Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 35 ~ Keputusan ~


__ADS_3

Reana duduk dibangku dibawah pohon rindang. Deretan bangku yang berhadapan dengan parkiran motor itu sekarang menjadi tempat duduk favorit Reana.


Mahasiswa yang lalu lalang dengan berjalan kaki atau mengendarai motor menjadi pemandangan Reana sehari-hari. Melihat itu Reana teringat saat Nico masih mengendarai motor sportnya untuk ke kampus.


Belakangan laki-laki itu lebih sering menggunakan mobil sedan sport dibandingkan motornya. Untuk memudahkan mengantar Reana kemana-mana. Kenangan bersama Nico hampir setiap hari mengisi lamunannya.


Terkadang sahabat-sahabat Nico datang menemani. Apalagi sejak Nico berada di Luar Negeri. Bergantian mereka duduk berbincang dengan Reana, mengisi waktu kosong sambil menunggu jam kerja.


Mereka mengisi waktu dengan obrolan ringan atau dengan belajar. Kebanyakan Reana membantu mereka dalam memahami mata kuliah satu itu, Analisa Numerik.


Kemampuan Reana dalam membahas soal-soal Analisa Numerik mencapai lima kali atau bahkan sepuluh kali lipat dibanding kakak-kakak kelasnya itu.


Kadang Reana merasa kesal karena mereka masih sulit memahami, tentu saja rasa kesal yang dibuat-buat itu ditunjukan Reana agar mereka lebih serius belajar.


Karena mereka memang suka bercanda, dan Reana sering kerepotan dengan candaan itu.


Untuk menghilangkan kekesalan Reana, biasanya mereka merayunya dengan mentraktir minuman ringan. Namun alasan mentraktir Reana setelah membuat gadis itu kesal adalah sebuah trik, kalau tidak dengan cara itu, Reana sering menolak ditawari minuman.


"Bayaran untuk les gratis bu guru Reana" kelakar Dito sambil memberikan minuman kaleng.


Dito yang paling sering mentraktir Reana karena Dito yang paling lemah mata kuliah itu diantara mereka.


Reana mulai bosan, sedari tadi memandangi mahasiswa yang berlalu lalang. Gadis itu tak melihat satupun dari kakak-kakak kelas itu. Mungkin karena tidak ada jadwal ke kampus atau mungkin mereka sedang sibuk menyelesaikan skripsinya.


Akhirnya Reana memutuskan ke restoran lebih cepat, setidaknya direstoran dia bisa melakukan sesuatu. Membantu bu Nani membuang sampah atau membantu Ading mengangkat piring kotor.


Gadis itu berjalan dibawah naungan pohon yang tumbuh dipinggir jalan, pohon-pohon yang sengaja ditanam disepanjang jalan menuju kampus hingga ke jalan raya itu sangat membantu pejalan kaki seperti Reana.


Matahari yang terik, tak begitu dirasakannya.


Reana menoleh ke jalan melihat-lihat jika ada bus yang akan lewat. Tapi bus yang dinanti belum muncul juga, gadis itu memutuskan menunggu dihalte. Kembali berjalan pelan sambil menunduk memandang kotak-kotak paving trotoar.


Sebuah sedan mewah berjalan pelan disampingnya, Reana kaget, seperti dejavu, kejadian saat dia dipaksa masuk kedalam mobil tuan Malvin terbayang lagi. Tubuh Reana langsung gemetar.


Gadis itu menjauhkan pikirannya dari bayang-bayang kejadian waktu itu. Namun hatinya tetap merasa takut, gadis itu mempercepat langkahnya, sesekali melihat ke belakang, berharap ada bus yang akan lewat.


Sedan itu berjalan mendahului Reana, gadis itu mengelus dadanya bersyukur. Tapi tiba-tiba mobil itu berhenti. Seorang laki-laki berjas hitam turun dan langsung menghampirinya.


Reana kaget, kejadian itu terulang lagi. Namun kali ini tak ada kak Dito yang berteriak dan berlari mengejarnya, atau Nico yang akhirnya menyusul dengan mengendarai mobilnya.


Reana didorong duduk dibangku belakang, seorang laki-laki yang duduk disana langsung memegang tangannya. Sementara yang lain duduk didepan kemudi.


Tak seorangpun berada disitu, tak ada satupun yang melihat gadis itu dibawa pergi. Meski Reana berteriak meminta tolong, namun tak ada satupun yang mendengarnya.


Reana menangis ketakutan, dia merasa ini adalah hukuman baginya. Karena telah mengabaikan Nico yang begitu peduli padanya. Gadis itu semakin ketakutan saat menyadari tak ada Nico yang akan menolongnya.


