Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 41 ~ Melepasmu ~


__ADS_3

Staff mengarahkan wartawan untuk menempati tempat duduk yang telah disediakan, memberi mereka bahan-bahan, informasi dan sebagainya.


Dihadapan mereka telah duduk Reana, tuan Malvin dan seorang moderator yang merupakan public relation perusahaan ini, dan nantinya akan memimpin dan mengatur jalannya konferensi pers.


Konferensi Pers dimulai, moderator menyambut semua hadirin dan memperkenalkan Tuan Malvin serta Reana sebagai pembicara. Mempersilahkan tuan Malvin memaparkan informasi-informasi yang ingin disampaikan guna meningkatkan citra perusahaan.


Diakhir pemaparan tuan Malvin mengumumkan perihal pernikahannya dan memperkenalkan Reana sebagai calon istrinya. Hal inilah yang justru ditunggu-tunggu oleh para wartawan.


Bukan karena apa-apa, informasi tentang keberhasilan dan kesuksesan perusahaan tuan Malvin bukan menjadi berita baru. Performa perusahaan yang dipimpin tuan Malvin tak perlu diragukan lagi.


Namun perihal pernikahan tuan Malvin adalah sesuatu yang baru dan menarik, dimana tuan Malvin sangat terkenal sering bergonta-ganti pasangan dan belum pernah menunjukkan keseriusannya untuk menikah.


Laki-laki tampan dan sukses itu sebentar-sebentar tertangkap kamera di salah satu resort miliknya bersama seorang wanita. Beberapa hari kemudian berenang bersama wanita lain di sebuah pulau eksotik nan cantik.


Atau berpesta bersama teman-temannya di Villa mewah dengan mengandeng seorang wanita cantik. Dan lain-lainnya yang tak bisa dijelaskan satu persatu karena begitu banyaknya gadis-gadis cantik yang pernah tersenyum dalam rangkulannya.


Tiba saatnya sesi tanya jawab, moderator meminta wartawan meng-identifikasikan diri sebelum mengajukan pertanyaan.


Moderator mempersilahkan wartawan yang ingin mengajukan pertanyaan kepada tuan Malvin. Serentak semua wartawan mengacungkan tangan. Meminta kesempatan untuk bertanya.


Tuan Malvin memilih salah satu wartawan dari sebuah majalah bisnis yang sering menampilkan profil-profil pengusaha muda dan terkenal.


Wartawan tersebut berdiri dan memperkenalkan diri, dengan sopan mengajukan pertanyaan pada tuan Malvin.


"Tuan Malvin, anda terkenal sebagai seorang sukses yang suka berganti-ganti pasangan, suka bersenang-senang, dan tak ada keinginan untuk menikah. Kenapa tiba-tiba sekarang tuan Malvin memutuskan untuk menikah? " tanya wartawan itu, kemudian kembali duduk di bangkunya.


Tuan Malvin tertawa, dalam hatinya dia sudah mengira pertanyaan seperti itu pasti muncul. Tuan Malvin berterima kasih atas pertanyaan pertama yang disampaikan wartawan itu dan langsung menjawabnya.


"Suka berganti-ganti pasangan ? itu hanyalah penilaian sepihak dari orang-orang, saya tidak peduli jika orang berpendapat seperti itu, suka bersenang-senang ? siapa yang tidak ingin bersenang-senang jika mereka mampu. Tapi tak ada keinginan untuk menikah? itu perlu saya luruskan, saya sama seperti orang lain, saya juga ingin menikah, saya hanya menunggu waktu yang tepat dengan orang yang tepat" penjelasan tuan Malvin sambil menoleh pada Reana dan tersenyum.


Para wartawan kembali mengacungkan tangan, moderator memilih salah satu, kali ini seorang wartawati, setelah memperkenalkan diri, pertanyaanpun dilontarkan.


"Lalu bagaimana dengan gosip bahwa anda dekat dengan banyak wanita, apakah anda menyangkalnya?" tanya wartawati itu.


"Itulah masalahnya, saya suka berteman dengan siapa saja, pria ataupun wanita, tapi gosip selalu datang saat saya dekat dengan seorang wanita, kenapa tidak ada yang menggosipkan saya dengan seorang pria? " tanya tuan Malvin, semua orang diruangan tertawa.


