Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 104 S2 ~ Posesif ~


__ADS_3

Nico posesif? Jawabannya ya. Begitu resmi menikah laki-laki itu langsung kehilangan istrinya. Entah seperti apa usahanya, teman-temannya dan juga orang tuanya dalam melacak wanita yang dicintainya. Berhari-hari, berminggu-minggu, hingga mencapai satu bulan lamanya.


Menurut Nico, Reana tidak tahu, bagaimana deritanya saat kehilangan wanita itu. Hingga Reana menganggap ringan rasa takutnya akan kehilangan itu untuk ke sekian kalinya. Bagaimana tidak? Rasa takut Nico semakin lama semakin bertambah. Di saat hatinya mulai merasa tenang. Di saat hari bahagianya justru berubah menjadi hari menyedihkan di mana dia kembali terpisah lagi dengan Reana.


Jika Reana tak keberatan, rasanya Nico ingin menyekap wanita itu. Sekalipun tak boleh keluar rumah kalau perlu tak boleh keluar dari kamar. Namun, tentu saja Reana tidak setuju. Cita-citanya adalah mendapatkan pekerjaan yang bisa membantu meringankan beban biaya hidup ibunya dengan usahanya sendiri. Seperti apa pun Nico membujuk, wanita itu tidak akan pernah setuju, meskipun Nico yang menjamin biaya hidup mereka berdua.


Jangankan hanya menanggung biaya hidup Reana dan ibunya. Biaya hidup satu RT pun bisa di tanggungnya. Namun, Reana ingin menanggung biaya hidup ibunya sendiri dan sekarang ancaman lain datang. Godaan dari para karyawan di gedung manajemen restoran itu membuat Nico tak bisa berpikir tenang.


Beruntung laki-laki itu datang sebelum istrinya menerima tawaran untuk diantar pulang. Dengan rasa kesal, laki-kaki itu langsung melajukan mobilnya begitu menurunkan wanita itu di teras gedung apartemennya. Tiba-tiba Nico tersadar setelah menatap Reana dari kaca spion.


Ya ampun, aku belum pamit padanya. Bisa-bisa Reana jadi sedih, batin Nico.


Buru-buru memundurkan kembali mobilnya dan berhenti tepat di depan Reana. Benar saja, wanita itu langsung mengalirkan air matanya saat melihat Nico turun dari mobilnya. Laki-laki itu langsung memeluk istrinya.


"Jangan berdiri di sini! Masuklah ke dalam. Sebentar lagi aku pulang ya sayang," ucap Nico dengan nada yang membujuk.


Reana mengangguk. Nico mengecup bibirnya, beralih mengecup kening wanita itu lalu memeluknya sambil mengusap lengannya. Setelah hati Reana tenang, Nico pun pamit kembali ke kantor.


Untung balik lagi, kalau nggak? Bisa nangis sendiri istriku sayang, batin Nico sambil tersenyum.


Hatinya lega telah berhasil menenangkan hati istrinya. Nico akan melakukan apa pun untuk membahagiakan wanita itu. Menghilangkan kesedihannya meski rasa galaunya sendiri tak ada yang peduli. Setiap hari menjemput istrinya untuk makan siang, sebenarnya adalah untuk menenangkan hatinya sendiri.


Jangan sampai para karyawan laki-laki itu yang mengajaknya makan siang bersama, batin Nico.


Selalu merasa galau setiap kali masuk jam makan siang. Namun, siang ini laki-laki itu tak sempat untuk makan siang dengan istrinya karena pesawat tamu penting dalam kerja sama perusahaan mengalami delay. Jadwal makan siangnya pun terganggu. Kemungkinan laki-laki itu harus bertemu dengan tamu penting itu sambil mengajaknya makan siang.


"Aku sedang menunggu tamu perusahaan, mungkin tak bisa menjemputmu makan siang sayang. Kamu makan siang sendiri ya? Tapi bareng sama karyawan wanita? Jangan berduaan dengan karyawan laki-laki," ucap Nico terus terang melalui sambungan telepon.


"Ya Kak, selama ini aku selalu makan rame-rame kok. Nggak pernah berduaan," jawab Reana sambil tertawa.


Kamu tertawa tapi hatiku kecut. Awas saja kalau ketahuan makan berduaan, batin Nico.


Selalu seperti itu. Rasa takut kehilangan dirasakan Nico terhadap istrinya. Sementara Reana hanya menganggap kalau Nico hanya tak ingin makan siang sendiri.

__ADS_1


Tok.. tok.. tok..


Reana langsung mengangkat wajahnya dan tercengang. Seseorang mengetuk mejanya pernah terjadi lebih dari tiga tahun yang lalu. Seperti Dejavu, ekspresi dan senyum laki-laki itu masih tetap sama.


"Hasbi?" tanya Reana tercengang.


