
Di apartemennya, Reana menunggu dengan penuh rasa cemas. Setelah menyiapkan makan malam untuk mereka. Reana duduk menunggu di sofa di ruang tengah. Begitu lelah tubuh dan jiwanya hingga membuat wanita itu tertidur di sofa. Reana dikejutkan oleh suara bel yang berbunyi.
Reana selalu berpikir, sia-sia mengetahui password kunci pintu apartemen itu, jika setiap kali pulang, Nico selalu menunggu untuk dibukakan pintu. Namun, Reana langsung terkejut karena ternyata bukan Nico yang berdiri di depan pintu tetapi Rommy dengan wajah paniknya. Reana heran dan ikut panik saat melihat raut wajah sahabat suaminya itu.
"Reana, ayo ikut aku ke rumah sakit! Nico kritis. Mobilnya kecelakaan!" seru Rommy dengan panik.
Mendengar kabar seperti itu, kepalanya tiba-tiba pusing. Reana terhuyung ke belakang. Rommy mencoba menahan tubuh Reana yang limbung dan hampir jatuh, tetapi tak laki-laki itu tak sempat melakukannya. Reana terjatuh, tubuhnya tersentak. Wanita itu langsung terbangun dari tidurnya di sofa. Reflek Reana menoleh ke arah pintu. Wanita itu tak mendengar bunyi bel apa pun.
Mengetahui kenyataan itu Reana terduduk di sofa sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasa syukur karena semua yang terjadi tadi hanyalah sebuah mimpi. Namun, mimpi yang membuat tubuhnya terasa letih.
Hari sudah malam tetapi suaminya masih belum juga pulang, Reana menangis sesenggukan. Mencoba menghubungi Nico tetapi hingga detik ini ponsel laki-laki itu masih saja belum aktif. Reana sangat menyesal dengan apa yang terjadi tadi saat makan siang.
Wanita itu menangis terisak-isak di sofa. Sementara Nico, hanya diam mendengar ucapan ibunya. Setelah makan malam, keluarga Rayne berkumpul di ruang tengah. Ny. Cathrina mengungkapkan rasa khawatirnya karena Reana yang masih belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
"Mungkin mereka masih ingin berduaan sayang. Selama ini mereka lebih banyak terpisah daripada bertemu. Pacaran jarak jauh, begitu menikah langsung berpisah. Mereka mungkin masih ingin pacaran lebih lama lagi–"
"Kalau mau pacaran saja, kenapa menikah? Niat orang menikah itu bukan hanya lebih bebas berpacaran tapi untuk membentuk keluarga. Ayah, ibu dan anak-anak. Kalau belum siap berkeluarga, kenapa ingin berkeluarga?" tanya Cathrina.
Nico tak menjawab pertanyaan ibunya. Laki-laki itu hanya menatap kosong lurus ke depannya. Melihat itu Tn. Alex Rayne meminta istrinya untuk diam. Bapak itu merasa kasihan melihat putranya yang hanya bisa terdiam mendengar celotehan ibunya.
"Kasihan Nico, sayang. Dia seperti sedang ada masalah. Jika bukan, kenapa dia datang ke sini? Sudah! Kasihan dia, besok lagi bicaranya," ucap Alex Rayne membujuk istrinya untuk berhenti mendesak Nico.
Ny. Cathrina pun akhirnya diam. Setelah melihat ekspresi Nico yang terlihat begitu sedih. Ibunda Nico akhirnya meminta putranya untuk menginap di rumah itu.
__ADS_1
"Besok pagi kita bicara lagi. Sekarang menginaplah di sini. Beritahu istrimu kalau kamu tidak pulang malam ini!" perintah Cathrina yang tak bisa diganggu gugat.
Nico masih tak bicara. Melihat itu Ny. Cathrina beranjak meninggalkan ruang keluarga itu. Memilih untuk masuk ke kamarnya meninggalkan suami dan putranya yang sejak tadi berubah menjadi begitu pendiam.
"Istirahatlah!" ucap Alex Rayne.
Nico pun melangkah naik ke lantai atas menuju kamarnya. Laki-laki itu melepas jas hitamnya dan menaruh di sandaran kursi belajarnya dulu. Nico duduk di meja belajar itu. Sudah lama sekali laki-laki itu tak duduk di situ sejak terakhir kali menggunakan meja belajar itu.
Matanya mengitari, semua yang ada di atas meja belajar itu. Wadah pulpen dan pensil. Buku-buku bacaan, bahkan figura yang dulu selalu menjadi barang paling berharga baginya.
Nico meraih figura yang telah lama tak disentuhnya itu. Laki-laki itu tersenyum seolah-olah membalas senyuman gadis cantik yang tersenyum di dalam figura itu. Masih mengenakan seragam sekolah SMA, gadis itu terlihat sangat muda. Nico mengusap kaca figura itu mengikuti wajah dan tubuh gadis di figura itu.
