Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 26 ~ Tak Ingin Mengalah Lagi ~


__ADS_3

Reana menatap pagar tinggi di hadapannya. Pagar yang biasa dilaluinya sehari-hari, dimana selama ini Reana tinggal di salah satu kamar kost dalam lingkungan rumah besar itu. Sudah satu setengah tahun Reana menempati kamarnya, sejak dia di terima bu Yati di rumah itu.


Pagi ini, setelah mengikuti kuliah gadis itu bertekad mencari kamar kost sendirian. Kejadian tadi malam di apartemen, semakin membuat Reana takut tinggal lebih lama bersama Nico.


Nico terlalu baik, laki-laki itu memberikan segalanya untuk Reana, keinginan laki-laki itu untuk selalu menunjukkan kasih sayangnya terhadap Reana dengan memanjakan gadis itu dalam segala hal.


Hadiah-hadiah dan perlakuan lembut selalu diberikan laki-laki itu untuk Reana, membuat gadis itu terlena dan tak pernah berani menolak keinginan laki-laki itu. Hari itu mereka masih bisa mengatasi hasrat terpendam mereka.


Tapi bagaimana dengan hari-hari selanjutnya ? Reana takut mereka tidak bisa lagi menahan diri. Nico memiliki pesona yang tidak bisa dilawan perempuan manapun. Ditambah sikap gentleman dan romantis yang sudah melekat dalam dirinya.


Gadis mana yang mampu menahan tatapan lembut Nico?Karena itulah Reana harus segera menemukan kamar kost yang baru agar memiliki alasan untuk segera keluar dari apartemen laki-laki itu.


Setelah kuliah nya selesai gadis itu memeriksa pesan yang dikirim Nico padanya. Laki-laki itu meminta Reana menunggu karena ada jadwal bimbingan skripsi mendadak yang harus diikutinya.


Kesempatan itu digunakan Reana untuk pergi mencari tempat kost seorang diri, namun entah kenapa gadis itu justru berhenti di tempat kost lamanya. Rasanya gadis itu belum rela kehilangan kamar yang selama ini ditempatinya.


Setelah berdiri hampir setengah jam, memandang bangunan besar di hadapannya, akhirnya gadis itu memutuskan untuk pergi.


Apa mungkin masih ada kamar kosong untukku ? Nggak mungkin, jika masih ada kamar kosong, nggak mungkin Bu Yati memintaku keluar demi penyewa baru itu, bisik hati Reana.


Gadis itu sudah bersiap untuk pergi, membalikkan badan dengan berat hati.


"Reana, kamu Reana kan?" ucap seorang mahasiswi yang baru saja keluar dari pagar rumah besar itu, mengintip Reana yang baru saja hendak pergi.


Serta merta Reana menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya, dia melihat seorang penghuni kost yang di kenalnya.


"Kak Icut" balas Reana kaget


"Bagaimana kabarmu ? apa sudah mendapat kamar kost ?" tanya Cut Anisyah salah seorang penghuni kost yang sudah dianggap seperti kakak bagi para mahasiswi disana.


Reana menggeleng.


"Sementara ini saya menginap di sebuah apartemen milik seorang teman" jawab Reana pelan tanpa memberitahu siapa teman yang dimaksud.


Jika Reana menceritakan dia menginap di sebuah apartemen bersama seorang laki-laki, entah apa yang ada dalam pikiran Cut Anisyah.


Cut Anisyah, mahasiswi tingkat akhir yang sudah sangat lama tinggal di rumah kost Bu Yati. Saat suami Bu Yati belum lama meninggal, Cut Anisyah datang bersama temannya meminta untuk diterima sebagai penyewa kamar kost, saat itu mereka masih mahasiswi semester satu yang baru diterima di Universitas yang tak jauh dari rumah besar itu.


Bu Yati yang kesepian tinggal di rumah besar peninggalan suaminya, akhirnya memutuskan menerima mahasiswi-mahasiswi itu sebagai penyewa kamar-kamar di rumahnya.


