
Reana bangun subuh, setelah menunaikan kewajibannya gadis itu melangkah keluar dari kamar. Matanya langsung tertumpu pada Nico yang masih tertidur lelap. Perlahan gadis itu mendekat dan duduk di karpet ruang tengah sambil menatap wajah Nico yang damai dalam tidurnya.
Reana tersenyum menatap, tangannya menyibak helaian rambut laki-laki itu.
Masih belum bangun, mungkin tadi malam kak Nico nggak bisa tidur, kak Nico pasti nggak terbiasa tidur diluar, bisik hati Reana.
Memang benar Nico tidak bisa tidur tadi malam tapi bukan karena tidak terbiasa tidur diluar. Tapi karena laki-laki itu asyik senyum sendiri menatap pintu kamarnya yang sekarang dihuni Reana.
Rasanya seperti mimpi, gadis itu ada didalam kamarnya sekarang. Jika dia tidak yakin antara khayalan dan kenyataan mungkin Nico sudah masuk ke kamar untuk membuktikan gadis itu benar-benar sedang tertidur disana.
Tapi tidak, Nico yakin Reana benar-benar ada, benar-benar berada di apartemennya, bahkan sebelum tidur gadis itu menghadiahkan kecupan di pipinya. Hingga sekarang kecupan itu masih terasa, Nico kembali senyum-senyum sendiri. Diam-diam Nico bersyukur ibu kost Reana mengusirnya.
Menjelang subuh barulah Nico tertidur, karena tidak sanggup lagi menahan kantuknya.
"Kak, pagi ini saya kuliah, pulangnya saya mencari kost-an baru ya" ucap Reana pelan, seakan-akan meminta izin pada laki-laki itu.
Ucapan Reana pelan, sangat pelan, tapi itu cukup membangunkan Nico. Laki-laki itu langsung meraih tangan Reana yang hendak beranjak ke dapur.
"Kamu mau apa? mencari kost-an baru?" tanya Nico sambil duduk, matanya masih setengah terbuka.
Reana mengangguk. Nico menarik tangan gadis itu duduk disampingnya.
"Nggak mungkin selamanya saya numpang disini kan?" ujar Reana bertanya balik.
"Tapi ini baru semalam kenapa buru-buru sih?" tanya Nico yang masih malas-malasan bangun, badannya terlihat letih.
Reana diam saja, gadis itu tak ingin mendebat laki-laki yang terlihat masih lemas itu.
"Pagi ini kamu kamu kuliah kan? saya siap-siap dulu" ucap Nico sambil bangun dengan berat.
"Kak, sekarang masih Subuh, kenapa harus siap-siap sekarang?" tanya Reana mengingatkan.
Nico melirik ke jendela kaca apartemen, barulah laki-laki itu sadar, diluar sana masih sangat gelap.
"Kalau begitu saya pinjam kamar mandinya sebentar ya" ucap laki-laki itu sudah mulai sadar sepenuhnya.
Reana hanya tersenyum. Sementara Nico ke kamar, Reana berjalan ke dapur. Membuka kulkas besar yang terdapat di dapur bersih.
Diluar dugaan Reana yang mengira bahwa isi kulkas laki-laki itu hanyalah segala macam minuman ringan, kopi atau susu. Tapi justru di penuhi dengan segala macam bahan makanan dalam kemasan. Bahkan sayur-sayuran pun tersedia.
Apa kak Nico masak sendiri? tanya gadis itu didalam hati.
Reana akhirnya memutuskan memasak nasi goreng untuk sarapan pagi ini. Memasak nasi secukupnya lalu menyiapkan bahan-bahan untuk bumbu nasi goreng. Gadis itu mulai sibuk memasak nasi goreng lengkap dengan udang dan ayam goreng. Tak lupa gadis itu menyiapkan juice jeruk untuk menambah nafsu makan.
Tak berapa lama kemudian Nico muncul, wajahnya cerah bersinar. Reana tersenyum melirik wajah tampan laki-laki itu. Nico langsung menuju meja makan, memandang deretan masakan yang telah terhidang, tak sabar laki-laki itu langsung duduk bersiap-siap hendak makan.
Sebenarnya masih terlalu pagi untuk sarapan tapi karena semalam begadang, sejak tadi malampun laki-laki itu sudah merasa lapar lagi.
