
Teman-teman Rebecca berlari mendekati gadis cantik yang sedang menikmati makanan di kantin itu. Wajah mereka menunjukkan rasa penasaran yang luar biasa, ingin mengetahui bagaimana ekspresi Rebecca saat melihat kabar yang mereka bawa.
"Becca.. mau liat sesuatu yang mengejutkan?" ucap salah seorang teman Rebecca sambil meletakkan ponselnya dihadapan Rebecca.
"Apa ini ?"
"Siapa ini ?"
"Apa pacar barunya ?" tanya Rebecca bertubi-tubi setelah melihat foto-foto yang terpampang di galeri ponsel sahabatnya.
Rebecca mengenali Nico namun tak mengenali gadis yang bersamanya. Terlihat Nico yang sedang makan berdua di sebuah kafe. Di foto lain terlihat Nico saat melingkarkan tangannya di pinggang si gadis dan lainnya foto Nico yang sedang menggandeng tangan gadis itu.
"Loe nggak ngenalin tu cewek?" ucap temannya yang lain.
Rebecca mengamati satu persatu foto dihadapannya dengan lebih teliti. Memperbesar gambarnya agar lebih terlihat jelas.
"Cewek murahan itu" jeritnya histeris.
"Mmm... itik buruk rupa berubah menjadi angsa" sahut temannya lagi.
"Kenapa bisa berubah seperti ini? "
"Gimana kalian bisa mendapatkan foto-foto ini?" tanya Rebecca syok berat.
"Awalnya kita-kita cuma pengen nongkrong di kafe eh malah liat kak Nico. Pengen disamperin sih, nggak taunya dia sama cewek itu, kami benar-benar kaget, nggak nyangka kalau gadis kampung itu bisa berubah begitu drastis" cerita salah seorang sahabat Rebecca.
"Bayangin aja, baru sebentar kenal sama kak Nico, penampilannya udah berubah sejauh itu" gadis disebelahnya ikut meramaikan obrolan.
"Pasti kak Nico diporotin abis-abisan" sahut yang lainnya.
"Cewek murahan itu nggak kapok-kapok deketin kak Nico" ucar Rebecca dengan ekspresi marah.
"Mesti dikasi pelajaran dia" lanjut Rebecca mukanya memerah karena amarah.
Sementara itu, Reana memasukan buku-bukunya kedalam ransel setelah cukup lama dia menghabiskan waktu di perpustakaan. Reana melangkah melewati jalan yang biasa dia lewati.
"Itu dia" ucap salah seorang teman Rebecca.
Ketiga gadis itu sontak berdiri.
"Tunggu, gue mau pake cara lain" ujar Rebecca sambil memandang Reana yang berjalan melewati kantin kampus.
"Reana" panggil Rommy menghampiri.
Reana tercenung, gadis itu tersenyum canggung.
"Saya Rommy, temennya Nico, saya juga ikut jenguk kamu di rumah sakit waktu itu" ucap Rommy memperkenalkan diri.
"Oh..., makasih kak" ujar gadis itu ramah.
__ADS_1
"Mmm, kamu mau nggak nungguin Nico ? cuma sebentar kok, Nico nya lagi bimbingan. Harusnya udah selesai dari tadi tapi dosen pembimbingnya mendadak ada tamu, jadi jadwal bimbingannya ditunda" cerita Rommy.
"Nico pengen nganterin kamu pulang" lanjut Rommy lagi.
"Nggak usah kak, kayaknya kak Nico lagi sibuk, nggak apa-apa kok saya pulang sendiri" ucap Reana sambil tersenyum.
Melihat senyum gadis itu, barulah Rommy sadar kenapa Nico tak bisa berpaling lagi dari gadis ini. Reana semakin dilihat semakin cantik, dan senyumannya itu membuat hati melayang.
Setelah mendapat perawatan kecantikan, wajah Reana terlihat bersinar. Meskipun gadis itu masih tidak menggunakan makeup apapun. Rambutnya yang sekarang tergerai sebahu menambah kesan modern wajah gadis itu.
