
Nico tak bisa lagi menahan diri, segera menyerang Reana dengan ciuman yang menggebu-gebu membuat gadis itu hanya bisa terbaring pasrah di atas sofa. Menghujani Reana dengan ciuman yang begitu dalam dari bibir hingga ke lehernya. Perlahan tangan Nico menyusup ke balik t-shirt yang longgar itu.
Mencari jawaban untuk sesuatu yang membuatnya penasaran sejak tadi, laki-laki itu tersenyum. Nico tak merasakan apa pun melekat di tubuh gadis itu.
Tapi, untung semua itu hanya khayalan Nico saja. Laki-laki itu memukul-mukul kepalanya agar khayalan itu langsung buyar. Tak ingin pikirannya berkelana terlalu jauh. Laki-laki itu segera melangkah masuk ke kamar dan langsung menuju wastafel untuk menyipratkan air ke wajahnya.
Gawat! Gawat! Gawat! Apa yang ada dalam pikiranku? Kok malah jadi tersiksa begini sih, oh ya ampun jangan sampai menyesal membawanya ke sini, batin Nico dengan dengan nafas yang terengah-engah.
"Dia kok bisa tenang begitu ya? Nggak punya nafsu apa? Jangan-jangan malaikat beneran nggak punya nafsu," ucap Nico lirih.
Lalu mengintip Reana yang sedang asyik menonton tayangan televisi, dari dalam kamar Nico bisa melihat Reana yang senyum-senyum sendiri menonton tayangan televisi itu.
Begitu putih, lehernya begitu halus lembut, senyumnya begitu manis. Oh, ini membuatku tertekan, padahal dia hanya mengikuti semua keinginanku. Ya! Aku memang menginginkan dia begitu, berpenampilan seksi di depanku. Tapi saat dia mengikuti keinginanku? Aku sendiri yang kerepotan menahan diri. Apa aku balas saja ya? Lepas pakaian, bertelanjang dada didepannya. Apa dia bisa menahan diri? Tapi aah, kalau dia tidak bisa menahan diri malah bahaya, bisa beneran kejadian. Aduh! Susah deket-deket calon istri, batin Nico menjerit.
Saking bingungnya Nico sampai memukul-mukul dinding. Untung saja dengan tangannya kalau dengan kepalanya sudah pasti benjol-benjol itu kepala.
"Kaak! Kenapa?" tanya Reana heran mendengar suara.
Nico segera membuka pintu kamar dan menonjolkan kepalanya.
"Nggak! Nggak apa-apa kamu nonton aja!" jawabnya sambil tersenyum lebar.
"Kaaak! Mau aku buatkan cemilan? Ada bahan masakan nggak?" tanya Reana sambil melangkah ke dapur.
"Ada, aku suruh Dito isi makanan dari restorannya. Kamu tinggal panasin aja," ucap Nico langsung keluar dari kamarnya.
"Kak Dito punya restoran?" tanya Reana.
"Ya, begitu pacar SMA nya lulus langsung dinikahi. Pacarnya itu sekolah memasak jadi sangat pintar bikin makanan. Setelah menikah mereka langsung buka restoran," jelas Nico berapi-api.
Reana berdiri di belakang dapur dan Nico duduk di meja makan. Situasi itu membuat Nico sedikit merasa nyaman. Reana mengambil salah satu makanan dari dalam lemari pendingin. Memilih beef lasagna dalam kotak penyimpanan itu lalu memanaskannya dengan microwave.
"Kak Dito menikah kenapa aku tidak diberi tahu?" tanya Reana.
"Dia menikah di kampung istrinya, jauh! Kamu juga nggak bakalan bisa ke sana," jawab Nico.
Reana mengerucut mulutnya.
"Kak Dito buka restoran di kampung istrinya?" tanya Reana lagi.
"Buka restorannya di sini," jawab Nico.
__ADS_1
"Buka restoran di sini tapi juga tidak mengabariku?" Kali ini suara Reana sedikit meninggi karena emosi.
Beruntung alarm microwave berbunyi, dengan kesal Reana membawakan makanan itu ke meja makan. Nico menunduk saat gadis itu berjalan di hadapannya. Setelah menaruh semua perlengkapan makan barulah Reana duduk di hadapan Nico. Laki-laki itu baru berani mengangkat wajahnya.
"Maaf ya sayang, jangan marah. Aku yang melarangnya memberitahumu, habisnya ... aku iri, kalau kamu hadir di grand opening restorannya, mereka bisa kumpul sama kamu, sedangkan aku tidak!" jelas Nico.
Penjelasan yang membuat Reana akhirnya tertawa geli. Gadis itu memotong lasagna itu dan menyodorkannya pada Nico. Sebenarnya mereka masih belum begitu lapar karena mereka check out setelah makan siang. Hasilnya, sepotong lasagna itu mereka habiskan dalam waktu yang cukup lama.
Cerita tentang sahabat-sahabat Nico lebih menarik daripada menikmati makanan di hadapan mereka itu.
"Kak Ardy punya toko dan service laptop? Wah hebat sekali," ucap Reana kagum.
"Ya, awalnya kecil-kecilan. Dia mengajak adik kelasnya untuk bekerja bersama-sama. Hebatnya dalam dua tahun ini sudah berkembang jadi toko yang besar," jelas Nico.
"Wah hebat! Semuanya memiliki usaha sendiri. Kalau Kak Rommy?" tanya Reana.
Gadis itu penasaran dengan laki-laki yang telah dianggap seperti abangnya sendiri. Rommy yang selalu berpikiran positif, peduli dan selalu membelanya. Nico tersenyum melihat Reana yang masih peduli pada teman-temannya.