"Ayo kita makan" ajak Nico pada Reana yang masih berdiri memandangnya.
"Sarapan sepagi ini ?" tanya Reana heran, bahkan diluar pun masih gelap.
"Tapi aku lapar sekali dan bau masakanmu membuatku bertambah lapar, kamu harus tanggung jawab" jawab Nico memelas.
"Ya baiklah, mari kita makan" sahut Reana, disambut gembira oleh Nico.
Reana duduk dihadapan Nico.
"Maaf ya kak, saya sudah lancang memasak tanpa izin kakak" ucap Reana belum mulai menyantap.
"Mmm, nggak masalah, justru saya yang merasa nggak enak, harusnya saya yang masak buat kamu" ucap Nico makan begitu lahap.
"Kakak masak sendiri? di kulkas begitu banyak bahan makanan" tanya Reana.
__ADS_1
"Itu buat Rommy, maksudku teman-teman yang kemarin itu. Kalau mereka menginap disini kadang suka bosan beli makanan luar dan minta dimasakin sama Rommy. Jadi aku cuma nyediain bahannya aja, Rommy yang masak" cerita Nico.
Reana mengangguk mengerti.
"Kak Rommy pinter masak ya?" tanya Reana sambil menyuap nasi gorengnya.
"Mmm.. lebih pintar kamu sih, masakan kamu lebih enak" jawab Nico setelah berpikir sebentar.
"Apaan, itu karena semua bahannya memang udah enak-enak, saya cuma tinggal campur-campur doang" sahut Reana protes dengan penilaian Nico.
"Tapi bagaimanapun juga masakan istri tetap lebih enak" jawab Nico seenaknya.
Reana cemberut, wajahnya merona.
"Pagi-pagi udah disiapin sarapan enak, mmm... rasanya seperti udah punya seorang istri" lanjut Nico, menatap wajah kemerahan gadis itu, sambil tersenyum.
Nico suka sekali memandang wajah Reana yang tersipu. Gadis itu pura-pura cuek menghabiskan makanannya.
"Kak, dimana saya bisa mencuci pakaian?" tanya Reana mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Laundry" jawab Nico singkat.
Reana menghembuskan nafas berat, hidup laki-laki itu tak luput dari biaya. Apa-apa bayar, apa-apa biaya, tapi mungkin memang seperti itu kehidupannya, ditambah lagi semua itu untuk perawatan pakaian-pakaian Nico yang mahal. Barang-barang mahal tentu biaya perawatannya juga mahal.
"Kamu ingin nyuci sendiri ?" tanya Nico, dan langsung dibalas anggukan oleh Reana.
"Pintu disamping kitchen set itu, disana ada laundry room" jawab Nico sambil tersenyum menunjuk kearah pintu disamping dapur.
Reana langsung berbinar, selesai sarapan dengan semangat gadis itu segera membereskan bekas sarapan mereka. Seperti biasa Nico yang mencoba membantu, dilarang keras oleh Reana.
Dengan membawa travel bag nya gadis itu masuk ke pintu yang ditunjuk Nico. Gadis itu belum sempat mencuci bajunya yang telah dipakai kuliah, tapi sudah keburu disuruh angkat kaki dari kamar kost nya.
"Wah, luas sekali, nggak disangka di apartemen ada ruangan seperti ini, lebih luas dari kamar kost-an ku" seru Reana setelah berada diruangan itu.
Terdapat sebuah mesin cuci dan lemari gantung untuk menyimpan deterjen, sabun dan peralatan pembersih lainnya. Di dindingnya juga sudah tersedia teralis besi yang disediakan untuk menggantung pakaian dengan menggunakan hanger.
Reana memasukan pakaian-pakaian kotor kedalam mesin cuci, tapi masih bingung bagaimana cara pengoperasiannya.
Nico muncul dari samping belakang, ikut memandang pakaian kotor Reana sambil tersenyum. Lalu laki-laki itu memencet tombol power, mesin pun bereaksi tak berapa lama kemudian Nico menambahkan deterjen cair dan pewangi, menekan tombol start, lalu laki-laki itu meninggalkannya begitu saja, meraih tangan Reana dan mengajak gadis itu kembali keruang tengah.
