
Makanan telah siap tersaji. Dito dan istrinya serta Rommy, memanggil para sahabat untuk berkumpul makan siang. Reana muncul dan menyapa mereka. Dina langsung menanyakan keadaan kandungan Reana. Istri dari Dito itu sempat melihat kejadian jatuh Reana tadi.
"Sepertinya nggak apa-apa," jawab Reana.
"Hati-hati ya Kak, saat ini Kak Reana masih hamil muda, rawan keguguran. Bukannya aku mau nakutin Kak Reana, tapi hati-hati ya. Aku ingin lihat anak-anak Kak Reana lahir," ucap Dina begitu polos.
"Makasih ya Dina, aku nggak nyangka. Usia kamu masih muda tapi pemikiranmu sudah begitu matang," ucap Reana.
"Nggak juga Kak, mungkin karena aku anak tertua jadi sudah biasa mikir segala sesuatunya," balas Dina.
"Usaha restoranmu bagaimana lancar?" tanya Reana.
"Ya Kak, aku bersyukur kenal Kak Dito. Dalam bisnis dan pemasaran, Kak Dito hebat banget. Kalau aku emang hobi masak makanya, ambil jurusan tata boga. Dulu aku cuma usaha kecil-kecilan tapi sejak nikah dan di handle sama Kak Dito, usaha jadi makin besar. Sekarang kalau bukan karena kangen sama Kak Reana dan Kak Nico kami mana bisa meninggalkan restoran," jelas Dina.
__ADS_1
"Wah kalian hebat, saling mendukung makanya bisa sukses. Makasih ya karena masih mau kumpul-kumpul bersama," ucap Reana.
"Kak, kalau untuk kumpul bersama Kak Reana dan sahabat lainnya, apa pun kesibukan bakal ditinggal Kak. Bagi Kak Dito, Kak Nico, Kak Rommy dan Kak Ardy itu adalah saudara semua. Jadi begitu dapat undangan apa aja dari para sahabat, Kak Dito pasti semangat ajak Dina. Din! Nico mau kawin. Din, Ardy mau datang! Din, Rommy mau ulang tahun! Pokoknya kalau urusan cowok-cowok itu hm… jangan ada alasan," jelas Dina lalu tertawa, dan Reana pun ikut tertawa.
"Lalu anak-anak bagaimana? Terpaksa ditinggal berarti," tanya Reana khawatir.
"Jangan khawatir Kak, anak-anakku dijaga baby sitter dan diawasi sama orang tua juga adik-adikku. Sedangkan restoran ada manajer restoran," jelas Dina.
"Sebenarnya ini juga berkat bantuan Kak Nico. Kak Reana mungkin nggak tahu, kalau waktu di luar negeri Kak Nico ngirim biaya untuk buka usaha. Jika bukan karena Kak Nico mungkin usaha kami masih merangkak. Maaf ya Kak sudah ngerepotin Kak Nico," jelas Dina.
"Lho kenapa minta maaf, Kakak ingin bantu saudaranya sendiri kok malah minta maaf sama aku? Lagian saat itu kamu belum menikah," jelas Reana.
"Ngobrol apa sih sayang, serius amat, sampai lupa ngajak makan," ucap Nico yang tiba-tiba muncul lalu mengecup puncak rambut istrinya.
__ADS_1
Lisca yang mulai bosan duduk ngobrol dengan Ardy, Dito dan Rommy. Gadis itu langsung duduk tegap saat melihat Nico turun dari lantai atas. Mengikuti langkah Nico dengan matanya. Melihat sepanjang langkah laki-laki itu menuju ruang makan. Tiba-tiba cemberut saat Melia Nico menyapa istrinya dengan mengecup puncak rambut wanita cantik itu.
Tak cukup sampai di situ. Nico bahkan mengangkat dagu istrinya untuk mengecup bibir istrinya. Reana malu karena ada Dina di situ.
"Aah, nggak apa-apa Kak. Kayak aku ini anak remaja aja, nggak boleh liat-liat yang mesra-mesraan," ucap Dina sambil tertawa.
"Kalian cuma ngobrol berdua? Pacar Ardy nggak diajak?" tanya Nico yang ingin bergabung dengan Dito, Ardy dan Rommy tapi terkendala hadirnya pacar Ardy di situ.
"Tadi kami sudah mengajaknya Kak, tapi sepertinya dia enggan ke dapur jadi kami biarkan aja," jawab Dina.
Reana tersenyum ke arah suaminya. Wanita itu mengerti rasa enggan Nico bergabung dengan teman-teman di ruang tengah semua karena gadis yang dicintai Ardy itu masih saja suka memperhatikannya.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1