Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 120 ~ Angela Baru ~


__ADS_3

Melihat sikap dingin putranya pada menantunya membuat Tn. Alex Rayne ingin mencoba mencairkan suasana. Berharap Nico akan kembali bersikap hangat pada istrinya. Ny. Cathrina pun tak sabar dengan situasi itu. Melihat sikap Nico yang tak jelas apa tujuannya. Yang terbayang olehnya hanyalah Nico yang akan mengambil langkah berpisah.


"Sepertinya mereka sedang bertengkar Dad," ucap Cathrina.


"Menurut Daddy juga seperti itu, sikap Nico pada Reana jadi dingin," jawab Alex Rayne.


"Ada masalah apa ya? Nggak ada terdengar ribut, tapi tingkah mereka menjadi aneh. Biasanya mesra, selalu bercanda. Sekarang saling lihat aja nggak! Ada masalah apa ya?" tanya Cathrina heran.


"Mommy penasaran apa mereka akan berpisah?" tanya Alex Rayne.


"Ah nggak! Cuma aneh aja Dad, rumah ini jadi terasa sepi tanpa suara mereka," ucap Cathrina berdalih.


"Kalau begitu kita ajak mereka ngobrol di sini. Sekalian kita tanyakan ada masalah apa," ucap Alex Rayne.


Tn. Alex Rayne akhirnya meminta putra dan menantunya turun untuk berbincang-bincang. Nico yang datang lebih dulu merasa heran karena diminta duduk di ruang tengah itu. Namun, kedua orang tua itu tak langsung bicara padanya tetapi menunggu Reana.


Apa yang ingin Daddy bicarakan denganku dan Reana? Apa Daddy khawatir aku akan bercerai? Daddy jangan khawatir, aku tidak akan menceraikan Reana. Aku tidak akan melepaskannya. Aku hanya kesal dan ingin memberinya pelajaran. Diberi izin bertemu malah melunjak, tak puas-puasnya hingga sampai telpon-telponan di rumah. Dia pikir aku ini apa? Laki-laki bodoh yang terjebak pada janji sendiri untuk selalu percaya padanya? Bisa seenaknya menginjak kepalaku karena aku tak mau kehilangannya? Biar saja dia seperti itu, biar tahu diri, batin Nico sambil menatap layar ponselnya.


Reana datang dan terlihat bingung untuk duduk di mana. Untuk duduk di sofa single, kedua orang tua itu pasti akan merasa aneh tetapi Nico sama sekali tak mengajak duduk di sampingnya. Reana akhirnya duduk di sofa panjang di sisi Nico. Namun, dengan memberi jarak.


Tn. Alex bertanya banyak hal pada Reana. Membuat keduanya saling ingin bertanya tetapi sikap Nico sangat tak acuh sehingga Tn. Alex yakin jika telah terjadi sesuatu dalam rumah tangga putranya. Belum begitu lama mereka berbincang, tiba-tiba terdengar bel berbunyi.


Seorang gadis cantik datang dan membuat geger semua yang ada di ruang tengah itu. Ny. Cathrina bahkan nyaris pingsan. Nico pun terlihat syok. Bagaimana tidak, gadis yang datang itu sangat mirip dengan Angela, cinta pertama Nico yang telah meninggal dunia.


Laki-laki itu bahkan terpaku menatap gadis cantik yang terlihat modis itu. Dengan dada yang berdenyut perih, Reana menatap suaminya yang terpana menatap wajah wanita yang baru datang dengan kopernya itu. Dengan senyum terulas di bibir, gadis cantik itu langsung mencium pipi kanan dan kiri Nico. Lalu menyapa semuanya.


"Angela?" tanya Cathrina dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Bukan Mommy, aku ini Angelica. Adiknya Angela–"


"Oh kalian mirip sekali," ucap Cathrina.


Angelica menoleh ke arah Nico yang terlihat masih terpana. Meski gadis itu telah menjelaskan kalau dirinya bukan Angela tetapi tatapan Nico seolah-olah masih tak percaya. Angelica bahkan menyentuh lengan Nico untuk menyadarkannya.


"Kak Nico kecewa, karena aku bukan Angela? Apa Kak Nico ingin aku menjadi Angela? Tak masalah. Anggaplah aku Angela jika itu bisa membuat Kak Nico bahagia," ungkap Angelica.


"Kenapa mirip sekali dengan Angela?" tanya Nico yang tak lepas memandang wajah cantik dihadapannya itu. 


"Dari dulu aku sudah mirip dengan Kakakku. Hanya saja, saat Kak Nico pacaran dengan Angela, aku masih kecil. Umurku masih dua belas tahun, masih kelas satu SMP, baru saja melepas dari rok merahku. Mana mungkin Kak Nico perhatikan aku?" jelas Angelica sambil tersenyum.


