
Kedatangan Angelica membuat semua terpaku. Begitu miripnya gadis cantik yang baru datang itu dengan cinta pertama Nico, membuat semua mata menjadi terpaku. Nico menatap tak percaya pada kemiripan mereka. Bagi Reana itu adalah tatapan yang terpesona.
"Kakak menyukainya? Kakak jatuh cinta padanya? Dia sangat mirip dengan Angela. Apa Kakak kembali jatuh cinta padanya?" tanya Reana panik.
"Diam Reana!" bentak Nico. Reana tertunduk.
Rasa panik Reana dijawab dengan bentakan oleh Nico. Reana langsung tertunduk. Wanita itu merasa semua sudah berakhir. Merasa dalam beberapa hari ini cinta Nico telah pudar padanya. Sekarang telah hadir seseorang yang mirip cinta masa lalunya. Reana merasa tak memiliki tempat lagi di hati Nico.
Dengan dada yang berdenyut perih. Air mata yang terus mengalir. Reana menatap suaminya yang duduk sambil memijat keningnya di kursi dalam kamar itu.
Baiklah aku akan diam selamanya. Aku tahu, aku ini tak ada lagi dihatimu. Aku sudah dianggap tak ada lagi. Dia telah kembali, cinta pertamamu telah muncul dihadapanmu. Meski dia adalah orang yang berbeda tapi mereka sama. Sama-sama menginginkanmu dan sama-sama di sayangi orang tuamu. Maafkan aku Kak, selama bersamaku, aku selalu menyusahkanmu, selalu membuatmu kesal. Selalu membuatmu marah. Maafkan aku, batin Reana.
Reana semakin tersisih, setidaknya begitulah yang dirasakannya. Saat sarapan pagi, semua telah memulai tanpa menawarinya. Terlihat Ny. Cathrina yang begitu semangat mendengar cerita Angelica. Sebuah hal yang sulit dilakukan Reana untuk menarik perhatian Ny. Cathrina. Tak ada cerita apa pun darinya yang menarik bagi ibu mertuanya itu.
Pemandangan itu membuat dadanya terasa nyeri. Namun, ada lagi yang lebih menyakitkan dari itu. Angelica duduk di kursi yang menjadi tempat duduknya. Duduk di samping Nico suaminya. Membuat langkah Reana terhenti. Ragu untuk melanjutkan langkahnya.
Di mana posisinya sekarang? Di samping Ny. Cathrina yang membencinya? Atau duduk sendiri di ujung sana? Reana tak sanggup melanjutkan langkahnya. Wanita itu memilih melewatkan sarapannya dan berbalik kembali ke lantai atas.
"Nyonya! Tidak sarapan sekalian? Saya siapkan piringnya ya Nyonya!" seru pelayan yang lebih tua itu.
Semua sontak menoleh ke arah Reana yang baru saja akan kembali menaiki tangga. Reana terpaksa berbalik badan. Menjawab satu-satunya orang yang bersedia menyapanya itu.
"Tidak usah Bi … aku tidak lapar," jawab Reana pelan.
Menahan getar suaranya. Mengerjapkan mata demi menghilangkan bulir bening di pelupuk matanya. Tersenyum dengan sekuat tenaga.
"Reana ayo sarapan dulu, Daddy pikir kamu belum siap. Ayo mari sarapan!" ajak Alex Rayne, seorang yang tulus lainnya.
__ADS_1
"Tidak usah Daddy, terima kasih," jawab Reana.
Sebuah penolakan pertama yang diucapkan Reana. Wanita itu tak pernah sekalipun menolak perintah Tuan besar itu sebelumnya. Namun, kali ini Reana memberanikan diri menolak. Semua itu karena ketidaksanggupan Reana menghadapi situasi di meja makan itu.
"Makanlah! Duduklah di sini!" ucap Nico lalu mengangkat piring makannya pindah ke samping ibunya.
Nico sudah merasa tak enak perasaan saat Angelica memilih duduk di kursi istrinya. Namun, tak kuasa mengusir gadis yang ingin duduk di sampingnya itu. Nico tahu apa yang jadi kendala Reana untuk ikut sarapan pagi bersama itu.
Reana terpaksa kembali ke meja makan. Duduk di samping Angelica, di posisi Nico tadi. Pembicaraan yang tadinya seru kini telah berganti menjadi hening
Reana merasa menjadi perusak suasana. Nico yang memang diam sejak tadi, lanjut menyantap sarapan paginya. Begitu juga dengan yang lainnya. Pelayan pun menyiapkan peralatan makan di hadapan Reana.
