
Suara lirih Reana menghentikan langkah kaki Nico. Laki-laki itu berdiri dibalik pintu, mendengar suara gadis yang disayanginya memanggil namanya dan berharap untuk tetap bersamanya.
Apa yang harus dilakukannya ? Memilih tetap bersamanya dan merasa takut hal buruk kembali terjadi pada diri gadis itu atau memilih meninggalkannya demi keselamatannya, namun selamanya merindukan gadis itu. Tapi itukah hidup ?
Mimpi itu sangat menakutkan baginya, Nico akan sangat menyesal mengabaikan mimpi jika terjadi sesuatu yang buruk pada Reana. Laki-laki sudah siap meninggalkan Reana setiap kali mengingat mimpi itu.
Tapi bu Ridha memberikan pencerahan bahwa mimpi yang dialaminya adalah sebuah ketakutan yang dia ciptakan sendiri saat menjelang jatuh pingsan.
Reana merasakan kehilangan hidupnya saat memilih menikah dengan tuan Malvin. Gadis itu merasa hidupnya telah mati, meski gadis itu hidup dalam limpahan kasih sayang dari tuan Malvin.
"Kak Nico... jangan tinggalkan aku" ucap Reana.
Suara gadis itu kembali terdengar, semakin jelas.
Aku juga akan seperti Reana, tanpa dirinya hidupku akan terasa mati, jerit hati Nico.
Nico sudah memilih, dan sekarang, Nico sudah memutuskannya, laki-laki itu mantap melangkahkan kakinya. Muncul di depan pintu dan bergerak mendekati Reana.
Reana menatap laki-laki yang baru saja mendatanginya. Gadis itu tersenyum, pengaruh anestesi perlahan mulai menghilang. Rena mengangkat tangannya perlahan, meraih wajah Nico yang berdiri disamping ranjangnya. Nico mendekatkan diri membiarkan Reana membelai pipinya.
Nico menggenggam dan mencium tangan gadis lalu menempelkan dipipinya, air mata menitik dari pelupuk matanya. Bu Ridha menyaksikan luapan kasih sayang Nico terhadap putrinya, perlahan meninggalkan mereka.
Bu Ridha memilih duduk di kursi tunggu yang tersedia di lorong rumah sakit.
Pa, anak gadismu sudah besar, ada seseorang yang sangat mencintainya, apa papa setuju ? bisik hati bu Ridha sambil menitikkan air mata.
Ibu paruh baya itu menghapus air matanya, ada perasaan takut mengalir di relung hatinya. Apakah putri satu-satunya itu akan bahagia ? bersama Nico tak akan diragukan lagi, laki-laki itu akan melakukan apa saja untuk membahagiakannya.
Namun bagaimana dengan keluarganya ? apakah mereka akan menerima Reana dengan latar belakang keluarga mereka yang jauh berbeda. Membiarkan Reana lebih jauh melangkah dan membiarkannya ke jatuh ke jurang cinta lebih dalam, lalu menemukan kekecewaan disana ? ditolak karena status sosial yang berbeda ?
Papa, apa yang harus kulakukan, aku ingin anak kita bahagia, jerit hati bu Ridha.
Bu Ridha memejamkan matanya, menenangkan pikirannya. Ibu itu tak menyadari Nico yang duduk disampingnya. Laki-laki itu memandang wajah wanita paruh baya itu dengan penuh haru. Dalam hatinya Nico ingin meminta maaf karena telah membuat hati wanita itu resah dan bersedih.
"Kamu disini ?" tanya bu Ridha setelah menyadari Nico duduk disampingnya.
Nico yang sedang melamun, tersenyum kaget mendengar sapaan bu Ridha.
"Reana sudah tertidur lagi" jawab laki-laki itu.
Ibu Ridha menghembuskan nafas.
"Apa yang membuatmu kembali ? apa tidak takut lagi dengan mimpimu ? " tanya bu Ridha sambil tersenyum.
"Selamanya saya akan takut pada mimpi itu, tapi maaf bu saya tidak bisa menjauh dari Reana, saya lebih takut kehilangannya, Reana pernah berkata, memilih berpisah membuat hidupnya terasa mati.
