
Nico mendengar pengakuan Hasbi bahwa tak pernah terjadi apa-apa antara dirinya dan Reana di kamar hotel itu. Hasbi bahkan menjelaskan semua yang Reana ucapkan ketika wanita itu datang menemuinya. Nico jadi sangat terkejut.
Laki-laki itu menyesal karena tidak mempercayai istrinya. Merasa tak yakin Hasbi bersedia memilihnya jika bukan karena Reana yang telah memenuhi hasratnya. Meski Nico menerima keadaan Reana, tetapi perasaan aneh tetap merasuki pikiran Nico. Setiap saat masih saja membayangkan kejadian antara Reana dan Hasbi di hotel itu.
Kini kenyataan yang sebenarnya telah terbongkar. Apa yang diucapkan Reana memang benar. Wanita itu tak melayani hasrat Hasbi sama sekali. Bahkan meminta pada laki-laki itu untuk tidak lagi mengganggu rumah tangganya.
"Reana kamu di mana?" tanya Nico yang akhirnya berhasil menghubungi ponsel Reana.
Hening, tak ada suara. Reana hanya terdiam. Tak berselang lama terdengar suara isak tangis yang tertahan. Wanita itu tak mampu menjawab pertanyaan suaminya.
"Reana … sayang, aku akan menjemput," ucap Nico akhirnya.
Nico tak menunggu jawaban Reana lagi. Nico tahu Reana masih sangat bersedih. Laki-laki itu tak ingin Reana berpikiran lain. Segera laki-laki itu membujuknya agar Reana tak berpikiran macam-macam.
__ADS_1
"Reana, tolonglah sayang. Beritahu aku, kamu ada di mana? Aku ingin bertemu denganmu," ucap Nico.
Laki-laki itu bersyukur, kali ini Reana pergi dengan membawa ponselnya. Reana yang tak menyangka akan keluar dari rumah mertuanya waktu itu tak berniat berkemas-kemas. Langsung keluar begitu saja dengan pakaian yang melekat di badannya.
Kejadian yang begitu cepat membuat Reana tak mungkin memilih apa-apa yang akan dibawanya. Reana merasa semua orang menunggunya untuk segera angkat kaki dari rumah itu hingga tanpa disadarinya, Reana justru pergi dengan mengantongi ponselnya.
"Maafkan aku sayang. Aku ingin kita pulang ke apartemen. Aku tak akan kembali ke rumah itu sebelum wanita itu keluar dari sana. Lebih baik aku tak bertemu orang tuaku daripada aku bertemu lagi dengannya–"
Terpancing oleh ucapan Nico, membuat laki-laki itu tersenyum. Sedikit banyak Nico telah tahu sifat Reana. Istrinya itu paling tidak suka melihatnya bersikap jahat pada orang tua. Mendengar ucapan seperti itu, Reana tak tahan untuk tidak membantahnya.
"Kalau begitu beritahu aku, di mana kamu saat ini. Aku akan menjemputmu. Kita pulang ke apartemen sayang. Kita berdua menjalani hidup kita sendiri bersama anak kita," ucap Nico yang tak lagi ragu-ragu mengucapkan kata-kata itu.
"Apa kamu masuk kantor hari ini? Aku akan ke sana ya?" tanya Nico langsung teringat.
__ADS_1
"Nggak Kak! Aku nggak masuk kantor," jawab Reana.
"Kalau begitu kamu di mana, aku sedang di jalan saat ini, sebenarnya aku tak boleh telepon-teleponan seperti ini tapi … aku sangat ingin bertemu denganmu sekarang," ucap Nico sambil tersenyum.
Seolah-olah mengemudi dalam kecepatan tinggi sambil menelepon. Padahal dirinya saat ini sedang terjebak macet. Nico tak peduli, dia ingin mendapat simpati dari Reana. Demi mendapatkan kembali hati wanita yang dicintainya.
Mendengar Nico menelponnya sambil mengemudi Reana langsung khawatir dan segera memberitahu posisinya. Nico tersenyum dan segera mematikan ponselnya dan menelpon Nella untuk mendapatkan alamat rumah kost-nya.
"Untuk apa Kak Nico cari Kak Reana? Lebih baik seperti sekarang ini saja. Kalian boleh tetap saling mencintai tapi … biarkan Kak Reana di sini saja! Bersama Kak Nico hanya membuat hidup Kak Reana menderita," ucap Nella terus terang.
Nico tercenung tak mampu menjawab kata-kata Nella. Tak mendengar apa pun membuat Nella jadi panik. Takut Nico akan marah atau berubah pikiran. Sejujurnya Nella hanya ingin menumpahkan kekesalan atas apa yang didengarnya tadi saat Nico berkunjung ke restoran mereka. Nella tak sungguh-sungguh menganggap Reana dan Nico hidup terpisah adalah cara yang terbaik bagi mereka.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1