"Kenapa buru-buru mencari kost-an, kamu nggak betah disini?" tanya Nico to the point, setelah duduk di sofa ruang tengah.
"Bukan begitu kak, tapi saya nggak mungkin selamanya ngerepotin kak Nico.
Lagi pula, perempuan dan laki-laki tinggal dalam satu ruangan seperti ini tidak sesuai dengan norma dan budaya kita, saya nggak ingin suatu saat kita dapat masalah karena tinggal bersama seperti ini" ucap Reana panjang lebar.
"Baiklah... baiklah... nona Reana, hari ini saya akan nganterin kamu nyari kost-an baru, tapi saya nggak mau kamu sembarangan memilih karena buru-buru ingin keluar dari sini, ngerti?" ultimatum dari Nico.
"Atau saya carikan apartemen di gedung ini, saya yakin masih ada apartemen yang kosong" usul Nico.
"Nggak mungkin saya mampu bayar kak, kost-an sederhana aja kadang masih telat bayar" jawab Reana sambil tertawa kecil.
"Saya belikan satu untukmu" ucap Nico seperti mengada-ada tapi ekspresinya menunjukkan keseriusan.
Reana tersenyum lembut.
"Kakak menggunakan uang siapa untuk membeli apartemen? uang orang tua? apa yang mereka pikirkan jika mengetahui anak mereka menghamburkan uang demi seorang gadis yang nggak mereka kenal dan bahkan mungkin nggak mereka sukai" ujar Reana sambil menatap lembut pada Nico, memberi pengertian pada laki-laki itu.
Nico menarik nafas berat. Seperti memiliki beban karena tak bisa membantu Reana.
"Kakak mau nemenin saya nyari kost-an kan ? hari ini kak Nico nggak ada kuliah ?" tanya Reana dengan wajah ceria, gadis itu tak ingin masalahnya membebani Nico.
Nico menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku nggak ada kegiatan, selesai kuliah kamu nanti kita cari kost-an sama-sama ya" ujar Nico kembali ceria, sementara Reana mengangguk sambil tersenyum.
Reana berjalan menuju bangku DPRD, setelah dua mata kuliahnya berakhir, gadis itu berencana menunggu Nico dibawah pohon rindang itu. Gadis itu tercenung memandang Nico yang duduk termenung seorang diri, tak ada teman-teman yang biasa menemaninya.
Di semester-semester akhir ini sudah tak banyak kegiatan di kampus, selain bimbingan skripsi hanya beberapa mata kuliah saja yang masih tertinggal. Karena itu lah Nico tak banyak lagi kegiatan di kampus. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya.
Reana berjalan menuju Nico yang masih termenung menunggu. Meskipun di sekelilingnya banyak gadis-gadis yang melirik ataupun menjadikannya sebagai objek pembicaraan yang tak habis-habis dibahas.
Namun Nico tak pernah menggubris, tak pernah peduli, fokusnya hanyalah menunggu Reana. Gadis itu tersenyum saat sampai dihadapan Nico. Laki-laki itu langsung berdiri meraih tangan Reana. Langsung mengajaknya pergi, ekspresinya tak menunjukkan kebosanan menunggu.
Nico mengantar Reana kemanapun mereka mendengar adanya kamar kost-an yang tersedia. Namun tak satupun yang lulus kriteria Nico. Laki-laki itu menolak dengan berbagai alasan.
Dari tempat yang terlalu jauh, kamarnya yang terlalu sempit, panas, lingkungan yang tidak aman. Bahkan pernah, belum sempat sampai ke kost-an karena beberapa mahasiswa di sekitar yang bersiul menggoda Reana, Nico langsung menarik tangan gadis itu, urung melihat kost-an yang dituju.
Jalan berdua aja masih digodain, gimana kalau Reana jalan sendiri, batin Nico.
Begitulah kegiatan mereka dalam beberapa hari ini, Nico tak bosan-bosannya mengantar Reana mencari kamar kost-an. Dari utara, hingga ke selatan, dari barat hingga ke timur, tapi tetap saja sulit menemukan kamar kost yang sesuai dengan kriteria Nico.
Reana hanya bisa menggelengkan kepalanya saat Nico mencari-cari alasan penolakan. Kadang Reana merasa kalau Nico hanya mencari alasan agar gadis itu tak pindah dari apartemennya.
