
Reana menatap rumah megah yang begitu indah itu, tangannya mendadak terasa dingin dan tubuhnya pun gemetar. Rumah berhantu belum begitu angker di banding dengan rumah calon mertuanya itu. Sementara Reana menatap rumah itu dari balik pagar. Nico menekan bel yang menempel di dinding pagar yang tinggi itu. Menjawab sekilas pada orang yang bertanya melalui layar LCD intercom itu.
Tak lama kemudian pagar tinggi itu pun terbuka. Nico segera meraih tangan Reana sambil tersenyum. Bersama-sama mereka melangkah dengan santai menuju ke rumah angker itu, panggilan khusus untuk rumah itu bagi Reana.
Gadis itu memaksakan tersenyum saat Nico menoleh ke arahnya lalu kembali menikmati berjalan sambil melihat taman di samping kanan dan kiri jalan. Sebuah taman yang tertata sangat rapi. Reana tak dapat membayangkan jika dia disuruh untuk merawat aneka tanaman di taman itu. Sebentar saja gadis itu pasti sudah pasti dipecat tanpa pesangon.
Baru saja melangkah di teras, seorang pelayan berkebangsaan Indonesia muncul dan menyambut tuan mudanya. Nico menjelaskan kalau pelayan-pelayan di rumah itu telah ikut dengan ibunya sejak mereka baru saja menikah. Mereka adalah orang-orang yang sangat setia pada keluarganya dari mulai dari ibu, anak-anak hingga cucu mereka, sangat setia mengabdi pada keluarga Ny. Cathrina. Di mana pun keluarganya tinggal, pelayan-pelayan itu pasti akan ikut dengannya.
"Mereka orang-orang yang sangat setia," timpal Reana.
Nico mengangguk lalu mengajak calon istrinya itu masuk melewati ruang tamu yang mewah itu. Seorang wanita paruh baya yang sangat anggun turun perlahan menuruni anak tangga. Bisa dibayangkan dulu betapa cantiknya wanita itu karena di usianya yang tak muda lagi itu pun pancaran kecantikannya masih jelas terlihat.
Reana akhirnya mengerti dari mana asal ketampanan laki-laki di sebelahnya itu. Tentu saja dari ibunya yang begitu cantik. Mereka berdua terpaku menatap nyonya yang menuruni anak tangga itu satu persatu hingga ke anak tangga paling bawah.
Jika Reana berdebar menunggu apa yang akan terjadi? Nyonya itu justru menatap heran pada tangan Nico yang tak lepas menggenggam tangan gadis itu.
"Mommy kenalkan, ini Reana. Calon istriku--"
"APA? Kamu punya calon istri?" tanya Cathrina menyakinkan pendengarannya.
"Ya Mom, ini calon istriku," ucap Nico sambil mengarahkan tangan Reana agar berkenalan dengan ibu kandungnya itu.
Reana segera menyalami bahkan mencium punggung tangan wanita kelas atas itu sementara Ny. Cathrina hanya diam menatap Reana dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya. Tentu saja dari penampilan Reana, terlihat jelas kalau gadis itu berasal dari kalangan yang jauh berada di bawahnya. Bahkan kehidupan para pelayan rumah itu saja mungkin lebih sejahtera dibandingkan kehidupan Reana.
Mendengar putranya tiba-tiba datang dan langsung membawa seorang gadis, tentu saja membuat Ny. Cathrina cukup syok. Pasalnya begitu banyak gadis yang di kenalkan padanya, tak satu pun yang menarik hati laki-laki tampan itu. Ny. Cathrina sekarang mengerti penyebab putranya tak pernah mau menerima putri-putri dari sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kalian sudah lama berhubungan?" tanya Cathrina.
"Sudah cukup lama Mommy, sejak aku masih kuliah di Indonesia," jelas Nico.
Saking kaget dan belum bisa menguasai dirinya, Ny. Cathrina bahkan tak mempersilahkan Reana duduk. Nyonya itu sibuk menoleh ke lantai atas berharap mendapatkan seseorang untuk tempat bersandarnya yang tiba-tiba terasa lemas. Dan memang tak lama kemudian Tn. Alex Rayne melangkah menuruni anak tangga.
Ny. Cathrina langsung bergantung pada suaminya itu. Sementara Reana menatap wajah laki-laki yang sangat mirip dengan Nico tapi dalam versi yang lebih tua dan lebih bule itu. Kembali Nico memperkenalkan calon istrinya itu pada ayah kandungnya.
Tn. Alex Rayne tersenyum menatap wajah Reana yang ingin menyalaminya. Belum sempat Reana mencium punggung tangan bapak setengah abad lebih itu, Tn. Rayne justru menarik Reana ke dalam pelukannya. Menunjukkan dia sangat terbuka dan menyambut hangat kehadiran Reana di rumah itu.
Nico tersenyum sambil menunduk, begitu diperkenalkan sebagai calon istri putranya. Bapak itu dengan senang hati menerimanya tanpa memikirkan apa pun. Membuat Ny. Cathrina terperangah hingga menarik tangan suaminya dan tentu saja Nico ke sebuah ruangan yang di jadikan ruang kerja Tn. Rayne. Ruang kerja sekaligus ruangan untuk menyambut tamu resmi yang berurusan dengan perusahaan atau pun urusan resmi lainnya. Meninggalkan Reana yang berdiri terpaku seorang diri di ruang tengah yang begitu lapang itu.
