
Niat hati Nico yang ingin membahagiakan Reana, dengan memberikan gadis itu hadiah berupa perawatan kecantikan di salon mewah, beserta gaun dan sepatu cantik justru dianggap Reana sebagai bentuk rasa malu Nico terhadap penampilan Reana.
Reana memang gadis yang berbeda, disaat gadis lain dengan senang hati menerima segala pemberian. Gadis itu justru menolak. Dia lebih suka diterima dengan kondisinya yang apa adanya.
Pengalaman Nico menghadapi seorang gadis dengan memberikan perhatian dan hadiah-hadiah yang biasanya membuat hati seorang gadis berbunga-bunga, justru tidak berlaku bagi Reana.
Namun dengan sabar Nico meyakinkan Reana bahwa yang dilakukannya adalah keinginan tulus dari hatinya untuk membahagiakan gadis itu. Reana akhirnya bisa menerima.
Berdua Nico dan Reana melangkah ke sebuah kafe. Reana memilih tempat disamping jendela kaca. Dari situ Reana bisa memandang orang-orang yang berlalu-lalang dibawah sana.
Reana termenung, bermacam-macam aktivitas yang dilakukan orang-orang dalam menjalani kehidupannya. Beragam status sosial, dari yang tinggi hingga yang rendah, dengan kesibukan, problema dan harapan mereka masing-masing.
Seorang bapak yang berjalan tergesa-gesa menuju mobilnya, anak kecil yang menjual barang dagangannya atau seorang kakek yang mendorong gerobaknya. Sementara orang dari atas sini hanya memandang mereka sebagai suatu pertunjukan realita sehari-hari.
Reana membayangkan, melihat dirinya berjalan dibawah terik matahari dan seseorang memandangnya, seperti yang dilakukannya saat ini. Reana terhanyut dalam lamunannya, sementara Nico justru asyik memandangi Reana.
Reana tersadar, dia sudah mengabaikan Nico cukup lama. Lalu tersenyum, menandakan dia sudah kembali ke dunia nyata.
"Apa yang menarik disana?" tanya Nico.
"Tidak ada" jawab Reana singkat.
"Lalu kenapa betah memandang kesana?" tanya Nico lagi.
"Hanya melihat aktivitas orang sehari-hari" jawab Reana akhirnya.
Nico mengangguk, lalu meletakkan sebuah kotak didepan Reana.
"Hadiah lainnya" jawab Nico melihat ekspresi Reana yang seperti ingin bertanya.
"Jangan menolak, aku memberikan ini, demi diriku sendiri" lanjut Nico.
Ekspresi Reana makin terlihat bingung.
"Kamu tau, berapa kali aku harus berlari kesana kemari mencarimu ? Saat postingan Rebecca beredar. Saat kamu dipaksa cuti kuliah.
Sambil berlari aku selalu mengutuk diriku sendiri karena nggak pernah meminta nomor ponselmu.
Sampai akhirnya aku tau, kamu bahkan nggak punya ponsel" cerita Nico panjang lebar.
Reana menghela nafas, menunduk, memandang kotak ponsel dihadapannya. Reana baru sadar apa yang dilakukan Nico terhadap dirinya tak hanya sekedar berjalan ke sekretariat untuk membayarkan uang kuliahnya, atau membawa dan menjaganya di rumah sakit.
Namun lebih dari itu, perhatiannya, kepeduliannya dan rasa khawatirnya terhadap Reana membuat gadis itu semakin merasa berhutang budi pada laki-laki di hadapannya itu.
Meski gadis itu tidak pernah memintanya, mengharapkan perhatiannya atau menuntut rasa khawatirnya namun Nico selalu tulus melakukan semua itu, sedikit banyaknya apa yang dilakukan Nico membuat hati gadis itu menjadi terharu.
"Aku nggak pernah bercita-cita jadi pelari marathon" ucap Nico dengan wajah sewot yang dibuat-buat.
Reana tertawa tertahan, sambil tersipu wajah gadis itu menunduk. Rona kemerahan di pipinya selalu mencuat setiap kali gadis itu tertawa atau merasa malu. Nico terpesona dengan pemandangan di hadapannya itu.
Tuhan... cantik sekali gadis ini, jerit hati Nico.