"Semua wanita itu hanyalah teman" sambung tuan Malvin memastikan jawabannya.


"Teman tapi mesra" celutuk wartawan dibelakang, semua kembali tertawa, tuan Malvin tersenyum.


Hanya Reana yang masih diam, gadis itu tenggelam dalam lamunannya sendiri. Semua orang tau gaya hidup tuan Malvin. Ada yang menganggap itu adalah hal biasa bagi seorang pengusaha tampan dan sukses sepertinya.


"Pertanyaan saya untuk nona Reana" tanya seorang wartawan.


Mendengar namanya disebut Reana kaget, gadis itu tersentak dari lamunannya.


"Kenapa nona bersedia menikah dengan tuan Malvin ?" tanya wartawan tsb.


Bagi wanita lain pertanyaan itu tentu bukan pertanyaan yang sulit. Tapi bagi Reana itu adalah pertanyaan yang mematikan. Gadis itu bingung untuk menjawabnya.


"Saya... karena..." ucap Reana yang tidak siap menjawab.


Gadis itu panik, tuan Malvin berjanji bahwa dia tidak akan menjawab pertanyaan apapun. Gadis itu benar-benar tidak tau jawaban yang terbaik untuk diucapkan.


"Tentu saja karena Reana sangat menyukai saya, dia hanya malu untuk mengungkapkannya" jawab tuan Malvin sambil meraih tangan Reana dan mengecup punggung tangan gadis itu.


Ruangan riuh, semua wartawan kagum melihat cara tuan Malvin memperlakukan Reana, bahkan ada yang bertepuk tangan.


"Dari semua wanita yang anda kenal, apa alasan yang membuat anda bertekuk lutut pada nona Reana ?" tanya wartawan selanjutnya.


Tuan Malvin pura-pura berpikir.


"Kalau saya bilang, dia gadis yang cantik apa kalian percaya? " tanya tuan Malvin sambil tersenyum.


Para wartawan tertawa.


"Kalau itu kami sudah melihat sendiri tuan" celutuk wartawan di belakang.


Tuan Malvin kembali tersenyum menoleh pada Reana. Gadis itu hanya melihat sekilas pada tuan Malvin.


"Karena Reana berbeda" ucap tuan Malvin singkat.


Semua wartawan diam menunggu penjelasan tuan Malvin selanjutnya.

__ADS_1


"Satu-satunya gadis yang memandang seseorang bukan karena hartanya" lanjut tuan Malvin menjelaskan.


"Maaf karena keterbatasan waktu, kami hanya bisa menjawab satu pertanyaan lagi" ucap moderator mengingatkan.


Seorang wartawati kembali dipilih mengajukan pertanyaan.


"Nona Reana akan segera menikah, tapi kenapa wajahnya terlihat murung ? " tanya wartawan itu mengejutkan semua orang.


Reana gelagapan, kembali menoleh pada tuan Malvin.


Tuan Malvin kembali berinisiatif menjawab pertanyaan yang diajukan untuk Reana.


"Maaf jika terlihat seperti itu, pernikahan kami dilaksanakan dalam waktu singkat. Reana harus menjalani serangkaian kegiatan persiapan pernikahan yang sangat padat. Dia tentu merasa sangat letih, Reana memaksakan diri hadir disini hanya untuk mengenal dan menyapa saudara-saudara semua" ucap tuan Malvin menjelaskan sekaligus mengakhiri konferensi pers ini.


Wartawan bertepuk tangan riuh, bahkan ada yang mengucapkan terima kasih pada Reana. Pertanyaan tadi merupakan pertanyaan terakhir, semua wartawan berdiri.


Begitu juga tuan Malvin yang mengajak Reana mendekat pada para wartawan. Tuan Malvin dan para wartawan saling bersalaman.


Beberapa wartawan meminta izin untuk mengambil foto tuan Malvin dan Reana. Tuan Malvin bersedia dan wartawanpun mengambil fotonya bersama Reana. Seorang wartawan meminta tuan Malvin berpose mesra dengan Reana.


