
Rencana Rommy mempertemukan suami istri itu di apartemen berhasil. Nico yang tak percaya istrinya telah kembali merasa ragu akan penglihatannya sendiri. Setiap seperti melihat Reana, seperti mendengar suara Reana. Seperti merasakan sentuhan Reana.
Nico merasa dirinya hampir gila. Saat Rommy memintanya untuk mencari Reana di kampungnya, Nico justru merasa tak percaya diri. Begitu takut mendapat penolakan Reana. Saat bertukar pikiran dengan Rommy, semangatnya untuk mencari muncul. Namun, saat menyiapkan diri untuk pergi, rasa percaya dirinya surut lagi.
Di suratnya, Reana menyatakan berpisah adalah solusi terbaik bagi mereka. Membuat Nico merasa Reana benar-benar ingin berpisah dengannya. Terlebih lagi rasa bersalah Nico yang sempat mengabaikan Reana. Laki-laki itu merasa dirinya telah terlambat merubah sikap hingga Reana tak akan mau lagi menerima dirinya.
Nico merasa Reana telah terlanjur membencinya. Tak ingin lagi mempertahankan rumah tangga yang mengalami banyak rintangan itu. Dalam suratnya, Reana terkesan tak ingin lagi berusaha mempertahankan rumah tangga mereka yang banyak merasakan penderitaan.
Reana seperti menyerah. Mengikhlaskan dirinya bersama wanita lain. Sementara hatinya tak bisa menerima wanita lain selain wanita di hadapannya itu.
"Aku kira tak bisa bertemu denganmu lagi. Aku pikir selamanya kehilanganmu. Aku menderita Reana. Setiap hari merasa seperti melihatmu tersenyum padaku. Saat aku sadar itu bukan dirimu aku merasa kalau aku sudah gila. Apa aku sudah gila? Benarkah yang aku peluk ini kamu sayang? Istriku, Reana istriku?" tanya Nico dengan air mata yang menetes di pipi Reana yang berbaring di bawah kungkungannya.
Wanita itu menganggukkan kepala lalu menghapus air mata laki-laki yang dicintainya. Namun, air mata itu tetap saja mengalir. Reana menyadari dan percaya, kalau Nico benar-benar menderita. Karena air mata itu masih saja mengalir meski Nico berusaha menahannya.
Reana memeluk tubuh laki-laki yang telah melepas semua yang melekat di tubuhnya itu. Merasakan hangatnya tubuh laki-laki yang dicintainya itu dan mencium aroma khas dari tubuh laki-laki yang dicintainya itu. Membuat Nico tak lagi memikirkan apa-apa lagi selain menyalurkan hasrat cintanya pada sang istri.
Nico bahagia, kesedihan yang dirasakannya selama kehilangan Reana langsung sirna. Dengan nafas yang memburu dan hasrat yang menggebu, Nico melepaskan hasratnya yang telah memuncak. Melakukannya hingga beberapa kali, menginginkannya lagi, lagi, dan lagi, hingga akhirnya terkulai lemas. Namun, bahagia.
Nico memeluk istrinya dengan erat, seolah-olah tak boleh menjauh dari dirinya sedikit pun. Bahkan saat laki-laki itu merasa begitu lelah, tangannya tetap melingkar memeluk Reana.
"Kak, ayo bangun! Kakak nggak berangkat kerja?" tanya Reana.
__ADS_1
Seperti Dejavu, saat pertama kali Nico meniduri Reana. Memutuskan menerima wanita yang pernah disekap oleh pemilik hotel bintang lima itu. Nico sama sekali tak mau beranjak dari ranjangnya.
Hanya ingin memeluk Reana seharian. Tak ingin melakukan apa-apa selain mencumbu wanita yang dicintainya itu. Dengan mata terpejam, memeluk, dan mencium tubuh indah istrinya itu.
"Apa kita akan tinggal di sini lagi?" tanya Reana.
"Ya, jika kamu ingin kita di sini. Aku akan sampaikan pada Mommy dan Daddy," jawab Nico akhirnya membuka matanya menatap wajah cantik yang dirindukannya itu.
"Sebenarnya aku tak ingin menentang keinginan mereka tapi, aku tak tahan jika setiap hari harus bertemu dengan wanita yang mirip cinta pertama Kakak itu. Kakak ingat foto itu? Melihat Kakak masih menyimpannya aku merasa sangat cemburu apalagi melihat adiknya yang begitu mirip dengannya. Aku … selalu merasa suatu saat Kakak akan tergoda dan jatuh cinta padanya," jelas Reana.
"Sebenarnya kamu tak perlu cemburu. Meski Angela sesungguhnya yang muncul di hadapanku. Bukan Angela palsu itu, aku tak akan peduli lagi. Karena di hatiku saat ini hanya kamu Reana. Wanita yang aku perjuangkan cintanya sejak aku mengenalnya. Wanita yang membuat aku terpesona dengan kehebatannya menyelesaikan soal matematika. Hanya wanita itu saja, aku tak inginkan yang lain. Hanya inginkan wanita bernama Reana, karena wanita bernama Reana itu, telah terlanjur mencuri hatiku," jelas Nico.
