Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 31 ~ Godaan Kedua ~


__ADS_3

Nico berjalan sambil menggandeng tangan Reana, sesekali laki-laki itu menatap gadis disampingnya. Gadis itu membalas tatapan Nico dengan tersenyum.


Hati Nico sedang berbunga-bunga, Reana berjanji mau datang ke apartemennya. Dengan alasan sebentar lagi akan menempuh mid semester, laki-laki itu meminta Reana mengajarinya mata kuliah Analisa Numerik.


Meski ragu akhirnya Reana setuju tapi dengan catatan gadis itu tidak mau menginap disana. Reana juga ingin belajar beberapa mata kuliah yang tidak dimengerti pada Nico.


Biasanya mereka membahas kuliah di perpustakaan, kafe, taman belakang kampus, tapi dengan alasan bosan ditempat itu-itu saja akhirnya Nico mengajak Reana ke apartemennya.


Reana akhirnya menyetujui, setiap hari Nico mengeluh kangen dengan suasana saat Reana di apartemennya. Beberapa hari tinggal di apartemen Nico, membuat Nico merasa kehilangan karena gadis itu kembali ke rumah kostnya.


"Hai Nico sayang, baru datang ?" ucap gadis tak dikenal kemarin menghentikan langkah Reana dan Nico.


Nico kaget, Reana terbelalak, kali ini Reana melihat gadis itu dari jarak dekat. Hidung yang mancung, kulit bening, bulu mata lentik, bibir yang selalu basah. Dilihat dari wajahnya yang bersinar gadis itu pasti selalu mendapat perawatan di klinik kecantikan ternama atau salon yang mahal.


Gadis ini semakin berani, muncul disaat aku dan kak Nico sedang bersama, siapa dia ? benarkah kak Nico tidak mengenalnya ? batin Reana.


"Makasih untuk yang kemaren ya, aku akan selalu menunggu kedatanganmu" ucap gadis itu sambil melirik pada Reana.


"Kamu ini bicara apa ?" tanya Nico kebingungan.


Apa yang terjadi kemarin ? apa mereka bertemu lagi ? bisik hati Reana.


"Ih kenapa malu-malu sih ? oooh pasti karena dia ya" ucap gadis itu kembali melirik Reana.


Reana menatap tidak percaya, gadis itu menggoda Nico tepat dihadapannya. Nico kelimpungan menatap pada Reana dengan tatapan yang mengisyaratkan untuk jangan mempercayai ucapan gadis tak dikenal itu.


"Hei, aku nggak kenal sama kamu, jangan pernah muncul lagi dihadapanku dan jangan pernah bicara yang macam-macam" ucap Nico sambil menarik tangan Reana.


Laki-laki itu ingin mengajak Reana segera pergi dari situ. Nico tidak ingin meladeni gadis itu lagi. Masih ingat jelas dalam pikirannya bagaimana perasaan galau yang dirasakannya saat Reana bersikap tak acuh padanya karena cemburu.


Reana tidak mengakui dirinya cemburu tapi Nico merasakan itu. Senang melihat Reana cemburu karena menunjukkan gadis itu tidak suka Nico dekat dengan gadis lain.


Tapi Nico lebih senang jika hubungan mereka bahagia tanpa ada yang mengganggu. Apalagi jika membayangkan Reana marah dan tidak mau lagi dibujuk olehnya, Nico benar-benar akan panik.


"Baiklah, kamu pasti pura-pura nggak kenal denganku karena gadis itu. Aku akan menemuimu saat gadis itu tidak ada di sampingmu." ucap gadis itu sambil berlalu dengan langkah seperti seorang model catwalk.


Nico benar-benar kesal menghadapi perempuan itu. Tapi tidak tau cara mengatasinya. Satu-satunya yang bisa dilakukannya hanyalah menghindari. Jika seorang laki-laki yang mencoba mengganggu mereka, Nico pasti sudah melayangkan tinju kearah mukanya.


"Jangan dengerin ucapannya, dia hanya ingin mengganggu hubungan kita" ucap Nico panik, menatap Reana yang tertunduk.


Reana masih menunduk, tak mendengar ucapan Nico, dia sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan dan pikiran buruknya sendiri. Nico menghentikan langkahnya membuyarkan lamunan gadis itu.


Reana memandang kosong kearah Nico, diam, ekspresinya menunjukkan gadis itu penuh dengan pikiran yang bermacam-macam.


