Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 77 S2 ~ Membela ~


__ADS_3

Reana kesal, merasa dikerjai oleh pengawal Tn. Malvin itu. Ada rasa tak percaya dengan ucapannya karena laki-laki itu begitu mudah tertawa. Melihat Reana yang menunjukkan kemarahannya dengan menatap tajam ke arah laki-laki itu hingga menampilkan wajah sejudes mungkin. Pengawal itu justru tertawa, Reana semakin geram karena merasa di permainkan.


Setelah sadar laki-laki itu, terdiam terpesona oleh raut wajah cantik yang menggemaskan itu. Seperti apa pun Reana menunjukkan kemarahannya, tetap terlihat manis di mata laki-laki itu. Pengawal itu mengalihkan pandangan ke arah lain.


Melihat pengawal itu menatap lautan, Reana segera bersembunyi dibalik sebuah pohon besar. Begitu sadar tak ada Reana, pengawal itu langsung panik. Segera memanggil-manggil calon istri atasannya itu.


"Nona! Nona! Nona Reana! Anda di mana?" teriak pengawal itu.


Reana bersembunyi sambil tersenyum. Begitu tersadar, senyum gadis itu langsung menghilang. Teringat seharusnya, dia berada di sisi Nico suaminya. Gadis itu terduduk di atas pasir pantai lalu menelungkupkan wajahnya. Tak mampu lagi menahan tangisnya. Tak lama kemudian pengawal itu datang.


"Rupanya di sini Nona bersembunyi. Ayo Nona kita kembali ke villa," ucap pengawal itu langsung duduk di hadapan Reana yang menelungkupkan wajahnya.


Begitu diam, laki-laki itu baru sadar kalau Reana sedang menangis. Langsung kebingungan bagaimana cara menenangkan Reana. Sangat ingin memeluk dan membelai rambut gadis itu. Namun, tak bisa di lakukannya.


"Nona! Jangan menangis lagi. Kita harus kembali ke villa," ucap pengawal itu setengah berbisik.


Bukannya berdiri beranjak dari tempat itu, Reana tetap menelungkupkan wajahnya bahkan tangisnya semakin menjadi. Reana membayangkan paniknya Nico karena masih belum menemukannya.


"Nona ayo kita kembali," bisik pengawal itu mencoba menepuk punggung Reana agar hati gadis itu lebih tenang.


Belum sempat punggung itu tersentuh. Tiba-tiba tangan pengawal itu ditarik. Pengawal itu terkejut dan langsung bangkit. Tn. Malvin langsung mendorong tubuh pengawal itu hingga terjatuh di pasir pantai itu. Mendengar itu Reana langsung mengangkat wajahnya dan melihat apa yang terjadi.


"Berani sekali kamu menyentuh istriku, pengawal kurang ajar! Membuat istriku menangis, mau mati kamu. Sekarang juga kemasi barang-barangmu, kamu dipecat!" ucap Malvin sambil menarik tangan Reana pergi dari tempat itu.


Reana merasa tak enak hati. Mengetahui laki-laki itu dipecat padahal tak bersalah. Reana menoleh ke arah pengawal yang menatapnya sendu, dengan senyum yang dipaksakan. Begitu sampai di kamarnya Reana langsung protes.


"Kenapa dia harus dipecat?" tanya Reana.


"Karena dia sudah kurang ajar padamu," jawab Malvin.


"Kurang ajar apanya dia tidak melakukan apa-apa padaku," ucap Reana.

__ADS_1


"Dia sudah membuatmu menangis dan ingin menyentuhmu," ucap Malvin dengan sorot mata yang tajam.


"Dia tidak menyentuhku, aku tidak merasakan apa pun. Yang membuat aku menangis bukan dia, tapi Tuan. Tuan Malvin lah yang membuatku menangis," ucap Reana kesal sorot mata yang tajam, tetapi berkaca-kaca.


Tn. Malvin terdiam. Laki-laki ingin beranjak keluar kamar tetapi Reana menghentikannya. Gadis itu berdiri di hadapan Tn. Malvin.


"Aku ingin Tuan batal memecatnya." Pinta Reana.


"Aku tidak bisa melakukan itu. Jika butuh pengawal aku bisa mencari yang lain, banyak yang ingin bekerja padaku–"


"Tuan harus batalkan pemecatannya atau aku akan bunuh diri–"


"Apa? Kenapa kamu membelanya sampai seperti itu? Apa kamu suka padanya?" tanya Malvin emosi.


