Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 118 ~ Sepakat ~


__ADS_3

Nico mencurahkan isi hatinya pada Rommy. Selain karena sahabatnya itu memang mengenal Rebecca, Rommy juga memahami situasi antara Rebecca dan Reana. Setelah bertukar pikiran dengan Rommy, sahabatnya itu pun pamit pulang.


Nico termenung duduk sendiri. Saat itu rasanya begitu sepi. Nico kembali melihat kilasan-kilasan kenangannya bersama Reana di apartemen itu. Nico merasa begitu rindu pada istrinya. Segera laki-laki itu pulang untuk melepas rindunya pada wanita yang dicintainya itu.


Begitu masuk ke kamarnya, Nico langsung melangkah ke balkon di kamar itu. Seperti dugaannya, Reana sedang duduk di termenung di sana. Nico langsung mencium pipi wanita cantik itu. Reana reflek menghapus air matanya. 


"Kakak dari mana? Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Reana bertubi-tubi.


"Habis ketemuan sama seseorang–"


"Apa? Siapa?" tanya Reana langsung penasaran.


"Jangan curiga dulu. Aku cuma ngobrol-ngobrol sama Rommy di apartemen kita dulu," ucap laki-laki itu lalu duduk di samping Reana dan merengkuh tubuh wanita itu.


Nico menyandarkan kepala Reana di dadanya lalu mengecupnya. Reana tertunduk, semua pertanyaan di hatinya tadi tertelan begitu saja. Tak satu pun yang muncul. Wanita itu seperti memilih untuk memendam dibandingkan bertanya tetapi menimbulkan keributan.


"Beberapa bulan yang lalu, Daddy memanggilku. Memintaku menerima putri dari kenalannya untuk bisa bekerja di perusahaan kita. Karena ini adalah permintaan khusus Daddy dan mungkin Daddy sudah terlanjur berjanji pada kenalannya itu. Aku tidak berani menolaknya. Itu sama saja dengan mempermalukan Daddy di hadapan kenalannya itu. Saat Rebecca tiba-tiba muncul di kantor, aku sangat terkejut. Aku memintanya untuk tidak menggangguku lagi. Aku bahkan memintanya untuk tidak menemuiku lagi," tutur Nico lalu menunduk ke arah istrinya yang bersandar di dadanya.


"Ternyata dia putri dari kenalan Daddy?" tanya Reana yang dibalas dengan anggukan oleh Nico.


Reana tertunduk. Nico meraih dagu wanita yang dicintainya itu. Reana menatap suaminya dengan tatapan sendu. Tak rela dengan keputusan ayah Nico untuk menerima putri dari sahabatnya itu. Namun, Reana juga tak punya kuasa untuk menolak.


"Apa perlu aku bicara dengan Daddy kalau kamu keberatan menerimanya?" tanya Nico serius meminta pendapat Reana.


"Jangan Kak. Aku nggak enak hati sama Daddy," jawab Reana langsung.


"Aku juga begitu sayang. Makanya aku bingung untuk beritahu sama kamu. Sebagian hatiku ingin … sangat ingin menolaknya tapi sebagian lagi merasa tak enak hati sama Daddy. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Nico meminta pendapat istrinya.

__ADS_1


Nico sungguh-sungguh meminta pendapat istrinya itu karena semua sudah terlanjur terbuka. Nico bertekad, jika Reana memutuskan untuk menerima, Nico harus mendengar sendiri dari mulut Reana. Kata-kata Reana itu akan jadi pegangannya jika suatu saat Reana mencurigainya. Sebaliknya jika Reana menolak maka Nico bersedia bicara pada ayahnya. Menjelaskan situasi dan alasan mereka menolak Rebecca.


"Kakak penuhi saja permintaan Daddy. Biarkan Rebecca bekerja di perusahaan itu," jawab Reana akhirnya.


"Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu ikhlas membiarkan seseorang yang tidak kamu sukai bekerja satu kantor dengan suamimu?" tanya Nico lagi.


"Ini bukan masalah aku suka atau benci sama dia tapi … karena aku tahu dia menyukai Kakak," jawab Reana.


"Memangnya kenapa kalau dia menyukaiku? Apa aku harus menyukainya juga?" tanya Nico sambil menahan senyum. Jelas kata-kata itu hanya untuk menggoda istrinya.


"Kakak?"


"Nggak kan? Tapi aku mengerti rasa khawatirmu karena aku juga khawatir saat kamu dekat dengan orang yang suka padamu. Berarti sekarang kita pada posisi yang sama. Apa aku harus khawatir pada Hasbi?" tanya Nico serius.


"Dia sudah pergi," jawab Reana langsung.


"Walau dia suka padaku, aku tetap tidak bisa balas rasa sukanya itu. Aku hanya bisa menganggapnya sebagai teman. Kakak tidak perlu khawatir pada Hasbi," jawab. Reana.


