Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 144 ~ Pilihan ~


__ADS_3

Hasbi dendam setelah merasa dipermalukan di depan Reana. Terpaksa menerima pukulan-pukulan yang bertubi-tubi dari Nico yang tiba-tiba muncul. Bukan hanya itu yang menjadi dendam Hasbi. Nico membuatnya terlihat lemah di depan Reana. Teriakan Reana lah yang menolongnya saat itu. Membuat Nico berhenti memukuli rival dalam segala hal itu.


Aku diselamatkan oleh Reana. Kamu permalukan aku di depan Reana? Harusnya aku yang melindungi Reana. Bukannya justru ditolong oleh Reana. Aku tak akan tinggal diam, tunggu saja. Saat pembalasan pasti akan tiba, batin Hasbi.


Hasbi semakin memuncak setiap kali mengingat kejadian itu. Nico tak memberinya kesempatan untuk membalas. Laki-laki itu jadi terlihat sangat lemah. Tak bisa memberi perlawanan sedikit pun di depan Reana membuatnya merasa sangat malu.


Hasbi telah bertekad untuk membalas Nico dengan cara lain. Tak bisa membalas dengan kekerasan, maka laki-laki itu akan membalas dengan kecerdasan. Apalagi Hasbi tahu kalau posisi Nico sedang berada di ujung tanduk. Laki-laki itu sudah menyiapkan cara untuk membalas penghinaan Nico.


Sehari-hari menatap galeri berisi foto-foto seorang wanita cantik di layar laptop-nya. Setiap kali menatap layar itu, Hasbi akan tersenyum sambil mengusap wajah cantik di hadapannya itu.


Reana, tunggulah, saatnya akan tiba. Suamimu tak akan sanggup pertahankan kamu. Dia pasti akan merelakan kamu dan kita akan bahagia bersama, batin Hasbi.


Hasbi menatap jadwal rapat umum pemegang saham yang memutuskan Nico akan tetap menjadi pimpinan atau lengser. Hasbi tersenyum membayangkan saat-saat Nico panik dalam mengambil keputusan.


"Ada apa Kak?" tanya Reana saat melihat suaminya itu mengusap kasar wajahnya.


"Tidak apa-apa sayang," jawab Nico sambil menatap layar laptop-nya.


Reana hanya bisa menatap sedih suaminya karena tak bisa membantu laki-laki itu. Sambil menyiapkan makan malam mereka, sesekali Reana menoleh ke arah suaminya. Lagi-lagi Nico menekuk kepalanya dan bertumpu pada kedua tangannya.


"Kak, makan malam dulu yuk Kak," ajak Reana.


"Ya, sayang!" jawab Nico segera menutup laptop-nya.


Mereka pun menikmati makan malam itu dengan suasana hening. Reana tahu suaminya sedang banyak pikiran. Wanita itu tak berani mengganggunya.


"Sayang.. kalau aku tak menjadi CEO lagi bagaimana menurutmu?" tanya Nico.


"Kenapa bisa begitu? Bukannya itu perusahaan Daddy, kenapa posisi CEO kakak bisa dicopot?" tanya Reana.


"Perusahaan itu memang milik Daddy tapi dalam usaha membesarkan perusahaan itu kita butuh investor, aku terlalu bernafsu untuk sebuah proyek yang membutuhkan biaya yang sangat besar. Aku mendapat suntikan dana dari perusahaan tempat Rommy bekerja. Tn. Armen seorang pengusaha yang sangat baik. Tuan itu yakin kalau proyek ku akan berhasil. Beliau memberikan dana yang tidak sedikit. Tapi … beberapa waktu lalu, aku salah dalam mengambil keputusan. Tak sepenuhnya gagal tapi butuh waktu untuk berhasil. Sebagian pemegang saham berpihak padaku, sebagian lagi ingin menjatuhkan aku. Sayang, tadinya aku mengandalkan Tn. Armen berada di pihakku. Aku yakin dia akan membelaku, tapi ternyata telah terjadi perubahan kepemimpinan. Putranya yang sekarang menjadi CEO, aku rasa dia ingin aku mundur," ungkap Nico lalu tertunduk.

__ADS_1


"Kenapa Kakak pesimis? Aku rasa ayah dan anak pasti punya pandangan yang sama. Jika ayahnya berpihak pada Kak Nico, maka anaknya juga pasti memilih Kakak," ucap Reana.


Nico menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum pahit. Matanya berkaca-kaca lalu memalingkan wajahnya. Melihat itu Reana berdiri dari kursi makannya dan langsung menenggelamkan Nico di dadanya. Laki-laki itu menangis dalam pelukan Reana.


"Maafkan aku Reana," ucap Nico semakin menenggelamkan wajahnya di dada istrinya.


"Kenapa Kak Nico minta maaf padaku? Kakak nggak punya salah padaku?" ucap Reana.


"Aku memalukan Reana," ucap Nico dengan terisak.


