
Nico dan kembali ke apartemen. Mengajak istrinya itu untuk bernostalgia saat-saat mereka baru berjumpa. Saat hati Nico galau setelah menjalankan hukuman taruhannya. Mencium bibir gadis yang belum sempat berkenalan dengannya.
Saat itukah Nico jatuh cinta? Bukan! Saat melihat gadis biasa penyendiri itu menulis di papan tulis. Tak hanya Nico yang kagum padanya. Banyak yang terkagum-kagum menatapnya tetapi hanya Nico yang tak bisa melepaskannya. Rela melakukan apa saja demi meraih hati seorang Reana.
Menentang cinta pengusaha muda yang tampan dengan segala kekuasaannya dan akhirnya bisa menang. Membuat cinta Nico pada Reana semakin mendalam. Kini mereka ingin menikmati berdua saja dalam apartemen Nico yang pernah terisi dengan kenangan indah mereka.
Masih asyik bermalas-malasan di kamar, sambil memeluk istri tercintanya, mereka justru dikejutkan dengan suara bel pintu apartemen berbunyi. Dengan bermalas-malasan, Nico mengenakan pakaian dan segera membuka pintu. Sementara Nico menemui tamunya, Reana segera mengenakan pakaiannya.
Terdengar teriakan dari arah pintu apartemen. Membuat Reana kaget dan segera berlari melihat apa yang terjadi. Langkah wanita itu terhenti dan lalu tercengang. Reana menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Terlihat Rommy, Ardy, Dito bahkan istrinya datang ke apartemen Nico. Nico dan Reana bahkan saling tatap saat melihat seorang gadis yang belum mereka kenal.
Suara teriakan karena tak menyangka mereka akan berkumpul di apartemen Nico setelah pertemuan terakhir mereka saat pernikahan Nico dan Reana. Mereka saling memeluk dan menepuk punggung masing-masing. Begitu masuk mereka langsung dikejutkan oleh keadaan apartemen yang masih berantakan.
"Ada gempa bumi?" tanya Ardy langsung.
"Lokal, khusus mereka berdua aja," ucap Dito yang langsung tertawa.
"Dahsyat betul, sampai porak poranda," balas Ardy.
"Maaf ya Kak, kami baru kembali. Aku mau beres-beres malah dilarang Kak Nico," ucap Reana tak enak hati.
"Jangan! Jangan lakukan apa pun, istri seorang CEO tak boleh turun tangan mengerjakan tugas seperti ini," ucap Ardy.
"CEO?" tanya gadis itu.
"Ya, Nico adalah seorang CEO sekaligus ahli waris tunggal perusahaan besar milik keluarganya," jelas Ardy.
"Wah hebat!" seru gadis itu dengan binar di matanya menatap Nico.
Yang ditatap hanya tersenyum. Reana melihat sinar kekaguman yang sangat berlebihan dari gadis itu menatap Nico. Sementara suaminya itu terlihat risih ditatap seperti itu. Melihat sikap canggung kedua sahabatnya itu, Ardy baru teringat kalau mereka belum dikenalkan pada gadis yang datang bersamanya itu.
"Oh ya hampir lupa, kenalkan ini pacarku Lisca. Dalam waktu dekat kami akan melangsungkan pernikahan," terang Ardy.
"Wah benar Kak? Akhirnya Kak Ardy melepas masa lajang juga. Sekarang tinggal Kak Rommy yang belum. Aku bantuin cari jodohnya ya Kak?" tanya Reana pada Rommy.
__ADS_1
"Nggak usah terima kasih Dek, nanti kalau udah waktunya bakal ketemu sendiri," jawab Rommy.
Reana mengerucutkan bibirnya. Semua tertawa, Reana tersenyum ke arah Dina, istrinya Dito itu pun membalas tersenyum. Lalu beralih tersenyum ke arah Lisca, tunangan Ardy itu yang langsung menoleh ke arah Ardy. Reana tercenung tetapi tak peduli setelah itu.
Dina langsung menawarkan diri untuk membantu membereskan apartemen itu. Reana dan Nico langsung menolak tawaran itu. Merasa tidak enak hati akhirnya Nico mengungkapkan kekhawatirannya hingga melarang Reana membereskan rumah.
"Aku sengaja menunggu bibi saja yang beres-beres apartemen. Aku memang melarang Reana yang membersihkannya mmm … kalian tahu kan?"
"Nggak!" jawab Ardy.
"Belum selesai," ucap Nico langsung yang membuat semuanya tertawa.
