
Reana mencari Nico ke sana kemari tapi tak kunjung bertemu. Dengan hati sedih dan wajah tertunduk, Reana memarkirkan mobilnya di basement apartemen dengan wajah murung. Tiba-tiba Reana melihat mobil Nico melintas di depannya. Wanita itu langsung mengejar dan sambil memanggil nama Nico.
Sambil menangis wanita itu terus berlari, mengejar dan memanggil. Suaranya menggema menyayat hati. Nico sendiri hingga menangis mendengarnya tetapi tak membuat Nico mengurangi laju kecepatan mobilnya. Justru menambah kecepatan laju mobilnya. Nico tak sanggup mendengar suara tangis memanggil itu menggema di lantai basement hingga terdengar di telinganya.
Reana terjatuh di lantai basement. Kakinya tak mampu lagi melangkah. Jatuh terduduk sambil terus menangis. Reana merasa Nico benar-benar telah membencinya. Reana tak punya cara lagi untuk memperbaiki kondisi rumah tangganya.
Kakak pasti mendengar aku memanggilnya. Aku yakin kakak dengar suaraku. Aku yakin Kakak dengar, kenapa kak? Kenapa kakak pergi? Kenapa semakin cepat pergi? Kakak bicaralah padaku kak? Biarkan aku jelaskan semuanya, batin Reana menangis.
Reana akan terus menangis jika bukan karena mobil yang ingin melewati jalan itu. Wanita itu melangkah begitu pelan dengan tatapan mata yang kosong. Kembali teringat ucapan Angelica yang mengatakan bahwa mereka telah tidur bersama.
Kakak tak memaafkan aku karena menuduhku tidur dengan Hasbi. Bagaimana dengan kakak yang tidur dengan Angelica? Kenapa? Meski hatiku sakit, aku masih tetap mencarimu? Kakak berkhianat tak membuat aku membencimu. Apa hanya aku yang mencintai di sini. Apa Kakak tidak sungguh-sungguh mencintaiku? Batin Reana menangis.
Menatap sekeliling ruangan apartemen itu. Reana merasa tinggal di manapun tak membuat rumah tangga mereka bahagia. Tinggal di rumah mertuanya atau tinggal sendiri di apartemen sama-sama tak membuat prahara rumah tangganya berkurang. Hingga detik ini ponsel Nico masih belum bisa dihubungi Reana.
Wanita itu akhirnya memilih keluar dari apartemen. Menatap lekat-lekat setiap sudut ruangan. Mengingat kembali kenangan-kenangan di apartemen itu. Tersenyum saat teringat kenangan manis. Menitikan air mata saat mengingat kenangan pahit. Reana merasa kepergiannya kali ini tak akan kembali ke sini.
Teringat ucapan Nico yang tak akan pernah mau serumah dengannya. Jika Reana tak mau pergi maka Nicolah yang akan pergi. Gadis itu tak mungkin mendiami apartemen sementara pemiliknya sangat membencinya. Reana memutuskan kembali seperti dulu, pulang ke kampungnya.
"Aku nggak akan kembali padanya Ma, dia benci aku. Aku akan selamanya di sini," jerit tangis Reana di hadapan ibunya.
Ibu itu terdiam, jika saat datang terakhir kali Reana tak mau cerita apa pun, sekarang Reana ceritakan semuanya. Reana tak ingin menutupi lagi masalah rumah tangganya pada ibunya. Bu Ridha Lia membiarkan putri mencurahkan seluruh isi hatinya. Tanpa disanggah, tanpa nasehat, tanpa menyalahkan. Reana butuh seseorang yang mau mendengarkan kisah hidupnya.
Bu Ridha Lia hanya mengangguk. Sama sekali tak memprotes, Reana salah atau Nico yang salah. Semua masih terasa berat bagi putrinya untuk mendapatkan bantahan atau ucapan menyalahkan. Satu-satunya yang ibu itu mengerti adalah kedua-duanya berpisah bukan karena tak lagi mencintai tapi justru karena masih saling mencintai. Bu Ridha Lia membiarkan putrinya menenangkan diri dan hatinya di kampung halamannya.
"Reana, kamu kembali lagi?" tanya Yose mengagetkan Reana yang sedang menyusun barang-barang bawaan ibunya.
"Kakak masih suka ke sini?" tanya Reana.
"Masih dong, kalau kamu nggak ada terus aku nggak ke sini-sini lagi gitu? Emangnya cuma kamu pacarku?" tanya Yose sambil mulutnya menunjuk pada Bu Ridha Lia. Ibu itu menggelengkan kepalanya.
"Waktu kamu tiba-tiba pulang besok dia datang lagi. Sangat sangat sangat kecewa karena kamu tiba-tiba balik ke kota. Baca suratmu itu, dia sangat sesenggukan–"
"Jangan berlebihan Bu, paling cuma terisak-isak," jawab Yose. Bu Ridha Lia dan Reana tertawa.
__ADS_1
"Habis kamu perginya mendadak. Aku pikir tamu waktu cuma mau bicara, tahunya malah langsung bawa kamu," curhat Yose.
"Nah, Mama pikir karena kamu udah pergi, dia nggak datang-datang lagi. Tahu-tahu, besoknya dia datang lagi," ucap Ridha Lia.
"Nggak enak lah Bu, masa begitu anaknya nggak ada, jadi nggak datang-datang lagi, 'kan masih ada ibunya," ucap Yose membuat kedua ibu dan anak itu tersenyum.