Awalnya Reana tidak percaya diri ke kampus dengan rambut tergerai. Gadis itu kembali pada kebiasaan lamanya menguncir rambut, mengenakan jins, kemeja polos, ransel dan sneakers yang menjadi ciri khasnya
Dengan gaya berjalan yang masih tetap sama, menunduk, gadis itu memasuki area kampus. Nico muncul dari samping belakang mengagetkannya, sambil mencopot ikatan rambut Reana.
Gadis itu langsung kelimpungan, memegang rambutnya yang terlepas, wajahnya merona merah. Nico tidak peduli, langsung menyimpan kunciran rambut Reana kedalam saku celananya.
Nico menggoda gadis itu dengan memandanginya dari jarak dekat. Reana salah tingkah, wajahnya semakin merona merah, Nico sangat senang melihat tingkah canggung gadis itu.
Laki-laki itu masih saja berdiri dihadapannya, Reana tak ingin ini menjadi perhatian mahasiswa-mahasiswa lain. Gadis itu tak ingin lagi jadi bahan perbincangan. Reana mendorong tubuh Nico menjauh, lalu berlari menuju kelasnya.
Dan saat ini Reana ingin berangkat kerja ke restoran tapi tiba-tiba Rommy menghadangnya. Memberitahu bahwa Nico ingin mengantarnya pulang, namun masih ada sedikit halangan hingga Rommy meminta Reana untuk menunggu.
Tentu saja Reana menolaknya, gadis itu pada prinsipnya tidak suka merepotkan orang lain.
"Nico bisa marah sama saya, kalau nggak nahan kamu" kata Rommy lagi.
"Baiklah kalau gitu, nanti saya sampaikan, hati-hati dijalan yah" ucap Rommy memaklumi.
Reana pergi setelah mengucapkan terimakasih atas pengertian Rommy. Gadis itu bukannya tak mau menunggu Nico lebih lama. Sejujurnya Reana tak ingin merepotkan laki-laki itu. Alasan ingin segera membantu di restoran di jadikan alasan agar Nico tidak perlu repot-repot mengantarnya.
Kenapa juga harus dianterin sama kak Nico, saya biasa pulang pergi sendiri, bisik hati Reana.
Reana baru saja keluar dari gerbang kampus dan berjalan menuju halte. Nico berlari tergesa-gesa ke arah Rommy. Seperti yang dikatakan Rommy, Nico kesal karena mengetahui Reana telah pulang duluan dan menolak diantar olehnya.
Nico duduk bertopang dagu, hatinya kesal.
Gadis itu benar-benar keras hati, padahal nunggu sebentar saja, saya bisa mengantarnya langsung ke restoran, gadis itu tak perlu naik bus dan berjalan menuju restoran, bisik hati Nico kesal.
Rommy hanya tersenyum melihat wajah cemberut laki-laki itu. Tiba-tiba ponsel Nico bergetar, Dito yang sedang pacaran di halte menelpon.
Ada apa kunyuk ini pake nelpon segala, bisik Nico heran.
"Nic... Reana... Reana diculik" ucap Dito ditelpon suaranya gemetar, nafasnya tersengal-sengal.
"Apa !!! loe jangan main-main Dit" ucap Nico langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Nggak Nic, gua nggak becanda. Reana dipaksa masuk ke sebuah mobil" ucap Dito nafasnya terdengar tersengal-sengal setelah mencoba mengejar mobil yang membawa Reana.
Nico buru-buru berlari ke parkiran, Rommy memanggil Nico, tapi laki-laki itu hanya memberi kode agar Rommy tetap ditempatnya.
__ADS_1
Setelah mendapat ciri-ciri mobil dan arahnya. Nico segera menyetir mobil sportnya dengan kecepatan tinggi. Jam segini lalu lintas tidak terlalu ramai. Nico berharap bisa segera menemukan mobil dengan ciri-ciri yang disebutkan Dito.
Setelah menyetop taksi untuk pacarnya, Dito buru-buru berlari ke kampus. Disana Rommy menunggu dengan wajah khawatir dia sama sekali tidak tau apa yang terjadi.