"Dia menjadi Asisten Eksekutif di sebuah perusahaan besar di kota ini," jelas Nico.
"Wah, seorang personal assistant? Orang kepercayaan pimpinan tertinggi perusahaan?" tanya Reana.
"Ya sayang!" jawab Nico singkat melihat kekaguman Reana pada Rommy.
Nico masih ingat, saat semua tak ada yang hadir di acara pernikahan Reana dan Tn. Malvin, Rommy yang bersedia hadir di acara itu. Dia juga yang akhirnya memberitahu Nico alasan Reana bersedia menikah dengan pengusaha kaya raya itu.
"Aku sangat berhutang budi padanya. Apa pun yang kuberikan rasanya tak bisa melunasinya," jelas Nico yang tak di mengerti oleh Reana.
"Oh ya? Kenapa?" tanya Reana heran.
"Kami menghujatnya karena bersedia hadir di pesta pernikahanmu dengan Tn. Malvin. Tapi justru karena itu akhirnya dia tahu alasanmu menikahi laki-laki itu," ucap Nico.
"Oh, aku pikir karena Kakak yang ingin datang sendiri," ucap Reana.
"Aku tidak sanggup Reana, menghadiri pernikahan gadis yang aku cintai dengan pria lain. Jika … bukan karena Rommy yang tiba-tiba kembali dan menjelaskannya, aku tak akan berani datang ke pernikahanmu. Jika bukan karena Rommy, kamu telah menjadi istri Tn. Malvin sekarang ini. Kita sangat berhutang budi pada Rommy bukan?" tanya Nico yang dibalas dengan anggukan oleh Reana.
Nico menggenggam tangan Reana, gadis itu membalas menyentuh punggung tangan Nico. Laki-laki itu mengangkat tangan Reana, mencium punggung tangan hingga telapak tangannya. Begitu menikmati ciuman itu hingga memejamkan matanya.
Reana hanya diam membiarkan Nico melakukan itu. Laki-laki itu seperti sedang bersyukur karena Reana bisa bebas dari jerat pernikahan paksa Tn. Malvin. Kejadian itu seperti baru saja terjadi, karena belum ada satu bagian pun yang terlupakan. Kini mereka bersyukur karena bisa melewati masa-masa menyedihkan itu.
Alarm mesin cuci berbunyi, Reana segera berlari ke ruang cuci pakaian. Nico terperangah melihat tubuh mungil itu berlari di hadapannya, laki-laki itu langsung menelungkupkan wajahnya di meja makan.
__ADS_1
Ya ampun, mana tak ada celana yang pas untuknya, batin Nico tersiksa sendiri.
Setelah menjemur pakaiannya, Reana kembali menghampiri Nico.
"Kakak mau es krim, aku lihat ada es krim di kulkas," ucap Reana sambil berdiri di hadapan Nico dengan sebelah tangannya di tengkuk laki-laki itu.
Aku mau kamu, batin Nico memelas.
Tapi yang terlihat oleh Reana hanya anggukan kepala oleh Nico. Gadis itu segera mengambilkan es krim cup ukuran besar dan menyendoknya ke dalam gelas es krim. Kembali gadis itu menyodorkannya ke hadapan Nico. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya dari Reana ke gelas es krim di hadapannya. Bersama mereka menikmati es krim itu sambil tersenyum.
Lumayan adem, harusnya dari tadi makan es krim saja. Makan yang panas bikin perutku bertambah panas, kamu saja udah bikin aku panas, batin Nico.
Menampilkan wajahnya yang tersenyum tapi tak membuat hati Reana tenang.
"Nanti kalau pakaiannya sudah kering, sebaiknya malam ini aku pulang ya Kak. Jangan tunggu besok," ucap Reana.
"Ke … kenapa?" tanya Nico.
Karena Kakak sepertinya tak nyaman bersamaku, batin Reana.
"Kakak sebenarnya tidak nyaman aku di sini 'kan?" tanya Reana.
"Kata siapa?" protes Nico.
"Habis dari tadi tingkahnya aneh, seperti mau menerkamku," ucap Reana sambil mengangkat kedua tangannya dengan gaya ingin menerkam.
Nico terperangah, wajahnya langsung bersemu merah, isi hatinya tertebak, tapi Nico mengelak.
"Siapa yang ingin menerkammu, jangan ge er ya? Oh ya ampun! Benar-benar sudah berubah sekarang. Dulu begitu pendiam, semua kata-kata dipendam di hati. Sekarang dengan mudah terlontar dari mulut yang manis itu. Tapi sayang sekali menebak tahunya salah," protes Nico panjang lebar untuk menutupi isi hatinya yang tertebak.
"Oh ya? Yah, padahal aku sudah pasrah jadi mangsa lucu yang siap diterkam--"
"Sungguh?" tanya langsung berdiri dari kursinya.
"Tuh 'kan!" seru Reana tertawa meledek.
Gadis itu langsung lari ke kamar namun Nico langsung menangkap tubuh mungil itu dan menghempaskan ke sofa.
"Kamu tidak salah! Dari tadi aku memang ingin menerkammu," ucap Nico perlahan mendaratkan bibirnya dengan sempurna di bibir Reana.
Menyesap manis rongga mulut yang masih menyisakan manis es krim rasa vanilla yang mereka makan. Bergantian menjilati setiap sudut di rongga mulut itu dengan mata yang terpejam, hanya lenguhan serta desah yang bersahutan yang sesekali terdengar.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...