Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 73 S2 ~ Kehilangan ~


__ADS_3

Acara pengucapan akad pun berjalan dengan lancar. Nico seperti merasakan Dejavu, seperti melihat kembali apa yang telah dilihatnya di dalam mimpi. Namun, tak semuanya sama, hingga membuatnya sedikit merasa lega. Entah kenapa saat merasakan perbedaan itu Nico merasa lega.  Seakan-akan apa yang terjadi di alam mimpinya adalah gambaran peristiwa yang akan terjadi tetapi berubah karena perbedaan kejadian di alam nyata.


"Apa sudah berlalu?" tanya Rommy.


"Apa?" tanya Nico balik bertanya.


"Semua yang ada dalam mimpimu," jawab Rommy.


Nico menoleh ke arah para tamu lalu mengangguk. Rommy menepuk lengan sahabatnya itu sambil tersenyum. Acara berlangsung dengan meriah karena ketakutan Nico atas kedatangan Tn. Malvin telah berlalu.


Cincin telah diselipkan di jari manis Reana beberapa saat yang lalu. Teman-temannya pun tak memaksanya mencium Reana. Itu adalah kejadian dalam mimpinya yang sangat berkesan hingga teringat begitu dia terbangun.


"Ada bagian yang berbeda dengan mimpiku. Aku rasa mimpiku tidak akan jadi nyata, aku tak bakat jadi peramal," ucap Nico membuat Rommy tertawa.


Kedua sahabat yang lain pun ikut tertawa. Meski mereka hanya bisa menjadi pendengar tanpa memberi solusi apa-apa, Dito dan Ardy siap menjadi pelindung bagi Nico dan Reana seperti yang dijanjikan oleh Rommy.


"Ya, itu cuma mimpi, satu persatu tahapnya telah berlalu. Tapi terus terang, saat melihat suasana ballroom ini pertama kali, aku seperti masuk ke dalam mimpiku. Ini mirip sekali," bisik Nico pada teman-temannya.


"Ah itu mungkin karena kamu yang sudah berulang kali melihat-lihat konsep pernikahan ini. Jadi masuk ke alam bawah sadarmu," ucap Dito. Ardy pun menyetujui pendapat Dito.


"Ya! Bisa jadi karena sering lihat jadi seperti merasakan langsung. Apalagi wedding organizer yang kamu pilih hebat banget tentu memberikan presentasi konsep persis yang sebenarnya. Beda dengan wedding organizer lain, iklannya wah, presentasinya megah pas acaranya benar-benar beedah," kelakar Ardy.

__ADS_1


Mereka tertawa. Masuk akal bagi mereka. Setelah memilih konsep pernikahan. Nico dan Reana, sangat sering disuguhkan tayangan-tayangan yang menampilkan kemegahan konsep pernikahan yang mereka pilih dan seperti yang dikatakan Ardy, wedding organizer itu benar-benar menyuguhkan seperti yang mereka janjikan.


"Bisa jadi, tapi bukannya kamu bermimpi itu saat di New York. Kamu mimpi lebih dulu baru lihat-lihat konsep pernikahan?" tanya Dito. Nico tersenyum.


"Sebenarnya begitu Reana wisuda aku langsung melamarnya. Kami ... menghabiskan waktu di apartemen dengan memilih konsep pernikahan di internet. Ya ... kami memang sering lihat-lihat sih," jawab Nico sambil menahan senyum.


Keempat sahabat itu langsung tertawa. Sekarang mereka telah tahu kemungkinan sebab Nico bermimpi. Dito langsung menasehati Rommy dan Ardy yang belum menikah agar jangan terlalu sering melihat-lihat konsep pernikahan saat ingin menikah nanti, karena bisa terbawa mimpi. Mereka kembali tertawa. Nico menoleh ke arah istrinya yang tersenyum melihat keceriaan mereka. Laki-laki itu membalas senyum manis istrinya.


Sebuah perbedaan terjadi, membuat Nico semakin lega. Bahkan hingga detik itu pun Tn. Malvin masih tak muncul. Perasaan Nico bertambah lega, karena dalam mimpinya detik-detik kemunculan eksekutif tampan itu adalah sesaat setelah pemasangan cincin nikah mereka. Keceriaan bersama teman-temannya membantu Nico melupakan rasa takutnya.