Tuan Malvin tertawa lalu mendekat pada Reana, gadis itu bingung dan panik. Tuan Malvin menarik pinggang Reana mendekat, lalu mencium pipi gadis itu. Kilatan blitz kamera kembali menghujani mereka.


Acara konferensi pers resmi berakhir, para wartawan bergerak meninggalkan hotel. Begitu juga para penyelenggara yang satu persatu meninggalkan tempat menuju ruangan masing-masing.


Setelah mendapat ucapan terima kasih dan pujian dari tuan Malvin atas kerja keras mereka karena telah sukses menyelenggarakan konferensi pers ini.


Tuan Malvin membawakan minuman untuk Reana. Laki-laki itu merasa kasihan pada gadis yang terlihat letih itu.


"Maaf dan terima kasih" ucap tuan Malvin sambil menyerahkan minuman itu pada Reana.


"Maaf karena selalu menambah kegiatan yang melelahkan dan terima kasih karena mau menjalaninya meski itu membuat tubuhmu merasa lelah" lanjut tuan Malvin.


Reana hanya diam memandang tuan Malvin sekilas lalu menoleh pada minuman yang diberikan oleh tuan Malvin.


Meneguk minuman non alcoholic rose wine itu dengan sekali teguk.


Reana memandang heran pada gelasnya yang langsung kering. Tuan Malvin tertawa melihat tingkah gadis itu, Reana meneguk minuman berharga ratusan ribu hanya dengan sekali teguk.


Tuan Malvin menawarkan lagi, Reana menggelengkan kepala. Saat ini mereka sedang berdiri di balkon samping ruang kerja tuan Malvin.


Hembusan nafas tuan Malvin mengagetkan Reana. Gadis itu mundur dengan wajah panik. Tuan Malvin berhenti mendekatinya, dia tak ingin membuat gadis itu bertambah lelah lagi.


Tuan Malvin berpikir Reana sudah mau menerimanya. Gadis itu seperti pasrah menerima takdirnya. Terlihat dari sikap Reana yang hanya mengikuti keinginannya. Tapi untuk bermesraan dengannya, tuan Malvin pikir Reana belum siap untuk itu.


Tuan Malvin merasakan ponselnya bergetar, meminta izin pada gadis itu untuk menerima telepon. Tuan Malvin menyarankan Reana beristirahat, menunjuk pada kursi malas empuk berbahan lembut.


Tuan Malvin berjalan ke ruangan sebelah untuk menerima telepon. Laki-laki itu tak ingin mengganggu istirahat Reana. Gadis itu memandang pada kursi malas yang letaknya tak jauh dari pintu kaca balkon.


Rebahan di kursi malas itu, bisa merasakan angin yang masuk dari balkon. Menikmati hembusan angin sambil menatap langit, tentulah bisa menenangkan hati dan pikiran. Reana merasakan lembutnya permukaan kursi empuk itu.


Tuan Malvin pasti beristirahat di kursi ini disela-sela kesibukannya, pikir Reana.


Tuan Malvin kembali masuk ke kantornya setelah selesai menerima telepon. Laki-laki itu terpaku menatap Reana yang tertidur di kursi malas. Wajahnya terlihat begitu tenang dan damai.


Tuan Malvin mendekat, duduk dibawah sambil terus memandangi gadis itu dari dekat. Menyibak lembut helaian rambut yang menutupi matanya. Tuan Malvin tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu.


Cantik sekali, hanya melihat seperti ini saja, rasanya sudah begitu senang, bagaimana jika sudah memilikinya? memiliki bibir lembut itu, pikir tuan Malvin.


Matanya mengarah ke bibir Reana, memandang lama, matanya seperti tak mau beralih dari situ, perlahan laki-laki itu bergerak mendekat. Sedikit lagi bibir tuan Malvin akan menyentuh bibir Reana.


Apa aku orang seperti itu ? hanya bisa mencuri ciuman, tidak, aku ingin dia menyerahkan dirinya dengan ikhlas padaku, batin tuan Malvin.


Laki-laki itu mundur dan hanya duduk sambil menopang dagu memperhatikan gadis yang masih tertidur pulas itu.


