Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 46 ~ Menentukan Arah ~


__ADS_3

Gerimis perlahan jatuh membasahi bumi, mengiringi langkah kaki orang-orang yang berjalan sambil menunduk Orang-orang dengan pakaian hitam berjalan beriringan, menuju satu arah.


Nico berjalan dengan perasaan tak menentu, perasaan kehilangan, sedih dan hampa. Nico menatap satu persatu wajah-wajah sedih itu. Perlahan-lahan menemukan orang-orang yang dikenalnya.


Nico mencoba menyapa mereka namun mereka tak peduli, mereka mengabaikannya, mereka membencinya, mereka menyalahkannya. Air matanya menetes tanpa dikehendakinya.


Nico berjalan dengan hati yang terasa pedih, air mata itu menetes lagi. Nico mengusap air mata itu, memandang jari-jari tangannya yang basah, perlahan menghilang tersapu gerimis yang semakin deras.


Nico kembali menatap orang-orang yang berjalan lurus.


Kenapa harus berjalan kesana ? kemana mereka akan pergi ? Bagaimana jika berbalik saja ?


Nico ingin bertanya tapi tak ada yang peduli padanya.


Kenapa air mata ini terus mengalir ? kenapa dada ini terus terasa sakit ? kenapa merasakan kehilangan ini ?


Nico menatap lurus kedepan, pada gundukan tanah yang basah tersiram air hujan, air matanya berganti tangisan.


Tidak, tidak mungkin, Reana... Reana... Reana,


Nico berteriak menyebut nama gadis itu namun tak terdengar suara apapun, mencoba lagi sekuat tenaga, masih tak mendengar apapun.


Kenapa suaraku tak terdengar, kenapa mereka tak mendengar, kenapa tak ada satupun yang peduli, aku ingin memanggil namanya. Aku ingin mendengar suaraku memanggil namanya.


Reana... Reana... Reana..


"REANA..." teriak Nico.


Nico membuka matanya, bulir bening jatuh dari sudut mata itu.


"Loe udah sadar ? syukurlah, syukurlah ? " ucap Ardi tak henti-hentinya mengucap syukur melihat Nico membuka matanya.


"Loe pingsan hampir tiga jam" Dito menimpali.


Nico merasakan tubuhnya terasa lelah.


Apa yang terjadi, kenapa aku ada disini ? apa tadi aku bermimpi ? mimpi macam apa itu ? Reana, bagaimana keadaan Reana ?


"Reana.." ucapnya tiba-tiba langsung ingin bangun.


Rommy menahan sahabatnya untuk tetap beristirahat.


"Kondisimu masih lemah, kamu belum pulih benar" ucap Rommy dengan nada sopan, mengingat Nico yang mungkin masih membencinya.


Nico menatap pergelangan tangannya yang tertancap jarum infus. Nico tersenyum pedih saat teringat bagaimana beraninya Reana mencabut jarum itu dengan kasar saat mengalami dehidrasi waktu itu.


Nico memegang tangan Rommy, air matanya kembali menetes. Memohon pada Rommy, untuk mengizinkannya menemui Reana. Dia sangat mengkhawatirkannya, dia sangat ingin melihat keadaannya.


"Operasi pengangkatan proyektil peluru berjalan dengan lancar" ungkap Rommy menenangkan hati Nico.


"Benarkah ?" ucapnya ingin meyakinkan.


"Semua tindakan bedah berjalan lancar, tinggal menunggu masa pemulihan" lanjut Dito.


Nico lega, laki-laki itu memejamkan matanya mengucapkan syukur. Tapi tetap saja dia ingin menemui Reana. Dia tetap ingin menatap wajah gadis itu. Antara percaya dan tidak, sebelum melihat sendiri keadaan Reana, laki-laki itu belum bisa percaya sepenuhnya.


"Nic, ini mamanya Reana" ucap Ardi memperkenalkan bu Ridha.


Nico berniat duduk namun teman-temannya melarang, Dengan pandangan matanya laki-laki itu memohon diizinkan duduk sebagai rasa hormatnya pada ibu Ridha.


"Tidak apa-apa, tidak perlu bangun, kamu masih sangat lemah" ucap bu Ridha melihat Nico yang memaksa duduk.


Nico urung duduk, pasrah berbicara dengan ibu Ridha sambil berbaring.


"Ibu kesini ingin meminta maaf dan juga ingin melihat keadaanmu, karena tadi ibu sempat membencimu, sempat menyalahkanmu, tapi teman-temanmu telah menjelaskan semuanya, tentang hubunganmu dengan Reana, kamu mau memaafkan ibu kan? tanya bu Ridha.


"Tentu bu, saya mengerti perasaan ibu" balas Nico.


"Baiklah, kalau begitu kamu istirahatlah, nanti kita bisa berbincang-bincang lagi, ibu harus kembali ke ruangan Reana" ucap wanita paruh baya itu sambil tersenyum.