Mantan ketua kelasnya dulu itu tiba-tiba datang setelah menghilang tanpa pesan. Laki-laki tampan mempesona itu tersenyum begitu manis padanya. Hasbi seorang ketua kelas yang pengertian dan menyenangkan. Terlebih lagi, wajah laki-laki itu masih tetap ganteng seperti para personel boyband asal Korea.


"Ayo makan siang Nona Reana," ajak Hasbi sambil tersenyum.


Reana langsung melirik jam tangannya. Memang telah masuk jam makan siang. Reana pun berpikir untuk menyetujui ajakan laki-laki itu.


"Mau makan di mana Nona Reana?" tanya Hasbi langsung memastikan Reana setuju ikut dengannya.


"Tolong jangan panggil aku Nona lagi. Aku ini sudah menikah," ucap Reana sambil mengangkat jari manisnya.


"Oh," jawab Hasbi singkat sambil tersenyum kecut.


Reana memeriksa pesan di ponselnya, khawatir jika suaminya telah mengirim pesan untuk mengajaknya makan bersama. Akhir-akhir ini, Nico memang jarang bisa menjemputnya untuk makan siang. Reana mengerti dan tak memaksakan laki-laki itu untuk makan siang dengannya.


"Nisa, aku mau keluar makan siang dulu bersama temanku. Kalau ada yang mencariku tolong minta ditunggu ya?" tanya Reana.


"Baik Bu Reana," jawab Nisa.


"Kamu nggak makan siang?" tanya Reana heran.


"Nanti Bu, bareng teman-teman. Oh ya kalau boleh tahu ibu makan siang dengan bapak siapa?" tanya Nisa.


"Oh, ini teman kuliahku dulu, namanya Hasbi. Sebenarnya tak ada hubungan sama sekali dengan kantor ini," ucap Reana.


"Oh baik Bu tapi nggak apa-apa kalau saya catat ya Bu," ucap Nisa meminta persetujuan.


Reana mengangguk dan Nisa pun terlihat menulis dalam buku agendanya. Reana menoleh ke arah Hasbi, laki-laki itu langsung tersenyum. Tak sedikit pun keberatan namanya dicatat oleh sekretaris Reana itu.

__ADS_1


"Gadis itu detail sekali kerjanya, aku jadi insecure," ucap Reana sambil melangkah bersama Hasbi.


"Memang harusnya begitu. Dia harus bersiap-siap untuk segala pertanyaan. Kalau dia tidak tahu apa-apa tentang atasannya, buat apa dia bekerja sebagai sekretaris," jelas Hasbi.


"Kalau begitu aku tidak cocok bekerja sebagai sekretaris," jawab Reana sambil tersenyum.


Kamu cocoknya jadi ratu di rumahku, batin Hasbi lalu tersenyum pada Reana.


Wanita itu pun akhirnya masuk ke dalam mobil Hasbi. Mereka pun melaju hingga akhirnya memasuki area parkir sebuah restoran. Hasbi memesan menu makanan yang menjadi andalan restoran itu. Sebuah Restoran yang baru saja di rekomendasi oleh personal assistant-nya.


"Sebenarnya aku rindu makan di restoran mu tapi, aku tak ingin ada tanda tanya dari orang-orang yang mengenal kita," ucap Hasbi yang dibalas dengan anggukan oleh Reana.


"Aku bahagia kamu mau menerima ajakan makan siangku," ucap Hasbi sambil menatap wajah Reana dengan tatapan mata yang sendu.


"Biasanya aku makan siang dengan suamiku tapi beberapa hari ini dia sepertinya sangat sibuk. Makanya aku berani menerima ajakanmu," jawab Reana.


"Dia … suamimu itu, Kak Nico?" tanya Hasbi yang dibalas dengan anggukan oleh Reana.


Ternyata cinta mereka awet juga. Aku pikir laki-laki itu hanya ingin main-main dengan gadis miskin dan penyendiri, batin Hasbi.


"Apa kamu bahagia?" tanya Hasbi yang kembali dijawab dengan anggukan oleh Reana.


"Tapi sayang, hingga kini kami masih belum dikaruniai keturunan," ucap Reana dengan raut wajah sedih.


"Mungkin kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan," ucap Hasbi.


"Mungkin," jawab Reana sambil mengangguk.


"Bagaimana denganmu? Apa aku kenal dengan istrimu?" tanya Reana.


Tentu saja kamu kenal. Kamulah istriku, batin Hasbi.


Hasbi hanya tersenyum, Reana mengerutkan keningnya tak mengerti. Laki-laki itu tertawa melihat ekspresi Reana. Baginya Reana masih terlihat sama, lugu, polos dan manis. Mereka pun menikmati makan siang itu sambil bernostalgia.

__ADS_1


Gelak tawa dengan wajah ceria mengiringi acara santap siang itu. Berbeda dengan raut wajah Nico yang langsung tegang dengan rahang yang mengeras. Sekretaris Reana memberi tahu kalau istrinya itu keluar untuk makan siang dengan laki-laki bernama Hasbi.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2