Bukan hanya sekedar uang, Bu Yati lebih banyak menerima anak-anak itu karena kasihan, di tambah lagi di antara mereka adalah anak-anak yang berasal dari keluarga yang kurang mampu seperti halnya Reana.


"Sejak kamu pergi bu Yati sangat khawatir padamu, kamu ini salah satu putri kesayangan bu Yati. Beliau merasa prihatin melihat kegigihanmu bekerja mencari biaya hidup dan pendidikanmu" cerita Cut Anisyah pada Reana yang hanya bisa tertunduk.


"Ayo kita bicara, kamu belum makan kan ? kita bicara di warung depan yuk" ajak Cut Anisyah sambil menarik tangan Reana.


Setelah memesan makanan, Cut Anisyah langsung menceritakan kesedihan Bu Yati karena terpaksa mengusir Reana keluar dari kamar kostnya.


"Hampir setiap hari bu Yati menanyakan keadaanmu, bu Yati sangat takut kamu terjerumus ketempat-tempat yang nggak bener" lanjut Cut Anisyah.


Gadis keturunan Aceh itu sudah seperti kakak bagi semua penghuni kost. Gadis itu tak segan-segan membantu segala masalah adik-adik kostnya dari masalah keuangan, tugas-tugas kuliah hingga masalah percintaan.


Saat mengetahui Reana keluar dari rumah kost itu, Cut Anisyah sangat terkejut, mencoba menanyakan kejadian yang sebenarnya pada Bu Yati, namun dia tak bisa berbuat banyak saat mendengar permasalahan yang dihadapi Bu Yati.


"Semua gara-gara mahasiswi kaya yang ngotot ingin mengambil kamarmu.


Bahkan sampai mengancam bu Yati karena tidak memiliki izin usaha penyewaan kamar kost-an. Sebenarnya Bu Yati tidak ingin menerimanya, tapi karena ancamannya itu, terpaksa menerima gadis itu meskipun kamar kost sudah penuh.

__ADS_1


Cuma kamu satu-satunya yang belum membayar uang sewa.


Akhirnya Bu Yati nggak punya pilihan lain terpaksa memintamu keluar, nggak mungkin mengusir penyewa lain jika mereka sudah membayar kan?" cerita Cut Anisyah sambil menceritakan keluh kesah Bu Yati.


Reana hanya bisa mengangguk, memahami dilema bu Yati.


"Gadis itu membayar sewa hingga setahun penuh tapi hingga sekarang masih belum menempati kamarnya.


Jika Bu Yati bisa menemukan gadis itu, beliau ingin sekali mengembalikan uangnya.


Gadis itu seperti hanya ingin mengusirmu saja" lanjut Cut Anisyah pelan, seakan-akan bicara pada dirinya sendiri.


Reana hanya bisa tertunduk, melirik kearah jam tangannya, waktunya tak lama lagi. Sebentar lagi Nico selesai bimbingan skripsi dan Reana ingin segera sampai di kampus sebelum laki-laki itu tau kepergiannya dari kampus tanpa seizinnya.


"Sebentar-sebentar bu Yati selalu bertanya, mana si Rebecca itu, katanya mau tinggal disini, udah terlanjur.."


"Siapa kak, maaf, siapa nama penyewa itu?" tanya Reana tiba-tiba memotong ucapan Cut Anisyah.


"Rebecca, Bu Yati bilang namanya Rebecca," jawab Cut Anisyah penasaran dengan sikap Reana.


"Gadis bernama Rebecca itu, apakah seorang gadis cantik berambut pirang panjang, mengenakan pakaian mahal dan modis, kemana-mana selalu diikuti oleh teman-temannya, apakah seperti itu?" tanya Reana memberikan ciri-ciri Rebecca yang dikenalnya.


"Sepertinya begitu, kamu kenal dengannya?" tanya Cut Anisyah semakin penasaran.


