
Ny. Cathrina tak bisa berkata apa-apa lagi saat . Tn. Alex Rayne membebaskan Nico mengambil keputusan. Seperti yang dikatakan Nico dia ingin memiliki kehidupannya sendiri bersama istrinya dan Tn. Alex Rayne membebaskannya. Tinggal Angelica yang mengamuk sendiri di kamarnya mendengar keputusan Nico yang keluar dari rumah itu.
Gadis itu teringat perjuangannya menarik perhatian Nico. Sejak melihat laki-laki yang ditemui ayahnya di sekolah itu, Angelica tak tinggal diam, pasrah menerima takdir sebagai orang kedua bagi keluarganya. Tersisih karena pamor Angela yang begitu kuat menguasai keluarganya.
Saat Nico diundang datang untuk makan malam di rumahnya. Gadis itu bahkan tak diizinkan keluar kamar. Entah hal memalukan apa yang membuatnya tak boleh muncul di hadapan laki-laki yang baru saja menggetarkan hatinya itu.
"Kenapa nggak boleh ikut makan bersama?" tanya Angelica saat ibunya melarang untuk putri bungsunya itu ikut dalam acara makan malam yang mengundang Nico.
Keluarga itu baru menyadari kalau putri mereka menjalin hubungan dengan seorang laki-laki di sekolahnya. Utusan Tn. Nugroho setiap hari mengawasi nona muda mereka menunggu di persimpangan jalan demi bertemu dengan seorang pemuda tampan yang mengenakan motor sport.
Setelah yakin laki-laki itu menjadi seseorang yang spesial bagi putri keluarga kaya itu, Tn. Nugroho memanggil Nico untuk lebih mengetahui latar belakang keluarga pemuda tampan itu. Awalnya Nico kaget mengetahui gadis yang selama ini dikira berasal dari keluarga sederhana ternyata merupakan putri dari seorang pengusaha kaya raya. Nico diam membeku karena kesal merasa ditipu oleh Angela.
Sikap diam Nico begitu mempesona bagi Angelica yang mengintipnya dari balik dinding. Apalagi saat Nico meminta bicara dengan gadis yang telah resmi menjadi pacarnya itu. Angelica mengintip Nico yang melampiaskan kemarahannya dengan menatap tajam ke arah Angela.
Wah ganteng banget. Diam menatap tajam seperti itu saja sudah ganteng banget. Apalagi kalau merayu. Oh ya ampun Kak Angel beruntung sekali, batin Angelica.
Ibunya tak kuasa menahan gadis itu untuk tetap di dalam kamarnya. Setelah tak diizinkan makan malam bersama, Ny. Nindya akhirnya membiarkan Angelica mengintip tamu mereka. Meski terkejut saat melihat kepala putri bungsunya itu menyembul dari balik dinding.
Bukan salah Angelica begitu penasaran. Karena semakin dilarang tentu semakin ingin. Angelica yang terlanjur melihat Nico saat dipanggil di sekolah tak bisa melupakan wajah tampan itu hingga ingin kembali menatapnya.
Aku ingin punya pacar seperti Kak Nico. Nggak! Nggak! Aku ingin Kak Nico jadi pacarku. Aku mau Kak Nico, batin Angelica.
Apakah mungkin? Mengharapkan kekasih kakaknya sendiri? Angelica tak peduli. Baginya apa pun bisa terjadi. Bisa saja hubungan mereka berakhir ditengah jalan. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan.
"Kakak sudah resmi jadi pacar dia?" tanya Angelica pada Angela.
"Ya udah dong, mana bisa dia lepas dari jerat pesona seorang Angela," ucap Angela dengan bangga.
"Tapi tadi dia marah-marah, mau putus ya? Kenapa marah-marah?" tanya Angelica.
"Karena dia merasa ditipu. Karena kemarin aku naik angkot, dia pikir aku gadis miskin. Begitu tahu aku anak Daddy, dia kaget dan marah," jelas Angela.
__ADS_1
"Kakak naik angkot? Kapan?" tanya Angelica heran.
"Waktu Kakak marahan sama Daddy," jawab Angela.
"Lalu?" tanya Angelica.
"Karena Kakak naik angkot. Waktu itu gerimis, dia tawari numpang motornya, agar Kakak bisa cepat sampai di sekolah," jelas Angela.
"Terus?" tanya Angelica penasaran.
"Ya, kami kenalan, sejak itu Kakak tungguin dia di persimpangan biar bisa naik motor bersama ke sekolah," jelas Angela.
"Sejak itu Kakak naik angkot terus?" tanya Angelica penasaran melihat tekad Angela mendekati Nico.
"Nggak lah! Cuma hari itu doang! Besoknya dianter mobil lagi cuma turunnya tetap di simpan jalan masuk sekolah itu," jelas Angela.
"Oh, berarti Kakak bohong sama dia. Makanya dia marah karena mengira Kakak naik angkot terus makanya dikira anak orang miskin," jelas Angelica menyimpulkan.
Angelica pun ikut tertawa. Sebagai model majalah remaja, Angela memang harus bisa menyediakan modal yang tidak sedikit untuk penampilannya. Angela bahkan dibiarkan berbeda dari siswi-siswi lainnya. Mengenakan seragam, sepatu dari bahan yang berbeda dari siswi-siswi lainnya. Nico yang tak peduli dengan penampilan sama sekali tak melihat perbedaan itu.
"Terus sekarang gimana, Kak Nico udah terlanjur marah, apa kalian putus?" tanya Angelica.
