
Selepas menghadiri acara makan siang bersama di restoran, Nico meminta izin untuk mengajak Reana pulang lebih cepat. Pak Gunawan memberi izin karena mengingat pasangan calon pengantin itu memang harus mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan pernikahan mereka. Reana memang diajak pulang tapi dibawa ke apartemennya.
Nico ingin bicara dengan tunangannya itu. Benar-benar ingin bertanya pada Reana tentang Tn. Malvin dengan sejelas-jelasnya. Sejak bermimpi tentang eksekutif muda itu apalagi mendengar Reana mendapat telepon darinya, Nico sudah tidak sabar lagi ingin mendapat penjelasan dari gadis yang dicintainya itu.
"Apa yang dikatakan laki-laki itu? Dia menelepon, apa yang diinginkannya? Cepat katakan padaku?" tanya Nico bertubi-tubi.
Begitu sampai di apartemen, Nica langsung mengajak gadis itu duduk di sofa favorit mereka. Ditanya seperti itu, Reana justru menunduk, Nico jadi tak sabaran. Laki-laki itu langsung menangkup wajah gadis yang dicintainya itu. Nico sadar, semakin didesak Reana akan semakin sulit untuk terbuka.
"Jangan bikin aku khawatir sayang! Aku penasaran dan takut setengah mati. Aku takut, jika tidak tahu apa-apa. Aku tidak siap menghadapinya. Bagaimana jika dia ingin kembali untuk merebut kamu dariku? Apa yang harus aku lakukan? Jika aku tidak tahu apa-apa, apa yang bisa aku lakukan? Aku harus memiliki persiapan sayang," bujuk Nico agar Reana mau terbuka padanya.
"Dia cuma bilang kalau dalam waktu dekat ini, dia akan menemuiku. Dia berharap aku mau menyambut kepulangannya, cuma itu Kak," ucap Reana sejujurnya meski takut-takut.
"Cuma itu? Yah cuma itu saja sudah cukup membuat aku khawatir sayang! Menyambut kepulangannya? Dia menyuruhmu menyambut kepulangannya? Enak saja! Kalau dia ingin berhadapan denganku, akan aku ladeni dia. Tapi yang aku takutkan dia justru menemui kamu, dia pengaruhi kamu, itu yang membuat aku jadi takut. Dia menggunakan cara-cara licik berusaha untuk menguasai kamu," jelas Nico.
Reana tertunduk, gadis itu sama sekali tak ingin membuat laki-laki itu khawatir. Itulah sebabnya dia memilih untuk tidak menceritakan apa pun pada calon suaminya itu. Reana mengerti apa yang dimaksudkan Nico.
Tunangannya itu takut kalau Tn. Malvin berusaha mempengaruhi Reana lagi. Memberikan ancaman yang membuat Reana tak punya pilihan lain selain menerima cinta Tn. Malvin. Melihat wajah laki-laki itu yang begitu gusar Reana mencoba menghibur dengan menangkup wajah tampan tetapi panik itu.
__ADS_1
"Apa pun yang akan terjadi, aku tidak akan berpaling dari Kakak. Aku akan tetap bertahan mencintai Kakak. Aku tidak akan mengikuti kehendaknya. Aku sayang Kak Nico, aku cinta Kak Nico," ucap Reana untuk meyakinkan laki-laki itu.
Nico tersenyum mendengar kata-kata itu. Ucapan Reana terdengar begitu lugu, polos, sepolos hati gadis itu dan juga menggemaskan. Nico langsung memeluk Reana. Mengecup puncak rambut gadis itu cukup lama lalu turun dan mencium kelopak mata Reana lalu menenggelamkan gadis itu ke dada bidangnya.
"Aku akan meminta orang kepercayaanku mengurus persiapan pernikahan kita. Kamu yang tentukan konsepnya ya sayang," bisik Nico.
"Besok?" tanya Reana.
"Ya, apa kamu ada urusan lain," tanya Nico masih memeluk Reana.
"Nggak ada Kak. Surat-surat yang diperlukan dari pihakku sudah siap semua tinggal aku serahkan aja--"
Laki-laki itu kagum dan terharu. Bukan hanya karena dokumen-dokumen yang begitu cepat diselesaikan oleh Reana yang membuat Nico merasa terharu. Namun, melihat kesungguhan hati gadis itulah yang menyebabkan Nico semakin jatuh hati pada Reana.
