Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 155 ~ Menerima Kembali ~


__ADS_3

Reana menolak memaafkan suaminya, karena dirinya yang merasa letih selalu dicurigai dan dicemburui. Reana merasa lelah karena suaminya tidak pernah mempercayainya. Ibu-ibu kantin merasa tak enak hati. Mereka menyesal karena candaan mereka membuat Reana dan suaminya bertengkar. Mereka memohon pada Reana sementara Nico tertunduk di hadapan wanita itu.


Nico mengangkat wajahnya menatap istrinya. Memohon sambil terus menggenggam tangan Reana. Nico memohon untuk dimaafkan. Reana tak enak hati menatap ke arah ibu-ibu itu. Lalu mengangguk kepala tanda setuju untuk memaafkan. Nico tersenyum bahagia lalu mengecup kening istrinya sambil terus mengucapkan terima kasih padanya.


Lagi-lagi wanita itu memaafkan suaminya. Meski ada rasa tak percaya pada ucapan Nico. Mencintai dan tak ingin berpisah. Nico memang begitu mencintai bahkan terlalu mencintai hingga membuatnya begitu posesif.


Siang itu Nico membantu ibu mertuanya berjualan di kantin. Nico langsung menjadi pusat perhatian para siswi-siswi di SMA itu. Nico kadang harus menjawab pertanyaan mereka yang memaksa bertanya karena jika tidak mereka tak kunjung pergi dari situ dan terdengar sangat berisik. 

__ADS_1


Nico menoleh ke arah istrinya. Reana hanya tenggelam dalam kesibukannya. Rasa sedih muncul di hati Nico, merasa istrinya tak peduli padanya. Saat kembali ke rumah laki-laki bertanya pada istrinya tetapi berusaha agar tidak lagi menyakiti hati Reana.


"Apa kamu tidak merasa cemburu? Aku … merasa kamu tidak peduli padaku," ucap Nico pelan sambil mengusap rambutnya yang basah sehabis mandi.


Nico mengingatkan kejadian tadi sore saat para siswi masih sibuk meminta berfoto bersama dengannya. Sementara Reana sibuk membantu ibunya berkemas. Nico sedih karena sejak kejadian tadi Reana tak banyak bicara padanya. Nico bahkan sempat berpikir kalau Reana hanya terpaksa menerimanya kembali.


Saat ditanya seperti itu Reana masih diam. Nico menyambar tangan wanita itu agar berdiri dihadapannya. Nico yang duduk di sisi ranjang, menatap istrinya yang hanya memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Mendengar itu Reana menatap wajah suaminya yang menengadah ke arahnya. Terlihat Nico yang terlihat sungguh-sungguh menyesal. Laki-laki itu seperti takut dengan jawaban Reana tetapi sangat ingin tahu jawabannya.


"Aku sangat cemburu kak tapi aku percaya Kak Nico. Aku percaya kakak tidak akan mengkhianati aku. Aku tidak terpaksa menerima Kakak karena ibu-ibu itu. Aku menerima kakak karena Kakak masih ingin bersamaku. Aku sudah bilang, meski kita berpisah pun aku akan tetap mencintai Kak Nico. Aku–" ucap Reana terputus karena Nico yang menarik tubuh hingga terhempas di ranjang.


"Aku suka mendengar kata-katamu. Tetap mencintaiku walaupun kita berpisah tapi aku tidak suka kata-kata berpisah itu. Aku ingin kamu tetap mencintaiku tanpa ada kata berpisah itu," ucap Nico lalu membenamkan bibirnya ke bibir manis istrinya.


Sejak berhasil mendapatkan hati Reana kembali, Nico sangat ingin mencium istrinya. Tetapi situasi di kantin itu tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Kini saat mereka telah di kamar, Nico tidak tahan ingin melakukannya. Ditambah lagi saat ini hanya mengenakan handuk sepinggang karena baru selesai mandi.

__ADS_1


Dalam sekejap Nico sudah membuat mereka berdua tak mengenakan apa-apa. Reana pasrah menerima perlakuan manis suaminya. Setiap kali menyakiti hatinya, Nico berusaha membuatnya melayang setinggi-tingginya. Sebagai ucapan maaf tanpa kata-kata dari laki-laki yang sebenarnya begitu mencintainya.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2