Apa yang akan dilakukan tuan Malvin ? jerit hati Reana.


"Nona Reana tenanglah, tuan Malvin tidak akan menyakiti nona" ucap laki-laki disamping Reana, karena melihat gadis itu begitu panik, kemudian laki-laki itu perlahan melepaskan tangannya.


Reana mencoba berpikir positif, mungkin seperti dulu, tuan Malvin hanya ingin bicara dan makan siang dengannya.


Namun Reana kembali panik saat teringat Eksekutif muda itu pernah mencoba menciumnya. Jika saat itu Nico tidak menunggunya diluar hotel, mungkin saja tuan Malvin berbuat lebih dari itu.


Air mata Reana mengalir.


Tidak, tidak mungkin, tuan Malvin tidak akan seperti itu, batin Reana berusaha menenangkan hatinya.


Tak berapa lama kemudian mobil mewah itu memasuki hotel dimana Reana pernah disekap dulu. Gadis itu kembali ketakutan, kedua pengawal itu membawanya memasuki sebuah ruangan.


Reana memperhatikan ruangan itu, ini bukanlah sebuah kamar. Reana merasa lega, gadis itu dibawa ke ruangan yang mirip sebuah kantor. Kantor yang sangat luas dengan interior yang mewah.


Terlihat tuan Malvin sedang duduk memandangi Reana yang baru saja datang. Seorang pengawal meminta gadis itu duduk dihadapan tuan Malvin.


Reana lega, diruangan itu ada banyak orang. Dua orang pengawal berdiri dibelakangnya dan beberapa orang lagi berdiri dibelakang tuan Malvin. Semua pengawal itu memandang lurus ke depan, berdiri tegap seperti patung.


"Sudah lama tidak melihatmu, kamu bertambah cantik setiap harinya" ucap tuan Malvin masih memandang Reana.


Pujian tuan Malvin sama sekali tidak membuat Reana senang. Gadis itu justru merasa ketakutan.


"Kenapa saya dibawa kesini tuan?" tanya Reana ragu-ragu.


Mengingat hubungan mereka yang tidak begitu baik, Reana sempat membenci tuan Malvin karena perintahnya membekuk Nico sehingga laki-laki itu mengalami luka.

__ADS_1


"Bajingan kecil itu take off dari JFK dengan penerbangan kemarin siang, dan diperkirakan mendarat jam 22.10 malam ini" ucap tuan Malvin langsung ke pokok persoalan.


Reana memperkirakan bahwa yang dimaksud tuan Malvin adalah Nico yang terbang dari Bandara Internasional John F. Kennedy, dan akan tiba di Indonesia malam ini.


Bagaimana tuan Malvin bisa tau kalau kak Nico akan pulang ? tanya Reana dalam hati.


Itu adalah pertanyaan bodoh, tuan Malvin pasti punya orang-orang yang bisa melacak keberadaan Nico.


"Jika pesawat itu bisa mendarat dengan selamat" sambung tuan Malvin.


Tuan Malvin tersenyum melihat wajah Reana yang terlihat tegang. Laki-laki itu sangat suka melihat aura ketakutan yang terpancar dari wajah polos gadis itu. Membuat Reana terlihat lemah.


Tuan Malvin sangat ingin menaklukkan Reana. Dia sangat ingin melihat gadis itu memohon padanya, pasrah mengikuti keinginannya hingga akhirnya menyerah padanya.


"M-maksud tuan?" tanya Reana dengan suara bergetar.


"Seorang penumpang di pesawat itu membawa benda yang dapat meledak" jawab tuan Malvin ringan.


"Bagaimana mungkin, semua barang pasti melewati pemeriksaan otoritas bandara" sanggah Reana tak percaya.


"Memang benar, setiap barang pasti melewati x-ray security scanner yang bisa mendeteksi potensi bahaya dan meminimalisir penyamaran bom" ucap tuan Malvin menyetujui sanggahan Reana.


"Tapi bagaimana jika benda itu sama sekali tidak mengandung komponen improvised explosive device ?" tanya tuan Malvin yang sama sekali tidak dimengerti oleh Reana.


"Dan terbukti penumpang itu lolos dan sedang menikmati penerbangannya, dia telah melewati pemeriksaan dengan x-ray maupun manual, penumpang itu bahkan mengoperasikan perangkat elektronik itu seperti biasa" jelas tuan Malvin sambil mengeluarkan ponselnya.


"Sebuah program telah di install dalam ponsel itu dan hanya aktif jika saya menelponnya.


Program yang dapat menciptakan panas hingga menimbulkan api, kamu pernah menggunakan aplikasi yang dapat membuat ponselmu terasa panas ?


