
Nico curhat pada sahabatnya melalui sambungan telepon selulernya. Rommy menyarankan agar meminta Reana untuk menemaninya memeriksa diri ke dokter kandungan. Nico setuju dan berharap Reana mau memenuhi permintaannya.
Saat ingin kembali ke ruang kerjanya dari balkon. Nico dikejutkan oleh Reana yang telah berdiri di pintu geser menuju balkon. Hati Nico langsung risau karena merasa Reana telah mendengar percakapannya Rommy. Terbukti dari Reana yang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sayang, kamu ke sini?" tanya Nico.
Sebuah pertanyaan yang tak butuh jawaban. Jelas-jelas Reana telah berdiri dihadapannya. Namun, Nico tak tahu harus berkata apa untuk menyapa istri tercintanya. Apalagi setelah merasa bersalah karena Reana pasti mendengar percakapannya dengan Rommy.
Reana membalik badan hendak pergi, Nico langsung menahan dan memeluknya dari belakang. Nico tak ingin Reana bersedih, karena itu dia bicara pada Rommy. Berusaha agar kekhawatiran ibunya tak menjadi beban pikiran bagi wanita yang dicintainya itu.
"Jangan diam lalu pergi begitu sayang. Katakanlah sesuatu," bisik Nico sambil meletakkan dagunya di bahu Reana.
Reana masih diam, matanya lurus menatap ke depan tetapi dengan air mata yang telah mengalir. Reana juga ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak tahu apa yang ingin diungkapkannya. Kenyataan bahwa seorang ibu khawatir karena putranya yang belum memiliki keturunan, membuat Reana sendiri berkata apa-apa.
"Apa yang kamu katakan, katakan saja. Apa yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja. Jangan diam dan berpikir yang bukan-bukan," ucap Nico memohon.
"Kakak ingin menikah lagi?" tanya Reana akhirnya.
__ADS_1
Dengan suara yang nyaris tak terdengar dan seperti tercekat. Reana sebenarnya tak sanggup bertanya seperti itu, tapi hatinya sangat ingin tahu seperti apa hati Nico. Reana dengan sekuat hati harus mendengar jawaban Nico.
"Nggak akan pernah sayang, satu-satunya wanita yang menjadi istriku itu cuma kamu. Kamu pasti dengar kalau aku menolak keinginan Mommy," bisik Nico.
"Sampai berapa lama, Kakak bisa menolak permintaan Mommy?" tanya Reana sambil mengusap air matanya yang akhirnya mengalir.
"Sampai kapanpun. Selama-lamanya aku akan menolak permintaan Mommy. Segala macam cara aku coba menyadarkan Mommy, mengingatkannya kalau aku tak akan ada di dunia ini kalau bukan karena kamu. Tetap tak akan ada cucu jika bukan karena pertolonganmu. Mommy hanya mencoba tapi tak akan bisa memaksa. Jangan marah pada Mommy ya sayang. Mommy hanyalah seorang ibu yang tak sabar ingin menimang cucu. Mommy juga sayang sama kamu. Mommy juga khawatir sama kita. Karena itu, Mommy ingin kita pindah ke sana. Semua itu agar dia bisa lebih perhatian sama kamu," ucap Nico.
"Aku takut, Mommy menyuruhku ikhlaskan Kakak menikah lagi. Aku tidak bisa–"
"Nggak perlu! Kamu nggak perlu lakukan itu. Aku yang akan menolaknya. Kita akan berusaha memiliki anak sayang. Rommy memintaku memeriksakan diri. Dia mengira mungkin aku bermasalah–"
Nico memutar tubuh istrinya menghadap ke arahnya lalu menangkup wajah wanita cantik itu. Nico menyangkal ucapan Reana. Laki-laki itu yakin Reana baik-baik saja karena itu Nico hanya ingin Reana memberinya dukungan untuk memeriksakan diri.
"Jangan Kak. Jangan periksa. Biar aku saja yang periksa. Aku yakin, kandunganku lah yang bermasalah. Mungkin aku bisa menjalani pengobatan untuk kandunganku," ungkap Reana.
Nico pun menyetujui permintaan istrinya. Laki-laki itu menawarkan diri untuk mengantar Reana ke dokter kandungan. Dengan ragu-ragu Reana mengangguk. Nico tersenyum lalu mengecup bibir istrinya lalu mengajaknya makan siang.
__ADS_1
"Kenapa sendirian ke sini? Kalau mau ke sini, kamu telepon aku, biar aku yang jemput kamu," ucap Nico.
Laki-laki itu paling khawatir istrinya ke mana-mana seorang diri. Kecuali jika wanita itu mau menggunakan mobil sendiri. Nico tak ingin kehilangan Reana lagi. Nico merasa sudah terlalu sering kehilangan Reana.
Nico mengajak istrinya untuk makan siang bersama. Saat itulah Reana akhirnya memutuskan untuk bersedia pindah ke rumah orang tua Nico. Suaminya itu langsung kaget dengan keputusan Reana.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu? Jangan terburu-buru memutuskan sesuatu sayang," ucap Nico.
"Aku bukan menantu idaman Mommy. Aku merasa terlalu banyak kekurangan. Aku ingin berbakti pada Mommy, agar Mommy bersedia menyukaiku sedikit saja," ucap Reana lalu segera menyantap makanannya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa yang kamu harapkan dengan tinggal di sana? Kebanyakan menantu perempuan menghindar untuk tinggal bersama dengan mertuanya. Kenapa kamu justru berbeda?" tanya Nico.
"Aku tak ingin disalahkan Kak. Jika aku sudah menuruti kehendak Mommy. Aku harap Mommy tak akan menyalahkan aku lagi. Aku patuh pada semua keinginan Mommy. Apa pun perintah Mommy akan aku turuti. Asalkan Mommy tetap membiarkan aku menjadi istri Kakak–"
"Reana?"
Nico kaget dengan keputusan Reana yang tiba-tiba bersedia tinggal bersama dengan orang tuanya. Ada rasa bahagia saat mendengar alasan wanita itu bersedia patuh pada keinginan ibunya. Nico terharu mendengar kepasrahan wanita itu semua adalah demi dirinya.
__ADS_1
Sebagian hatinya merasa bersyukur karena istrinya bersedia memenuhi keinginan ibunya. Sebagian lagi merasa khawatir Reana tak sanggup menghadapi ibunya setiap hari. Nico tak tega setiap kali melihat air mata wanita itu menetes.
...~ Bersambung ~...