Nico mengangguk, mendengar bu Ridha menyebut nama Reana hatinya menjadi tentram.


Bu Ridha tersenyum pada semua anak-anak muda itu, lalu pergi menemani putrinya diruangan lain. Bu Ridha bersyukur semua baik-baik saja. Operasi Reana berjalan lancar dan Nico sekarang telah sadar.


Awalnya bu Ridha sangat membenci laki-laki yang telah merusak kebahagiaan putrinya itu. Nico membawa anak gadisnya meninggalkan pesta pernikahan mewah yang hanya bisa dikhayalkan oleh sebagian besar wanita.


Membuat putrinya meninggalkan calon suaminya yang sempurna, bahkan rela menjadikan dirinya sebagai pelindung dari laki-laki yang telah merusak pesta pernikahannya itu.


Benci, aku sangat membenci anak itu, setelah merusak segalanya anak itu menangis menyesali, itu yang terpikirkan oleh bu Ridha, meski tak diucapkannya, hanya tatapan matanya yang mengisyaratkan itu semua.

__ADS_1


Jika laki-laki itu tidak menangis seperti itu bu Ridha pasti akan memaki, setidaknya itu adalah keinginannya. Karena bu Ridha bukan orang yang suka membabi-buta, ibu itu bersikap tenang namun menatap benci pada Nico.


Nico jatuh pingsan ada perasaan senang dihatinya namun juga rasa kasihan, karena Reana, anak muda itu mengalami depresi dan kesedihan yang sangat dalam.


Rommy yang dapat merasakan kebencian itu, memperkenalkan diri sebagai orang yang dekat dengan Nico dan Reana. Yang mengetahui semua kisah tentang mereka berdua.


Menceritakan kejadian yang sesungguhnya, dibantu teman-temannya dan Nella, meyakinkan bu Ridha tentang kejadian yang sebenarnya.


Bu Ridha terperangah nyaris tak percaya, laki-laki muda sukses yang begitu sopan itu mampu berbuat seperti itu, tapi setelah melihat sendiri keadaan putrinya, apa yang tak bisa dipercaya. Laki-laki itu jelas-jelas berniat membunuh orang yang membawa pergi calon istrinya.


Bu Ridha menyesal telah membenci Nico meski hanya di dalam hati. Setelah mengetahui keadaan Reana bu Ridha berencana menjenguk laki-laki yang jatuh pingsan itu dan meminta maaf padanya.


Lampu indikator telah padam, pertanda tindakan di ruang bedah telah selesai. Dan pasien akan dipindahkan ke ruang pemulihan. Tanpa terasa lebih dari tiga jam lampu itu menyala dan selama itu pula Reana menjalani tindakan bedah.


Tim dokter bedah keluar dari pintu ruang operasi, bu Ridha dan yang lainnya langsung menanyakan keadaan Reana.


"Operasi pengangkatan proyektil peluru berjalan dengan lancar, kondisi pasien dalam keadaan stabil" ucap dokter yang merupakan tamu undangan dalam pesta pernikahan Reana tadi.


"Terima kasih dokter, terima kasih banyak untuk segalanya" ucap bu Ridha sambil berkaca-kaca.


Semua orang yang menunggu Reana mengucap syukur, merasakan lega yang luar biasa setelah tegang sekian lama menunggu hasil usaha penyelamatan Reana.


"Apa kami bisa melihat Reana sekarang dokter ? " tanya bu Shinta.


"Belum bisa bu, karena saat ini pasien akan dipindahkan ke dalam ruangan transisi. Di sana kondisi fisik pasien akan dipantau.


Jika tidak mengalami komplikasi apapun setelah operasi, maka tim medis akan memindahkan ke ruang perawatan.


Disana ibu bisa menjenguk pasien" ucap dokter menjelaskan.


Dokter pamit meninggalkan keluarga pasien, sebagian dari orang yang menunggui Reana pun pamit untuk pulang, namun mereka berjanji akan sering membesuk.


Bu Ridha berterima kasih atas do'a dan perhatian orang-orang disekeliling Reana semua berharap kondisi Reana akan segera pulih seperti sediakala.


Sambil berjalan pulang mereka tak henti-hentinya membicarakan peristiwa yang menegangkan itu, mereka lega akhirnya Reana bisa diselamatkan.


Bu Ridha langsung mengunjungi Nico, ibu itu berjanji akan meminta maaf pada laki-laki itu segera setelah kondisi Reana diketahui, mereka pun akhirnya bertemu.


Hari sudah menjelang sore, Nico meminta Ardi, Dito dan Rommy untuk istirahat pulang. Laki-laki itu juga tidak ingin teman-temannya jatuh sakit karena sedari tadi menungguinya dan belum makan apa-apa.