Reana pasti sangat lelah, bisik hati tuan Malvin.


Ponsel tuan Malvin kembali bergetar, laki-laki itu buru-buru berdiri berjalan menuju ruang sebelah. Gerakan tuan Malvin membuat Reana terbangun. Sejenak gadis itu bingung bagaimana bisa tertidur disitu, Reana baru teringat kalau dia hanya ingin merebahkan diri tapi justru malah tertidur.


Tuan Malvin kembali ke ruang kerjanya, melihat Reana yang telah bangun dan duduk di kursi malas itu.


"Reana sudah bangun, ingin pulang sekarang ?" tanya tuan Malvin sambil duduk di samping Reana.


"Kenapa masih di sini ? kenapa tidak langsung pulang ? " pertanyaan Reana yang dari tadi ingin di tanyakannya.

__ADS_1


"Saya ingin pulang bersamamu tapi masih ada sedikit urusan, saya harus segera menyelesaikannya agar tenang menunggu hari pernikahan kita" jelas tuan Malvin.


Menunggu hari pernikahan adalah perasaan yang menggembirakan bagi tuan Malvin, berbanding terbalik dengan perasaan Reana.


Namun gadis itu hanya bisa pasrah mengikuti, Reana merasa tak mungkin lagi terlepas dari jeratan pernikahan tuan Malvin, kecuali laki-laki itu sendiri yang ingin melepaskannya.


"Ayo kita pulang sekarang, dirumah kamu bisa istirahat dengan nyaman" ucap tuan Malvin sambil meraih tangan Reana.


Gadis itu mengikuti, disepanjang jalan menuju lobby tuan Malvin tak melepaskan tangan Reana. Laki-laki itu semakin terbiasa bersikap mesra didepan banyak orang.


Atau ini memang taktiknya karena Reana tak mungkin menolak di depan orang karena bisa mempermalukan tuan Malvin. Seperti saat pengambilan foto bersama, gadis itu hanya pasrah mendapat ciuman di pipi dari tuan Malvin.


Hingga sekarang masih terasa. Tuan Malvin merasa hatinya berbunga-bunga jika mengingat hal itu. Di wajahnya selalu mengembang senyuman.


"Reana" terdengar teriakan dari pintu lobby hotel.


Nico berdiri disana sambil memandang kedua calon pengantin itu. Senyum di wajah tuan Malvin langsung hilang, Reana murung.


"Aku ingin bicara denganmu, kamu harus menjelaskan semuanya padaku. Aku ingin tau perasaanmu yang sesungguhnya" ucap Nico lantang sambil berjalan mendekati Reana dan tuan Malvin.


Para pengawal segera menghadang Nico, tapi Nico tak peduli, matanya memandang tajam pada pengawal didepannya. Laki-laki itu sudah tidak peduli apa-apa lagi, mati disinipun dia berani, yang terpenting baginya bisa mendapatkan Reana kembali.


Para pengawal itu tidak mau menyingkir, kesabaran Nico sudah habis, laki-laki segera melayangkan tinjunya pada pengawal menyebalkan itu. Pengawal itu terjatuh, yang lain segera menyerang Nico.


Tak menunggu giliran para pengawal itu menyerang bersamaan. Nico mengelak, namun serangan yang bertubi-tubi tak mampu semuanya dihindari. Nico mendapat pukulan di wajah dan perutnya.


Reana gemetar melihat perkelahian yang tak seimbang itu. Nafas Reana terasa berat, gadis itu melihat pada tuan Malvin yang berdiri disampingnya.


"Hentikan, hentikan mereka bisa membunuhnya" ucap Reana memohon pada tuan Malvin.


Tuan Malvin hanya diam, seperti sedang menikmati tayangan seru, dia mengabaikan permohonan Reana. Tuan Malvin yakin laki-laki itu tidak akan berhenti sampai dia terkapar tak sanggup melawan lagi.


Sebenarnya tuan Malvin bisa menghentikannya sekarang namun melihat kekhawatiran Reana terhadap laki-laki itu membuat tuan Malvin kesal.


