Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 52 S2 ~ Minta Izin ~


__ADS_3

Nico ingin mengajak Reana untuk berkenalan dengan orang tuanya. Rasa takut langsung merasuki hati Reana. Tubuh gadis itu mendadak gemetar, Reana tak ingin Nico tahu ketakutannya. Reana ingin melepas pelukan Nico dan berbaring di sisi lain ranjang.


Melihat gelagat Reana yang ingin melepas pelukannya laki-laki itu langsung mengetatkan pelukannya. Seolah-olah Reana tak boleh lepas dari pelukannya. Gadis itu reflek menatap wajah laki-laki yang dirindukannya itu.


"Kamu takut?" tanya Nico sambil menoleh menatap Reana yang terpaksa tetap dalam pelukannya.


Reana diam, gadis itu hanya menunduk menatap lurus ke dada Nico.


"Karena takut, kamu ingin melepaskan pelukanku?" tanya Nico lagi.


Reana masih tetap diam, drama cinta si kaya dan si miskin bagi Reana adalah momok yang menakutkan karena selalu berujung pada perpisahan. Mengingat itu rasanya Reana hanya ingin mencintai Nico seperti ini saja. Tak perlu menikah jika menikah itu justru membuat orang tuanya tak merestui hubungan mereka dan memaksa mereka untuk terpisah.


"Kita akan segera menikah, bagaimanapun juga kamu harus berkenalan dengan orang tuaku," ucap Nico.


"Bagaimana kalau mereka menentang hubungan kita? Kakak tahu, aku bukan siapa-siapa. Aku hanya gadis miskin yang tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan. Orang tua Kakak pasti menginginkan menantu yang jauh lebih baik dariku. Aku lupa … begitu bahagianya Kakak melamarku, aku lupa tentang itu. Jika orang tua Kakak tahu tentang aku, mereka pasti ingin kita berpisah," ucap Reana dengan mata yang berkaca-kaca.


"Karena takut mereka menentang kita, kamu memilih untuk tidak hidup bersamaku? Melepaskan pelukanku dan menjauh dariku? Tidak! Kamu telah menerima lamaranku. Kita harus menikah! Aku akan mengenalkanmu pada orang tuaku, jika mereka setuju, aku menikahimu. Jika mereka tidak setuju aku tetap akan menikahimu," ucap Nico semakin memeluk Reana dan mengecup puncak rambut gadis itu.


"Aku takut kita dipisahkan," ungkap Reana.


"Tidak akan bisa. Mereka tidak akan bisa memisahkan kita. Siapa pun tak akan bisa memisahkan kita. Mereka orang tuaku, aku harus patuh pada mereka tapi ... jika karena itu aku harus kehilanganmu, aku tidak rela. Aku yang akan menjalani hidupku. Aku yang tahu dengan siapa aku bisa hidup bahagia. Kalau perlu, aku akan meninggalkan mereka demi hidup bersamamu--"


"Apa? Kakak jangan seperti itu," ucap Reana khawatir.

__ADS_1


"Karena itu sayang, mereka harus menyetujui pernikahan kita. Jika tidak mereka akan kehilangan putra mereka satu-satunya. Aku tidak akan mundur untuk mempertahankanmu. Pernikahan ini sangat aku nantikan sayang. Aku ingin kamu menjadi istriku," ucap Nico lalu memeluk Reana.


Mencium pangkal leher gadis itu begitu dalam, Reana memejamkan matanya menikmati pelukan dan ciuman hangat itu.


"Aku sudah berjuang untuk mendapatkan cintamu, aku ingin memilikimu. Aku tidak ingin kamu dimiliki laki-laki lain. Aku hanya inginkan dirimu Reana," bisik Nico di telinga Reana.


Laki-laki itu menatap wajah gadis yang berbaring dalam kungkungannya itu. Segera membenamkan bibirnya di bibir Reana. Begitu bernafsu, begitu lincah memainkan lidahnya di rongga mulut gadis itu. Tangan Nico mulai melepas kancing blouse Reana. Gadis itu kaget, sontak mendorong tubuh Nico.


"Kakak, jangan!" ucap Reana setengah menjerit.


Gadis itu menggenggam erat tangan Nico.


"Berjanjilah memperjuangkan cinta kita, aku tidak ingin kamu mundur. Aku kecewa, aku sangat kecewa, saat aku katakan ingin mengenalkan kamu pada orang tuaku, kamu langsung melepaskan pelukanku. Kamu memilih menyerah dan menjauh dariku. Aku kecewa, karena itu berjanjilah Reana, bertahanlah di sisiku, jangan pernah berpikiran untuk mundur atau … sekarang ini juga kamu akan menjadi milikku," ancam Nico dengan mata yang berkaca-kaca.


Jika ingin jujur Nico sendiri juga merasa takut hubungan mereka ditentang keluarganya. Nico tahu persis seperti apa ibunya. Gambaran gadis-gadis yang dikenalkan ibunya pada Nico jauh dari Reana. Namun Nico telah bertekad, meski harus meninggalkan keluarganya tapi Nico tidak akan meninggalkan Reana.