Dalam waktu tiga bulan, mereka harus menyelesaikan persiapan pernikahan. Nico pun telah resmi menjabat sebagai CEO di perusahaan yang telah berganti status menjadi kantor pusat perusahaan mereka. Laki-laki itu kagum dengan gerak cepat orang-orang kepercayaannya dalam mengurusi segala hal demi terselenggaranya pesta pernikahan mewah itu.
Nico tercenung saat melihat lokasi pesta, gedung dan dekorasinya. Hidangan dan para tamu undangannya. Membuat Nico kembali teringat pada mimpinya. Semua seperti dejavu. Seperti kejadian yang terulang kembali.
__ADS_1
"Kamu ini ada-ada aja, tenanglah Tn. Malvin masih di penjara. Masih lama dia baru bisa berkuasa di dunia bebas ini lagi," ucap Rommy sambil tersenyum.
Nico yang gusar. Nico yang termenung langsung di datangi sahabatnya, Rommy. Laki-kaki itu pun langsung berkeluh kesah pada Rommy. Menceritakan tentang mimpi dan juga telepon Tn. Malvin yang menghubungi Reana. Rommy menghibur hati sahabatnya yang gusar.
"Aku rasa itu hanya teror untuk membuat hati kalian risau. Mungkin dia mendengar kabar tentang pernikahan kalian. Kamu tahu sendiri 'kan? Tn. Malvin punya banyak orang kepercayaan yang bisa melaporkan semua yang terjadi di luar. Aku rasa dia kesal mendengar berita pernikahan kalian, karena itu dia mencoba meneror Reana. Tapi ... aku salut padamu, Reana yang di telpon malah kamu yang bermimpi. Kalian sudah punya ikatan batin yang sangat kuat. Nic, ini hari bahagiamu, jangan khawatirkan hal lain. Buatlah hari ini menjadi hari yang berkesan bagi kalian, jangan sampai Reana melihat wajah kusutmu. Kami ada di sampingmu untuk melindungi kamu dan istrimu. Berdoa saja agar acara ini berjalan dengan lancar dan penuh kesan," tutur Rommy menenangkan hati sahabatnya.
Nico mengangguk dan juga berharap semua berjalan dengan lancar. Rasa takut mimpinya akan menjadi nyata membuatnya merasa sangat tegang. Kini rasa tegang itu sedikit berkurang, mendengar nasehat dan dukungan sahabatnya.
Nico memohon restu pada kedua orang tuanya dan juga pada Bu Ridha Lia. Terlihat mereka semua telah bersiap-siap untuk memulai acara pernikahan yang sangat ditunggu-tunggu oleh kedua keluarga itu. Acara pengucapan akad pun berjalan dengan lancar.
Tahap demi tahap di lalui Nico dengan jantung yang berdegup kencang. Nico seperti merasakan Dejavu. Melihat kembali apa yang telah dilihatnya di dalam mimpi. Namun, kali ini tak ada ucapan yang memaksanya mencium Reana.
Ada bedanya ternyata, aku tak dipaksa mencium Reana di depan para tamu. Syukurlah berarti berbeda, kejadian Tn. Malvin ingin mengacaukan acara kami sepertinya tak mungkin terjadi, batin Nico.
Acara berlangsung dengan meriah. Setelah upacara pernikahan, mereka pun langsung mengadakan resepsi pernikahan. Nico sangat bahagia. Apa yang ditakutkannya tak menjadi nyata, Reana pun merasakan hal yang sama. Pesta pernikahan yang tadinya membuat mereka sangat tegang justru dirasakan begitu meriah dan romantis.
Tak terpikirkan lagi oleh Nico akan ketakutannya atas kedatangan Tn. Malvin. Mereka menjadi lupa karena begitu meriahnya acara pernikahan mereka. Nico mengundang seluruh teman-temanya, seluruh karyawan kantor serta saudara dari pihak ayah dan ibunya. Reana pun tak mau kalah, mengundang teman-teman di kampusnya, rumah kost-nya dan tak lupa semua karyawan restoran, karena bagi Reana, mereka semua adalah keluarganya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...