
Reana tak diizinkan melakukan apa pun, membantu apa pun oleh suaminya. Para sahabat memaklumi. Rasa khawatir Nico yang berlebihan karena mereka telah menunggu hadirnya buah hati mereka sejak lama.
Demi kelangsungan keturunan dan demi membahagiakan ibunda Nico yang hingga sekarang masih belum bisa menerima Reana sebagai menantu secara seutuhnya. Setidaknya itulah yang dirasakan Nico dan Reana. Berharap dengan hadirnya seorang anak bisa membuka hati ibu itu agar bisa menerima Reana.
Sikap Nico yang terlihat begitu memanjakan istrinya, membuat Lisca muak. Meski gadis itu sendiri tidak melakukan apa pun. Dina, Dito dan Rommy yang bertanggung jawab menyiapkan makanan untuk mereka.
Merasa bosan dan tak enak hati, Reana hendak menyapa para juru masak itu. Namun, di saat Reana ingin berdiri Lisca pun tiba-tiba berdiri. Keduanya bertumburan membuat Reana jatuh ke belakang. Nico langsung kaget dan menghampiri istrinya.
"Kamu tidak apa-apa? Kita periksa ke dokter ya sayang?" tanya Nico yang langsung khawatir dengan kandungan Reana.
Wanita itu terdiam sejenak, seperti ingin merasa-rasakan. Lalu menggelengkan kepalanya, dengan senyum dibibir demi menenangkan hati suaminya. Melihat Reana yang terlihat ragu, laki-laki itu bersikeras untuk memeriksakan kandungan istrinya.
"Nggak apa-apa Kak. Aku nggak merasakan sakit atau rasa apa pun," ucap Reana yang berusaha berdiri dan Nico justru menggendongnya.
__ADS_1
"Kalau begitu istirahat di kamar. Aku nggak mau terjadi apa-apa pada anakku," ungkap Nico melangkah menuju kamar.
"Ih Kakak malu, masa ninggalin teman-teman?" tanya Reana.
"Nggak apa-apa, mereka bisa mengerti. Mereka juga menganggap villa ini rumah sendiri, biarkan saja mereka bebas melakukan apa saja," ucap Nico.
"Ih Kak Nico," ucap Reana berharap diturunkan dari gendongan Nico.
Nico seperti mendapat dukungan. Laki-laki itu segera menggendong istrinya ke kamar. Membaringkan istrinya itu lalu ikut berbaring sambil memeluk Reana.
"Kok Kakak ikutan istirahat?" tanya Reana.
"Biar saja! Aku ingin santai bersama istriku," ucap Nico.
__ADS_1
"Ingin bersantai? Emangnya dari tadi kerja keras?" tanya Reana sambil tersenyum.
"Ya, aku kerja keras menahan diri agar tidak memeluk dan menciummu di depan mereka. Kamu tahu? Hal yang paling aku inginkan hanya bermesraan denganmu, selebihnya dianggap kerja keras. Apalagi saat ini, terus terang, aku merasa tak enak dengan tunangan si Ardy itu. Apa aku yang terlalu gede rasa atau bagaimana? Aku merasa dia sering melirik-lirik padaku. Rasanya tidak nyaman. Dari tadi aku ingin kabur sama kamu ke kamar," ucap Nico.
"Untung niatnya kabur sama aku. Kalau sama dia, aku sedih sekali," ucap Reana tersenyum.
"Justru aku ingin kabur dari dia," ungkap Nico.
Mereka tertawa serentak. Reana mengusap wajah suaminya yang tampan itu. Reana bukannya tak merasakan apa yang dirasakan Nico. Begitu mendengar Nico menjabat sebagai CEO, perhatian Lisca langsung tercurah pada suaminya. Naluri wanitanya berbisik kalau Lisca mengincar perhatian suaminya.
Namun, semakin dilirik semakin Nico menunjukkan perhatiannya pada Reana. Memeluk istrinya, menyandarkan di dadanya, bahkan mengecup puncak rambut dan kening istrinya itu saat berbincang dengan Ardy. Entah merasakan kalau tindakan Nico berlebihan atau apa, Lisca merasa sangat iri melihat sikap mesra Nico pada istrinya.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1