Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 114 S2 ~ Cemburu ~


__ADS_3

Reana meminta izin untuk masuk ke kamar Nico. Saat melihat-lihat isi kamar, pandangan Reana menatap bingkai foto di atas meja belajar. Entah mengapa saat menatap foto gadis manis yang tersenyum itu, hatinya terasa perih.


Model rambut ini … ternyata model rambut Angela? batin Reana bertanya.


Reana reflek menyentuh rambutnya. Menggenggam erat rambutnya, tanpa disadari air matanya mengalir. Reana menyesal karena selama ini telah mengikuti keinginan Nico. Merasa kalau suaminya itu menjadikan dirinya sebagai dari gadis yang menjadi cinta pertamanya.


Tega sekali Kakak melakukan ini padaku? Menyimpan cinta pertamamu hingga detik ini. Perlakukan aku sebagai penggantinya. Kak Nico tega menipuku? Aku benci Kak Nico. Aku benci. Menjadikan aku sebagai penggantinya, teganya Kakak melakukan ini padaku, batin Reana sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Reana merasa Nico menginginkannya mirip dengan cinta pertamanya. Wanita itu menganggap Nico ingin Reana terlihat seperti Angela. Terbukti Nico yang selalu ingin mengantarnya ke salon yang biasa didatangi Angela.


"Rupanya di sini? Aku mencarimu ke mana-mana," seru Nico segera masuk ke kamar itu untuk menghampiri istrinya.


Nico terkejut saat melihat wanita itu sedang berusaha menghapus air matanya. Nico segera membalik tubuh Reana ke hadapannya. Terlihat matanya yang masih basah dan hidungnya yang memerah. Nico segera menangkup wajah istrinya dan menatapnya dengan heran.


"Ada apa sayang? Kenapa menangis?" tanya Nico heran.


Reana memalingkan wajahnya. Nico memaksa wanita itu kembali menghadap ke arahnya. Melihat Nico yang memaksa, Reana ingin pergi dari ruangan.


"Sekali lagi aku tanya padamu kenapa kamu menangis?" tanya Nico dengan nada yang semakin meninggi bahkan membentak.


Langkah Reana terhenti. Wanita itu menunduk dan semakin menangis. Reana membalik badan, dengan terisak-isak mendengar Nico yang membentaknya. Tanpa sengaja menoleh ke arah bingkai foto di atas meja belajar. Reflek Nico menoleh ke arah pandangan mata Reana.

__ADS_1


"Apa karena ini? Katakan padaku apa karena foto ini?" tanya Nico.


"Kenapa? Kenapa menikahiku jika masih mencintainya–"


"Apa?"


"Kakak membuat aku mirip dengan Angela. Model rambut ini adalah model rambut miliknya. Kakak berusaha membuat aku terlihat mirip dengannya–"


"Cukup! Kamu cemburu pada orang yang sudah meninggal?" tanya Nico sambil mengacung-acungkan bingkai foto Angela.


"Ya, ya, ya, aku cemburu padanya. Kakak nggak pernah mencintaiku. Dalam hati Kakak hanya dia. Hingga kini masih menyimpan fotonya. Kakak selalu mengajakku ke salon yang sering didatanginya dan memotong rambutku sama persis seperti model rambutnya," ungkap Reana dengan terisak-isak.


"Ya ampun Reana! Kenapa sampai sejauh itu pikiranmu. Aku sama sekali tak bermaksud seperti itu. Aku tak peduli seperti apa potongan rambutmu. Mirip atau tidak dengan Angela. Mana mungkin aku menyamakan kalian. Kamu dan Angela itu tak akan sama. Kalian berbeda 180 derajat. Dia ceria dan percaya diri. Kamu pendiam dan penyendiri, mana mungkin aku bisa membuat kalian mirip–"


"Aku tidak pernah memerintahkan siapa pun untuk memotong rambutmu dengan model yang sama dengan Angela. Jangan salahkan aku karena itu dan jangan menuduh aku masih mencintai Angela," ucap Nico.


"Buktinya Kakak masih menyimpan fotonya. Agar di saat Kakak merindukan Kakak masih bisa memandang fotonya," ucap Reana.


Mendengar tuduhan Reana, Nico langsung membanting bingkai foto itu hingga hancur di lantai. Reana menjerit histeris sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Nico menepis pecahan kaca yang menutupi foto itu dengan tergesa-gesa hingga membuat tangan laki-laki itu terluka. Reana kembali terkejut melihat Nico meringis sakit.


Laki-laki itu meninggalkan kamar sambil membawa foto itu bersamanya. Reana berlari mengejar langkah Nico yang tergesa-gesa. Laki-laki melangkah ke arah dapur. Membuat para pelayan dan tukang kebun itu kaget karena tak biasanya Nico masuk ke dapur.

__ADS_1


"Pak boleh pinjam korek api?" tanya Nico yang yakin kalau bapak itu memilikinya karena seorang perokok.


Tukang kebun itu menyerahkan korek api pada Nico. Laki-laki itu menerimanya dan langsung melangkah ke beranda belakang. Reana kaget saat melihat Nico membakar foto Angela. Reana menangis terisak-isak melihat foto kenangan cinta masa lalu Nico perlahan berubah menjadi abu. Segera membuang sisanya saat hampir habis terbakar.


"Puas?" tanya Nico dengan nada ketus.


Lalu melangkah meninggalkan istrinya. Reana membalik badan ke arah Nico yang berjalan meninggalkannya. Wanita itu mengejar tetapi kakinya terasa berat. Reana hanya menangis tertunduk.


"Maaf." 


Hanya itu kata-kata yang bisa diucapkannya. Reana menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menangis tersedu-sedu menyalahkan diri sendiri.


"Kenapa aku begini? Kenapa selalu berbuat salah. Kenapa selalu membuat orang kesal," ucap Reana yang menyalahkan diri sendiri.


Mendengar ucapan Reana, langkah kaki Nico terhenti. Lalu membalik badan menatap istrinya yang menangis tertunduk. Nico juga tidak tahan mengabaikan Reana. Hatinya iba melihat istrinya yang menyalahkan diri sendiri. Nico akhirnya melangkah mendekati istrinya dan langsung memeluk wanita yang semakin menangis tersedu-sedu.


"Maaf Kak. Maafkan aku Kak," ucap Reana menyesal di sela-sela isak tangisnya.


Melihat Nico membakar foto Angela yang telah bertahun-tahun bertengger di atas meja belajarnya. Untuk membuktikan pada istrinya, bahwa semua itu tak ada artinya lagi baginya. Reana menjadi merasa bersalah. Merasa pengorbanan Nico terlalu besar untuk membuktikan ucapannya.


"Apa pun akan aku lakukan untuk membuatmu tenang. Apa pun untuk membuatmu yakin. Aku mencintaimu Reana. Hanya kamu. Masa laluku telah terhapus. Yang bisa melakukan itu hanya kamu. Aku tak bisa menemukan wanita mana pun untuk menghapus kenanganku bersama Angela. Tapi setelah mengenalmu hatiku terasa bebas dari masa lalu. Hanya kamu yang bisa melakukan itu dan hanya kamu yang bisa. Sekarang aku tak inginkan siapa-siapa lagi. Hanya ingin bahagia bersamamu," ucap Nico sambil memeluk dan membelai rambut istrinya.

__ADS_1


Reana membalas memeluk suaminya. Reana hanya ingin mempercayai suaminya. Mempercayai bahwa dirinya sungguh-sungguh berarti bagi Nico.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2