
Sore itu, Reana diminta bersiap-siap untuk berangkat kembali ke hotel bintang lima milik Tn. Malvin. Mengingat hotel itu sudah sangat dikenal oleh Reana, gadis itu sangat senang. Hatinya sedikit tentram. Meski belum terpikirkan bagaimana caranya untuk terbebas dari belenggu cinta Tn. Malvin, Reana merasa sedikit lega jika berada di tempat yang dikenalnya.
Gadis itu menatap gaun pengantinnya yang telah compang-camping. Robek di sana sini. Mengingat malam itu hatinya sangat sakit. Reana memasukkan gaun pengantin itu ke dalam paper bag untuk dibawanya. Reana akan membawa gaun pengantin itu ke mana pun dia pergi.
"Mau diapakan gaun itu? Bukannya gaun itu sudah rusak?" tanya Malvin saat muncul di kamar Reana.
"Bukannya kita akan kembali ke hotel? Aku tidak akan meninggalkan gaunku di sini," jawab Reana.
"Tapi nanti kita akan kembali ke sini, kenapa harus dibawa ke mana-mana? Lagi pula aku bisa belikan gaun yang lebih indah dari itu," ucap Malvin, tak suka dengan gaun yang mengingatkannya pada acara pernikahan Reana dan Nico.
"Tolong jangan hina gaun pilihanku. Gaun ini sangat indah sebelum dirobek," jawab Reana kesal.
"Maaf Reana! Bukan maksudku menghina gaun pilihanmu tapi … untuk apalagi? Gaun itu sudah terlanjur rusak," jawab Malvin.
"Gaun ini penuh kenangan bagiku, saat masih utuh adalah kenangan terindah dalam hidupku. Saat dirusak adalah kenangan terburuk dalam hidupku–"
"Reana!" seru Malvin sedikit membentak.
Gadis itu tersentak kaget, lalu memalingkan wajahnya. Tn. Malvin sakit hati karena menganggap apa yang dilakukannya adalah kenangan buruk dalam hidup Reana. Namun, akhirnya pasrah, laki-laki itu mengerti, apa yang dilakukannya saat itu memang membuat Reana ketakutan.
Sebelum menunggu keberangkatan, Tn. Malvin mengajak Reana minum teh sore. Layaknya keluarga kerajaan yang mengadakan pesta minum teh. Acara minum teh atau disebut dengan afternoon tea ini menjadi kebiasaan Tn. Malvin sebagai pengganjal rasa lapar sambil menunggu waktu makan malam.
Pelayan akan menyajikannya lengkap dengan beberapa makanan manis seperti pai buah dan makanan gurih seperti sandwich atau croissant.
Selama minum teh, Tn. Malvin sibuk menatap layar ponselnya. Sementara Reana minum teh sambil menatap panorama laut lepas. Sesekali menoleh pada orang di sekitarnya. Reana merasa tak enak hati menikmati makanan dan minuman itu sementara ada orang di sekitarnya yang hanya berdiri saja.
Termasuk Rassya yang berdiri di samping belakang Tn. Malvin. Sesekali laki-laki itu melirik ke arah Reana. Saat gadis itu menoleh ke arahnya, Rassya buru-buru berpaling dan menatap lurus. Reana yang berpikir Rassya tadi menoleh padanya merasa heran karena mendapati laki-laki itu hanya menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Saat Rassya kembali menatap Reana, gadis itu segera melirik ke arahnya. Rassya terperangah dan buru-buru menatap lurus ke depan. Melihat laki-laki itu kaget kepergok olehnya, Reana sontak tersenyum. Tn. Malvin langsung menoleh ke arah gadis cantik itu.
"Ada apa?" tanya Malvin yang tak mengetahui apa yang terjadi.
"Ah, nggak apa-apa. Cuma ... ingat teman-teman di restoran," jawab Reana.
Rassya tersenyum mendengar jawaban Reana. Gadis itu menoleh ke arah Rassya dan ikut tersenyum. Tn. Malvin melirik pada Reana yang masih menyisakan senyumnya.
"Masih teringat teman-teman di restoran? Seperti apa cerita lucunya?" tanya Malvin.
"Oh, nggak apa-apa Tuan, cuma salah membawa pesanan," jawab Reana sekenanya.
"Lalu apa lucunya?" tanya Malvin seperti menyelidik.
Reana tercenung, sama sekali tak menyangka Tn. Malvin akan menanyakan detailnya. Rassya menelan ludah dengan perasaan tegang. Reana memutar otak untuk menjawab.
"Oh ya, apa pelanggannya marah?" tanya Malvin masih penasaran.
"Ya nggak juga, karena dia bilang kopinya enak jadi nggak masalah," jawab Reana. Tn. Malvin mengangguk.
"Masalah kalau telah dilewati bisa menjadi kenangan lucu. Aku yakin awalnya kamu sangat panik karena telah berbuat salah. Tapi seperti apa pun masalah yang di alami, suatu saat akan menjadi kenangan indah. Aku harap, semua kenangan burukmu terhadapku akan terhapus dan menjadi kenangan indah nantinya," tutur Malvin.
Reana tercenung, tak menyangka jawabnya yang sekenanya justru bisa dimanfaatkan Tn. Malvin untuk menggambarkan situasi mereka saat ini. Reana tak bisa mengelak walaupun tak bisa menerima. Baginya kenangan bersama Tn. Malvin selamanya akan menakutkan.
