Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 113 S2 ~ Pindah ~


__ADS_3

Reana memutuskan untuk bersedia pindah dan tinggal di rumah mertuanya. Tentu saja Nico kaget dengan keputusan Reana. Namun, ada rasa bahagia saat mendengar alasan dan kepasrahan wanita itu semua adalah demi dirinya.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu? Jangan terburu-buru memutuskan sesuatu sayang," ucap Nico.


Nico yang tetap tak yakin dengan keputusan Reana meminta gadis itu berpikir lebih matang lagi. Hatinya bersyukur Reana bersedia memenuhi keinginan ibunya. Setidaknya sedikit pertentangan telah dapat dihilangkan tetapi laki-laki itu juga khawatir Reana tak sanggup menghadapi ibunya setiap hari. Nico tak tega melihat wanita itu bersedih setiap saat.


Biarkan aku berbakti padamu dan orang tuamu selagi aku bisa. Aku khawatir suatu saat tak ada yang bisa dipertahankan dari pernikahan kita. Setidaknya aku sudah berusaha menjadi istri dan menantu yang baik, batin Reana sambil tersenyum tetapi dengan mata yang berkaca-kaca.


Tak lama kemudian, Nico kembali mengunjungi orang tuanya. Kedua orang tua itu cukup heran melihat Nico yang kembali datang, merasa kalau pernikahan putranya itu kembali ada masalah. Namun, Nico justru datang untuk mengabarkan tentang keputusan Reana yang bersedia pindah ke rumah orang tuanya itu.


"Sungguh? Dia bersedia tinggal di rumah ini?" tanya Cathrina tak percaya.


"Apa kamu memaksanya tinggal di rumah ini?" tanya Alex Rayne.


Nico langsung diberondong dengan pertanyaan-pertanyaan saking tak percaya pada keputusan Reana. Ny. Cathrina sedikit terharu dan kagum pada Reana. Menurut yang dia dengar dari sahabat-sahabatnya, sangat sulit mengajak menantu untuk diajak tinggal bersama.


Rata-rata mereka menentang keinginan mertua. Baik yang sudah memiliki keturunan maupun belum memiliki putra sama sekali. Dengan alasan ingin mandiri atau karena kesibukan yang membutuhkan keseriusan dan konsentrasi.


"Istrimu lumayan patuh juga," ucap Cathrina.


"Dia wanita yang baik Mom, dia selalu mementingkan kepentingan orang dibandingkan memikirkan dirinya sendiri," jelas Nico memuji istrinya.


"Kamu sangat sayang istrimu, terlihat sekali," ucap Alex Rayne sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tentu Dad, dia yang paling aku sayangi selain Mommy dan Daddy," sambung Nico.


"Lalu kapan kalian akan pindah, Mommy akan siapkan kamar yang bagus untuk kalian. Apa kamu ingin kamar kamu yang dulu?" tanya Cathrina.


"Jangan Mom, itu kamar untuk anak muda dan masih single. Tak ada sentuhan untuk wanita. Kita siapkan kamar lain yang cocok untuk pengantin baru," jawab Alex Rayne.


"Oh begitu, baiklah," ucap Cathrina.


Aku bingung dengan sikap Mommy. Aku pikir Mommy tak suka sama Reana tapi sikapnya seperti sangat mengharapkan Reana tinggal di rumah ini. Sama sekali tak keberatan bertemu dengan Reana setiap hari. Apa ini hanya prasangka burukku saja karena Mommy dulu tak menyukai Reana, sempat tak merestui pernikahan kami dan terakhir justru menyuruhku menikah lagi, bisik hati Nico.


Saat ada kesempatan, Nico berbincang berdua dengan ayahnya. Nico langsung menanyakan alasan ibunya mengajak mereka pindah ke rumah itu. Sambil tersenyum, ayahnya justru menganggap Nico terlalu berburuk sangka pada ibunya.