Dito menceritakan kejadian yang dilihatnya tadi. Dito yang sedang asyik ngobrol dengan pacarnya melihat Reana yang sedang berjalan menuju halte.
Tiba-tiba berhenti disamping Reana dua buah mobil mewah. Reana tidak mempedulikannya dan tetap berjalan menuju halte. Tapi tiba-tiba seseorang keluar dari mobil itu dan memaksa Reana masuk kedalam mobil mewah yang lain, lalu membawanya pergi.
Dito masih ingat ekspresi ketakutan Reana, memukul kaca jendela mobil sambil meminta tolong. Sesaat Dito terpaku melihat kejadian itu lalu berupaya mengejar tapi mobil itu sudah berlalu dengan kencang.
Nico menambah kecepatan mobilnya, tanpa rasa takut menyalip ke kanan dan ke kiri layaknya pembalap di sirkuit F1. Pikirannya hanya ingin segera menemukan mobil yang dicarinya.
Tak berapa lama kemudian Nico melihat iringan mobil dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan Dito. Namun sulit baginya untuk mendekat.
Memasuki jalur padat, Nico makin kesulitan. Dengan panik dan tidak sabar Nico menekan klakson ingin segera melewati jalanan macet itu. Mobil yang dikejar ada didepan sana.
Memasuki suatu kawasan Nico mengingat sesuatu. Nama sebuah hotel yang pernah dibacanya beralamat disekitar kawasan itu.
"Sial, bajingan itu rupanya", teriak Nico sambil memukul stir dihadapannya.
"Baiklah, aku tau arahmu sekarang" ujar Nico penuh keyakinan.
Begitu jalanan terlihat renggang, Nico langsung menyalip ke depan. Pandangannya lurus pada mobil yang baru saja memasuki area hotel berbintang lima. Tak ingin kehilangan, Nico segera memacu kecepatan, melakukan drift saat membelok memasuki area parkir basement hotel.
Nico bahkan melewati gerbang parkir yang belum sempat tertutup. Masih dengan kecepatan tinggi laki-laki itu mengejar kedua mobil yang juga melaju kencang diarea parkir yang sangat luas itu.
Iringan mobil berhenti, Nico menghentikan mobil dan segera keluar mengejar. Empat orang berjas hitam langsung menghadang Nico. Nico yang tak ingin dihalangi segera menghadiahkan tinju ke wajah para pengawal tersebut.
Reana keluar dari mobil, menatap cemas kearah Nico yang bertarung melawan keempat pengawal itu. Laki-laki yang pernah mengikuti kejuaraan taekwondo semasa di SMU itu cukup membuat para pengawal kewalahan.
Tuan Malvin memerintahkan seorang pengawal membawa Reana pergi. Sementara seorang pengawal lagi segera membantu keempat temannya.
"Tolong jangan sakiti dia" ucap Reana ketakutan, berusaha bertahan, menolak dibawa pergi.
Tuan Malvin tersenyum.
"Kamu mengkhawatirkannya? aku justru ingin tau seberapa kuat anak itu bertahan" jawab tuan Malvin sambil memandang pertarungan antara Nico melawan pengawal-pengawalnya.
Karena itulah Reana memohon, meskipun Nico melakukan perlawanan namun yang dihadapinya adalah pengawal yang sudah berpengalaman. Percuma tuan Malvin membayar mahal mereka jika tak mampu membekuk seorang Nico.
Nico mulai kewalahan, meski para pengawal cukup di bikin babak belur namun saat mereka maju bersamaan Nico tak mampu menghindar. Setelah bersusah payah mencari celah akhirnya dua orang pengawal berhasil membekuk Nico.
Tuan Malvin berjalan kearah Nico, sementara Reana dipaksa memasuki elevator bersama seorang pengawal.
Nico tak mempedulikan tuan Malvin yang berdiri dihadapannya. Laki-laki itu hanya memandang Reana yang menangis sambil meronta.
Nico hanya mampu melihat Reana di bawa paksa, karena laki-laki itu telah berhasil di bekuk oleh para pengawal tuan Malvin. Gadis itu terus saja menangis dan meronta hingga hilang di balik pintu elevator.
...*****...
__ADS_1