
Angelica yang bosan melihat suasana suram di rumahnya sejak meninggalnya Angela, membuat ulah dengan mencoba seluruh gaun-gaun milik kakaknya. Rasa kesedihan karena kehilangan kakaknya sempat dirasakannya. Namun, rasa kesal timbul karena suasana di rumahnya tak kunjung normal seperti biasa.
Angelica juga mencoba mencari hiburan dengan datang ke rumah keluarga Nico tetapi tak jauh beda. Nico yang diharapkan dapat menghilangkan rasa bosannya justru bertingkah sama seperti orang tuanya. Termenung, jarang bicara, apalagi tersenyum. Angelica hanya diam menatap laki-laki itu yang kerjanya hanya tiduran seharian.
Angelica ingin mengusik perhatian Nico, justru mendapat tatapan mata yang tajam dari laki-laki itu. Angelica rindu dipeluk oleh Nico. Dengan nekad memeluk laki-laki itu berharap Nico akan sadar dan kembali ke dunia nyata dan mau menerimanya.
Namun, apa yang dilakukan Nico? Laki-laki itu justru mendorongnya dan mengusirnya. Angelica menangis dan mengakui kalau dirinya menyukai Nico. Laki-laki yang sedang frustasi itu justru membentaknya.
"Lihat dirimu? Kamu itu masih SMP, masih kecil. Pikirkan sekolahmu, jangan pernah menyatakan cinta padaku. Jangan pernah! Aku mencintai Angela. Aku tidak tertarik padamu. Meski Angela telah tiada, aku akan tetap mencintainya. Kamu mengerti? Jangan pernah katakan cinta padaku. Jangan pernah!" bentak Nico.
Laki-laki itu mengusir gadis yang membuat hatinya menjadi gusar itu. Kesedihan Nico tak bisa terobati oleh siapa pun, kedatangan siapa pun, hanya akan mengusik hatinya. Membuatnya kesal hingga Nico menjadi sosok yang dingin.
Melihat itu, Tn. Alex Rayne dan Ny. Cathrina mengajak putranya menemui psikiater. Ahli kesehatan jiwa itu menyarankan Nico mencari suasana lain. Tn. Alex Rayne dan Ny. Cathrina pun memutuskan mengajak putranya tinggal di New York.
Laki-laki itu pasrah mengikuti keinginan orang tuanya. Semua itu karena suatu ketika Nico melihat ibunya yang menangisi dirinya yang tak pedulikan apa pun lagi. Nico tak ingin masalahnya, kesedihannya juga berimbas pada orang tuanya.
Nico pun bersedia ikut orang tuanya pindah ke New York dan menuntaskan pendidikan tingkat SMA nya di new York. Setengah tahun lebih di new York, kehidupan Nico telah normal seperti semula. Nico akhirnya menuntaskan pendidikan tingkat atasnya di New York dan ingin melanjutkan studinya di Indonesia.
Orang tuanya yang terlanjur mengembangkan bisnisnya di New York tak bisa kembali ke Indonesia. Nico pun memutuskan untuk tinggal di apartemen dan menjalani perkuliahan seorang diri tanpa orang tuanya.
__ADS_1
Sementara itu Angelica yang melihat tingkah laku ibunya yang hanya termenung, kadang menangis tak jelas sebabnya, merasa kesal. Ibunya itu seperti tak peduli apa pun. Bahkan tak peduli padanya. Hatinya yang kesal, membuat Angelica protes terhadap ibunya yang sama sekali tak peduli padanya.
"Mommy, apa baju ini cocok untukku," ucap Angelica sambil meniru gaya bicara Angela.
Ny. Nindya yang seperti mendengar suara putri kesayangannya langsung menoleh. Suara, nada bicara dan gaya Angela, ditiru sepenuhnya oleh Angelica. Bukannya senang atau bahagia. Nyonya itu justru histeris, tak rela Angelica meniru Angela, memakai pakaian, sepatu dan aksesoris milik putri kesayangannya. Ny. Nindya bahkan memukuli Angelica.
"Mommy jahat! Kak Angela telah lama pergi! Tapi apa yang Mommy lakukan? Mommy tak melakukan apa-apa. Mommy terus saja bersedih! Kenapa Mommy nggak ikut mati saja bersama dengan Kak Angela!" ucap Angelica dengan menjerit.