Program itu memaksimalkan panas yang ditimbulkan dari aplikasi semacam itu" jelas tuan Malvin berharap sedikit banyak Reana mengerti atau paling tidak mempercayai.


"Hanya dengan menelpon penumpang itu, dan... boom, tak perlu ledakan besar, sekedar melobangi dinding pesawat, menurutmu apa yang akan terjadi ?" tanya tuan Malvin sambil tersenyum memandang ponselnya.


"Mana mungkin ada orang yang mau mengorbankan dirinya, dengan ponsel seperti itu sama saja dengan bunuh diri" ucap Reana masih tidak percaya.


"Itu kalau dia tahu, hanya dengan memberinya sedikit tugas.


Orang itu merasa dirinya berguna dan mereka akan mengerjakan tugasnya dengan baik.


Air mata Reana mengalir, tuan Malvin memiliki jawaban untuk semua sanggahan atas ketidakpercayaannya, meskipun ada rasa tak ingin percaya tapi gadis itu tidak mau mengambil resiko.


"Tuan... anda benar-benar orang yang kejam" sahut Reana dengan air mata yang masih mengalir.


"Aku juga tak ingin seperti ini, aku bukanlah orang yang kejam, tapi mungkin ini satu-satunya kesempatanku, jika bukan karenamu, aku tidak akan menjadi seperti ini" balas tuan Malvin.


Terbayang jika peristiwa itu benar-benar terjadi. Bagaimana sebuah pesawat yang sedang melayang bisa bertahan ?


Tuan Malvin mengancamku, apa yang dia inginkan ? tanya Reana dalam hati, sambil menunduk menguatkan hatinya.


"Aku menginginkanmu" ucap tuan Malvin seperti bisa membaca pikiran Reana.


Reana mengangkat wajahnya menatap tuan Malvin.


"Tuan akan menjadi seorang pembunuh, tuan bisa terancam pasal pembunuhan berencana, tuan bisa dijatuhi hukuman seumur hidup atau bahkan hukuman mati" ucap Reana dengan mata berlinang.


Mencoba mengingatkan konsekuensi yang akan ditanggung tuan Malvin apabila tetap menjalankan rencananya.


"Reana, saya tidak takut dipenjara, karena saya selama ini sudah hidup didalamnya. Saya juga tidak takut hukuman mati karena sejak kau menolakku, saya tidak bisa merasakan hidup lagi, saya sudah mati" ucap tuan Malvin sangat tenang.


Reana menarik nafas berat, ruangan ini seperti kekurangan oksigen, dadanya terasa sesak, tuan Malvin sudah sampai tahap ini, dia bisa saja benar-benar menjalankan rencananya.


Reana mencoba tegar namun rasa takut terlihat jelas dari tubuhnya yang gemetar. Didalam hatinya Reana sangat sedih, seseorang bisa bertindak kejam karena dirinya.


Reana tak ingin tuan Malvin berubah menjadi orang seperti itu.


Kak Nico..., kak Nico, apa yang harus kulakukan ? tanya Reana dalam hati.


Reana menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tubuh dan jiwanya terasa letih. Gadis itu depresi, dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi.


Seorang gadis masuk kedalam ruangan, duduk di sandaran tangan eksekutif muda itu sambil tersenyum manis. Menyandarkan tubuhnya dengan manja pada tuan Malvin. Tangannya membelai lembut tengkuk laki-laki tampan itu.


Menyadari seseorang hadir disitu, Reana mengangkat wajahnya, memandang nanar gadis yang baru datang. Reana tersenyum kecut, senyum yang lahir dari hati yang sedih dan kecewa.

__ADS_1


"Kebetulan yang menakjubkan" sindir Reana sambil menatap gadis itu.


Gadis itu kembali menampilkan senyum termanisnya.


Sekarang Reana tahu siapa yang mengirim gadis itu.


Gadis yang menggoda Nico beberapa hari belakangan ini.


Reana benar-benar tak menyangka tuan Malvin menggunakan cara ini, memanfaatkan seorang gadis untuk merusak hubungannya dengan Nico.


Gadis itu meletakkan sebuah map diatas meja dihadapan tuan Malvin. Tuan Malvin meraih tangan gadis itu, menepuknya lembut dan menatapnya.


"Kembalilah ke kamarmu" ucap tuan Malvin kemudian.


Gadis itu mengecup bibir tuan Malvin, tersenyum sekilas pada Reana, kemudian berlalu tanpa kata-kata. Reana memalingkan muka saat melihat keberanian gadis itu menampilkan kemesraan didepan orang lain.


Keberanian itu juga yang digunakan gadis itu untuk menggoda Nico.


