacanya di kursi malas. Membaca lembar demi lembar hingga gadis itu tertidur pulas.
Reana membuka mata saat merasakan hembusan nafas diwajahnya, gadis itu terkejut, bukunya pun terjatuh. Tuan Malvin ada dihadapannya sambil membelai rambutnya.
Gadis itu terbelalak menatap wajah tuan Malvin yang begitu dekat.
"Aku sudah mengetuk pintu, kamarmu tidak dikunci jadi aku masuk" ucapnya tuan Malvin.
Bau alkohol menyeruak dari mulutnya, Reana gemetar ketakutan.
"Mereka memintaku untuk menginap tapi aku menolak, aku terus memikirkanmu, dalam otakku hanya ingin segera menemui pengantinku, akhirnya mereka mengantar kupulang" ucap tuan Malvin tersenyum, masih bertumpu pada tangannya dan menatap Reana yang berada dibawahnya.
Reana panik, dengan gemetar mendorong pelan tubuh laki-laki yang setengah sadar itu. Laki-laki itu tersenyum lalu menimpa tubuh Reana, gadis itu berteriak kaget langsung mendorongnya kuat. Tuan Malvin jatuh di karpet, laki-laki itu pingsan.
Reana segera berlari keluar mencari pengawal untuk membawa tuan Malvin kembali ke kamarnya. Para pengawal membawa tuan Malvin. Reana mengunci pintu kamarnya dan duduk di ranjang dengan tubuh yang masih gemetar.
__ADS_1
...*****...