Laki-laki itu memalingkan wajahnya kearah lain, tak sanggup lebih lama lagi menatap bibir mungil yang tersenyum begitu manis.
Menghembuskan nafas panjang melalui mulutnya, meminum air putih yang berada dihadapannya, hanya untuk mengalihkan pikirannya dari khayalan liar yang mulai menggoda otaknya.
Untung saja pelayan kafe datang membawakan pesanan Nico, laki-laki itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Nico memesan makanan saat Reana asyik memandang keluar jendela.
"Kamu suka menolong orang kan ? maka itu tolong aku, agar aku tidak berlarian kesana-kemari lagi " ucap laki-laki itu berusaha agar Reana mau menerima hadiahnya.
Nico membuka kotak di hadapannya dan mengeluarkan sebuah ponsel, menekan nomornya sendiri hingga berdering. Mengetik sesuatu lalu menyerahkannya pada Reana.
"Itu nomor ponselku, aku sudah menyimpannya untukmu" lanjut Nico.
Reana memperhatikan ponsel yang diberikan padanya, tertulis nama kontak
'KAK NICO TERSAYANG' Reana ternganga.
"Oh ya ampun.. ya ampun" ucapnya sambil tertawa.
"Pe De sekali" ucapnya sambil tertunduk, tak bisa menahan tawa, akhirnya Reana tertawa lepas.
Nico kembali terpesona, baru kali ini dia melihat Reana tertawa begitu lepas. Sangat sulit mendapatkan kesempatan melihat makhluk cantik ini tertawa begitu renyah. Biasanya Reana hanya tersenyum atau hanya tersipu.
Reana menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya, saking lucunya Reana sampai mengeluarkan air mata.
Reana memandang Nico yang hanya duduk diam. Reana tertegun lalu buru-buru meredam tawanya.
__ADS_1
"Maaf" ucap Reana menunduk sambil menggigit bibirnya.
Nico menelan ludah.
Tolong jangan gigit bibirmu, biarkan aku yang melakukannya untukmu, jerit hati Nico
Bergegas Nico menyantap pasta dihadapannya. Reana merasa tidak enak hati, gadis itu seperti menertawakan keinginan Nico menjadi sosok tersayang dalam hidupnya.
Setelah menghabiskan makan siangnya, Nico dan Reana kembali berjalan santai melihat barang-barang yang terpajang. Nico masih menenteng shopping bag gadis itu sementara Reana hanya melenggang begitu saja.
Apa kak Nico masih marah ? bisik hati Reana.
Gadis itu hanya mengikuti langkah kaki Nico kemanapun laki-laki itu melangkah. Reana ingin mencairkan suasana canggung ini tapi bingung mau melakukan apa. Sesekali gadis itu melirik kearah Nico, tapi laki-laki itu masih terlihat cuek.
Dia ingin menyelipkan tangannya ke tangan Nico tapi tidak ada keberanian. Reana menggelengkan kepalanya menghilangkan angan-angan aneh itu. Melingkarkan tangannya ke pinggang Nico, kembali menggelengkan kepalanya, dia bukan tipe gadis seperti itu.
Reana bingung membujuk Nico yang sedang merajuk. Nico hanya diam selama makan siang dan juga sepanjang jalan-jalan mereka saat ini.
Tiba-tiba mata Reana terpaku pada pajangan berupa gantungan ponsel di sebuah counter HP yang juga menjual segala macam aksesoris ponsel. Gadis itu pernah bercita-cita menggantungkan mainan lucu ketika dia memiliki ponsel nanti.
Reana tersihir oleh cantiknya gantungan-gantungan ponsel itu. Reana mengambil salah satunya, mengamati gantungan ponsel berbentuk hati yang melengkung, tepatnya sepasang hati yang terkait satu dengan yang lain.
Reana mengamatinya dengan seksama. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa Reana sangat mengagumi gantungan HP itu.
Bagaimana orang itu membuatnya, mengaitkan satu hati dengan hati yang lain, Reana bertanya-tanya dalam hati.
Nico menyambar gantungan hp yang dipegang Reana. Membawanya pada seorang Sales Promotion Girl. Reana terdiam memandang tangannya yang sudah kosong.