Reana beralih menatap kelasnya. Dipintu kelas Rebecca bersandar sambil menyilangkan tangannya di dada sambil tersenyum sinis memandang Reana.


"Saya ke kelas dulu kak" ucap Reana langsung melepaskan tangan Nico, buru-buru gadis itu berlari ke ruangan kelasnya.


Nico memanggil Reana yang tiba-tiba meninggalkannya namun gadis itu mengabaikannya. Fokus Reana hanya ingin segera menemui Rebecca. Setelah berdiri dihadapannya Reana langsung menarik Rebecca masuk kedalam kelas yang masih kosong.

__ADS_1


"Ini pasti ulahmu kan ? gadis itu adalah orang yang kamu kirim untuk mengganggu kak Nico kan ? kamu yang merencanakan semua ini kan ?" tanya Reana bertubi-tubi dengan suara yang semakin meninggi.


Rebecca tertawa terbahak-bahak, wajahnya menunjukkan rasa senang luar biasa. Ekspresi Reana yang menunjukkan marah, galau, sedih dan kesal sangat menyenangkan untuk dilihat Rebecca.


Rebecca seolah-olah melihat dirinya sendiri yang sering mengalami perasaan campur aduk seperti itu. Dan sekarang Reana yang mengalami dan merasakan perasaan itu.


Perasaan yang sering dia rasakan saat Reana muncul dihadapannya dan mengalihkan perhatian Nico darinya.


"Bukan, aku tidak kenal dengan gadis itu" jawabnya begitu santai, dan Reana terlihat tidak percaya.


"Bohong, ini pasti ulahmu, karena nggak bisa menerima pernyataanku untuk tidak merelakan kak Nico lagi padamu" ucap Reana mengingatkan Rebecca saat mengembalikan uang sewa kamar.


Rebecca kembali tertawa.


"Kenapa ? panik ? bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kak Nico itu banyak yang suka.


Bisa jadi gadis itu adalah salah satu gadis yang berlari melesat kearah kak Nico.


Sementara kamu justru menungguku, mensejajarkan langkahmu demi bertanya padaku, siapa gadis yang mencoba mengejar kak Nico ?" ucap Rebecca sambil tertawa.


Rebecca kembali melanjutkan omongannya.


"Atau sekarang kamu mencoba menyikutku, mengira aku masih menjadi lawanmu.


Jujur aja, saya lebih mendukung gadis itu dibanding kamu, ibarat fashion, gadis itu adalah gaun keluaran butik ternama sedangkan kamu cuma jins belel obralan" bisik Rebecca sambil berlalu keluar kelas.


Aku sudah berubah, aku berubah seperti Rebecca, mama, aku cuma ingin kuliah dengan tenang, pikir hati Reana.


Aku tak pernah mendekati kak Nico, aku selalu ingin menghindar darinya, dialah yang selalu datang menghampiriku, dan sekarang, aku seperti orang yang begitu takut kehilangannya, sama seperti Rebecca, aku takut kehilangannya, jerit Reana dalam hati.


"Reana, tolong jangan dengarkan gadis itu, dia berbohong, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, aku tidak kenal dengan gadis itu, sungguh" ucap Nico yang telah duduk disamping Reana, membelai rambut gadis itu.


Reana bangun perlahan, memandang wajah Nico.


"Kamu hanya perlu mempercayaiku" lanjut Nico lagi sambil menatap mata gadis itu dengan tatapan lembut.


Reana menatap wajah laki-laki itu.


Aku tidak meragukanmu kak Nico, aku hanya menyesali diriku, aku telah berubah, aku tidak menyadari diriku telah berubah begitu jauh, karena.. karena.. aku takut kehilanganmu, jerit hati Reana.


Gadis itu masih menatap Nico, sementara laki-laki itu membiarkan Reana memikirkan ucapannya, Nico mencoba membuat gadis itu percaya padanya.


"Saya percaya kak Nico" ucap Reana pelan sambil tersenyum pada laki-laki itu.


Nico merapikan helaian rambut yang menutupi mata Reana sambil tersenyum.


Tapi manusia bisa berubah, jika digoda terus menerus, bisakah kak Nico bertahan ? tanya Reana dalam hati, gadis itu hanya memandang mata Nico seperti mencari jawaban disitu.


"Satu-satunya yang kuinginkan hanya dirimu" ucap Nico setengah berbisik.