"Nggak lah! Nico mana bisa marah lama-lama sama gue. Dia itu udah cinta mati sama gue," jawab Angela.
Cinta mati? Dia cinta, loe mati, batin Angelica.
Begitu kesalnya melihat kesombongan Angela. Angelica pun belajar dari kesombongan Angela. Tanpa disadarinya, di depan Nico, Angela adalah gadis yang ramah dan rendah hati. Tidak! Bukan di depan Nico saja tapi di depan semua orang yang mungkin adalah penggemarnya.
Nico bahagia memiliki gadis cantik yang sederhana, rendah hati dan baik hati. Sejak Nico mengetahui latar belakang keluarganya, Angela tak ragu lagi, meminta diantar Nico ke salon langganannya. Yang akhirnya menjadi salon langganan Ny. Cathrina juga.
Segala tagihan biaya perawatan Angela akan masuk dalam tagihan Ny. Cathrina. Meski heran melihat besarnya biaya tagihan perawatan kecantikan Angela, Ny. Cathrina merasa tak keberatan.
__ADS_1
Cinta mati? Ya, Nico cinta mati pada Angela. Di depan orang tuanya, di depan orang tua Nico, Angela selalu menjadi kebanggaan dan kesayangan. Keluarga mereka semakin akrab karena sama-sama berada dalam status sosial yang sama.
Nico telah dianggap putra sendiri oleh orang tua Angela sementara Angela telah dianggap putri kesayangan oleh Tn. Alex Rayne dan Ny. Cathrina Rayne. Bayangan semakin besarnya perusahaan kedua keluarga itu sudah tergambar di pelupuk mata mereka.
Namun, apa yang diucapkan Angelica seperti menjadi kenyataan. Nico cinta mati dengan Angela. Nico cinta dan Angela mati. Tanpa disadari, oleh semuanya. Kanker darah telah bersarang di tubuh Angela. Angela yang tak ingin melewatkan setiap event-event fashion dan majalah remaja, mengabaikan rasa sakit yang dideritanya.
"Nggak mau! Nggak mau! Sakit!" jerit Angelica.
Angelica menolak saat diminta melakukan proses pengambilan sampel sumsum tulang sebagai pendonor sehat yang disebut dengan harvesting. DNA yang paling mirip adalah saudara sekandung. Angelica menjadi harapan keluarga itu untuk menjadi donor transplantasi sumsum tulang belakang untuk Angela.
Jarum dimasukkan melalui kulit Angelica hingga ke dalam tulang untuk mengambil sumsum tulangnya. Seluruh proses memakan waktu sekitar satu jam dan Angelica diberi anestesi. Namun, rasa sakit tetap dirasakan oleh Angelica setelah proses pengambilan sampel sumsum tulang itu.
"Aku yang akan jadi penyelamatmu. Mereka akan mengambil sumsum tulang belakang milikku untuk diberikan padamu. Pengambilan sampel saja rasanya sangat sakit, bagaimana dengan proses transplantasi sumsum tulang? Kakak, aku berkorban besar untukmu, apa Kakak mau memberikan sesuatu yang sangat aku inginkan?" tanya Angelica saat mengunjungi kakaknya yang sama-sama di rawat di ruang yang bersebelahan.
"Kamu mau apa?" tanya Angela.
"Aku mau Kak Nico," jawab Angelica.
Angela justru tertawa mendengar permintaan adiknya. Dengan tatapan yang merendahkan Angela menatap adiknya dari bawah hingga atas. Setelah puas menatap Angelica, Angela kembali tertawa.
"Kamu mau sama dia? Tapi dia nggak mau sama kamu. Kalau aku serahkan dia sama kamu. Dalam sekejap dia akan berlari lagi ke arahku. Meski aku tendang dia ke arahmu, dia akan kembali merangkak padaku. Kamu tak punya apa-apa yang bisa menandingi aku. Jangankan menandingi aku, nilaimu tak ada setengahnya dari nilaiku. Kecantikan kamu tak ada sepersepuluhnya di banding kecantikanku. Apa mungkin Nico mau menerima kamu. Sementara ada aku yang sebentar lagi sehat dan bahagia bersamanya? Lagi pula Nico itu cinta mati padaku," jelas Angela panjang lebar.
Menunjukkan keengganan memberikan Nico pada adiknya. Angelica termenung mendengar ucapan kakaknya. Gadis yang masih duduk di bangku SMP itu sudah memperkirakan jawaban Angela. Namun, tak menyangka kakaknya tega berkata seperti itu.
Kata-kata Angela begitu menghina dan merendahkannya. Rasa dendam merasuki tubuh dan pikirannya. Angelica hanya diam menatap Angela untuk tertawa di atas ranjang rumah sakit itu. Angela membalik badannya mencoba untuk tidur. Namun, masih menyisakan tawa ejekannya.
Angelica tertunduk, usahanya mencoba bernegosiasi dengan kakaknya telah gagal. Harapannya mendapat cinta Nico punah sudah. Gadis itu berdiri hendak kembali ke ruang rawat inapnya. Matanya terhenti pada kita bening berisi obat-obatan yang harus diminum Angela.
Kotak bening dengan sekat-sekat kecil itu memisahkan obat-obat sesuai dengan dosisnya. Entah mengapa tangan Angelica merogoh kotak bening itu. Mengambil beberapa biji obat-obatan itu lalu membuangnya ke jendela. Angelica menatap punggung kakaknya dengan penuh dendam. Lalu melangkah meninggalkan ruang rawat inap Angela.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1