Nico masih terpaku menatap wajah di hadapannya itu. Meski Angelica telah menjelaskan tetapi sepertinya Nico masih tak percaya dengan ucapan Angelica. Mata Reana terasa makin panas, menatap suaminya yang tak lepas memandang wajah yang mirip dengan cinta pertamanya itu.


Kak Nico tak percaya aku mirip dengan Angela? Tentu saja, aku memang tak mirip dengannya. Aku merubah semua ini demi Kak Nico. Aku sangat ingin memiliki cinta yang dirasakan Angela. Kakakku yang cantik, yang disukai semua orang. Dicintai laki-laki luar biasa sepertimu, batin Angelica.


"Siapa dia Dad?" tanya Angelica.


"Sepertinya dia pacar Kakakmu. Karena itu Daddy ingin dia datang ke rumah," jawab Nugroho.


Oh ternyata pacar Kak Angela, ganteng banget, pikir Angelica.


Hanya butuh satu kali pandang. Nico, membuat gadis itu termenung di sepanjang perjalanan pulang. Memikirkan segala perbedaan yang jauh antara dirinya dan kakaknya. Angela yang cantik lima tahun lebih tua darinya. Jarak umur yang cukup jauh seperti membuat perbedaan yang besar antara dirinya dan Angela.


Angela yang cantik, dia yang biasa saja. Angela yang cerdas, dia yang rangkingnya tak mencapai rangking pertengahan. Angela yang memiliki banyak bakat, sementara dirinya yang tak bisa apa-apa. Angela yang di sanjung orang tuanya. Sementara dirinya seperti disembunyikan orang tuanya.


Semua yang indah, bagus, baik, hebat, seperti tercurah habis untuk Angela. Sementara Angelica hanya mendapat sisa. Kasih sayang orang tuanya, hanya pada Angela yang berprestasi. Angela yang jadi kebanggaan, Angela yang percaya diri dan Angela yang di puja puji seluruh karyawan perusahaan. Angelica hanya mendapatkan sisa kasih sayang orang tuanya dan itu pun karena 'kebaikan hati' dari kakaknya.

__ADS_1


"Kasih ke Angelica aja Mom, sayang nggak ke pake."


"Buat Angelica aja, aku udah punya banyak."


"Aku nggak suka lagi. Kasih ke Angelica aja."


"Angelica pasti suka kalau mirip punyaku."


"Angelica pasti suka pilihanku."


"Angelica pasti suka apa yang aku suka."


Semuanya karena Angela. Segala yang tidak diinginkan Angela diberikan untuknya. Semua untuknya adalah sisa Angela. Segala yang tidak disukai Angela diberikan untuknya. Segala yang mirip dengan Angela dipilihkan untuknya. Segala yang dipilih untuknya adalah pilihan Angela. 


"Kenapa harus pakai bekas Kak Angela? Apa kita tak punya uang untuk beli gaun baru?" tanya Angelica saat keluarganya mengadakan jamuan makan malam.


"Bukannya tak punya uang, tapi ini sayang kalau tidak dipakai, harganya dulu sangat mahal. Untuk menghadiri pesta ulang tahun teman Angela. Semua orang kagum melihatnya. Apa kamu tidak ingin mendapat pujian seperti kakakmu?" tanya Nindya.


"Tapi aku tidak suka. Ini tidak cocok dengan gayaku," jawab Angelica.


"Itulah sebabnya kamu tidak bersinar seperti kakakmu. Karena kamu bertolak belakang dengannya. Dia bersinar, kamu redup. Dia cerah, kamu kusam. Sekarang diajari untuk ikut jejak kakakmu, kamu malah membangkang. Sekarang terserah padamu! Jangan salahkan Mommy kalau kamu malu sendiri," ucap Nindya lalu pergi meninggalkan kamar putri bungsunya itu.


Sejak saat itu, suka tidak suka. Mau tidak mau Angelica mengikuti semua kemauan ibu dan kakaknya. Semua itu demi satu hal yang telah terlanjur mengusik hatinya, Nico.


"Baiklah! Aku akan lebih bersinar darimu. Mulai hari ini aku seolah-olah akan mengikutimu. Aku terima apa yang kamu berikan. Aku akan suka apa pun yang kamu pilihkan. Aku kenakan semua yang sama denganmu. Aku akan suka, apa yang kamu sukai. Kalau perlu, aku rebut apa yang kamu suka. Seperti ucapanmu 'Angelica pasti suka apa yang kamu suka'. Kamu benar A-nge-la … aku suka apa yang kamu suka. Aku akan menjadi Angela yang baru," ucap Angelica tersenyum pada wajah terpantul di cermin di hadapannya itu.


Angelica mengikuti seluruh jejak Angela demi bersinar seperti kakaknya. Melakukan apa saja demi sejajar dengan kakaknya atau bahkan melebihi kakaknya. Merebut apa saja yang dimiliki kakaknya. Semua itu demi tercapainya satu kalimat Angela. Angelica suka apa yang Angela suka. Bagi Angelica itu adalah Nico.

__ADS_1


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2