"Apa? Lanjutkan kalau belum selesai," ucap Dito.
"Ya … Sudah hampir dua tahun Reana belum hamil-hamil juga, sekarang …."
"Kak Reana hamil?" tanya Dina sedikit berteriak.
"Kami kangen untuk kumpul bersama Kak Nico. Banyak berita gembira kita dengar hari ini. Kita berencana menginap di sini Kak," jelas Dina.
"Aduh maaf ya. Bagaimana kalau kumpul-kumpulnya kita alihkan ke hotel atau ke Villa Reana," ucap Nico.
"Reana punya Villa?" tanya Lisca yang tak percaya.
"Sebenarnya itu bukan milikku, tapi Kak Nico yang hadiahkan padaku waktu kami pacaran dulu," jawab Reana.
Gila! Masih pacaran aja hadiahnya Villa? Berapa kekayaan si Nico ini? Batin Lisca.
"Oh ya waktu kamu ingin menemani Reana di masa penyembuhannya dulu kan?" tanya Ardy yang dibalas dengan anggukan oleh Nico.
"Oh ya, mereka cuma mereka berdua saja. Kita nggak boleh ikut waktu itu–"
"Siapa yang melarang?" tanya Nico.
__ADS_1
"Ah, nggak melarang tapi berat hati mengizinkan," ucap Dito lalu tertawa.
"Ya, lagi pula untuk apa, ikutan mereka yang lagi mesra-mesranya. Jangan-jangan mereka ke sana untuk sekalian bulan madu. Kita bakal jadi pengganggu mereka–"
"Nggak mungkinlah! Reana lagi sakit, bulan madu apa?" protes Nico.
Semua tertawa tetapi akhirnya setuju dengan usulan Nico untuk menginap di Villa. Mereka berangkat menggunakan mobil masing-masing menuju Villa pinggir pantai Reana. Begitu sampai di sana, Reana langsung memeluk suaminya.
Kembali teringat bagaimana mereka menghabiskan hari-hari saat penyembuhan Reana. Nico tersenyum menatap istrinya yang langsung memeluknya, mendaratkan kecupan di kening wanita cantik itu.
Tanpa diminta ingatan mereka kembali ke masa-masa Reana begitu ingin menatap matahari tenggelam. Kebetulan cuaca hari itu cerah. Mereka pun berencana berkumpul di halaman belakang Villa untuk menunggu matahari tenggelam sambil bercanda.
Nico sedetik pun tak melepaskan rangkulannya dari istrinya. Keduanya sebentar-sebentar saling tersenyum. Sementara yang lainnya masih asyik bercanda. Nico pun menarik kepala istrinya agar bersandar di dadanya. Membuat semua mata yang singgah melihatnya tersenyum melihat kemesraan mereka.
Kecuali Lisca yang menatap mereka dengan tatapan yang berbeda. Sedikit pun tak terlihat bahagia melihat kemesraan pasangan yang bahagia karena akan segera memiliki momongan itu. Dina dengan polosnya mengatur masalah konsumsi. Memesan segala macam makanan berat maupun ringan.
"Kak Reana masih mual-mual?" tanya Dina yang menjauhkan makanan beraroma tajam dari Reana.
"Sudah tidak lagi," jawab Reana.
"Oh baguslah! Kalau begitu bisa makan apa saja," ucap Dina polos.
"Makasih Dina," ucap Reana yang tak enak hati karena telah merepotkan Dina.
Seperti seorang putri, tak boleh gerak sedikit pun, batin Lisca.
Melihat Reana yang tak diizinkan melakukan apa pun oleh suaminya. Membuat Lisca muak meski pun dia sendiri tidak melakukan apa pun. Dina yang memang hobi memasak, Dito yang hobi makan dan kuliner, Rommy yang memang jago masak, mereka bertiga yang bertugas menyiapkan makanan untuk mereka.
Reana yang mengaku hanya ingin melihat persiapan makan malam mereka pada Nico. Hendak berdiri menghampiri para juru masak. Tiba-tiba tanpa sadar Lisca pun ingin berdiri. Membuat keduanya saling bertumburan. Reana jatuh ke belakang. Nico langsung kaget dan menghampiri istrinya.
Laki-laki itu langsung menggendong istrinya, berniat untuk memeriksakan kandungan istrinya. Reana menggelengkan kepalanya, menolak secara halus dan menenangkan suaminya. Reana merasa dirinya baik-baik saja. Wanita itu tersenyum untuk menenangkan hati suaminya, meski hatinya sendiri merasa tidak tenang.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1