Saya juga merasakan hal yang sama, memilih percaya pada mimpi itu, lalu memutuskan meninggalkannya, hidup saya terasa sudah berakhir sampai disitu. Mohon izinkan saya untuk tetap bersamanya bu" ucap Nico dengan mata berkaca-kaca.
Laki-laki itu berharap bu Ridha merestui hubungan mereka. Laki-laki itu merasa lelah dengan masalah yang selalu berusaha memisahkan mereka.
"Bagaimana dengan keluargamu ? kamu pasti mengerti maksud ibu" tanya bu Ridha.
"Saya akan menjelaskan pada mereka, saya akan melakukan apapun untuk mendapatkan restu dari mereka" ucap Nico yakin sambil menatap bu Ridha dengan matanya yang masih berkaca-kaca.
Bu Ridha mengangguk mengerti, wanita paruh baya itu terharu melihat perasaan Nico yang begitu dalam terhadap putrinya.
"Semuanya tergantung pada usahamu, usaha kalian berdua, ibu hanya bisa mendo'akan, semoga kalian tidak lagi mendapat kesulitan dalam mempertahankan hubungan kalian" ucap bu Ridha sambil menunduk.
Sebuah doa yang akan selalu dipanjatkannya demi kebahagiaan putrinya.
"ibu hanya ingin mengatakan satu hal, ibu percaya padamu, tolong jangan hancurkan kepercayaan itu, Reana adalah satu-satunya putri ibu, satu-satunya harta berharga bagi ibu, tolong jaga dia baik-baik" pesan bu Ridha menitikkan air mata sambil tersenyum pada laki-laki itu.
__ADS_1
Nico memandang bu Ridha dengan perasaan haru, laki-laki itu tersenyum bahagia, bulir air matapun menitik disudut matanya, bu Ridha menghapus air mata itu untuknya, Nico tertawa.
Menjelang malam kesadaran Reana telah sepenuhnya kembali, beberapa kenalan datang membesuknya, menanyakan keadaan Reana dan menghiburnya. Memberikan dukungan untuk kesembuhan Reana.
Reana tidak menyangka, dirinya yang dulu seorang penyendiri, tak memiliki teman siapapun. Kini dikelilingi oleh orang-orang yang peduli padanya.
Karyawan restoran yang tidak semuanya pernah bicara dengannya, penghuni kost-an yang kadang tak pernah Reana lihat sebelumnya, teman-teman sekelas, sekampus, sahabat-sahabat Nico, Alika, dan Nella. Bahkan gadis-gadis penata rias pun datang bergantian membesuknya.
Undangan itu membawa mereka semua untuk mengenal Reana, undangan pernikahan itu membuat Reana mengenal mereka semua. Ya, tuan Malvin mengundang semua orang di sekeliling Reana karena dia tidak tau mana yang menjadi teman dekat gadis itu.
Mereka memperkenalkan diri, menanyakan kondisi kesehatan Reana, karena sebagian besar dari mereka melihat kejadian itu. Saat Reana di bawa pergi dan disusul oleh tuan Malvin mereka pun keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Bahkan ada yang penasaran dan bertanya, kenapa Reana memutuskan untuk lari. Karena sangat aneh bagi mereka menolak menikah dengan tuan muda kaya raya seperti tuan Malvin.
Ditambah pemberitaan tentang pernikahan itu menjadi buah bibir dikalangan orang-orang yang mengenal tuan Malvin.
Reana hanya menjawab dengan senyum dan berkata bahwa tuan Malvin bukanlah takdirnya, bukankah jodohnya. Semua manggut-manggut mendengar jawaban Reana, meski masih sulit untuk percaya karena tuan Malvin dan Reana terlihat begitu serasi.
Bertemu dan berbincang-bincang, hingga akhirnya satu persatu pamit pulang, tinggallah bu Ridha, Nico dan sahabat-sahabatnya, juga Nella. Mereka adalah orang-orang terdekat Reana, orang-orang yang peduli dan sayang padanya.
Mereka tertawa bersama dikala Ardi bercerita kisah lucu persahabatan mereka. Nella tertawa dan kadang-kadang tersipu melihat cara Ardi bercerita.
Ardi sungguh-sungguh magnet bagi para gadis, sifatnya yang humoris dan mudah disukai, wajahnya putih dengan senyum yang manis dan model rambut yang keren mengikuti trend oppa-oppa Korea membuat Nella berkali-kali melirik padanya.