"Saya mau ini" ucap Nico pada SPG itu.
"Tolong pasangkan disini" ucapnya sambil menyerahkan ponsel milik Reana.
Reana hanya memperhatikan, tak berani membantah.
"Oh... gantungan hp ini sepasang kak" sahut SPG itu.
"Liat tali gantungannya ada dua" ucap gadis itu menunjukkan tali kecil yang melingkar disana berjumlah dua.
Nico heran, Reana ikut memperhatikan. SPG itu membuka kemasannya lalu melepas kedua hati itu dengan menekan salah satu cetekan yang dibuat pada salah satu hati. Kedua hati itu terlepas, SPG itu menaruh keduanya diatas meja etalase.
Gadis itu begitu mengagumi hasil karya unik itu hingga tak sadar berdiri di samping Nico. Nico tersenyum melihat ekspresi Reana, lalu melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu dan menariknya mendekat.
Reana kaget, posisi mereka begitu dekat. SPG itu tersenyum melihat tingkah kedua orang itu.
"Kakak berdua ini sangat serasi, yang satu cantik banget yang satu ganteng" kata SPG itu sambil melihat Reana dan Nico bergantian.
"Nggak ganteng banget ? serasi darimana, masa yang satu cantik banget, yang satu cuma ganteng aja dibilang serasi ?" ucap Nico bercanda.
"Iya... iya... salah..., yang satu cantik bangeeet, yang satu genteng bangeeet" ucap SPG itu meralat ucapannya tadi.
Mereka tertawa bersama, Reana tersenyum simpul.
Nico mengambil ponsel dari saku kemejanya dan menyodorkan pada gadis itu.
"Kalau gitu tolong pasangkan juga yang satu ini" ucap Nico sambil mengeluarkan ponselnya sendiri.
"Yang ada pengaitnya untuk ponsel yang mana? " tanya SPG itu lagi.
Nico menunjuk pada ponsel yang baru saja diserahkannya.
"Yaa.. benar juga... kakak cowok harus jadi pengaitnya, kalau nggak, kakak cewek bisa diambil orang" ucap SPG itu santai sambil memasangkan gantungan itu ke ponsel Nico.
Gadis SPG itu mengibaratkan Nico sebagai seseorang yang harus selalu mengikat Reana. Terdengar seperti sembarang bicara tapi Nico merasa ada benarnya juga. Reana hanya diam mendengarkan perkataan gadis itu.
Nico akan menjadi pengait hatinya ? Reana merasa tidak percaya, apa mungkin terjadi hal seperti itu. Apa benar Nico berniat mengikat hatinya ? Apa mungkin laki-laki seperti Nico memilih Reana untuk terikat dengannya.
Bukankah laki-laki kaya itu hanya menjadikan Reana sebagai hiburan baginya, untuk mengisi kekosongan waktu luangnya, hanya ingin bermain-main dan tidak akan serius menjalin hubungan dengannya.
Reana memalingkan wajahnya.
Tidak, saya tidak boleh berpikiran seperti itu, jangan berharap terlalu banyak pada kak Nico, aku hanya gadis biasa, gadis miskin yang tak pantas untuknya, tolong jangan berpikir seperti itu terhadap kami, aku tak ada hubungan apa-apa dengannya, batin Reana berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
SPG itu lanjut memasangkan gantungan hp untuk ponsel Reana. Kedua gantungan hp telah terpasang, gadis SPG itu meletakkan kedua ponsel berjejer diatas etalase.
"Untuk apa dibikin berpasangan ? kalau pada akhirnya akan terpisah" ucap Reana pelan sambil menyentuh gantungan ponsel itu.
"Kakak... pada dasarnya, manusia itu adalah individu-individu yang terpisah.
__ADS_1
Lalu mereka bertemu, mereka yang cocok, mereka yang serasi, akan menciptakan sendiri ikatan mereka.
Ikatan itu tidak selalu terlihat, ikatan itu tidak selalu membuat mereka bersatu" cerita SPG itu panjang.
Reana dan Nico menatap heran pada gadis itu.
"Sepasang suami istri juga begitu, mereka selalu terpisah, yang satu di kantor, yang satu di rumah.
