Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 69 S2 ~ Bukan Mimpi ~


__ADS_3

Nico terduduk bangun dengan keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Laki-laki itu melirik kesal pada Air Conditioner yang tak mampu menghilangkan rasa gerahnya. Laki-laki itu mengambil remote control untuk lebih menurunkan suhu ruangan. Lalu kembali menghempaskan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar dengan tatapan yang kosong.


Mimpi apa itu? Kenapa rasanya begitu nyata? Apa mungkin karena pikiranku yang terlalu sering membayangkan pernikahan kami? Tapi kenapa tiba-tiba muncul Tn. Malvin? Apa dia akan mengacaukan pernikahan kami? Tapi bukannya masih lama dia keluar dari penjara? Ya ampun, apa karena aku terlalu stress dengan pernikahan ini makanya jadi terbawa ke dalam mimpi? Batin Nico bertanya-tanya.


"Kemarin-kemarin video call sama yayang, nggak masalah. Tapi kenapa abis nelpon tadi jadi terbawa mimpi? Mimpinya serem lagi, Tn. Malvin mau rebut yayangku. Oh ya ampun, mau gila rasanya," umpat Nico bicara sendiri.


Tak ingin hanya bicara dalam hati, laki-laki itu hingga bicara pada langit-langit kamar. Tak hanya ekspresi wajahnya yang berubah-ubah tapi tangannya pun ikut menunjuk-nunjuk. Kalau ada yang melihatnya, Nico mungkin dilarikan ke rumah sakit jiwa. Laki-laki itu menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar. Padahal baru saja keramas tapi entah kenapa saat panik kepalanya langsung terasa gatal.


Nico akhirnya memilih untuk duduk. Namun, duduk pun tak bisa menenangkan pikirannya. Laki-laki itu akhirnya memutuskan untuk berdiri di balkon kamarnya. Di tengah malam yang telah sepi, di saat semua orang telah tertidur lelap, laki-laki itu justru berdiri memandang kegelapan malam.


Nico melirik jam dinding, lalu menghitung-hitung. Laki-laki itu teringat kalau jam segitu tunangannya justru sedang istirahat kerja. Nico langsung menelpon calon istrinya itu.


"Sayang! Kamu masih sibuk?" tanya Nico sambil turun ke lantai bawah untuk mengambil air putih.


"Sedang istirahat Kak, tumben Kakak nelpon jam segini? Apa Kak Nico nggak bisa tidur?" tebak Reana.


"Kok kamu tahu?" tanya Nico langsung menghentikan minum dari botol air mineral itu.


Menenteng botol sambil melangkah kembali ke kamarnya di lantai atas. Sampai di balkon Nico duduk dan meletakkan botol minum itu di meja di sampingnya.


"Di sana pasti udah malam 'kan? Kakak malah nelpon. Berarti nggak bisa tidur ya 'kan?" tanya Reana.


"Sebenarnya tadi Kakak udah tidur tapi mimpi, trus ke bangun, sekarang jadi nggak bisa tidur lagi," jawab Nico.


"Mimpi apa?" tanya Reana tanpa pikir panjang.

__ADS_1


Entah kenapa selalu penasaran dengan mimpi orang. Tanpa sadar pasti ingin tahu dan bertanya apa yang diimpikan orang. Padahal sama sekali tak ada kepentingan.


"Kita sedang di acara pernikahan kita. Semuanya terasa sangat nyata. Rasanya bahagia sekali. Aula, hidangan, keluarga, tamu undangan bahkan kamu … terasa begitu nyata. Kamu cantik sekali, sangat cantik! Seperti bidadari! Semua orang kagum padamu. Aku … benar-benar beruntung bisa menikahimu. Prosesi pernikahan kita berjalan dengan lancar, semua bahagia tapi …." ucap Nico terhenti.


"Kenapa Kak?" tanya Reana semakin penasaran.


"Tiba-tiba Tn. Malvin datang dan berusaha merebut kamu. Mereka mengepung aula pesta, Kakak panik sekali … setelah itu terbangun," sambung Nico.


Begitu mendengar kata-kata Tn. Malvin, Reana langsung menahan mulutnya yang ternganga. Tak bisa mendengar lagi apa yang diceritakan Nico. Pikirannya langsung melayang ke beberapa hari yang lalu saat tiba-tiba Tn. Malvin menelponnya. Pikiran gadis itu bercabang antara ingin terus terang atau menutupi kalau Tn. Malvin telah meneleponnya.


Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus terus terang? Bagaimana ini? Kalau diceritakan Kak Nico pasti lebih panik lagi. Nggak! Nggak usah! Ini hanya kebetulan. Tn. Malvin menelpon dan Kak Nico bermimpi ini hanya kebetulan karena kami terlalu takut bertemu dengannya lagi. Hingga selalu terlintas dalam benak. Kami hanya … kami ….