"Pesawat itu mendarat dengan selamat atau hancur berkeping-keping, semua itu tergantung padamu" lanjut tuan Malvin.


Reana tercengang, gadis itu merasa ngeri mendengar pemilihan kata tuan Malvin. Hancur berkeping-keping untuk menggambarkan keadaan sebuah pesawat, itu sangat mengerikan, itu sebuah tragedi.


Tuan Malvin menyodorkan map dihadapannya berisi sehelai kertas. Surat Persetujuan Menikah. Membaca surat itu, nafas Reana terasa berat, dadanya terasa sesak.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, kenapa tuan Malvin membuatku menanggung semua ini, jerit hati Reana.


"Kadang aku merasa menyesal pernah melihat postingan videomu.


Karena sejak itu, aku tak bisa melupakanmu, meski kau bersikap tak acuh padaku tapi tetap saja aku menginginkanmu, meski kau menolakku, tetap saja aku merindukanmu, katakan padaku Reana, apa yang harus aku lakukan? " ucap tuan Malvin bertanya pada Reana.


Tuan Malvin bangun dari tempat duduknya mendekati Reana.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau meninggalkan laki-laki itu ?" teriaknya sambil mengebrak kedua sandaran tangan kursi yang diduduki Reana.


Reana terkejut, tubuhnya gemetar. Dia belum pernah merasakan kemarahan seperti itu. Tuan Malvin menatap mata gadis yang berjarak hanya beberapa inch didepannya.


"Aku siap menyerahkan segalanya padamu, hatiku, jiwaku, tapi kamu menolaknya, wajar bukan ?


Dengan semua yang kumiliki, dengan kekuasaan yang ada di tanganku, aku menyingkirkan laki-laki yang menjadi penghalangku untuk mendapatkan hatimu?" ucap tuan Malvin pelan, tatapan matanya tajam namun setitik bening muncul disudut mata itu.


Reana masih menatap tuan Malvin, tanpa sadar air matanya mengalir. Perlahan tatapan tajam tuan Malvin berganti dengan tatapan lembut. Laki-laki itu menghapus air mata Reana.


"Aku juga tidak suka dengan apa yang kuperbuat, karena itu membuatmu menangis, aku tidak suka dengan segala sesuatu yang membuatmu menangis, aku hanya ingin kamu bahagia... bahagia bersamaku" ujarnya pelan setengah berbisik, tuan Malvin bergerak mundur.


"Tanda tangani surat itu, atau besok kau akan mendengar berita buruk" ucap laki-laki itu kemudian.


Diikuti oleh para pengawalnya, tuan Malvin meninggalkan ruangan. Tinggal Reana seorang diri menatap kertas dihadapannya. Kedua tangan gadis itu menutup mulutnya, berharap kedua tangan itu bisa meredam suara tangisnya.


Namun tangis itu masih tetap bergema, tangan kecilnya tak mampu menahannya.


Dibalik pintu, tuan Malvin mendengar tangisan Reana, tangannya bergerak menyentuh daun pintu.


"Maafkan aku Reana, aku akan membayar pengorbananmu seumur hidupku" ucap tuan Malvin, lalu pergi diikuti para pengawalnya.


Reana meraih gagang pintu, bergerak perlahan meninggalkan ruangan. Dibalik pintu tiga orang pengawal telah menunggu. Dua orang pengawal menawarkan diri mengantarkan Reana pulang.


"Nona, silahkan" ucap salah satu dari pengawal itu dengan sopan mempersilahkan Reana berjalan lebih dulu.


Sementara yang lain mengangguk memberi hormat pada Reana dan langsung masuk ke ruangan. Meraih map diatas meja, memandang guratan tangan gadis itu, lalu membawanya pergi.


Langkah Reana di lorong hotel itu terhenti, ketika mendengar suara pintu ditutup, gadis itu menoleh, menatap pengawal yang baru saja keluar dari ruangan sambil membawa sebuah map berwarna gelap.


Reana menatap map yang semakin menjauh, seiring dengan harapan hidupnya yang juga bergerak menjauh.


Sudah terjadi, aku sudah memutuskannya, batin Reana sambil kembali melanjutkan langkahnya.


Reana memilih diantar ke restoran, mata gadis itu menatap nanar jalanan yang dilewatinya.


Maafkan aku kak Niko, ini yang terbaik untukmu, batin Reana.


Hening, yang dirasakan dalam perjalanan mengantar Reana hanyalah hening. Kedua pengawal itupun tak berani membuka suara. Mereka seolah-olah hanyut dalam suasana hati Reana.


Melalui kaca spion seorang pengawal menatap Reana, gadis itu tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Tak ada isak, tak ada suara, hanya air mata yang mengalir begitu saja.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2