"Rom, maafin ucapan gue tadi, loe semua tolong maafin gue ya" ucap Nico sesaat sebelum teman-temannya melangkah pergi.


Rommy, Dito dan Ardi tersenyum, mereka mengerti sepenuhnya perasaan Nico dan mereka memaklumi. Mereka berjanji akan segera kembali menemani Nico.


Perlahan laki-laki itu berjalan keluar ruangan, sambil mendorong tiang infusnya, Nico berjalan menemui suster jaga. Bertanya tentang keadaan Reana.


"Pasien Reana baru saja dipindahkan dari ruangan transisi ke ruang perawatan, kondisinya sekarang masih belum sadar" jawab suster jaga.


Setelah suster itu memberitahu ruangan perawatan Reana, perlahan Nico berjalan kesana. Dengan tubuh yang masih lelah, laki-laki itu tidak mau berdiam diri saja dikamar resah memikirkan Reana.


Nico berdiri didepan pintu ruang perawatan Reana yang terbuka, tim dokter sedang berkunjung kesana, termasuk dokter yang menjadi tamu undangan pernikahan Reana.


"Dokter Yudhi" sapa Nico yang tadi sempat mendengar nama dokter itu disebut.


Dokter itu menoleh lalu menyambut dengan ramah, dokter itu terkejut saat melihat kondisi Nico yang terlihat lemah sambil mendorong tiang infus.


Nico menanyakan kondisi Reana. Dokter Yudhi mengatakan bahwa kondisi Reana telah membaik, tinggal menjalani masa penyembuhan, selama masa itu, Reana dituntut untuk mengurangi aktivitas agar luka bekas operasinya segera sembuh.


Dokter Yudhi juga berpesan agar Reana tidak banyak bergerak dulu, khususnya berdiri atau berjalan.


"Semoga Reana bisa segera sehat seperti sediakala" ucap Dokter Yudhi diakhir pembicaraan mereka.


Dokter Yudhi mohon diri untuk melanjutkan aktivitasnya, meninggalkan Nico sendiri dan terpaku menatap Reana.


Laki-laki itu menitikkan air mata, melangkah mendekati Reana yang terbaring lemah.


Nico menggenggam tangan Reana, mencium punggung tangan gadis itu. Rasanya laki-laki itu tak ingin melepaskannya, selamanya tak ingin melepas gadis itu.


Tapi Nico sudah memutuskan untuk menjauh dari Reana. Nico tak ingin lagi membuat gadis itu menderita, Nico merasa menjadi orang yang bisa membahayakan hidup Reana, merasa hubungan mereka tak direstui Tuhan.


"Maafkan aku Reana, harusnya sejak awal aku tidak mengenalmu, harusnya aku tidak mendekatimu, harusnya kita tidak bersama" ucap Nico sambil terisak.


Nico bergerak mendekati Reana, mencium kening gadis itu lama. Sedih, baru kali ini Nico mencium kening Reana dengan perasaan sedih. Rasanya laki-laki itu tak mampu melepaskan ciumannya, karena baginya ini adalah yang terakhir kalinya.


"Selamat tinggal Reana" ucap Nico lalu berbalik meninggalkan Reana.


Langkah Nico terhenti saat mendapati bu Ridha ada dihadapannya. Berdiri mematung menatapnya.


"Apa yang kamu lakukan ?" bu Ridha bertanya dengan tegas.

__ADS_1


Nico terpaku, merasa bersalah, menoleh pada Reana, lalu menghapus air matanya.


"Maaf bu, saya lancang mencium putri ibu" ucap Nico merasa bersalah.


"Bukan itu yang saya tanyakan, apa kamu akan meninggalkannya ? setelah pengorbanan yang dilakukannya untukmu, kamu akan meninggalkannya begitu saja ?" tanya bu Ridha dengan suara tinggi.


Nico menangis terisak, perlahan terduduk lantai, tubuhnya terasa letih, kakinya tak mampu menahan beban tubuhnya. Bu Ridha panik segera membimbing laki-laki itu duduk di sofa.


Bu Ridha merasa sangat kasihan padanya, tangis laki-laki itu terasa begitu pedih. Tapi bu Ridha ingin menghentikan pemikirannya, tak ingin laki-laki itu salah mengambil keputusan.


Bu Ridha mengusap punggung Nico penuh kasih sayang. Nico adalah laki-laki yang disayangi putrinya, bu Ridha merasa Nico sudah seperti anaknya. Dia tak ingin anak itu salah langkah.


"Kenapa kamu memutuskan untuk meninggalkannya, apa yang ada dalam pikiranmu ?" tanya bu Ridha.


Nico duduk sambil tertunduk, air matanya menitik satu satu ke lantai, Nico menghapus air matanya.