"Daddy merestui mereka?" tanya Catharina heran.
Segera Nyonya itu bertanya latar belakang status sosial Reana pada Nico. Dengan jujur laki-laki itu menjawab kalau Reana seorang yatim dan ibunya berjualan di kantin sekolah. Mendengar itu Ny. Cathrina langsung memegang keningnya. Entah akting atau memang gaya terkejutnya seperti itu. Ny. Cathrina terhuyung sambil memegangi keningnya.
Pusing atau tidak? Gaya Mommy seperti pusing tapi disuruh duduk malah nggak mau, batin Nico.
Wanita itu seperti ingin bertahan berdiri seolah-olah jika duduk berarti dia akan kalah. Sementara itu Tn. Alex Rayne seperti tak mempermasalahkan status sosial calon menantunya. Tinggal Ny. Cathrina yang panik sendiri tanpa ada satu pun yang berpihak padanya.
"Apa masalahnya Mommy?" tanya Alex Rayne.
"Daddy nggak dengar, dia anak penjaga kantin," ucap Cathrina sedikit keras.
Nico langsung menoleh ke arah pintu dan tertunduk. Harapannya Reana tak bisa mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Kita tak bisa paksakan hati. Kita tak tahu apa sebab Nico suka gadis itu. Mungkin ada kenangan sendiri. Mana kita tahu. Daddy … pribadi setuju saja, yang penting Nico mau ikut syarat Daddy," jelas Alex Rayne dengan bahasa Indonesia yang tak begitu tepat.
"Apa Daddy?" tanya Nico langsung mendengar ayahnya bersedia menerima Reana menjadi menantunya dengan sebuah syarat.
"Kamu … dua tahun sudah kerja di perusahaan Daddy. Sudah cukup, kamu ambil alih posisi pimpinan perusahaan itu sekarang," jawab Alex Rayne.
"Maksud Daddy, aku … menggantikan Daddy?" tanya Nico yang dibalas dengan anggukan oleh ayahnya.
Ny. Cathrina langsung terduduk tanpa sempat memegangi keningnya. Sepertinya ini adalah pusing yang sebenarnya. Tanpa akting memijat kening wanita itu langsung terduduk. Wanita kelas atas itu tak akan mampu lagi menentang keinginan putranya jika ayahnya sudah berpihak padanya.
"Sejak dulu kalian itu selalu mengeroyok Mommy! Tak ada yang mau berdiri di pihak Mommy," ucap Cathrina kesal.
Nico langsung duduk di samping ibunya dan memijat bahu wanita cantik itu. Terlihat wajahnya yang cemberut masih berusaha ditunjukkannya agar putranya mau berubah pikiran.
Sebenarnya Nico sendiri bingung dengan syarat yang diajukan ayahnya. Mengambil alih perusahaan bukanlah hal yang mudah. Bekerja selama dua tahun di perusahaan itu rasanya tak mampu menimbulkan rasa percaya dirinya. Nico merasa harus belajar terus untuk bisa menjalankan perusahaan itu seperti cara ayahnya menjalankan perusahaan itu.
"Belajar itu setiap hari. Posisi sekarang, posisi nanti, tetap harus belajar. Dunia ini dinamis selalu bergerak dan berubah sesuai dengan keinginan orang-orang di dalamnya. Tak akan sama setiap harinya. Kamu jangan ragu, kamu punya modal. Mengerti teori, paham dasar pemikiran dan tegas dalam mengambil keputusan. Itu sudah cukup modal. Jangan takut dengan apa yang belum terjadi. Lihat tempat gelap, kamu harus ke sana untuk tahu apa yang ada di sana. Diam di tempat, kamu tidak akan tahu apa-apa," jelas Alex Rayne yang meski kadang tak tepat namun Nico mengerti apa yang dimaksudkan ayahnya itu.
Mendapat dukungan itu tentu saja percaya diri Nico timbul. Tapi teringat Reana yang juga harus menetap di New York. Nico kembali menjadi ragu. Apa mungkin gadis yang dicintainya itu bersedia berpisah begitu jauh dari ibunya atau bersediakah Bu Ridha Lia ikut dengan mereka.
Melihat sikap suami dan anaknya yang seperti tak mendengar kemauannya. Ny. Cathrina bertambah kesal. Wanita itu berdiri berteriak sambil membuka pintu double berukiran itu.
"Pokoknya Mommy nggak setuju! Nggak setuju!" teriaknya sambil membuka pintu dan terkejut melihat Reana yang masih berdiri di ruang tengah itu sambil menatap ke arahnya.
Sepertinya wanita kaya itu lupa kalau Reana masih berada di rumah itu dan bisa saja mendengar ucapannya. Reana langsung tertunduk saat nyonya itu akhirnya melangkah tergesa-gesa menuju lantai atas. Nico yang mengetahui Reana pasti mendengar ucapan ibunya, segera menghampiri gadis itu dan menggenggam kedua tangannya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...