Belum lama Reana memulai makannya, Angelica menyudahi sarapannya. Wanita itu terkesan buru-buru, seakan-akan tak betah berada di samping Reana. Sontak Nico menatap istrinya. Reana pun menatap Nico.
Maaf, aku sudah membuatnya pergi, batin Reana.
Seolah-olah bicara pada Nico. Sementara Nico terus menatapnya. Reana menunduk, tak mampu menahan air matanya. Reana menyesal menuruti permintaan Nico.
"Reana, kamu kenapa?" tanya Alex khawatir.
"Tidak apa-apa Daddy, maaf, saya permisi," ucap Reana.
Wanita itu langsung meninggalkan meja makan dan berlari menuju kamarnya. Reana tak mampu lagi menahan tangisnya. Tatapan Nico seolah-olah menyalahkannya karena telah membuat Angelica pergi. Tanpa disadarinya, Nico justru memintanya untuk meneruskan makannya.
Teruslah makan! Jangan pedulikan dia, batin Nico.
Namun, tatapan itu disalah artikan oleh Reana. Seolah-olah Nico menyalahkannya. Wanita itu tak sanggup lagi menahan perasaannya. Suasana senyap saat dia datang. Angelica segera pergi begitu dia menyantap sarapannya dan tatapan Nico yang seolah-olah menyalahkannya.
__ADS_1
Sudah cukup membuat Reana tak sanggup lagi melanjutkan makannya. Wanita itu menangis terisak-isak di depan jendela kaca. Menekan kuat dadanya yang terasa sesak. Reana sontak menoleh saat Nico masuk ke dalam kamar. Wanita itu diam menatap wajah suaminya.
"Aku berangkat dulu," ucap Nico pelan.
Lalu membalik badannya untuk pergi. Reana hanya diam menatap laki-laki yang menyapa hanya untuk berpamit itu. Tak terkira betapa Reana ingin memeluk laki-laki itu untuk terakhir kalinya. Namun, Reana harus menahan diri.
Reana telah bertekad untuk diam. Tak akan bicara sepatah kata pun pada Nico. Apalagi untuk berpamitan padanya. Tiba-tiba langkah Nico terhenti. Laki-laki itu membalik badan menoleh ke arah istrinya. Nico menatap wajah yang bersimbah air mata itu. Diam dengan tubuh yang gemetar.
Nico tahu, Reana sedang berusaha menahan perasaannya. Nico melangkah menghampiri Reana lalu mengangkat tangannya. Menghapus air mata yang terus mengalir di pipi istrinya.
"Jangan menangis lagi," ucap Nico sambil terus menghapus air mata di pipi wanita yang dicintainya itu.
Bolehkah aku dapatkan pelukanmu untuk terakhir kali? Batin Reana.
Air mata Reana tak kunjung berhenti. Laki-laki itu memeluknya erat lalu membelai lembut rambut istrinya. Reana membalas pelukan itu erat lalu memejamkan matanya. Air mata deras mengalir di pipinya. Setelah dirasa cukup, Nico merenggangkan pelukannya.
"Kamu belum mau berangkat?" tanya Nico yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Reana.
"Kalau begitu aku berangkat duluan ya?" tanya Nico yang dibalas dengan anggukan oleh Reana.
Nico menangkup wajah Reana lalu mengecup kening istrinya. Laki-laki itu melangkah menuju pintu kamar. Sedikit tersenyum lalu keluar dari pintu kamar tidur mereka.
Terima kasih Kak, selamat tinggal, batin Reana.
Air mata Reana kembali berderai. Sikap lembut Nico hampir saja menggoyahkan niatnya untuk pergi. Namun, wanita itu teringat kembali. Rasa tak sanggup Reana untuk bertahan di rumah itu. Teringat kembali bagaimana Nico terpana menatap wajah Angelica.
Teringat bagaimana bahagia ibu mertuanya dengan kehadiran wanita yang mirip cinta masa lalu Nico. Reana merasa wanita itu sungguh sempurna untuk semuanya. Untuk orang tua Nico yang mengenal akrab keluarganya. Untuk Nico yang bisa kembali merasakan cinta masa lalunya.
__ADS_1
Reana membulatkan tekadnya untuk pergi. Setelah menyiapkan dua surat. Reana menyiapkan pakaian seadanya. Lalu menatap kamar yang telah menggoreskan kenangan indah dalam hidupnya. Dengan air mata yang mengalir tetapi senyum terulas di bibir, Reana keluar dari kamar itu pergi untuk tak kembali.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...