Tak lama kemudian mereka berangkat. Reana baru merasakan bagaimana rasanya menggunakan helikopter untuk pindah dari pulau itu ke pulau yang lebih besar dengan lapangan udara. Saat melihat pulau itu dari ketinggian, Reana baru sadar kalau dia tak akan bisa bebas selamanya jika tetap berada di pulau itu.
Gadis itu berpikir-pikir bagaimana Tn. Malvin bisa membawanya dalam keadaan pingsan. Lalu akhirnya pasrah sendiri, tak ingin memikirkannya lagi. Tn. Malvin tersenyum melihat raut Reana yang seperti berpikir-pikir dalam hati.
__ADS_1
Saat tiba di sebuah lapangan udara, mereka pindah ke pesawat pribadi. Saat itulah Reana, Tn. Malvin dan para pengawal lainnya bergabung. Reana duduk di hadapan Tn. Malvin. Kembali menikmati teh dan makanan ringan. Namun, kali ini Tn. Malvin tak menatap layar ponselnya tetapi menatap Reana. Di tatap seperti itu Reana salah tingkah.
Kabin pesawat yang mewah itu terasa begitu lega dan nyaman. Seharusnya mereka bisa lebih bersantai, tetapi tidak bagi Reana, gadis itu merasa jengah ditatap seperti itu oleh Tn. Malvin. Laki-laki itu dengan jelas menatapnya sambil tersenyum.
Reana akhirnya bergeser duduk lebih dekat dengan jendela pesawat agar gadis itu bisa mengalihkan pandangannya dari laki-laki tampan dihadapannya itu. Memandang awan putih seperti gulali yang berterbangan di langit biru. Menjadi pelarian Reana untuk mengalihkan rasa jengahnya ditatap terus menerus oleh Tn. Malvin.
Setelah bosan menatap langit, Reana kembali menoleh ke arah Tn. Malvin yang kembali menatap ponsel. Lalu beralih ke arah para pengawal, Reana terkejut saat matanya beradu pandang dengan Rassya. Pengawal itu sama sekali tak memalingkan wajahnya. Sama sekali tak takut kepergok sedang menatap dirinya.
Sepertinya sejak tadi pengawal itu menatap Reana. Dan tak berminat untuk memalingkan wajahnya dari gadis cantik itu. Rassya justru tersenyum pada gadis itu. Reana terkejut mendapat senyuman itu tetapi akhirnya membalas senyuman itu.
Sontak Tn. Malvin menoleh ke belakang. Reana terkejut dan Rassya pun ikut terkejut. Tn. Malvin ternyata mengamati Reana dari layar ponselnya. Setelah beberapa kali mengambil foto gadis cantik itu. Tn. Malvin ingin merekamnya. Begitu Reana tersenyum ke arah belakangnya sontak laki-laki itu penasaran.
Tn. Malvin ingin tahu pada siapa Reana tersenyum. Mengetahui gadis itu tersenyum pada pengawal muda itu, Tn. Malvin merasa sangat kesal. Laki-laki itu langsung berdiri. Reana dan Rassya kaget dengan jantung yang langsung berdebar kencang. Mata mereka mengikuti arah pergerakan Tn. Malvin. Entah apa yang akan dilakukan pengusaha muda itu.
Namun, Tn. Malvin justru duduk di samping Reana. Gadis itu bingung apa yang dilakukan tuan muda itu duduk disampingnya. Tiba-tiba Tn. Malvin langsung memeluk Reana. Membenamkan bibirnya ke bibir gadis yang masih terkejut itu. Memaksa menciumi Reana yang langsung panik.
Reana meronta, mendorong dan menangis tetapi Tn. Malvin tetap memaksanya. Gadis itu tak percaya Tn. Malvin tega melakukan hal seperti itu padanya di depan orang lain. Reana merasa malu dilecehkan seperti itu didepan banyak orang dan tak berdaya.
Begitu melihat perbuatan Tn. Malvin terhadap Reana, Rassya tak tega dan langsung ingin berdiri. Namun, seorang pengawal senior langsung menahan tangannya. Rassya sontak menoleh ke arah pengawal senior yang bergeming menatap jendela pesawat itu. Rassya tak bertanya apa-apa hanya menatap pengawal senior itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
Dari sikap pengawal senior yang tak mau menoleh itu akhirnya Rassya sadar. Seniornya itu memerintahkan Rassya untuk kembali duduk dan jangan pedulikan apa yang dilakukan Tn. Malvin terhadap Reana. Hati Rassya tak terima tetapi akhirnya dia menurut juga.
Sementara itu Tn. Malvin melepaskan pelukannya setelah Reana menjerit. Gadis itu mengusap bibirnya yang berdarah. Begitu kesalnya Tn. Malvin mengetahui Reana dan Rassya saling tersenyum hingga membuatnya geram dan menggigit bibir bawah Reana.
"Pindah! Sebelum aku melakukan hal yang lebih jauh lagi padamu," perintah Malvin dengan hati yang begitu kesal.
Reana segera pindah tempat duduk ke posisi Tn. Malvin tadi. Sekarang gadis itu duduk membelakangi Rassya. Menangis menatap ke arah jendela pesawat. Gadis itu menghapus air matanya dengan jari telunjuk yang dikepal. Lalu kembali menghapus darah yang terasa masih mengalir dari bibirnya yang terluka. Melihat itu Tn. Malvin merasa menyesal.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...