"Kalau begitu kamu juga tak perlu khawatir ada Rebecca di dekatku. Karena dia tak ada artinya bagiku. Kamu mengerti kan sayang?" tanya Nico. 


Kali ini Reana mengangguk. Nico tersenyum lalu mempererat pelukannya. Hatinya lega karena masalahnya dengan Reana tentang Rebecca telah mendapat kesepakatan.


Begitu bahagianya laki-laki itu bahkan langsung merebahkan istrinya di kursi malas itu lalu memeluknya sambil memejamkan mata. Reana tersenyum sambil memeluk lengan Nico yang melingkar di dadanya. Wanita itu menghela nafas lega setelah menunggu suaminya dengan harap-harap cemas.


Saat di kantor di ruang kerjanya, Reana sesekali termenung. Teringat saat ini suaminya satu gedung dengan wanita yang sejak dulu mengincar Nico. Wanita itu memejamkan matanya membayangkan hal-hal paling ditakutkannya.


Aah, kenapa aku justru membayangkan itu. Bukannya berusaha menepis khayalan buruk. Malah justru membayangkannya. Sebenarnya aku tak begitu percaya. Tapi harus bagaimana lagi? Kak Nico ingin aku percaya padanya tapi bagaimana kalau Rebecca akhirnya bisa menarik perhatian Kak Nico. Mereka sering bertemu sekarang. Bagaimana kalau Kakak menemukan sesuatu yang menarik dari diri Rebecca. Oh tidak! Kenapa bisa terpikirkan hal seperti itu, batin Reana menjerit.

__ADS_1


Saat Reana sibuk memukul-mukul keningnya sendiri tiba-tiba ponselnya bergetar. Wanita itu langsung meraih ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya. Berharap suaminya yang menelpon tetapi justru terkejut menatap nama yang tertera di layar ponsel itu.


"Rassya? Apa kabar?" tanya Reana setelan akhirnya memutuskan untuk menerima panggilan telepon itu.


"Baik Nona, kabar Nona Reana sendiri bagaimana?" tanya Rassya.


Tentu saja Reana menjawab kalau dirinya baik-baik saja. Meskipun tadi dia begitu pusing memikirkan masalah dalam rumah tangganya. Rassya mengajak Reana untuk bertemu. Wanita itu langsung kebingungan.


Berjanji akan saling percaya. Berjanji saling setia. Berjanji akan saling jujur. Semua itu untuk menghilangkan kecurigaan antara suami dan istri itu.


Jika aku minta izin Kak Nico untuk menemui Rassya, apa Kak Nico akan marah? Tapi bukannya Kak Nico sendiri yang membebaskan aku bergaul dengan siapa pun asalkan jangan dengan orang yang jahat? Tapi dia sendiri memilih wanita jahat untuk bekerja bersamanya. Oh tapi itu juga bukan kehendaknya, batin Reana.


Reana akhirnya berjanji pada Rassya akan menghubunginya lagi setelah mendapat izin dari suaminya. Laki-laki itu bersedia menunggu. Setelah berpikir tujuh keliling mondar-mandir, akhirnya Reana menghubungi suaminya.


"Siapa? Rassya? Siapa dia?" tanya Nico langsung berdiri dari kursi kerjanya.


"Dia pengawal Tn. Malvin yang menolong membebaskan aku dari Tn. Malvin," jelas Reana.


"Pengawal Tn. Malvin tapi menolongmu membebaskan diri dari Tn. Malvin? Apa itu cerita yang masuk akal? Dia menentang atasannya demi kamu? Apa hubunganmu dengannya?" tanya Nico dengan dada yang turun naik karena emosi.


"Tak ada hubungan apa-apa, hanya berteman. Jika dia tidak menolongku, hingga saat ini mungkin aku masih disekap oleh Tn. Malvin," jelas Reana.


"Ya ampun! Kenapa kamu begitu kenal dengan banyak laki-laki?" tanya Nico tak bisa menahan rasa cemburunya.


"Aku juga banyak punya teman perempuan tapi kan Kakak tak peduli kalau itu. Di dunia ini cuma ada dua jenis. Laki-laki dan perempuan. Tentu saja aku punya teman laki-laki dan perempuan, karena memang ada dua jenis itu. Lagi pula, Kakak sudah janji akan percaya padaku," ungkap Reana.


Mendengar ucapan Reana akhirnya Nico sadar. Kesepakatan mereka untuk saling percaya, jujur dan setia itu sangat sulit dijalankan. Namun, Nico tak punya pilihan lain. Selain memberi izin pada Reana menemui laki-laki yang bahkan belum dikenalnya itu. Semua demi kesepakatan yang mereka tetapkan sendiri.

__ADS_1


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2