Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 23 ~ Membawamu Bersamaku ~


__ADS_3

"Ya ampun ampe bonyok gini" ucap Ardi menggelengkan kepala sambil melihat wajah Nico yang sedang duduk di bangku DPRD.


Bangku favorit mereka buat nongkrong-nongkrong. Sebenarnya favorit semua mahasiswa kampus itu, karena dekat dengan parkiran motor jadi bisa sekalian jadi tukang parkir. Minimal motor mereka aman karena selalu ada yang duduk disana.


Rommy dan Dito tertawa mendengar celotehan Ardi.


"Lenyap sudah kegantenganmu, ancur" lanjut Ardi.


Rommy dan Dito masih tertawa mendengar ucapan Ardi, sementara Nico masih cuek sambil senyum-senyum sendiri.


"Jangan-jangan kepalanya juga ke jentur, liat nih dari tadi senyum-senyum sendiri" ucap Ardi masih melanjutkan komentarnya.


Nico tak peduli dengan omongan Ardi. Laki-laki itu masih membayangkan apa yang terjadi didalam mobilnya kemarin.


Itu adalah ciuman keduanya terhadap Reana tapi merupakan ciuman pertama yang ikhlas diterima gadis itu. Membayangkan kejadian itu masih membuat Nico tersenyum-senyum sendiri.


Rommy menyikut Nico untuk menyadarkannya.


"Udah nggak sakit lagi ?" tanya Rommy perhatian pada Nico.


Nico mengangguk.


"Udah mendingan, kemaren malah lebih parah lagi" jawabnya sambil tersenyum seakan-akan itu adalah sebuah prestasi yang membanggakan.


"Reana yang mengobati" lanjut Nico kembali tersenyum.


"Uuu... pantesan, udah ancur gitu nggak ngerasain sakit, senyum-senyum terus lagi tau-taunya abis diobatin ama pujaan hati" celutuk Ardi baru mengerti.


"Kenapa nggak manggil kami ?" tanya Rommy.


Dito yang dari tadi cuma mendengar, menganggukkan kepalanya. Padahal dia menyaksikan sendiri Reana dibawa paksa tuan Malvin.


"Nggak kepikiran, lagian juga nggak sempat" jawab Nico, saat itu pikirannya hanya tertuju pada Reana.


"Siapa dia ? loe kenal orangnya ?" tanya Rommy penasaran.


"Pelanggan di restoran" jawab Nico singkat.


"Dia suka sama Reana ?" tanya Rommy.


Mendengar pertanyaan itu Nico langsung tercenung, laki-laki itu menghembuskan nafas berat. Pikirannya langsung kalut, Nico tak percaya kalau tuan Malvin akan berhenti sampai disitu.


Rommy menepuk pundak Nico, melihat ekspresi galau di wajah sahabatnya itu.


"Selama Reana menolak, orang itu tidak akan mendapat kesempatan. Yang penting loe harus bisa menguasai hati Reana" ujar Rommy menguatkan sahabatnya.


Reana muncul dihadapan mereka, tersenyum pada Rommy yang lebih dulu telah dikenalnya. Dito langsung berdiri memperkenalkan diri.


"Halo Reana saya Dito, kamu ingat saya, yang ngejar kamu saat orang-orang itu membawamu pergi, di halte" ujar Dito sambil menyalami Reana.


"Oh ya, saya ingat, makasih kak Dito" ucap Reana tersenyum setelah berhasil mengingat.


"Oh ya ampun, kamu makin cantik aja, suaramu juga merdu" ucap Dito yang hingga kini masih belum melepas tangan Reana.


Nico menatap tajam pada Dito yang belum melepas tangan Reana. Meskipun gadis itu sudah mencoba untuk menarik tangannya, tapi Dito justru menambah pegangannya. Kedua tangan Dito menggenggam tangan Reana. Gadis itu tersenyum dengan canggung.


"Gue laporin juga loe, ama anak SMU itu" ujar Nico sewot melihat tingkah Dito.


"Oh jangan begitu saudara Nico, ini tandanya gue merestui hubungan kalian, sebagai kakak tertua saya menerimamu sebagai adik ipar" ucapnya mengarah pada Reana.


Gadis itu kebingungan, tertawa canggung mendengar ucapan Dito.

__ADS_1


"Kami ini saudara beda orang tua, aku kakak pertama, Rommy kakak kedua, Nico kakak ketiga dan Ardi adik bungsu kami" ucapnya meniru film silat Hongkong.


"Hanya beda bulan aja sombong" ucap Nico masih sewot.