"Dia sekelas denganku" jawab Reana lemah, gadis itu tidak menyangka, Rebecca masih saja membencinya dan berusaha untuk selalu menjahatinya.


Cut Anisyah langsung menarik tangan Reana, setelah membayar makan mereka, Cut Anisyah mengajak gadis itu segera menemui Bu Yati. Ditambah Bu Yati yang selalu menanyakan keadaan Reana. Jika Bu Yati tau Reana datang tapi tidak menemuinya, pasti Bu Yati akan merasa sedih.


Bu Yati langsung memeluk Reana, rasa khawatir pada keadaan gadis itu seperti layaknya seorang ibu khawatir terhadap anak gadisnya. Cut Anisyah langsung menceritakan tentang Rebecca yang sebenarnya adalah teman sekelas Reana.


Bu Yati mendengar penjelasan Reana dan Cut Anisyah bergantian. Dari situ Bu Yati mengambil kesimpulan bahwa Rebecca memang sengaja menarget Reana agar bisa terusir dari tempat kost itu.


"Benarkah bu, saya boleh kembali kerumah ini" tanya Reana seakan tidak yakin.


Rasanya tidak percaya, langkah kakinya untuk mampir ke rumah ini bisa membuatnya kembali ke kamar kesayangannya.


"Tentu saja, ibu lebih senang jika kamu yang menempati kamar itu dibanding gadis kaya yang sombong itu" ucap bu Yati meyakinkan Reana.


Reana sangat gembira menyambut keinginan bu Yati. Dalam hatinya tak pernah terbayangkan bu Yati akan tega mengusirnya tanpa alasan, karena sejak diterima dirumah itu. Bu Yati tak pernah mempermasalahkan uang sewa yang kadang telat dibayarkan Reana.


Bu Yati justru selalu memberi keringanan pembayaran dan bahkan memberi dukungannya terhadap gadis itu. Karena itu Reana merasa sangat betah tinggal disana. Sikap kasih sayang dan kelembutan bu Yati selalu mengingatkan gadis itu pada mamanya yang jauh di kampung halamannya.


Nico yang telah selesai bimbingan skripsi, berjalan tergesa mencari Reana. Nico tidak ingin membiarkan gadis itu menunggunya terlalu lama. Setelah mengirim pesan tadi gadis itu tidak memberi kabar lagi.


Dimana gadis itu ? batin Nico.


Laki-laki itu baru saja hendak menelepon Reana saat tiba-tiba melihat gadis itu berjalan tergesa-gesa menuju kearah kantin.


Nico segera mengejar Reana, mencoba memanggilnya tapi urung setelah melihat Reana yang berdiri berhadapan dengan Rebecca dan teman-temannya.


Nico penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, dibalik dinding yang tak jauh dari posisi Reana, Nico berdiri mendengar pembicaraan mereka.


"Saya sudah tau otak dibalik pengusiran saya dari kamar yang sudah saya tempati selama bertahun-tahun" ucap Reana setelah menghela nafas.


"Sampai kapan kamu akan mengusik ketenangan saya ? selama ini saya selalu mengalah, tak pernah sekalipun saya membalas perlakuan jahatmu, kamu tau kenapa ?karena saya kasihan sama kamu" ujar Reana melanjutkan pembicaraannya.


"Apa ? loe kasihan ama gue, hellow.. yang bener itu loe yang patut dikasihani" jawab Rebecca tak mau kalah.

__ADS_1


"Nggak, kamu yang perlu di kasihani, karena kamu adalah gadis kaya kesepian yang terlihat kuat dan bahagia di depan teman-temanmu.


Tapi sesungguhnya kamu hanyalah seorang gadis yang takut dikalahkan oleh seorang gadis miskin sepertiku" ujar Reana.


Setelah menarik nafas sejenak Reana kembali mengeluarkan isi hatinya yang selama ini hanya dipendam dalam-dalam.


"Kamu tau Rebecca, fokus seorang pelari adalah mencapai garis finish secepat mungkin.