Nico yang merasa lega karena telah melewati masa-masa menakutkan di mimpinya, merasa bahagia. Melihat keceriaan di wajah suaminya, Reana pun ikut bahagia. Mereka jadi lupa pada ketakutan mereka karena begitu meriahnya acara pesta pernikahan mereka.


Acara pernikahan Nico dan Reana berjalan dengan lancar. Mereka terlihat sangat bahagia menyapa para tamu undangan yang merupakan kenalan, sahabat, saudara dan teman kerja. Reana dan Nico terlihat berkeliling menyapa para tamu satu persatu.


"Akhirnya bersama juga, semoga bahagia selamanya."


"Selamat Reana, kalian benar-benar berjodoh."


"Setelah melalui masa sulit, cinta kalian tetap kokoh. Semoga kalian bahagia selamanya."


Kata-kata dan doa-doa mengalir untuk mereka. Siapa pun yang mereka sapa. Jika itu adalah kenalan Nico maka Reana diperkenalkan pada kenalannya itu. Jika itu adalah kenalan Reana maka Nico lah yang diperkenalkan. Kadang mereka menyapa bersama, kadang mereka menyapa sendiri-sendiri. Saat ada yang ingin dikenalkan mereka pun saling mencari.

__ADS_1


Reana sedang berbincang dengan Alika saat Nico mengajaknya untuk berkenalan dengan dewan direksi yang akan membantunya di kantor pusat yang baru. Para direksi itu mengagumi kecantikan Reana. Nico disebut sebagai pengantin pria yang sangat beruntung menikahi gadis itu.


"Kak, aku mau menyapa temanku dulu ya Kak," bisik Reana.


Saat Nico telah terlibat pembicaraan serius, Reana minta diri untuk menyapa teman-temannya yang lain. Nico pun mengangguk membiarkan istrinya itu menemui teman-temannya. Nico pun terlibat pembicaraan yang seru dengan para dewan direksi. Saat asyik berbincang tentang bisnis yang akan mereka rencanakan tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namanya.


Nico menoleh, ke arah pintu masuk ballroom itu. Terlihat Tn. Malvin yang tersenyum padanya. Nico tak akan peduli dengan senyum manis rivalnya dalam merebut cinta Reana itu. Namun, saat melihat laki-laki itu tersenyum sambil menggendong seorang berpakaian pengantin itu yang membuatnya sangat kaget.


"Reana!!" jerit Nico langsung berlari mengejar.


Namun, Reana terlihat terkulai dalam gendongan Tn. Malvin. Eksekutif muda itu mundur dan langsung membawa Reana pergi. Orang-orang di sekitar langsung berupaya mengejar Tn. Malvin yang sedang menggendong Reana. Akan tetapi, langkah mereka terhenti saat beberapa pengawal Tn. Malvin menodongkan senjata api pada tamu yang mencoba mengejar.


Tn. Malvin dan para pengawalnya menghilang, Nico dan teman-temannya pun tetap berusaha mengejar. Saat Tn. Malvin masuk ke dalam lift, Nico dan teman-teman mengejar melalui tangga darurat. Meski nafas mereka tersengal-sengal, mereka tetap berusaha mengejar. Hingga akhirnya sampai di parkir basement gedung mewah itu.


Nico panik, menatap ke sekeliling area parkir gedung itu. Namun, tak ada jejak Reana atau pun Tn. Malvin. Berlari mereka ke sana kemari mencari sambil memanggil-manggil nama gadis itu tetapi tetap tak ditemukan, jejaknya pun tak terlihat lagi.


Semua karena langkah mereka yang terhenti saat para pengawal yang menodongkan senjata pada mereka. Nico trauma, jika benda kecil itu meletus akan ada korban yang jatuh lagi. Sekilas teringat lagi bunyi letusan yang keras dan singkat tapi mampu merobohkan gadis yang dicintainya. Nico menjambak rambutnya sendiri karena frustasi.


"Tenang Nick!" ucap Ardy.


"Apa katamu? Tenang? Istriku dibawa lari orang, kamu minta aku untuk tenang? Dito! Kamu bisa tenang melihat istrimu dibawa lari orang di depan matamu sendiri?" tanya Nico semakin panik.

__ADS_1


Laki-laki itu bahkan berteriak-teriak memanggil nama Reana. Sekian lama mencari-cari akhirnya Nico terduduk pasrah. Laki-laki itu menatap kosong ke lantai parkir basement itu sambil menangis.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2