
Malam harinya Nico ingin mengajak calon istrinya makan malam di restoran tapi Reana menolak. Gadis itu lebih memilih memasak makan malam untuk mereka berdua.
Nico mencoba untuk membantu, Reana memberi instruksi apa yang harus dikerjakannya. Namun karena tak biasa Nico mengerjakannya dengan sangat lambat. Memotong sayur, daun bawang dan lain-lain membuat Reana terpaksa menunggu.
Bertopang dagu menatap Nico yang berusaha memotong satu persatu. Dilihat seperti itu Nico justru menjadi grogi. Laki-laki itu meminta gadis itu jangan menatapnya lagi dan menyuruhnya mengerjakan yang lain. Namun Reana tak mengikuti karena sudah tak ada yang harus dilakukannya selain menunggu potongan sayuran yang sedang Nico kerjakan.
"Jangan dilihat sayang, nanti makin lama selesainya," ucap Nico memohon agar Reana tak membuatnya semakin grogi.
Reana justru membesarkan matanya, menatap pekerjaan laki-laki itu.
"Reana!" ucap Nico dengan suara yang keras.
"Salah sendiri! Siapa tadi yang ngotot ingin membantu padahal aku sudah bilang tak usah. Sekarang ayo kerjakan sampai tuntas jangan berhenti di tengah jalan. Tuntaskan!" ucap Reana.
"Aku akan tuntaskan tapi jangan dilihat! Aku jadi bertambah grogi, bukannya tambah cepat malah jadi gemetaran--"
"Cuma dilihat begitu aja grogi," ucap Reana langsung.
"Ya dong! Dilihat gadis cantik tentu saja grogi," ucap Nico.
"Ih, kalau begitu sini, aku yang lanjutin. Kalau menunggu Kakak menyelesaikan ini, makanan ini jadinya buat sarapan pagi--"
"Nginap di sini dong?" tanya Nico sambil menahan senyum.
"Ya nginap tapi nggak tidur cuma habisin waktu buat memasak," jawab Reana.
Nico menangkup wajah gadis manis dihadapannya. Lalu mengecup bibir gadis itu dengan cepat.
"Ya udah, di lanjutkan ya!" ucap Nico sambil tersenyum dan mengedipkan mata.
Reana tertawa mendengar intonasi pilihan Nico. Bukannya meminta tolong tapi malah memerintah. Gadis itu pun melanjutkan memasak sementara Nico bertopang dagu menatap Reana. Membuat gadis itu, mau tak mau merasa grogi juga.
"Kakak nonton film aja, nggak usah temani aku," usir Reana secara halus.
"Nonton kamu lebih enak daripada nonton film," jawab Nico.
Reana pasrah, saat laki-laki itu terus mengamatinya. Nico seperti tak bosan-bosannya menatap wajah gadis terkasihnya itu.
"Begitu surat-surat perjalanan ke luar negeri beres kita langsung berangkat ya sayang. Nanti kamu jangan lupa berkemas," ucap Nico masih tetap menatap Reana.
"Baik Kak. Nanti malam aku berkemas, besok pagi kita urus surat-surat, siangnya aku masuk kerja.
"Terima kasih ya sayang!" ungkap Nico membuat Reana merasa heran.
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Kesediaan kamu direpotkan untuk pertemuan dengan orang tuaku," jawab Nico.
"Kakak lupa kalau aku selalu merepotkan Kakak? Masalah-masalahku selalu membuat Kakak repot," ucap Reana.
"Masalah apa? Aku tidak merasa direpotkan?" tanya Nico.
"Mulai dari saat aku masuk rumah sakit, biaya kuliahku. Setiap hari mengantar dan menjemputku kuliah hingga masalah Tn. Malvin. Aku merasa lebih banyak merepotkan Kakak. Belum ada secuil kebaikan Kakak yang bisa aku balas," jelas Reana.
Tapi semua itu berawal dari aku, sayang. Kamu sakit karena stress di bully Rebecca dan teman-temannya, semua itu berawal dari perbuatanku. Tapi maaf, aku tidak akan menyesalinya. Aku justru bahagia karena melakukan itu, karena itulah aku bisa bersamamu, batin Nico sambil terus menatap Reana.
"Kenapa diam? Tak bisa berkata-kata? Aku benar 'kan?" tanya Reana. Nico mengangguk.
"Karena itu, mulai sekarang balaslah kebaikanku dengan tetap bersamaku meski ditentang, meski datang cobaan, godaan, rayuan, atau apa pun yang mencoba memisahkan kita, apa pun itu, jangan tinggalkan aku Reana. Tetaplah bersamaku, itu saja bagiku sudah cukup jika kamu ingin membalas kebaikanku," tutur Nico.
Reana tercenung mendengar penuturan laki-laki dihadapinya itu.
Tetap bersamamu? Itu juga yang aku inginkan. Kalau sama-sama ingin bersama, apa susahnya tapi … saat Kakak mengucapkan itu, kenapa aku merinding mendengar omongannya? Seperti banyak yang akan menghalangi kami untuk bersama? Ternyata ketakutan Kakak melebihi ketakutanku. Aku pikir Kakak begitu siap menghadapi semuanya, ternyata Kakak juga merasa takut, batin Reana.
"Kenapa diam? Kamu tidak bersedia?" tanya Nico dengan raut wajah serius.
"Itu … bukannya sekarang aku sudah seperti itu? Aku tetap bersama Kakak," jawab Reana. Nico tersenyum lalu mengangguk.
"Kenapa aku tinggalkan Kakak? Tak ada alasan aku tinggalkan Kakak," jawab Reana sambil menata hidangan makan malam mereka.
"Kamu lupa dengan Tn. Malvin?"