Sementara kamu, demi mencapai garis finish, yang terpikirkan olehmu hanyalah bagaimana cara menyikut lawan-lawanmu.


Kamu pasti tau persis yang menyukai kak Nico itu banyak, sementara orang lain berlari semakin jauh meninggalkanmu, kau hanya sibuk mencari jalan untuk menjatuhkanku" ujar Reana panjang lebar.


Rebecca mengipas wajahnya yang kepanasan mendengar ucapan-ucapan Reana.


"Dan satu hal yang tidak kamu ketahui, semakin kamu menjahati saya, semakin kak Nico ingin menolong saya, apa itu yang kamu inginkan ?


Kenyataannya justru kamu yang mengantarkan kak Nico kehadapan saya" ujar Reana sambil menatap tajam pada Rebecca.


Rebecca dan teman-temannya makin kelabakan mendengar ucapan Reana.


"Sebenarnya saya orang yang tau diri, saya tau batasan saya.


Saya sadar, saya bukanlah orang yang pantas untuknya. Saya bahkan melarang diri saya sendiri untuk menyukainya.


Saya selalu berharap kamu adalah orang yang tepat untuknya, bahkan mendo'akan agar kamu bisa bahagia bersamanya.


Karena setidaknya kalian memiliki strata yang sama. Kalian serasi dan berasal dari keluarga dengan status sosial yang sama"


Rebecca dan teman-temannya tertawa sinis, Nico pergi dari tempat itu. Dia tidak ingin mendengar percakapan itu lebih lama lagi.


Mendo'akan ku bersama Rebecca, trimakasih kau tidak perlu repot-repot, batin Nico


Rebecca berkacak pinggang, dengan percaya diri menantang Reana.


"Kalau begitu menjauhlah, jangan halangi langkah gue, orang-orang seperti loe, hanyalah orang-orang yang merusak tatanan kehidupan yang seharusnya" ucap Rebecca merasa diatas angin.


"Tapi maaf Rebecca, sekarang tidak lagi, karena mulai sekarang saya tidak akan menyerahkan kak Nico pada orang sepertimu, silahkan mencari cara lain untuk menjatuhkanku" ucap Reana menatap tajam pada Rebecca.


Lalu mengingatkan sesuatu.


"Ah.. kamu nggak tau kan, demi ingin mengganti kamar kost yang kamu ambil, kak Nico ingin membelikanku sebuah apartemen di gedung yang sama dengannya.


Apa itu yang kamu inginkan ? nggak kan ?


Kalau begitu kembalikan kamarku, atau aku akan menerima pemberian apartemen dari kak Nico" lanjut Reana sambil meraih tangan Rebecca dan meletakkan amplop berisi uang sewa yang diberikan oleh bu Yati.


Reana pergi meninggalkan Rebecca yang tercenung. Gadis itu kesal setiap kali mencari jalan menyakiti Reana, Nico selalu tampil sebagai penolongnya.


"Udahlah Bec, nyerah aja, sulit dapetin kak Nico, cari yang lain aja sih, masih banyak cowok lain yang suka ama loe" ujar salah seorang teman Rebecca.


Rebecca memukul lengan gadis itu sambil menatap tajam kearahnya. Meskipun Rebecca tak memiliki harapan sedikitpun mendapatkan hati Nico, namun dia bukanlah tipe orang yang akan menyerahkan Nico begitu saja.


Jika dia tidak bisa mendapatkan Nico maka Reana pun tak boleh mendapatkannya. Itulah tujuan terpenting bagi Rebecca sekarang ini.


Namun Reana sekarang sudah berbeda, dengan jelas gadis itu sudah menyatakan keinginannya untuk mempertahankan Nico. Gadis itu tidak ingin mengalah lagi.


Meski Reana tidak tau apa yang akan dilakukan Rebecca terhadapnya kelak, gadis itu siap menghadapinya. Reana tak ingin mengalah lagi, dia sudah menyatakan perang terbuka terhadap Rebecca.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2