Biasanya setelah sampai di apartemen, Nico akan membahas lokasi-lokasi yang mereka datangi dan menunjukkan betapa beruntungnya Reana karena tidak pindah ketempat yang mereka lihat tadi dengan berbagai alasan yang dibuat-buat.
Reana hanya bisa menarik nafas panjang, dalam hati mungkin suatu saat dia akan mencari sendiri kamar kost barunya. Karena tidak ada tanda-tanda Nico akan membiarkannya pindah dari apartemen ini.
Dan sudah menjadi kebiasaan Nico mengantar Reana kuliah lalu menjemputnya untuk mencari kamar kost lalu mengantar Reana bekerja di restoran kemudian menjemputnya kembali.
Reana sungguh merasa tidak enak hati karena selalu merepotkan Nico, tapi laki-laki itu tak pernah merasa di repotkan justru dia melakukan semua itu dengan senang hati.
Satu-satunya yang bisa Reana lakukan untuk membalas kebaikan Nico hanyalah membuatkan laki-laki itu sarapan, makan siang ataupun makan malam. Membersihkan apartemen semampunya.
Meski Nico selalu melarang Reana bersih-bersih karena ada yang bertugas melakukan pekerjaan rumah seperti itu. Tapi gadis itu tidak bisa duduk diam begitu saja, sementara Nico lebih suka jika gadis itu hanya duduk menemaninya.
Seperti malam ini setelah makan malam Reana membersihkan semua piring-piring kotor dan membersihkan dapur. Nico tiba-tiba muncul merentangkan sebuah kalung dihadapan Reana.
Sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati melengkung persis seperti gantungan ponsel yang Reana pilih untuk mainan ponsel mereka berdua.
Sudah jelas kalung itu dipesan Nico khusus untuk Reana. Reana terpaku, Nico memasangkan kalung itu di lehernya. Reana menggenggam liontin itu dengan kedua tangannya.
Kenapa? selalu memberiku hadiah, aku tidak butuh apa-apa, aku sudah menerima cukup banyak kebaikanmu, jerit hati Reana sambil menyentuh liontin hati yang telah terpasang di dadanya.
Nico membalik tubuh Reana ke hadapannya. Memandang wajah gadis itu yang tertunduk.
"Kak, kenapa selalu memberi saya seperti ini? saya tidak pantas..." ucapan Reana terputus, jari Nico menyilang dibibir gadis itu.
Perlahan Nico mengangkat dagu gadis itu lalu mencium kening Reana lembut, gadis itu memejamkan matanya. Merasakan kelembutan ciuman di keningnya. Namun perlakuan Nico tidak hanya sampai di situ, perlahan ciuman Nico turun ke mata Reana yang masih terpejam.
Gadis itu gemetar, Reana sungguh tidak menyangka, jantung gadis itu berdebar kencang kecupan Nico perlahan turun kepuncak hidung gadis itu dan berakhir di bibirnya.
Laki-laki itu mengecup bibir Reana berulang kali, seakan-akan tidak pernah cukup baginya merasakan manisnya bibir lembut gadis itu.
Jangan kak, jangan teruskan, tolong hentikan, saya takut, saya takut kita lupa diri, jerit hati Reana.
Tubuh gadis itu bergetar menahan pertentangan dihatinya, antara membiarkan Nico dan menikmati manisnya kecupan lembut laki-laki itu serta rasa takut akan lupa diri kerena mereka hanya berdua di apartemen itu.
Reana mengakui, berkali-kali dia merasa lupa diri oleh sikap lembut dan mesra Nico, dan dia tidak ingin terjadi disaat hanya ada mereka berdua di ruangan ini.
Mata Reana masih terpejam, kedua tangannya menggenggam erat liontin di dadanya. Tubuhnya masih bergetar hebat, Nico merasakan getaran itu. Dan laki-laki itu mengerti ketakutan Reana. Perlahan melepaskan kecupannya dan mendekap gadis itu di dadanya.
Aku tidak akan memaksa jika kamu tidak menginginkannya, batin Nico.
Lalu memeluk erat Reana. Bisa memeluk gadis itu saja, sudah cukup bagi Nico. Laki-laki itu memejamkan matanya meresapi hangatnya tubuh gadis mungil itu.
...*****...
__ADS_1