Kehidupan Ny. Nindya seperti ikut mati bersama kematian putri kesayangannya. Melihat Angelica berani mengacak-acak barang-barang milik Angela, nyonya itu sangat sedih hingga histeris. Angelica tak terima dan protes. Terlebih saat dirinya dipukuli oleh ibunya sendiri.
"Kurang ajar kamu! Menyuruhku mati," bentak Nindya.
"Kurang ajar kamu!" maki Nindya sambil memukuli Angelica.
"Pukul saja terus! Biar aku juga mati! Mommy memang cuma lahirin satu anak. Cuma punya satu anak! Anak Mommy cuma Kak Angela. Aku bukan anak Mommy! Biar aku mati! Padahal aku sayang Mommy, demi Mommy aku rela jadi Kak Angela. Aku rela merubah diri jadi Kak Angela! Sekarang aku mau mati saja!" jerit Angelica, menangis di lantai kamar ibunya.
Ny. Nindya tertegun mendengar curahan hati putrinya. Lebih terpaku saat mendengar Angelica ingin menjadi Angela untuknya. Nyonya itu menatap gaun milik Angela yang dipakai putri bungsunya itu.
"Kamu tak akan bisa jadi Angela. Anakku Angela itu sangat cantik. Kamu tak akan bisa jadi Angela," ucap Nindya.
__ADS_1
"Aku bisa jadi Angela. Apa susahnya jadi Angela. Itu hanya karena dia cantik. Siapa yang lahirkan aku seperti ini? Aku juga ingin cantik! Bahkan ingin lebih cantik dari Angela. Jika aku juga lahir cantik seperti Angela, aku juga bisa seperti Angela," ucap Angelica dengan berderai air mata.
Gadis itu menangis sesenggukan. Begitu sedih karena tak mendapat kasih sayang lagi dari kedua orang tuanya. Kehidupan dua keluarga itu terguncang karena kematian Angela. Mereka tak lagi saling mengunjungi. Hanya sibuk memikirkan perasaan sendiri.
Nico dan orang tuanya pindah ke New York, sementara Angelica dan orang tuanya pindah ke Korea Selatan demi keinginan Ny. Nindya yang ingin Angelica berubah wajah menjadi Angela.
Enam tahun dihabiskan Angelica untuk melakukan rekonstruksi wajah. Mengubah dirinya menjadi Angela. Mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala. Warna kulit hingga warna rambut.
Semua dirobah total. Sehari-hari Angelica bahkan dipanggil dengan sebutan Angela oleh orang tuanya. Angelica seperti tak ada. Seperti tak pernah dilahirkan.
Dengan percaya diri, kembali ke Indonesia dan kembali menemui Nico. Angelica, mendapat sambutan dari Ny. Cathrina tetapi tidak dari laki-laki yang dicintainya. Angelica justru mendapati Nico telah menikah dengan gadis miskin yang menurutnya tak layak bagi laki-laki itu.
Kini Nico bahkan menghindar darinya. Membawa istrinya tinggal di apartemennya. Meninggalkan Angelica yang telah bersusah payah merubah dirinya menjadi seseorang yang tadinya dibencinya hanya demi mendapatkan cinta Nico kembali.
"Sial! Sial! Sial! Perempuan itu! Semua gara-gara perempuan kampungan itu. Usahaku bertahun-tahun sia-sia karena perempuan itu. Demi kamu Nico, aku bahkan rela menjadi orang yang aku benci. Semua karena kamu yang cuma cinta sama dia. Sekarang kamu justru menikah sama perempuan lain. Aku benci! Aku benci! Nggak! Aku nggak benci! Aku akan coba rebut kamu lagi! Kamu harus jadi milikku," ungkap Angelica bicara sendiri.
Sementara Nico telah berkumpul kembali dengan istri yang dicintainya. Memeluk wanita yang telah berhasil membuatnya melupakan Angela. Meski saat ini Angela sebenarnya muncul pun Nico tak akan bisa berpaling lagi dari Reana.
Nico terlalu cinta dengan kesederhanaan Reana. Kesederhanaan yang sesungguhnya meski kehidupan Reana telah berubah. Meski tak lagi menjadi pelayan miskin yang kesulitan membayar uang kuliah. Namun, kesederhanaan itu tetap terpancar dari dalam dirinya dan itu adalah yang sesungguhnya Nico sukai.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...