"Jangan salah, orang kembar hanya beda menit, yang menjadi pewaris tahta kerajaan tetap saja anak pertama yang lebih dulu lahir, sementara yang lahir belakangan tak bisa mewarisi tahta" jawab Dito meyakinkan.


Memang diantara mereka Dito lebih tua beberapa bulan dibanding Rommy, Rommy dan Nico hanya beda satu setengah bulan sedangkan Nico dan Ardi, hanya hitungan hari, kadang saat merayakan ulang tahun Nico, Ardi suka nebeng merayakan ulang tahunnya.


Nico bangkit dari tempat duduknya. Meraih tangan Reana dari genggaman Dito.


"Adik ipar... adik ipar... padahal cari kesempatan" ucap Nico dengan muka sewot yang dibuat-buat.


Ketiga sahabat itu tertawa, Nico mengajak Reana pergi. Reana mengangguk pada ketiga sahabat Nico. Rommy membalas anggukan Reana, Dito membalas dengan kiss bye, Reana tersenyum untung saja Nico tidak melihat.


Reana berjalan sambil mengamati wajah Nico, laki-laki itu masih terus menggandeng tangan Reana. Sesekali mereka berhenti jika Reana ingin melihat lebih jelas.


Semua itu tak luput dari tatapan tajam Rebecca. Sampai-sampai gadis itu menggebrak pintu kelas saking geramnya.


Hari ini sebenarnya tidak ada jadwal Nico ke kampus, tapi janjinya pada Reana untuk mengantarnya kemanapun gadis itu pergi tak ingin dilewatkannya.


Sebenarnya Reana merasa tak enak hati tapi melihat Nico yang berwajah ceria setiap kali bersamanya membuat gadis itu merasa sedikit lega.


Nico bahkan mencatat seluruh jadwal kuliah dan jadwal kerja Reana. Laki-laki itu sudah siap untuk mengantar Reana, kemanapun gadis itu pergi.


Nico membukakan pintu mobil untuk Reana, lalu duduk didepan kemudi. Nico berpikir sebentar.


"Bisakah memasangkan obat lagi untukku, teman-teman bilang wajah ku ancur" ucap Nico dengan wajah melas.


Reana tersenyum lalu mengangguk, Nico mengeluarkan kotak P3K, Reana kembali mengoles gel ke wajah Nico yang masih lebam. Tidak seperti kemarin Nico tidak lagi meringis setiap kali Reana mengoles memarnya.


Reana masih mengoles gel ketika tangan Nico meraih tangan kiri gadis itu dan meletakkan di dadanya. Seperti dejavu, Nico kembali mendekatkan wajahnya pada Reana.


"Ah... ah... sakit" ucap Nico sambil memandang kesal pada gadis itu.


"Minta pasang obat... minta pasang obat... padahal cari kesempatan" ucap Reana meniru ucapan Nico pada Dito tadi.


Sebenarnya gadis itu takut juga kalau Nico benar-benar marah. Nico memonyongkan mulutnya. Menghidupkan mesin mobil. Saat memindahkan persneling laki-laki itu menggenggam tangan Reana dan menganggap tangan Reana sebagai tongkat persneling.


"Ups salah" ucap laki-laki itu sambil tersenyum.


Reana juga tersenyum, hatinya lega laki-laki itu tidak terlihat marah. Sesampai di restoran Nico mengantarkan Reana hingga di depan pintu. Nella langsung menyambut, terkaget melihat wajah Nico yang masih lebam.


Kemarin saat Nico mengantar Reana, Nella sempat mengintip, hatinya langsung penasaran dengan apa yang terjadi. Reana terlambat sampai di restoran dan Nico terlihat lebam.


Nella tak sabar ingin mendengar cerita Reana. Reana merasa tidak enak karena saat ini mereka sedang mempersiapkan sebuah acara ulang tahun pernikahan. Tentu saja sikap Nella sangat menggangu pekerjaan Reana namun Nella selalu mendesak.


Hingga saat persiapan selesai Reana terpaksa menceritakan kejadian yang dialaminya. Tentu saja dengan mengurangi beberapa hal.


"Menculik kak Reana hanya untuk makan siang bersama?" itulah kesimpulan yang diambil Nella.


"Dan kak Nico harus babak belur karena tak terima kak Reana dibawa ke hotelnya" ucap Nella masih kebingungan.


Reana hanya mengangguk.


"Sungguh tidak terjadi apa-apa selain itu ?" tanya Nella penuh selidik.


Reana menggeleng kuat, meskipun wajah Nella tak percaya tapi akhirnya gadis itu manggut-manggut juga.