"Tuan tahu persis siapa yang akan sukai. Ini bukan masalah suka atau tidak suka. Ini masalah keadilan. Tuan telah salah menuduhnya, bukannya meminta maaf malah memecatnya. Aku tak ingin hidup dengan rasa penyesalan karena tidak membela orang yang tertindas karena aku. Tuan berlaku tidak adil karena aku. Tuan pikir aku bisa tidur nyenyak karena masalah ini," tutur Reana panjang lebar.


"Aku akan memberikan kompensasi yang besar untuk pemecatannya. Tapi aku tidak bisa membatalkan apa yang telah aku putuskan," ucap Malvin melunak.


"Apa yang akan kamu lakukan? Kamu ingin bunuh diri pakai apa?" tanya Malvin setengah tak percaya dengan ancaman Reana.


"Di sini banyak kaca yang bisa aku gunakan untuk mengiris pergelangan tanganku," jawab Reana.


"Kalau begitu aku akan mengikat tanganmu," bisik Malvin pelan.


"Aku akan menggigit lidahku," ucap Reana. Tn. Malvin tercenung sejenak.


"Andai kamu membelaku seperti itu," ucap Malvin pelan.


"Aku membela apa pun yang aku anggap benar. Aku bisa merasakan sedihnya dipecat tanpa alasan yang wajar. Kita tidak tahu bagaimana pentingnya pekerjaan ini untuknya. Kita tidak boleh sewenang-wenang memecat orang yang membutuhkan pekerjaan," ucap Reana memberi pengertian.


"Tapi dia masih muda sayang. Dia pasti bisa mencari pekerjaan yang lain. Lagi pula aku akan memberikan kompensasi yang besar yang bisa digunakannya selama mencari pekerjaan," ucap Malvin masih mencoba untuk membujuk Reana.

__ADS_1


"Pemecatan tanpa dasar itu bisa merusak nama baiknya. Itu tidak bisa dibayarkan dengan uang kompensasi berapa pun nilainya," ucap Reana.


"Kamu tanyakan sendiri padanya. Dia mau menerima uangku atau tetap bekerja di sini," ucap Malvin lagi.


Tn. Malvin hendak beranjak dari tempat itu. Reana bertanya kapan dia bisa bertemu dengan pengawal itu. Mendengar itu Tn. Malvin menghentikan langkahnya.


"Aku cemburu melihat perhatianmu padanya," ucap Malvin.


"Aku tak peduli padanya, sampai detik ini saja aku tidak tahu siapa namanya–"


Kenapa aku harus menjelaskan ini pada tuan Malvin? Harusnya aku gak peduli dia mau cemburu atau tidak, bisik hati Reana.


Benar saja, ucapan Reana membuat Tn. Malvin tersenyum. Kata-kata Reana seolah-olah mengisyaratkan kalau dia tak perlu merasa cemburu pada pengawal muda dan tampan itu.


"Baiklah aku tidak akan cemburu. Aku akan membatalkan perintahku pada pilot yang akan membawanya keluar dari pulau ini–"


"Pulau?" tanya Reana.


Ternyata memang benar aku berada di pulau. Pengawal itu ternyata tidak bohong. Bagaimana ini? Bagaimana cara aku keluar dari pulau ini, bagaimana caraku melarikan diri, batin Reana bertanya-tanya.


Tn. Malvin mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar itu. Melihat Reana yang tercenung mendengar ucapan terakhirnya. Laki-laki itu berbalik mendekati Reana.


"Kalau aku mengikat tanganmu, kamu akan menggigit lidahmu?" tanya Malvin.


"Kenapa bertanya itu lagi?" tanya Reana sambil menatap dengan tatapan penuh selidik.


"Karena itu mengganggu pikiranku. Aku jadi penasaran, seperti apa rasanya menggigit lidahmu," ucap Malvin lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Reana.


Gadis itu sontak memundurkan tubuhnya. Membuat laki-laki itu menghentikan aksinya yang ingin mencium gadis itu. Perasaannya kecewa tetapi Tn. Malvin tersenyum meski terasa pedih. Laki-laki itu membalik badannya melangkah keluar kamar itu meninggalkan Reana yang bertanya-tanya dalam hati apa yang akan dilakukannya untuk bisa kembali pada suaminya.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2