Tatapan Nico sendu, tetapi tetap tersenyum. Laki-laki itu mendekatkan bibirnya ke figura itu ingin mengecupnya. Tiba-tiba Nico menghentikan niatnya dan langsung menatap wajah yang terpampang di figura itu. Nico menutup matanya dengan sebelah tangannya. Sementara tangan yang lain menutup figura itu hingga tertelungkup di meja.
Nico berbaring di atas ranjang dan menatap lurus ke langit-langit kamarnya. Terbayang wajah Reana di situ. Nico sangat merindukan istrinya, tetapi tak bisa menghubungi karena ponselnya yang telah hancur.
Aku merindukanmu sayang, jangan khawatir. Jangan bersedih. Aku tidak akan mengkhianatimu. Aku terlalu mencintaimu sayang, aku tak akan mengkhianatimu, batin Nico.
Laki-laki itu memejamkan matanya. Berharap bisa segera tertidur. Ingin melupakan segala masalah yang terjadi di antara dirinya dan istrinya. Nico setuju untuk menginap di rumah orang tuanya demi menenangkan dirinya yang cemburu mendengar Reana berduaan dengan teman lamanya.
Keesokan harinya, Nico terpaksa mendengar lagi keluh kesah ibunya. Masih dengan tema yang sama dengan topik pembicaraan sebelumnya. Reana yang masih belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
"Kamu tidak sengaja menahan memiliki anak 'kan? Atau Reana yang tak mau hamil? Wanita jaman sekarang ini enggan mengandung karena takut tubuhnya akan berubah," tanya Cathrina akhirnya.
__ADS_1
"Nggak Mommy, kami tak menahan diri untuk memiliki anak. Reana juga bukan perempuan yang seperti itu," jawab Nico akhirnya bicara.
Laki-laki itu tak ingin ibunya berpikiran buruk terhadap istrinya. Nico tak ingin ibunya memiliki alasan untuk menyalahkan dan menyesali pilihannya menikahi Reana. Nico juga tak ingin ibunya semakin tak menyukai istrinya.
"Mommy ini mulai khawatir Nico. Kita ini keluarga yang sepi anak. Keluarga kita, keluarga Reana. Tak satu pun dari kita yang memiliki keluarga besar. Kamu putra kami satu-satunya. Reana juga putri satu-satunya oleh ibunya. Mommy baru sadar dan Mommy semakin khawatir kalau dua keluarga ini, adalah keluarga yang sulit mendapatkan keturunan. Kedua keluarga yang sepi anak ini malah justru bersatu. Apa yang akan terjadi?" tanya Cathrina.
"Mommy jangan khawatir. Kami akan memiliki anak. Mommy hanya perlu bersabar," jawab Nico.
"Mommy ini kurang sabar apa sama kamu? Mommy tak setuju kamu menikah dengan Reana. Akhirnya Mommy mengalah. Sekarang minta Mommy bersabar? Setiap hari Mommy dikejar-kejar rasa takut keluarga kita ini akan punah. Keturunan Rayne hanya terhenti padamu, bagaimana ini?" tanya Cathrina.
Nico terdiam. Laki-laki itu juga tak bisa menjamin apa-apa. Namun, dalam hatinya, apa pun kenyataan nanti. Entah itu Reana berhasil mengandung atau tidak, Nico tak akan meninggalkan Reana demi apa pun.
"Mommy tak ingin merasa was-was lebih lama lagi. Kamu harus menikah lagi, jika Reana tak menerima kamu menikah lagi, ceraikan dia!" Perintah Cathrina.
"Mommy?"
"Sayang?"
Kedua laki-laki beda generasi itu kaget dengan ultimatum yang lontarkan Ny. Cathrina. Terlihat Tn. Rayne tak setuju dengan keputusan istrinya apalagi Nico. Laki-laki itu sontak protes dengan keputusan ibunya.
"Nggak Mommy! Aku nggak akan lakukan itu. Aku nggak akan mengkhianati Reana dan aku tak akan menceraikannya sampai kapan pun. Jika aku tak memiliki keturunan, aku juga sangat sedih Mommy. Reana juga begitu. Dia juga hidup resah setiap harinya, tapi aku pastikan Mommy, aku tak akan menyakiti hatinya dengan menikahi wanita lain. Aku juga tak akan menceraikannya. Aku sedih tapi aku akan menerima, Mommy juga harus bisa menerima. Jika keturunan keluarga ini terputus, aku tak akan membuat semua ini seolah-olah menjadi kesalahan Reana. Keturunan keluarga ini mungkin memang telah terputus lama jika Reana tak menghadang peluru yang ditujukan padaku," tutur Nico dengan mata yang berkaca-kaca.
Ny. Cathrina termangu. Wanita cantik setengah baya itu lupa kejadian itu. Kejadian yang dulu membuat keluarganya sangat bersyukur atas apa yang dilakukan Reana untuk putranya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...