"Apa hubungannya dengan Tn. Malvin?" tanya Reana.
"Bagaimana jika dia masih tetap menginginkan kamu? Dua tahun lagi, bahkan mungkin bisa lebih cepat, dia akan keluar dari penjara. Apa menurutmu dia akan berhenti? Jika dia masih berusaha untuk mendapatkanmu bagaimana?" tanya Nico.
Reana tercenung, sekian lama melupakan tentang laki-laki yang satu itu. Reana pernah mencoba berdamai dengannya. Mengunjunginya di penjara, berharap Tn. Malvin akan menghentikan niatnya. Melupakan yang pernah terjadi di antara mereka. Berharap Tn. Malvin tak menaruh dendam padanya tapi apa yang didapatkannya? Tn. Malvin tak merespon permintaan maafnya.
"Sama seperti dulu, aku hanya akan mencintai Kak Nico. Tak ada yang bisa menghentikan aku untuk mencintai Kak Nico," ucap Reana menunduk lalu kembali melangkah ke dapur.
Nico berdiri dari kursi meja makan, menyambar tubuh gadis itu lalu mendaratkan ciuman menggebu di bibir manis itu. Nico tak sanggup menahan haru mendengar ucapan gadis cantik itu. Semakin dipikirkan semakin menguatkan rasa cintanya pada gadis itu.
"Terima kasih sayang," ucap Nico setelah melepaskan ciumannya.
Laki-laki itu memeluk erat gadis yang dicintainya, tersenyum sambil mencium puncak rambut gadis itu hingga berkali-kali.
"Kakak, ayo makan malam nanti aku pulang terlalu larut malam," ajak Reana.
__ADS_1
"Menginap di sini saja--"
"Kakak ini plin plan, tadi kita sudah sepakat aku pulang malam ini untuk berkemas. Jadi malam ini aku pulang, esok kita ketemu lagi ya," bujuk Reana.
Nico tertawa, menempelkan pipinya di puncak rambut gadis itu. Nico tak rela berpisah sedetik pun dengan gadis itu. Namun, seperti yang telah mereka sepakati, malam itu Reana akan kembali ke kamar kost-nya. Nico tak rela karena telah lupa dengan momen-momen di mana laki-laki itu tak sanggup menahan hasratnya.
Setelah makan malam, Nico mengajak gadis itu untuk berbelanja di Mall. Membeli segala keperluan untuk keberangkatan mereka ke New York. Meski Reana menolak tapi Nico tetap memaksa.
"Kak, aku tidak perlu itu," ucap Reana.
"Saat ini cuaca di sana lebih dingin daripada di sini sayang. Di musim semi udara dingin dan basah masih terasa. Udara juga menjadi dingin di malam hari, aku tidak ingin kamu terserang flu, sayang" jawab Nico.
Reana tentu saja tak pernah tahu seperti apa cuaca di sana. Gadis itu akhirnya patuh pada ucapan Nico. Membiarkan laki-laki itu membeli dan memilih segala keperluan untuknya. Kadang Reana menganggap apa yang dibelikan Nico terlalu berlebihan, sedikit tak percaya namun tak punya cara untuk menolak.
Reana menatap curiga wajah Nico yang tersenyum-senyum sambil melangkah menggandeng tangannya di Mall. Seperti dulu, sebelah tangannya menggenggam tangan Reana, sebelah lagi menenteng barang-barang belanjaan Reana.
Kakak bisa seenak hatinya membeli begitu banyak barang, apa benar semuanya ini diperlukan. Huu, awas saja kalau belanja berlebihan, aku protes, batin Reana namun akhirnya tersenyum melihat Nico yang terlihat begitu bahagia bisa memanjakan gadis yang dicintainya itu.
Saat tiba di depan pagar rumah kost Reana, gadis itu segera membuka pintu mobil namun tak bisa terbuka. Reana menoleh ke arah laki-laki itu, Nico segera melepas seat belt-nya. Dan mendekatkan wajahnya ke wajah Reana.
"Aku harap kamu tidak bosan menerima ciumanku," ucap Nico sambil menyatukan bibir mereka.
Reana tak menjawab, hanya membalas ciuman itu dan mengusap tengkuk Nico, laki-laki itu telah mendapat jawabannya. Setelah puas, tidak, Nico tidak pernah puas memainkan lidahnya di rongga mulut gadis itu tapi dia harus menghentikannya agar Reana bisa segera kembali ke kamar kost-nya.
Setelah menekan tombol central lock, laki-laki itu menyuruh Reana tetap diam. Laki-laki itu segera membukakan pintu mobil untuknya. Mengantar gadis itu hingga ke gerbang pintu pagar. Nico menyerahkan semua kantong belanjaan itu pada Reana.
Gadis itu hendak masuk ke gerbang saat tiba-tiba Nico memanggilnya.
"Aku … ingin tanyakan sesuatu padamu apa boleh?" tanya Nico.
Reana tersenyum sambil mengangguk.
"Aku penasaran sejak tadi," ucap Nico. Reana menunggu.
"Saat pakai t-shirt tadi, apa … kamu … pakai pakaian dalam?" tanya Nico akhirnya lalu tertunduk malu.
Nico akan menyesal seumur hidup jika tak menanyakan itu. Reana tertawa lalu menggelengkan kepalanya.
"Apa maksudmu menggelengkan kepala? Tidak mau jawab?" tanya Nico.
Kembali Reana menggelengkan kepalanya. Belum mampu menjawab, hanya bisa tertawa karena tak bisa menahan rasa lucu dari pertanyaan laki-laki itu. Reana tak menyangka Nico begitu penasaran hingga nekat menanyakan hal itu.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1