"Reana! Reana! Re-a-naaaa!" tanya Nico hingga beberapa kali bahkan menoleh ke layar ponselnya.


Tak ada masalah, ponselnya masih tersambung dengan ponsel Reana. Tapi saat dipanggil gadis itu hanya diam. Nico berpikir Reana sedang melakukan sesuatu tetapi laki-laki itu ingat kalau Reana sedang istirahat. Kembali memanggil tapi tetap tak ada sahutan. Nico kesal hingga akhirnya berteriak keras.


"Kalau kamu ingin meninggalkan ponselmu, beritahu aku! Aku jadi cemas tahu! Aku pikir kamu kenapa-napa. Tiba-tiba diam! Dipanggil nggak nyahut! Permisi dulu kalau mau pergi. Belum apa-apa kamu udah melunjak. Aku … ah udahlah!" ucap Nico dengan nada kesal bahkan langsung memutus sambungan teleponnya.


Reana tercenung, Nico sangat kesal. Meski gadis itu tak bermaksud mengabaikannya, tapi itu memang salahnya. Reana harusnya tetap fokus pada Nico. Reana merasa sangat menyesal, tanpa terasa air matanya mengalir. Tak ada sedikit pun niat Reana untuk mengabaikan laki-laki itu apalagi berniat tak sopan padanya. Menatap ponsel di tangannya dengan air mata yang mengalir. Reana langsung berlari ke belakang gedung restoran itu dan menangis di sana.


"Maaf Kak, maafkan aku," ucapnya tersedu-sedu bahkan hingga mengguncang tubuhnya.


Menyakiti hati Nico hingga membuat laki-laki itu marah, sama sekali tak diinginkannya. Reana tak menyangka hari ini akan menjadi seperti ini. Bayangan kegembiraan saat melihat nama kontak Nico di layar ponselnya tak disangka akan berakhir seperti ini.


"Maaf Kak! Maafkan aku!" ucap Reana dengan tersedu sedan.

__ADS_1


Tak lama kemudian ponsel di tangannya kembali bergetar. Reana menatap nama kontak yang tertera di layar ponsel itu setelah dengan susah payah menghapus air matanya. Reana segera menerima panggilan telepon itu kerena tak ingin Nico lebih marah lagi.


Reana menyapa dengan suara yang dibuat sewajarnya. Tapi seperti apa pun usahanya, nada suara itu tetap terdengar serak. Nico langsung menyadari perbedaan getaran suara Reana.


"Maaf ya sayang!" ucap Nico langsung menyadari kesalahannya dan merasa kalau ucapannya telah membuat Reana bersedih.


Tapi ucapan maaf Nico justru membuat Reana tak mampu menahan tangisnya. Meski menjawab tak apa-apa tetapi suara tangis Reana tak bisa disembunyikan lagi. Nico semakin menyesal, laki-laki itu berusaha membujuk Reana.


"Kalau nggak apa-apa kenapa masih nangis? Kamu pasti marah sama Kakak ya?" tanya Nico membujuk.


"Nggak Kak! Aku memang salah kok. Maafkan aku ya Kak!" ucap Reana masih berusaha meredam isak tangisnya.


"Kalau masih nangis? Aku berangkat ke sana sekarang nih," ucap Nico dengan suara yang dibuat ceria.


Reana tertawa, meski masih berusaha menghapus air matanya.


"Kita video call ya sayang?"


"Nggak usah!" jawab Reana langsung. Nico terdiam, dia tahu jawaban Reana akan seperti itu.


"Maafkan aku ya! Aku anggap ini sebagai hutang yang harus aku bayar nanti saat kita bertemu. Kamu boleh lakukan apa saja padaku. Tapi sekarang jangan menangis lagi ya! Aku sungguh menyesal dengan ucapanku tadi. Kamu tahu 'kan kalau aku nggak sungguh-sungguh?" tanya Nico.


Reana menjawab dengan suara pelan. Nico kembali meminta untuk video call untuk membuktikan Reana tak lagi menangis tapi gadis itu tetap menolaknya.


"Kak Reana! Ayo makan siang dulu! Kak Reana telponan sama siapa? Apa dari Tn. Malvin lagi?" tanya Nella.

__ADS_1


Reana kaget mendengar ucapan Nella. Tapi rasa kaget itu tak hanya milik Reana. Meski tergesa-gesa meredam ponselnya tapi Nico telah terlanjur mendengarnya. Laki-laki itu ingin bertanya pada Reana. Namun, gadis itu dengan tergesa-gesa menutup panggilan telepon Nico dengan alasan telah ditunggu karyawan restoran lainnya.


...~   Bersambung  ~...


__ADS_2