
Saat Nico dan Rommy berbincang-bincang di beranda belakang Villa. Terlihat Ardy dan Lisca yang melangkah tergesa-gesa ke arah mereka. Dari ekspresi, terlihat kalau mereka sedang bertengkar. Lisca terlihat marah pada Ardy. Saat tiba di hadapan Nico dan Rommy, Lisca mengatakan ingin pulang.
Ardy terlihat keberatan, tetapi Lisca tetap memaksa ingin pulang. Melihat Ardy yang masih ingin berkumpul bersama teman-temannya di villa itu, Rommy mencoba membujuk Lisca.
Lisca jelas menolak saran Rommy. Setengah hati Ardy masih ingin mengikuti saran Rommy untuk tetap tinggal lebih lama di Villa itu, tetapi calon istrinya itu sudah tak tahan ingin pulang. Melihat itu Nico sebagai tuan rumah ikut menawarkan Ardy untuk bertahan lebih lama di villa itu.
Anehnya, begitu mendengar tawaran Nico, Lisca langsung menyetujui. Ardy mendelik kesal ke arah Lisca. Laki-laki itu telah susah payah membujuk untuk tetap tinggal tetapi Lisca tak peduli dan tetap ingin pulang. Namun, begitu Nico menawarkan, Lisca langsung setuju dan memutuskan untuk tetap tinggal.
"Benar kan ucapanku? Kamu itu suka sama Nico kan?" tanya Ardy pada Lisca saat mereka berada kamar.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Lisca.
"Aku punya firasat Lisca, kamu suka perhatikan dia. Apa yang dikatakan kamu timpali, apa pun omongan dia kamu dengar. Buktinya, aku memintamu untuk tetap tinggal, kamu menolak. Begitu Nico menawarkan, kamu langsung setuju," jelas Ardy yang tak ingin menutup-nutupi perasaannya lagi.
"Tentu saja aku ikut ucapannya. Dia tuan rumah, kalau kamu menawarkan aku tetap di sini, kamu itu siapa. Apa hak kamu menawarkan untuk tetap menginap di sini?" tanya Lisca.
Lalu tersenyum miring. Ardy merasa tak tahan dengan sikap Lisca yang tak lagi menghormatinya. Lisca sudah memandang rendah padanya sejak mengenal Nico dan itu terlihat dengan jelas, tanpa ditutup-tutupi, Lisca menatap Nico. Ardy bukannya tidak tahu itu. Laki-laki itu hanya mencoba untuk menahan diri.
"Hubungan kita cukup sampai di sini. Kamu bukan tunanganku lagi. Kamu bebas merasa suka atau merayu siapa pun, tak ada hubungannya lagi denganku tapi aku beritahu kamu. Reana itu sangat berarti bagi Nico. Sampai rambut ubanan semua, kamu nggak bakalan bisa mengalihkan cinta Nico dari Reana. Jangan anggap remeh hubungan mereka. Jangan anggap cinta mereka itu lemah seperti cinta kita dan satu lagi kamu ingat, aku juga tak akan membiarkan kamu menyakiti Reana–"
__ADS_1
"Oh ternyata begitu sayang pada tuan putri itu–"
"Ya! Benar! Kami semua sayang padanya. Jangankan kamu, siapa pun yang akan menyakiti Reana, harus berhadapan denganku, tidak hanya aku. Kami semua adalah abangnya. Jadi hati-hati! Jangan coba-coba menyakiti hati adik kami. Jangankan aku atau Dito yang bisa bertindak kasar, Rommy yang tenang, lemah lembut dan sabar pun tak akan bisa menahan diri jika ada yang menyakiti adik kami, mengerti!" ucap Ardy setengah mengancam.
Lisca terpaku. Tak menyangka laki-laki yang selama ini begitu penurut padanya. Melakukan apa saja untuknya. Begitu lembut, pengertian dan sabar padanya, kini dengan mudah memutuskan hubungan yang telah mendekati pernikahan itu.
Lisca tak menyadari bagaimana sakit hatinya Ardy, melihat kelakuannya. Melihat Ardy yang hanya diam membiarkan, menjadikan Lisca semakin sewenang-wenang. Memuji Nico dihadapannya saat berkumpul. Membanggakan Nico yang memiliki segala-galanya. Membuat Ardy tak bisa melihat masa depan lagi bersama Lisca.
Lisca akan selalu menyakiti hatinya dengan membanding-bandingkan dirinya dengan Nico. Lisca akan membuatnya kesal dengan ucapannya yang sering merendahkan Reana. Ardy merasa tak tahan lagi karena Nico dan Reana akan selalu ada mengiringi hidupnya.
__ADS_1
Ardy tak mungkin putus hubungan dengan kedua sahabatnya itu. Sementara dirinya juga tidak tahan, jika melihat Lisca yang selalu menginjak-injak harga dirinya dengan memuji Nico dan menghina Reana. Ardy memutuskan untuk berpisah dari Lisca, bagaimanapun sedihnya, bagaimanapun perih hatinya.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...