"Nggak! Sedikit pun nggak memalukan. Jika masih ada yang percaya pada Kakak artinya, keputusan kakak itu tak sepenuhnya salah. Aku percaya kakak, mungkin memang butuh waktu untuk membuktikan sesuatu yang baru. Kakak jangan malu. Jika putra Tn. Armen berpihak pada kita, kakak pasti menang kan?" tanya Reana. Nico mengangguk sambil tersenyum. 


"Tn. Armen berpihak pada kita, putranya juga pasti berpihak pada kita. Kak, pertahankan posisi Kakak, jangan sampai Daddy tahu kakak lengser, kasihan Daddy Kak," ucap Reana.


"Kamu benar, aku harus pertahankan posisiku, demi Daddy. Aku akan mencari dukungan dari yang lain, masalahnya, pemegang saham terbesar saat ini adalah perusahaan Tn. Armen. Semua tergantung pada perusahaan Tn. Armen. Jika berpihak pada kita maka kita menang. Jika tidak maka kita akan kalah,dan aku akan digantikan," jelas Nico.


"Kalau gitu kita tinggal minta dukungan perusahaan Tn. Armen saja," ucap Reana.


"Benar, tapi masalahnya, yang menjadi CEO sekarang adalah putranya. Kita tak bisa minta dukungan dari putranya," ungkap Nico.


"Karena dia adalah Hasbi," jawab Nico.


"Apa?" tanya Reana tak percaya.


Akhirnya Reana tahu penyebab suaminya putus asa. Setelah apa yang Nico lakukan pada Hasbi rasanya tak mungkin meminta dukungan dari laki-laki itu. Reana akhirnya terduduk. Tak bisa mencari solusi lain lagi.


"Aku tak mau lengser, kamu pasti malu padaku," ucap Nico akhirnya menangis.


"Apa aku perlu bicara pada Hasbi? Mungkin dia mau bantu kita," ucap Reana sambil tersenyum.


"Setelah apa yang aku lakukan padanya kemarin, dia masih mau bantu aku?" tanya Nico.

__ADS_1


Mereka termenung, tak ada lagi yang bisa dilakukan selain pasrah. Nico sudah berusaha menjalankan perusahaan dengan sangat baik. Namun, saat ini terkena batu sandungan. Melihat istrinya yang tertunduk sedih, Nico mengajak wanita cantik itu duduk sofa ruang tengah.


Reana duduk termenung sambil bersandar di dada suaminya. Nico merangkul bahu istrinya lalu mengecup puncak rambut wanita cantik itu. Lalu memeluk tubuh itu erat-erat 


"Reana, jangan tinggalkan aku ya?" tanya Nico.


"Nggak akan kak. Bagaimanapun keadaan Kak Nico, aku nggak akan tinggalkan Kakak," ucap Reana.


"Terima kasih sayang," ucap Nico.


Nico sangat bersyukur saat mendengar janji Reana. Namun, tetap saja hatinya gundah. Mereka duduk terdiam, dengan dengan pikiran masing-masing. Mau tidak mau, suka tidak suka mereka harus menerima apa pun yang terjadi nanti.


Hari yang menentukan itu pun tiba, Nico menunggu keputusan dari suara terbanyak. Laki-laki itu berharap, tetap akan terpilih menjadi CEO di perusahaannya sebelum ayahnya tahu kalau dirinya pernah hampir disingkirkan.


"Tuan Nico, hasilnya sudah jelas, sekarang semua tergantung dari pilihan Tn. Hasbi. Silahkan Tn. Nico temui Tn. Hasbi, untuk mendengarkan secara langsung keputusannya," ucap seorang utusan perusahaan Hasbi.


Nico pun terpaksa menemui Hasbi yang menjadi keputusan penentu. Nico diminta datang ke ruangan Hasbi. Nico telah tahu kalau laki-laki itu memanggilnya untuk menertawakannya. Nico dipersilahkan untuk duduk, Hasbi pun meletakkan dokumen yang menunjukkan pilihannya.


"Aku belum menetapkan pilihan. Tapi segera akan tentukan tapi … semua tergantung padamu. Apa bersedia memenuhi permintaanku, maka aku akan memilihmu," ucap Hasbi.


"Baiklah, katakan, apa maumu," ucap Nico.


"Wow, masih saja sombong," ucap Hasbi.


"Katakan saja, jika bisa akan aku penuhi," ucap Nico yang tak sabar dengan syarat yang ingin diajukan Hasbi.


"Aku ingin semalam saja, bersama Reana di hotel," ucap Hasbi.


"Apa? Kamu gila, permintaan macam apa itu? Kami ingin babak belur sekali lagi?" ucap Nico emosi bahkan berdiri dari tempat duduknya.


"Tanyakan pada Reana, mungkin dia bersedia," ucap Hasbi.

__ADS_1


Nico jelas tak bisa memenuhi permintaan Hasbi. Nico tidak akan menyerahkan istrinya pada laki-laki yang sejak dulu memang menginginkan istrinya. Nico lebih memilih turun dari jabatannya daripada menyerahkan istrinya untuk melayani nafsu pemimpin perusahaan itu.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2