Reana tersenyum menatap wajah tampan itu. Nico balas menatap wajah itu tak puas-puasnya lalu mengecup kening wanita itu lama. Reana teringat satu pertanyaan yang selalu mengganggu pikirannya.
Nico terdiam. Laki-laki itu menyesal mengingat itu. Hal itu memang kesalahannya. Rasa cemburunya yang berlebihan pada Reana yang membuatnya melakukan kesalahan itu.
"Bukan kamu yang salah tapi aku. Semua karena rasa cemburuku yang tak berdasar. Aku sendiri yang tak bisa menahan rasa cemburuku. Saat aku mendengar kamu dan pengawal itu asyik menelpon rasa cemburu dan kesal muncul. Aku merasa kalau kamu seperti tak pedulikan perasaanku lagi. Diberi kebebasan untuk bertemu dengannya, seolah-olah kamu bebas berbuat seenaknya bahkan di dekatku. Aku cemburu sayang. Aku takut kamu semakin dekat dengannya. Aku takut kehilanganmu Reana. Entah berapa kali aku mengucapkan kata-kata itu. Entah berapa kali masalah muncul berawal dari kata-kata itu. Bagaimana caranya aku melawan sifat posesif itu. Aku sendiri bingung Reana. Aku rasa karena aku berkali-kali kehilanganmu. Aku tak sanggup lagi merasakan itu Reana. Karena itu, hatiku tak bisa bebas membiarkan kamu bertemu dengannya–"
"Tapi aku tidak–"
"Aku tahu sayang. Aku sudah tahu. Kamu membatalkan janji bertemu dengannya. Aku tahu itu karena membaca pesannya yang masuk di HP-mu. Dia … aku menyesal Reana, sepertinya dia tulus menyayangimu seperti adik terhadap kakaknya. Aku minta maaf karena berprasangka buruk pada kalian," ucap Nico dengan raut wajah menyesal.
__ADS_1
"Syukurlah akhirnya Kakak menyadari. Aku selalu memiliki firasat kalau Kakak tak sepenuhnya percaya pada kami. Karena itu aku membatalkan janji bertemu tapi … meski tak bertemu tetap saja Kakak salah paham padaku," jelas Reana dengan wajah murung.
"Maaf ya sayang. Bagaimana kalau setelah ini kita sama-sama menemuinya," usul Nico.
"Nggak ah, aku takut. Nanti timbul masalah lain lagi," ucap Reana.
"Maafkan aku ya sayang, tapi aku merasa kasihan juga membaca pesannya. Dia sangat berharap bertemu denganmu bahkan juga ingin bertemu denganku. Tapi … aku tak menjawab pesannya itu. Dia pasti sangat kecewa padamu. Kita minta maaf padanya ya! Kita cari waktu yang tepat untuk bertemu dan meminta maaf padanya ya," ucap Nico.
Reana akhirnya mengangguk menyetujui. Nico memeluk dan berterima kasih pada wanita cantik itu. Demi menghilangkan rasa bersalahnya menuduh pengawal Tn. Malvin itu. Laki-laki itu benar-benar serius ingin bertemu dengan Rassya.
Keesokan harinya Nico kembali ke kediaman Tn. Alex Rayne dan menceritakan kalau dirinya dan Reana telah berkumpul lagi. Ny. Cathrina sangat terkejut dan marah karena Reana yang tak bersedia lagi tinggal di rumah itu. Mengira Reana menuduh rumah itu sebagai penyebab keretakan rumah tangga mereka.
"Dia tidak mau tinggal di sini lagi. Kenapa? Dia menuduh kalau masalah kalian timbul karena kalian tinggal di rumah ini?" tanya Cathrina dengan emosi.
"Bukan dia yang mengajak pindah Mom, tapi aku yang ingin pindah. Mommy ingat pada ucapanku? Kalau aku tak akan memaksanya masuk dalam kehidupanku tapi aku yang akan masuk dalam kehidupannya. Ini adalah keinginanku untuk pindah dari rumah ini," jelas Nico.
"Lalu apartemen itu adalah kehidupannya? Heh, itu sama saja dia masuk dalam kehidupanmu," bantah Cathrina.
"Sebagai suami aku memang harus memberikan kehidupan baginya. Kehidupan di apartemen itu yang aku berikan padanya. Kehidupan di apartemen itu menjadi kehidupannya dan aku memilih masuk dalam kehidupannya. Jika di sini, ini bukan kehidupan Reana dan juga bukan kehidupanku. Ini bukan kehidupan kamu. Kami ingin hidup dengan cara kami sendiri," jelas Nico.
Membuat Ny. Cathrina terdiam. Tn. Alex Rayne membebaskan Nico mengambil keputusan. Seperti yang dikatakan Nico dia ingin memiliki kehidupannya sendiri dan Tn. Alex Rayne membebaskannya. Tinggal Angelica yang mengamuk sendiri di kamarnya mendengar keputusan Nico yang keluar dari rumah itu.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...