Tapi mereka tetap merasa terikat, bukan hanya terikat pernikahan.
Tapi terikat hati juga, hati mereka saling terikat satu sama lain meskipun mereka tidak selalu bersama" ujar SPG itu sambil tersenyum.
Gadis itu menunjuk pada hati di ponsel Nico.
"Hati di ponsel ini punya semacam pengait yang bisa mengikat hati di ponsel ini" ucapnya sambil menunjuk ponsel Reana.
"Hati di ponsel ini mungkin bisa mengait di gantungan manapun" ucap gadis itu mengambil gantungan HP lain yang masih di pajang lalu meletakkannya berdekatan.
"Tapi tidak akan serasi, karena pasangan yang sesungguhnya adalah yang ini" ujar gadis itu sambil mendekatkan ponsel Reana ke ponsel Nico.
"Kamu mengagumkan, bagaimana bisa berpikiran seperti itu" ucap Reana polos.
"Gini-gini saya mahasiswi jurusan ilmu psikologi" ucap gadis itu malu-malu yang buat-buat.
"Wah hebat.. " ucap Reana polos.
Nico berpikir, ternyata banyak juga gadis seperti Reana. Bekerja sambil kuliah, hanya saja banyak orang yang memandang rendah mereka yang bekerja dilevel bawah.
Padahal mereka lebih hebat dari pada kelihatannya. Nico melihat label harga di balik kemasannya. Memberikan sejumlah uang kepada SPG itu.
"Tolong di bayarkan ya, sisanya untukmu" ucap Nico ramah sambil menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan
"Hah.. banyak sekali kak?" tanya gadis SPG itu.
Sambil memeriksa lagi label harga pada kemasan.
Gantungan hp itu memang tidak murah, mungkin karena bahannya yang bagus atau karena kreasinya yang unik. Namun SPG itu merasa Nico terlalu banyak memberikan lembaran uang.
SPG itu juga merasa kalau uang kembalian Nico masih terlalu banyak untuk dijadikan tips.
"Itu bukan tips, itu biaya konsultasi dengan seorang psikolog" ucap Nico sambil meraih tangan Reana.
"Yeeey... makasih kak" teriak gadis itu melompat sambil mengibaskan lembaran uang ditangannya.
Gadis itu terlihat senang ada orang yang menghargai pendapatnya.
"Sering-sering datang kesini ya kak" teriak gadis itu.
Reana dan Nico tersenyum mengangguk lalu mereka melangkah sambil bergandengan tangan.
"Maaf... kak Nico" ucap Reana sayup-sayup hampir tak terdengar.
"Untuk apa" tanya Nico sambil memandang gadis yang tertunduk itu.
"Kakak pasti marah... karena... saya menertawakan nama kontak di ponsel tadi" ucap Reana ragu-ragu.
"Saya tidak marah" ucap Nico ringan sambil terus berjalan pelan menggandeng tangan Reana.
"Lalu kenapa, sejak dari kafe tadi kak Nico diam saja ?" tanya gadis itu dengan raut wajah yang masih merasa bersalah.
Nico tidak menjawab, kakinya tetap melangkah.
"Kenapa?" Reana ulang bertanya.
"Mau tau aja" ucap Nico sambil tertawa kecil, lalu mengangkat genggaman tangannya, mengecup punggung tangan gadis itu lalu menempelkannya ke dada bidangnya.
"Kamu boleh menggantinya kalau nggak suka" ucap Nico berbesar hati.
Reana terdiam lalu melirik ke cermin tinggi yang terpasang di tiang mall. Reana menatap bayangan di cermin, sekilas orang akan mengira mereka adalah pasangan yang serasi. Reana gadis cantik dengan gaun yang indah dan Nico laki-laki tampan dengan setelan yang bermerk.
Orang-orang yang melihat akan mengira mereka adalah pasangan model, selebriti atau pasangan dari keluarga kaya.
Palsu, bisik Reana dalam hati sambil menunduk, matanya berkaca-kaca tak sanggup memandang cermin yang merefleksikan kepalsuannya.
Seperti Cinderella, dia akan kembali menjadi gadis miskin setelah melepas gaun dan sepatu indahnya.
...*****...
__ADS_1