"Kamu menuduh Mommy sengaja ingin mengurung Reana di rumah ini? Mommy hanya seorang ibu cerewet tapi tidak jahat. Mommy itu terlalu perfeksionis, semua yang ada di lingkarannya harus sempurna. Semua itu mungkin karena cara didik keluarganya yang seperti itu. Tak ada niat jahat di hatinya. Cuma terlalu berharap semua berjalan sesuai dengan keinginannya. Jangan berprasangka buruk pada Mommy, dia itu sayang sama Reana. Terlalu khawatir pada kalian. Suatu saat Reana akan bisa rasakan niat baik Mommy, ya Nak," nasehat Alex Rayne.


Apalagi setelah perusahaan pindah kepemimpinan. Tn. Alex Rayne benar seperti bebas dari beban. Percaya sepenuhnya pada putranya. Selalu berpikir putranya mampu untuk menjalankan perusahaan dengan baik, bahkan lebih baik lagi. 


Setelah mendapatkan penjelasan dari Tn. Alex Rayne, tekad Nico semakin kuat untuk mengajak Reana tinggal di rumah itu. Meski pendapat ayahnya tak bisa Nico percayai sepenuhnya tetapi setidaknya memang betul-betul menyayangi istrinya.


Tak lama kemudian mereka benar-benar pindah ke rumah itu. Seperti janjinya, Ny. Cathrina sudah menyiapkan sebuah kamar yang cocok bagi mereka di lantai atas. Melihat sambutan Ny. Cathrina yang begitu ramah membuat Reana merasa tenang.


Reana mulai membiasakan diri di rumah itu Meski dulu Reana pernah menginap bersama mereka saat di luar negeri tetapi saat itu sangatlah singkat. Mereka pun jarang bertemu. Membuat Reana tak begitu memahami mertuanya.


"Bibi itu kamar siapa?" tanya Reana saat melihat seorang pelayan rumah baru keluar dari kamar yang bersebelahan dengan kamar mereka.

__ADS_1


"Oh ini, kamar Tuan Nico saat masih muda," jawab Bibi pelayan itu.


"Oh, apa boleh aku masuk ke situ?" tanya Reana sangat penasaran seperti apa kamar suaminya dulu saat masih remaja.


"Boleh Nyonya, nanti tolong dikunci lagi dan berikan pada saya lagi ya nyonya," ucap bibi pelayan itu.


"Baiklah," jawab Reana segera menerima kunci kamar Nico dulu.


Wanita itu segera masuk dan langsung kagum melihat kamar suaminya. Sebuah kamar yang terlihat sangat laki-laki. Dengan deretan penghargaan-penghargaan yang pernah diterimanya.


Tiba-tiba mata Reana tertuju pada sebuah bingkai foto di atas meja belajar. Wanita itu segera mendekat lalu meraih pigura memampangkan wajah seorang gadis yang sangat manis. Reana tertegun, senyumnya yang sedari tadi mengembang langsung hilang. Reana langsung menyadari siapa gadis yang tersenyum manis di dalam pigura itu.


Model rambut ini … ternyata model rambut Angela? batin Reana bertanya.


Teringat saat dulu Nico mengajaknya ke sebuah salon kecantikan. Gadis itu mendapatkan segala perawatan kecantikan. Namun, hal menonjol dari semua perubahan penampilannya adalah rambutnya yang biasanya panjang dan selalu diikat kini dipotong membentuk sebuah model.


Reana reflek menyentuh rambutnya. Dengan air mata yang semakin deras wanita itu, menggenggam erat rambutnya. Reana menyesal karena selama ini telah mengikuti keinginan Nico. Reana merasa tertipu.


Jadi selama ini Kakak melihatku sambil membayangkan gadis itu? Tega sekali Kakak melakukan itu? Kenapa menipuku seperti itu? Aku benci Kak Nico. Aku benci, batin Reana sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Sekarang Reana tahu kalau Nico menginginkannya mirip dengan cinta pertamanya. Mengingat itu dada Reana terasa perih. Air matanya langsung mengalir di pipinya. Reana merasa Nico hingga saat ini masih tetap menyimpan cinta pertamanya itu dihatinya. Terbukti Nico yang selalu ingin mengantarnya ke salon yang biasa didatangi Angela.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


 


__ADS_2