Setelah itu mereka pun berangkat ke sekolah untuk berjualan. Yose bahkan ikut membantu. Karena tugas malam, Yose bisa bebas disiang hari.
"Wah Bu Ridha, menu di mana ini, karyawannya cakep-cakep semua," ucap seorang ibu yang baru jualan seminggu yang lalu.
"Oh itu anaknya Bu Ridha, kalau yang satu itu nggak tahu tuh, baru lihat?"
"Menantunya," jawab Yose langsung.
Bu Ridha Lia langsung mengucek rambut dokter tampan itu. Ibu-ibu yang lain langsung tertawa. Reana hanya tersenyum. Wanita itu sering mendapat sinyal-sinyal kalau Yose menyukainya. Namun, Reana tak pernah menanggapi. Wanita itu ingin bersikap hati-hati karena tak ingin memberi harapan pada Yose. Yose sepertinya tak peduli itu.
"Aku istilah apa ya? Pebinor benar nggak?" tanya Yose.
"Itu perebut bini orang, emangnya kakak perebut bini orang?" tanya Reana protes.
"Kasihan sekali dokter itu, jodohnya bukan seorang gadis perawan. Apa dosanya di masa lalu?" tanya Reana.
"Biarpun bukan perawan tapi berkualitas. Kalau dosa? Bukannya kita sama-sama berdosa? Kita bersama-sama mencuri tugas di labor IPA apa kamu lupa?" tanya Yose.
"Oh ya, aku juga belum minta maaf sama Yori karena mengambil tugasnya. Nanti kita ketemuan sama Yori ya?," ucap Reana.
"Kapan mau ketemu sama Yori?" tanya Yose.
"Kapanpun dia bisa," jawab Reana.
"Dia bisa ditemui setiap hari. Kalau nanti sore
sepulang dari sekolah bagaimana?" tanya Yose.
__ADS_1
Wanita itu masih merasa berhutang karena masih belum menunaikan janjinya. Reana merasa kalau timbulnya masalah dalam rumah tangganya bisa jadi karena hutang janjinya yang membuat takdirnya kembali lagi ke kampungnya ini. Reana pun mengangguk setuju.
Saat selesai berjualan dan mereka pun berangkat menemui Yori. Namun Reana sangat terkejut karena Yose membawanya ke daerah sepi. Wanita itu mulai merasa takut tetapi mencoba untuk tetap tenang.
Tiba disebuah lapangan, mobil yang dikemudikan Yose berhenti. Wanita itu semakin panik. Merasa takut ternyata Yose adalah seorang psycho atau pembunuh berantai yang suka membawa korbannya jauh dari keramaian.
"Ayo," ajak Yose sambil mengulurkan tangannya.
Yose mengajak Reana melangkah di jalan setapak. Sambil terus menggenggam tangan Reana, laki-laki itu mengajak Reana semakin jauh meninggalkan mobil.
Bagaimana ini? Bagaimana kalau ternyata dia psycho atau seorang pembunuh berantai yang memperkosa, membunuh, lalu mengambil organ tubuh untuk dijual pada pasiennya di rumah sakit, hii serem. Katanya mau ketemu Yori kok dibawa ke sini? Bukan ke rumahnya, batin Reana.
Rasa takut wanita itu semakin jadi. Reana sudah bersiap-siap untuk melarikan diri. Namun, tiba-tiba Yose menunjuk ke arah depannya. Terlihat sekumpulan makam di depan mereka. Reana sangat terkejut melihat pemandangan di depan matanya. Wanita itu lalu menoleh ke arah Yose seolah-olah minta penjelasan.
"Yori ada di sana!" ucap Yose menunjuk lebih spesifik pada sebuah makam.
Reana menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Reana tak menyangka kalau Yori telah tiada. Yose tersenyum kecut lalu mengajak Reana lebih mendekat. Mereka serentak duduk berjongkok di depan makam itu. Tatapan Reana pada Yose menunjukkan keingintahuan penyebab kematian Yori.
"Dia terkena kanker tulang," jawab Yose. "Waktu itu aku sempat marah padamu. Aku menyesal menolongmu. Semua karena kami tidak siap mendengar hasil pemeriksaan medis Yori. Kamu pasti heran, apa hubunganmu dengan penyakit Yori," ucap Yose. Reana mengangguk.
"Yori kami sangat manis, sangat manja, maklum karena dia anak bungsu dan aku sayang adikku. Saat dia ditegur gurunya karena laporan penelitiannya berbeda dengan pohon yang aku ganti waktu itu, dia sangat marah. Menendang pot di halaman belakang hingga pecah. Aku berjanji membuatkan laporannya, barulah dia tenang tapi keesokan harinya. Yori bangun dengan paha yang terasa sakit. Kami semua mengira Yori mengalami syaraf terjepit. Yori dibawa ke rumah sakit lalu disarankan melakukan fisioterapi. Sayangnya, bukannya bertambah sembuh, rasa sakit Yori semakin menjadi. Saat itulah aku marah padamu. Karena menurutku kamulah penyebab Yori mengalami sakit," ucap Yose lalu menoleh ke arah Reana.
"Apa sekarang masih marah kepadaku?" tanya Reana.
"Tentu,"
"Apa kakak akan membunuhku?" tanya Reana masih melanjutkan khayalannya tadi.
"Daripada membunuhmu mending aku jadikan istri," ucap Yose lalu tertawa.
Reana tertawa miring. Rasa takut yang satu hilang, muncul rasa takut yang lain. Tak jadi dibunuh tapi diperkosa lalu terpaksa menikah.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...