Reana bukannya tidak menyadari hal itu, gadis itu membiarkan mereka saling mengenal. Nico yang duduk di sofa bersama bu Ridha juga ikut tertawa mendengar cerita lucu Ardi.
Nico melirik Reana, Reana yang telah diperbolehkan duduk memberi kode untuk memperhatikan Nella yang malu-malu melirik Ardi. Nico yang tadinya tak mengerti akhirnya menyadari maksud Reana, lalu mereka tersenyum bersama.
"Tuan Malvin itu memang jahat sekali" ucap Nella polos saat pembicaraan mereka akhirnya beralih ke cerita pernikahan Reana. Suasana menjadi berbeda, hening seketika.
"Jangan terlalu mudah menilai orang jika tidak tau yang terjadi sebenarnya" ucap Reana menasehati Nella.
Gadis yang sudah dianggap seperti adiknya itu merasa heran, mendengar Reana yang seperti membela tuan Malvin. Semua orang yang berada disitu juga berpikir hal yang sama, Nico tertunduk, ada rasa ngilu di dadanya saat mendengar pembelaan Reana.
Sejak kecil sudah diajarkan dan dituntut untuk mendapatkan segala yang di inginkannya dengan cara apapun.
Tuan Malvin tumbuh menjadi seorang yang sombong dan berambisi.
Berkat sifat yang telah ditanamkan padanya sejak masih kecil, dia menjadi sukses seperti sekarang ini.
Namun jiwanya tetap kosong dia butuh seorang untuk mengisinya" cerita Reana sambil mengingat Semua tentang tuan Malvin.
Nico tercenung memandang Reana, gadis itu begitu mengerti semua tentang tuan malvin, yang lainpun berpikiran sama.
"Dia tidak seperti kita, dia tidak seberuntung kita, memiliki orang yang menyayangi dan memiliki seseorang untuk disayangi.
Dia hanya ingin mendapatkan itu, seseorang yang menyayanginya dan seseorang untuk disayanginya.
Hanya saja cara yang ditempuhnya salah karena sifatnya yang sulit menerima penolakan" cerita Reana kembali membuat semua orang tertegun.
"Andai saja ada orang yang memberinya kesempatan, andai semua orang bisa mengerti perasannya, tidak ada orang yang akan menilai tuan Malvin laki-laki yang jahat" ucap Reana lagi.
Sangat disayangkan, tuan Malvin meminta kesempatan itu pada Reana, gadis yang terlanjur memberikan hatinya pada laki-laki lain.
Reana memandang pada Nella.
"Jangan terlalu mudah membenci seseorang karena belum tentu orang itu seperti yang kita kira, saya bisa mengatakan hal itu, karena saya pernah mengalaminya, dinilai, dituduh, dibenci padahal mereka tidak tau apa yang terjadi sebenarnya" lanjut Reana beralih memandang Nico lalu tersenyum pada laki-laki itu.
Nico membalas senyum Reana dan mereka semua mencoba memahami ucapan Reana. Ardi tiba-tiba berjalan mendekati ranjang gadis itu.
"Maafkan saya Reana, karena saya pernah berpikiran buruk tentangmu, semua itu karena..."
__ADS_1
"Saya tauuu, karena kak Ardi sangat menyayangi kak Nico, mulai sekarang menyingkirlah, cari seorang gadis untuk kakak sayangi, jangan bersaing denganku" ucap Reana melengos berpura-pura marah.
"Apa ? aku bersaing denganmu ? menyayangi Nico ? emangnya aku ini gay apa ?" ucap Ardi tertawa.
Semua tertawa, hati Nico berbunga-bunga, gadis itu nyata-nyata mengatakan menyayanginya.
Mereka berbincang hingga larut malam sampai akhirnya mereka harus pulang meninggalkan Reana dan Nico yang masih di rawat inap di ruangan masing-masing.
"Kak Nico istirahatlah biar cepat sehat" ucap Reana melihat laki-laki itu masih bertahan di ruangan Reana.
Nico mengangguk perlahan mendekati gadis itu lalu mengecup keningnya kemudian berjalan meninggalkan ruangan, tak lupa laki-laki itu pamit pada bu Ridha.