Dan hari ini Nella ingin kembali bertanya pada Nico, tapi laki-laki itu buru-buru didorong Reana untuk segera pulang. Gadis itu tak ingin Nella bertanya lebih banyak pada Nico.


Nico heran tapi mengikuti saja apa yang diinginkan Reana.

__ADS_1


"Nanti pulang aku jemput ya" ucap Nico.


Reana mengangguk, menatap Nico yang beranjak pergi. Gadis itu sedih, keinginannya untuk menjauh dari laki-laki itu justru membuat Nico semakin dekat dengannya.


Menjelang malam Nico sudah bersiap-siap menjemput Reana. Nico bahkan sampai di restoran setengah jam sebelum jadwal kerja Reana habis.


Nico menunggu dengan sabar didalam mobilnya sambil memeriksa beberapa pesan yang masuk ke ponselnya. Nico melirik jam tangannya, rasanya sudah cukup lama dia menunggu tapi tanda-tanda Reana keluar masih belum terlihat.


Karena asyik memainkan game di ponselnya, Nico tak sadar telah menunggu Reana hampir dua jam. Laki-laki itu tak sabar lagi menunggu, perasaannya semakin tidak enak.


Memasuki pintu restoran Nico langsung ditarik oleh Nella. Laki-laki itu bingung namun mengikuti Nella berjalan ke sudut restoran.


"Kak Reana nggak pulang kak" ucap Nella memulai percakapan.


Nico kaget, tak sabar mendengar cerita Nella.


"Tadi, tak berapa lama setelah kak Nico pulang, kak Reana mendapat telpon dari ibu kostnya. Kak Reana disuruh angkat kaki dari kost-annya" cerita Nella sambil berbisik.


Nafas Nico memburu dia sungguh tak suka mendengar gadis itu dianiaya.


"Lalu kenapa dia tidak pulang?" tanya Nico asal-asalan tanpa berpikir.


"Mau pulang kemana ? tadi kak Reana minta izin pak Gunawan untuk menginap dikantornya" jelas Nella.


"Apa?" teriak kaget Nico, buru-buru Nella menyilangkan telunjuknya ke bibir meminta Nico memelankan suaranya.


"Dimana Reana, apa dia membawa pakaiannya ?" tanya Nico membabi buta.


"Kak Reana ada di dapur dan pakaiannya ada diruangan pak Gunawan" Nella menjelaskan.


Nico melangkah meninggalkan Nella begitu saja. Laki-laki itu tidak sabar ingin menemui pak Gunawan, untuk meminta izin membawa Reana pulang.


"Kalau Reana setuju, tidak masalah" ucap pak Gunawan sambil menunjuk arah kantornya.


Nico berterima kasih atas pengertian pak Gunawan. Lalu melangkah menuju kantornya. Disudut ruangan Nico melihat travel bag yang tidak terlalu besar.


Hanya ini barang-barangnya? tanya Nico dalam hati.


Sambil membawa travel bag Reana, Nico melangkah menuju dapur, disana Nico mendapati Reana yang mengelap piring sambil melamun. Nico mengambil piring itu dan meletakkannya. Reana kaget.


Nico langsung meraih tangan Reana dan membawanya pergi. Reana ingin protes namun tak ingin membuat keributan. Sesampai diluar Reana melepaskan tangannya dari genggaman tangan Nico


"Apa yang kakak lakukan ?" tanya Reana.


"Tentu saja membawamu pergi dari sini" jawab Nico malas-malasan.


"Saya tidak punya tempat lain, saya sudah minta izin sama pak Gun untuk menginap di kantornya" Reana menjelaskan.


"Seorang gadis menginap di kantor sendirian ? bagaimana kalau pak Gun juga memutuskan untuk menginap di sana, bagaimana ? kalian akan menginap bersama ?" tanya Nico dengan suara tinggi.


"Jangan berpikiran seperti itu, pak Gun adalah orang baik dan saya sangat menghormatinya" jawab Reana kesal dengan pemikiran picik Nico.


"Ok, baiklah, mungkin tidak akan seperti itu, tapi apa yang dipikirkan istrinya, jika tau seorang gadis menginap di kantor suaminya, coba kamu pikir" ucap Nico lagi.


"Tapi kan hanya untuk sementara" suara Reana melunak.


"Dalam semalam saja sudah cukup membuat rumah tangga orang berantakan" jawab Nico merasa diatas angin.


Reana terdiam, ngeri membayangkan hal itu jika terjadi. Nico menarik tangan Reana, membawa gadis itu ke mobilnya lalu bersama mereka meninggalkan restoran. Nico menyetir mobil sambil tersenyum-senyum.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2