Laki-laki itu kembali membenamkan bibirnya di bibir Reana. Nico masih merasakan rindu yang sangat dalam pada gadis itu. Menahan diri sekian lama demi memeluk dan menciumnya. Rasanya laki-laki itu tak ingin melepaskan Reana walau sedetik saja.


Malamnya mereka makan malam bersama di restoran hotel bintang lima itu. Kesempatan itu digunakan Nico untuk meminta izin pada Bu Ridha Lia membawa Reana ke New York untuk bertemu dengan orang tuanya.


"Oh, kamu akan … mengenalkan Reana pada orang tuamu?" tanya Ridha Lia.


"Ya Ma, secepatnya jika Mama izinkan. Saat ini aku sedang cuti kerja. Aku bisa menemani Reana mengurus dokumen-dokumen untuk perjalanan luar negeri. Secepatnya aku bisa mengenalkan Reana pada orang tuaku, agar aku bisa segera menikahi Reana. Mohon izinnya ya Ma," ucap Nico begitu serius hingga berhenti menyantap makan malamnya beberapa saat.

__ADS_1


Bu Ridha Lia tertunduk, seperti halnya Reana. Mendapat lamaran dari Nico adalah satu hal yang menggembirakan tapi saat harus berhadapan dengan keluarga Nico, Bu Ridha dan Reana langsung putus asa.


"Apa mungkin keluargamu mau menerima Reana? Mengingat status sosial kita yang jauh berbeda. Maafkan Mama Nico, sejak mengenalmu Mama kurang yakin hubungan kalian bisa berlanjut ke jenjang pernikahan. Tapi Mama juga tidak ingin menentang cinta kalian. Setiap kali mengingat itu Mama hanya pasrah dan berpikir suatu saat mungkin kalian akan putus hubungan dengan sendirinya. Mama sama sekali tidak membayangkan kalau hubungan kalian bisa sejauh ini. Bahkan saat kamu melamarnya pun … Mama, masih belum yakin akan tetap berlanjut. Nico, Mama bahagia melihat keseriusanmu terhadap putri Mama, tapi kamu tahu sendiri kondisi kami. Mama dan Reana tak bisa berharap banyak," jelas Ridha Lia akhirnya mengungkapkan isi hatinya.


"Ma, cintaku pada Reana bukan hanya untuk sementara. Aku sungguh-sungguh ingin selamanya bersama Reana," ungkap Nico seperti memohon.


"Baiklah Nico, Mama izinkan Reana pergi bersamamu tapi tolong jika terjadi sesuatu ... jangan biarkan dia sendiri. Setidaknya pulangkan dia kembali pada Mama, ya!" pinta Ridha Lia


Melihat ekspresi wajah ibunya yang penuh kekhawatiran membuat mata Reana berkaca-kaca.


"Aku tidak akan lakukan itu, aku tidak akan membiarkan Reana sendiri. Jika Mama takut orang tuaku akan menolaknya, aku pastikan aku memilih Reana, Ma. Kami akan tetap kembali ke sini, tetap melanjutkan rencana pernikahan kami. Aku tidak akan pernah mengabaikan Reana Ma," ucap Nico sambil menoleh pada calon istrinya itu.


Reana menoleh ke arah Nico, lalu tertunduk. Laki-laki itu menggenggam tangan calon istrinya. Seakan-akan meminta gadis itu untuk tetap tegar.


"Baiklah Nico, Mama percaya padamu. Mama izinkan kalian pergi. Semoga saja, semua berjalan dengan lancar sesuai dengan keinginan kalian," ucap Ridha Lia akhirnya.


Dengan raut wajah bahagia dan lega, Nico berterima kasih pada ibunda Reana. Bagi Nico, sejak berkenalan dengan ibu itu, Nico telah menganggap ibu Reana seperti ibunya sendiri.


Malamnya mereka kembali ke kamar masing-masing. Reana masih menemani Nico di kamar yang tadinya dipilih untuknya. Mereka menghabiskan waktu berbincang di balkon sambil menatap langit penuh bintang.


"Kamu masih ingat saat kamu di rawat di rumah sakit dulu? Aku selalu menunggumu muncul dari balik jendela untuk memandang langit. Malam itu juga aku melihatmu, aku bahagia … sangat bahagia, hanya melihatmu saja aku sudah sangat bahagia. Apalagi jika benar-benar memilikimu," ungkap Nico.


Laki-laki itu menatap Reana yang menengadah menatap langit. Angin malam meniup helaian rambut Reana hingga membuat leher jenjang yang putih itu terbuka. Nico mendekat dan mengecup leher itu. Reana memejamkan mata, menikmati kecupan-kecupan lembut itu yang semakin lama semakin naik hingga ke bibirnya.

__ADS_1


Nico memeluk calon istrinya itu, membenamkan bibirnya di bibir gadis cantik itu. Masih tetap ingin menumpahkan rasa cintanya pada gadis yang telah lama di rindukannya itu. Saat malam menjelang barulah Reana pindah ke kamar ibunya. Berbaring sambil membayangkan laki-laki yang dicintainya itu tertidur di kamar sebelah.


...~   Bersambung  ~...


__ADS_2