Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 182 ~ Menyesali Keputusan ~


__ADS_3

Reana menangkup wajah suami yang sangat dicintainya itu. Rasa khawatir Nico atas perasaan cinta Reana yang telah berkurang kini telah terjawab. Cinta wanita itu tak berkurang sedikit pun padanya bahkan semakin bertambah.


Reana mengecup bibir suaminya demi menambah keyakinan laki-laki tampan itu. Nico tak pernah bisa melewatkan kesempatan untuk membalas kecupan Reana dengan ciuman yang lebih menggebu lagi. Setiap kali mereka melakukannya, Reana selalu terkenang pertama kali dirinya dengan ikhlas menerima ciuman dari Nico.


Saat laki-laki itu terluka oleh pukulan para pengawal Tn. Malvin, saat itulah Reana tak tega menolak ciuman dari Nico, dan saat itulah cintanya semakin mendalam pada laki-laki tampan di hadapannya itu.


"Ayo Kak kita ke depan, mereka pasti sudah menunggu kita," bisik Reana.


"Ya Sayang," ucap Nico sambil menggenggam tangan istrinya.


Dina dan yang lainnya memang telah menunggu untuk makan malam di halaman terbuka itu. Aroma daging panggang buatan Dina dan Dito langsung menyeruak, menimbulkan keinginan untuk segera menyantap makanan yang fresh dari panggangan itu. Rommy yang biasanya pendiam, kini justru berdiri untuk menyampaikan kesan dan pesan untuk acara reuni para sahabat itu.


"Ini kesempatan kita untuk berkumpul, entah kapan bisa melakukan kumpul-kumpul seperti ini lagi, tapi tenang saja, jangan khawatir, jika ada yang rindu dengan suasana ini, jangan ragu-ragu untuk saling menghubungi. Jika ada masalah jangan di simpan sendiri. Kita akan saling bantu dan saling menghibur. Khususnya aku, stand by dihubungi kapan saja," ucap Rommy yang langsung diiringi teriakan oleh para sahabat itu.


"Dasar jomblo tentu saja stand by," teriak Dito.


"Kak Rommy masih bebas, ya sudah Kak Rommy saja yang temui kami," ucap Dina.


"Kamu benar-benar nggak adil ya, giliran acara Nico, kamu bersedia datang. Giliran aku, disuruh temui kalian," balas Rommy.


"Ya Kak Rommy itu harus sering jalan-jalan. Mana tahu ketemu jodoh. Kalau pemandangannya itu-itu saja, dinding kantor terus, kapan bisa ketemu gandengan?" tanya Dina.

__ADS_1


Mendengar ucapan Dina semua tertawa. Rommy tersenyum sambil menunduk. Reana menoleh ke arah suaminya dan saling tersenyum. Nico meraih tengkuk wanita itu dan mengecup keningnya.


Pemandangan itu membuat Lisca mengalihkan tatapannya ke arah hidangan di hadapannya. Ardy yang terus mengawasi, bisa merasakan Lisca yang tak suka dengan apa yang dilihatnya. Laki-laki itu, merasa Lisca masih saja iri pada keberuntungan Reana.


Hidangan-hidangan lezat di atas meja tak membuatnya berselera. Sementara Dina dengan penuh semangat menawarkan semua hidangan istimewa itu pada siapa saja. Tentu saja pada memaksa Reana agar makan lebih banyak mengingat sedang mengandung.


"Ayo Kak, habiskan semua," ucap Dina.


"Aku nggak sanggup Dina, ini saja sudah banyak," jawab Reana.


"Kakak sedang hamil, bayinya juga ingin makan," ucapnya menyodorkan hidangan lebih banyak ke hadapan Reana.


"Kamu cuma tawari Reana, yang lain bagaimana?" tanya Dito.


"Mari Kak Rommy, Kak Lisca ayo coba yang ini," ucap Dina.


"Aku tidak mau! Kamu menawarkan semua makanan daging pada dia, sementara kamu berikan sayuran padaku, kamu pikir aku ini sapi," ucap Lisca lalu berdiri dari meja makan itu lalu masuk ke dalam villa. 


Mendengar ucapan Lisca semua terdiam. Ardy menatap punggung Lisca melangkah melewati ruang tengah menuju kamar. Dari situ semua bisa melihat ke dalam villa yang didominasi dengan dinding kaca itu. Bagaimana Lisca melangkah dengan kesal menuju kamar.


"Aku tidak bermaksud membedakan seperti itu Kak, aku menawarkan semuanya," ucap Dina menyesal pada Ardy.

__ADS_1


"Tak perlu dipikirkan. Kamu tahu kami sedang ada masalah? Suasana hatinya memang buruk sejak tadi," ucap Ardy.


"Tadi kalian sudah putus pertunangan sekarang sudah baikan lagi. Bukannya senang tapi masih merungut. Apa yang dia pikirkan sebenarnya?" tanya Rommy.


"Itu saja tak bisa ditebak? Ke mana perginya instingmu? Biasanya bisa menganalisa apa yang terjadi," ucap Ardy dengan santai.


"Aku takut salah menebak, calon istrimu itu terlihat sangat rumit," ucap Rommy.


"Sebenarnya ada apa Kak? Siapa yang putus?" tanya Dina penasaran.


Begitu juga Dito yang langsung menatap heran pada ketiga sahabatnya. Dito dan Dina tak mengerti apa yang terjadi karena mereka sedang bermain di pantai saat Rommy menemukan ponsel Lisca berlatar belakang foto Nico.


Dengan santai Ardy menceritakan apa yang terjadi membuat Dito dan Dina terperangah. Keduanya sangat menyesal mengetahui tentang kejadian itu. Sementara Ardy terlihat biasa saja.


"Kak Ardy tidak apa-apa?" tanya Dina bersimpati.


"Sekarang sudah tidak apa-apa," ucap Ardy yang membuat Dito dan Dina saling berpandangan.


Tentu saja itu tidak sepenuhnya benar. Sesantai-santainya Ardy menerima kenyataan. Sebisa-bisanya dia menutupi perasaan dan menepis masalah, tetap saja Ardy terlihat kecewa dan sedih. Keputusan untuk mempertahankan pertunangan itu dirasa Ardy adalah sebuah usaha yang sia-sia.


Lisca tipe orang yang tidak sabar. Apa yang terasa di dalam hatinya akan mencuat dan terlihat oleh orang lain. Saat ini Ardy merasa Lisca tak lagi bahagia dengan pertunangan mereka tetapi justru merasa terkekang. Ardy telah bersiap-siap dalam hati untuk keputusan berpisah lagi.

__ADS_1


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2