__ADS_1


"Jangan pedulikan apapun, jangan percaya apapun, yang kau dengar, yang kau lihat, kau hanya perlu percaya padaku, percaya pada hatiku" sambung Nico.


Reana mengangguk, mahasiswa-mahasiswa sudah mulai berdatangan. Nico pamit untuk pergi ke kelasnya. Reana memandang punggung Nico yang berjalan menjauh.


Aku disini kak Nico, aku tidak bisa menggapaimu, yang bisa kulakukan hanyalah menunggumu datang menghampiriku, bisik hati Reana.


Nico berjalan ke kelasnya, hatinya galau, meskipun Reana berkata mempercayainya, tapi kehadiran gadis tak dikenal itu akan selalu mengusik hati Reana. Nico tidak ingin itu terjadi, hidup Reana sudah terlalu sulit untuk menerima masalah lain.


"Nic, sebenarnya siapa gadis itu?" tanya Rommy.


Rommy langsung bertanya pada sahabatnya sesampai dikelas.


"Ini udah yang kedua kalinya, jangan loe bilang nggak kenal" ucap Dito.


"Justru itu gue pengen nanya, ada nggak sih inget pernah liat cewek itu dimana ? kita pernah kenalan ama dia dimana ? apa dia mahasiswi sini atau bukan ?" tanya Nico bingung.


"Nggak, positif nggak, kalau ada cewek macam itu kuliah disini, gue, nggak mungkin nggak kenal, gue nggak mungkin lupa" Ardi menimpali.


"Apa tujuannya ?" tanya Nico pelan seperti bicara pada dirinya sendiri.


"Ini dia susahnya punya wajah ganteng, makanya ganteng itu dibagi-bagi, jadi repot kan, digodain cewek mulu, pengen tenang dan bahagia bersama Reana tercinta, eeehh malah diganggu" lanjut Ardi, selalu bawel.


Nico melotot pada Ardi, yang dipelototi malah cekikikan.


"Itu namanya karma bro" Dito ikutan menimpali.


"Tiap kali kita kenalan ama cewek, ujung-ujungnya milih loe, tiap kali kita suka ama cewek, ceweknya pengen jadian ama loe" lanjut Dito.


"Loe nggak ngasih solusi, lagian loe mau kenalan ama cewek ngapain ngajak gue" bantah Nico tak ingin disalahkan.


"Loe itu ibarat lampu nelayan, ikan berkumpul di sumber cahaya, kalau sumber cahaya nya nggak ada ya ikan juga nggak datang" analogi Ardi, membuat Rommy dan Dito tertawa, Nico masih sewot.


Sebenarnya Ardi, Rommy dan Dito tidaklah jelek, tampang mereka malah diatas rata-rata. Rommy meski berkacamata tapi wajahnya manis seperti eksekutif muda, Dito memiliki badan atletis natural sejak lahir, tampangnya juga tak kalah dengan personel boyband asal Korea.


Begitu juga dengan Ardi meski paling bawel, laki-laki satu ini justru jadi magnet para gadis, sifatnya yang humoris dan mudah disukai, wajah putih, senyum yang manis dan model rambut yang selalu keren.


Tapi pesona Nico memang tidak terkalahkan, hanya duduk diam tidak melakukan apa-apa saja, sudah membuat para gadis sibuk memperbaiki dandanannya.


"Jangan khawatir Nic, kita akan selalu ngasih pengertian ama Reana, kalo loe nggak bakalan selingkuh, karena dihati loe cuma ada dia" kata-kata Rommy berusaha menenangkan sahabatnya.


"Tapi gimana kalo tuh cewek datang menggoda loe terus, takutnya loe nggak kuat imaaan" tanya Ardi menggoda.


"Ini bukan pertama kalinya Nico digodain cewek, cuma selama ini nggak ada Reana, jadi kita nggak ambil pusing" sahut Dito.


"Yah... bener juga, semua ini tergantung loe, tetap tahan godaan seperti sebelumnya dan Reana nggak perlu ragu akan kesetiaan loe" kesimpulan dari Rommy.


Dukungan dari sahabat-sahabatnya membuat Nico sedikit lega. Laki-laki itu berharap gadis tak dikenal itu tidak muncul lagi dihadapannya. Mudah-mudahan tidak ada lagi hambatan yang menghalangi kebahagiaan Nico dan Reana.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2