"Reana, aku tidak akan berhenti sampai kamu ikut denganku" jerit Nico disela-sela perkelahiannya.


Nico terus bertahan, melawan, memberikan pukulan dan tendangan pada para pengawal. Laki-laki yang pernah menjadi Atlit taekwondo pada kejuaraan tingkat SMA itu terus memberikan perlawanan.


Meskipun lawannya adalah orang-orang yang telah terlatih namun Nico tidak peduli. Dia harus merebut Reana kembali, tekadnya lebih kuat dari rasa takutnya. Laki-laki itu mendapat tendangan diperutnya terhuyung kebelakang meringis kesakitan.


Reana tak mampu lagi melihatnya.


"Biarkan saya bicara dengannya, saya akan membuatnya pergi dari sini" ucap Reana.


Reana tidak sanggup lagi melihatnya. Membiarkan Nico lebih lama disini bisa membuat laki-laki itu mati. Nico sudah nekat tapi tetap tak akan mampu menahan serangan dari pengawal yang begitu banyak.


"Pastikan laki-laki itu pergi dari sini, aku tidak suka melihat wajahnya, dia nekat aku juga bisa nekat, tak ada yang bisa menuntutku, dia datang kesini membuat keributan, usir dia dari hidupmu atau dia kuhabisi" ancam tuan Malvin pada Reana, memandang Nico tak berkedip.


Tuan Malvin mengangkat tangannya memberi kode agar para pengawal menghentikan perkelahian. Para pengawal minggir, sebagian dari mereka mengalami luka. Begitu juga dengan Nico, laki-laki itu menderita luka lebam dimana-mana. Bibirnya pecah mengeluarkan darah.


Reana berjalan kearah Nico yang berdiri sambil memegang perutnya yang terasa sakit. Gadis itu berjalan perlahan dengan gaun indah dan sepatu cantik berharga puluhan juta. Perhiasan lengkap menghiasi tubuh Reana, membuatnya terlihat bersinar.


Gadis itu tak lagi seperti Reana, sikap dan gayanya yang anggun mengalahkan pesona gadis-gadis kaya. Reana berjalan di lobby hotel dengan suara detak sepatu yang menggema di seluruh ruangan.


Semua orang terpaku, menatap mengikuti langkah Reana yang berjalan dengan elegan. Reana semakin dekat, berhenti dan menatap wajah yang ada dihadapannya.


Nico tersenyum penuh kerinduan, namun tak ada balasan dari gadis itu. Reana diam memandang dingin pada laki-laki di hadapannya. Tak ada perasaan khawatir, sedih melihat keadaan Nico yang penuh luka.


Reana telah berubah, senyum di wajah Nico perlahan memudar.


"Kak Nico, jangan lagi mencariku, aku sudah memilih tuan Malvin, dia menyayangiku, dia memanjakanku dan aku merasa nyaman bersamanya. Maaf, kebaikan tuan Malvin telah membuatku melupakanmu. Kedatanganmu hanya merusak kebahagiaanku. Kak Nico tidak berarti lagi bagiku " ucap Reana datar.


Tak ada ekspresi kesedihan diwajahnya, hanya tatapan dingin yang tegang, Reana mengepalkan tangan untuk menjaga dirinya agar tetap tenang.


Air mata Nico mengalir, kata-kata kejam itu keluar dari mulut gadis yang dirindukannya. Nico mundur tertunduk, lututnya terasa lemas.


Dia bahkan belum mengungkapkan perasaannya, tapi gadis itu telah lebih dulu memutus harapannya. Reana berbalik dengan tenang menuju tuan Malvin.


Reana berjalan dengan anggun layaknya langkah seorang wanita kelas atas. Nico memandang punggung Reana yang makin menjauh dengan perasaan hancur. Gadis itu telah berubah, dia bukan Reana yang dikenalnya lagi.


Tapi siapa yang tahu? setiap langkah demi langkah gadis itu mengucurkan air mata. Jatuh melewati pipi hingga membasahi lehernya. Sedikitpun tangan gadis itu tak bergerak menghapusnya.


Dia ingin terlihat tenang dimata Nico dan membiarkan tuan Malvin melihat kesedihannya.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2