"Saya tidak baik untuk Reana, saya hanya membuatnya menderita, sejak bertemu dengannya saya hanya membawa penderitaan untuknya, saya tidak sanggup lagi, melihatnya menderita karena saya" ucap Nico, laki-laki itu kembali menitikkan air mata.


"Apa menurutmu Reana akan bahagia jika kamu pergi, apa dia tidak akan menderita lagi ?" tanya bu Ridha.


"Tapi saya benar-benar tidak baik untuk Reana, saya tidak baik untuk siapapun, saya tidak ingin terjadi lagi, saya tidak ingin kehilangan lagi, saya tidak ingin kehilangan Reana seperti saya kehilangan Angela " ucap Nico masih menunduk.


"Siapa Angela ?" tanya bu Ridha.


"Pacar pertama saya, dia meninggal karena leukemia dan sekarang saya sangat takut, Reana... Reana bisa selamat karena saya memutuskan untuk meninggalkannya" ucap Nico sambil menghapus air matanya.


"Bagaimana kamu yakin akan hal itu ? selamat atau tidaknya Reana tidak tergantung padamu" jelas Bu Ridha.


"Tapi saya bermimpi bu, saya berjalan ke suatu tempat, yang saya sendiri tidak tau untuk apa saya kesana.


Saya merasa ragu, meneruskannya atau memilih untuk berbalik, dalam mimpi itu saya meneruskan perjalanan hingga ke tujuan, tapi ternyata tujuan itu adalah sebuah makam dan saya merasakan itu adalah makam Reana" cerita Nico semakin membuat laki-laki itu terisak.


Bu Ridha risau mendengar cerita Nico, hatinya menciut, takut mendengar akhir cerita itu.


"Terus terang ibu ngeri mendengar ceritamu, jika ibu seorang yang egois, ibu lebih memilih kamu menjauh dari putri ibu, ibu juga takut kehilangannya.


Tapi bukankah itu hanya sebuah mimpi.


Mimpi adalah gambaran yang diciptakan pikiran saat kita tertidur.


Kamu menciptakan pikiran itu sebelum kamu jatuh pingsan bahwa jika kamu tetap bersama Reana, maka hidup Reana akan berakhir.


Bisa jadi itu adalah wujud ketakutanmu karena pernah kehilangan seseorang yang kamu sayangi.


Kamu merasa orang yang hidup bersamamu akan pergi meninggalkanmu sama seperti Angela.


Ibu tidak bisa memutuskannya, kamu tanyakan sendiri pada Reana, apa yang dia inginkan ?" ucap bu Ridha bingung, tak bisa mencari solusi untuk mereka.


"Bagaimana mungkin bu, saya tidak akan sanggup menanyakannya. Saya tidak akan sanggup meninggalkannya bu" ucap Nico lagi air matanya masih meleleh.


"Mama... mama..." terdengar suara Reana lirih.


"Kamu sudah sadar sayang, bagaimana perasaanmu nak" tanya bu Ridha sambil berdiri disamping ranjang rumah sakit.


Bu Ridha menatap gadis itu lebih dekat dan menggenggam tangan anaknya


"Mama, saya... mimpi... melihat... mama... bicara sama kak Nico" ucap Reana terbata-bata.


Bu Ridha melirik pada Nico yang masih duduk di sofa sambil meremas rambutnya. Laki-laki itu diam, tak ingin Reana mengetahui keberadaannya.


Bu Ridha kembali menatap anaknya.


"Mama... kak Nico... ingin... meninggalkanku" ucapnya dengan mata sayu.


Nico kaget menatap gadis itu dari tempat duduknya. Reana sama sekali tak bisa melihatnya, karena gadis itu masih dalam pengaruh anestesi. Tapi gadis itu seperti mendengar pembicaraan Nico dan ibunya.


Nico tak sanggup lagi berada disitu, laki-laki itu sudah memutuskan untuk meninggalkan Reana. Dia tidak sanggup mendengar ucapan Reana lagi, dia harus pergi atau dia tidak akan sanggup untuk pergi.


Nico berdiri dan melangkah keluar ruangan. Nico telah pergi.


"Kak Nico..." ucap Reana lirih, langkah Nico terhenti di balik pintu.


"Jangan... tinggalkan aku" ucap Reana seakan-akan merasakan kehadiran Nico.


Nico menangis dibalik pintu, ingin melangkah pergi tapi kakinya terasa berat. Tangan laki-laki itu berpegangan pada tiang infus.


"Kak Nico... jangan tinggalkan aku" ucap Reana, suaranya semakin terdengar jelas.


Bu Ridha menangis, putrinya mengharapkan seseorang yang telah pergi, ibu itu terisak sambil menggenggam tangan putrinya.

__ADS_1


Dan sekarang, Nico sudah memutuskannya, laki-laki itu mantap melangkahkan kakinya.


...*****...


__ADS_2