Reana sempat terbelalak melihat tingkah nekat Nico yang mencium keningnya di depan mamanya. Untungnya Bu Ridha pura-pura tidak melihat sehingga Reana merasa lega
Keesokan harinya dokter melakukan pemeriksaan pada luka tembak Reana dan organ tubuh sekitarnya yang kemungkinan juga mengalami trauma, karena luka tembak juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan sekitar berupa perdarahan atau infeksi.
Jika dalam 7-10 hari Reana tidak mengalami masalah apapun setelah operasi, maka pemulihan dapat dilakukan di rumah. Nico dan bu Ridha senang mendengarnya mereka berdo'a semoga luka Reana tidak ada masalah dan bisa segera sembuh.
Sementara Nico telah dinyatakan sembuh dan telah diperbolehkan pulang. Laki-laki itu pamit pulang pada bu Ridha dan Reana.
Mampir sebentar ke apartemennya, melakukan segala sesuatu yang harus dikerjakannya lalu kembali kerumah sakit. Nico lebih suka menghabiskan waktunya di rumah sakit bersama Reana dan ibunya.
Hingga akhirnya gadis itu diperbolehkan pulang, bu Ridha pun pamit pulang ke kampung halamannya.
"Berjanjilah akan selalu menjaganya, melindunginya dan menyayanginya" pesan bu Ridha pada Nico.
"Saya berjanji bu, saya akan selalu menjaganya" jawab Nico.
"Hatiku tenang, sekarang putriku tidak sendirian di kota ini ada kamu yang selalu menjaganya" ucap bu Ridha .
"Tapi... saya ada satu permintaan bu, bisakah ibu mengabulkan untukku?" tanya Nico ragu-ragu.
"Permintaan apa itu ?" tanya bu Ridha.
"Saya membeli sebuah villa kecil untuk Reana.."
"Apa ?" tanya bu Ridha kaget, tak percaya dengan pendengarannya.
"Benar bu, semua itu saya lakukan demi mewujudkan keinginan Reana terhadap papanya, Reana pernah berkata papanya berjanji akan membawanya berlibur ke sebuah villa yang bisa memandang matahari tenggelam" cerita Nico mengingat kembali ucapan Reana.
"Benar, papa Reana memang pernah menjanjikan itu padanya, namun tak sempat terwujud" kenang bu Ridha
"Mohon izinkan saya membawanya kesana, mohon izinkan kami... menginap disana" tanya Nico memohon.
"Tapi kalian..." ucap bu Ridha terpotong tak ingin mengatakan hal-hal yang buruk.
"Bu, saya sudah berjanji pada ibu, bahwa saya akan menjaganya, saya tidak akan melukainya, saya menghormatinya, saya... tidak akan melakukan perbuatan di luar batas bu, saya hanya ingin mewujudkan keinginannya, hanya itu bu" ucap Nico memohon.
Bu Ridha tertegun, wanita paruh baya itu berpikir keras, tak ada keraguan untuk mempercayai ketulusan hati laki-laki muda ini, tapi mereka masih sangat muda dan mereka masing-masing memiliki keinginan yang kuat untuk menunjukkan perasaan mereka. Bu Ridha takut mereka tidak bisa menahan diri.
Namun mengingat mereka selama ini telah bersama dan Nico menjaga Reana sepenuhnya jiwanya, serta putrinya yang selalu dapat menjaga dirinya, keraguan bu Ridha sedikit berkurang.
"Ibu benar-benar bisa mempercayaimu ?" tanya bu Ridha, Nico mengangguk tegas.
"Baiklah, ibu mengizinkan" ucap bu Ridha sambil tersenyum,
"Terima kasih banyak Bu, terima kasih" ucap Nico sambil tersenyum, saking senangnya Nico meraih tangan bu Ridha dan mencium punggung tangan ibu itu.
Bu Ridha menepuk bahu Nico sambil berkaca-kaca.
Dasar anak orang kaya, membeli villa seperti membeli nasi uduk saja, batin bu Ridha menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Hari itu Bu Ridha pulang, setelah memeluk anaknya dengan erat dan memberikan nasehat, Bu Ridha pulang ke kampung halamannya dengan menggunakan taksi online yang dipesan oleh Nico. Sementara Reana diantar pulang ke rumah kostnya.
...*****...