Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 159 ~ Kabar Mengejutkan ~


__ADS_3

Setelah menjalani hari-hari yang berbeda di kampung, Nico merasa seperti menjalani lembaran hidup baru. Dengan perasaan cinta yang semakin besar terhadap istrinya. Begitu sampai di apartemennya Nico melepaskan hasrat dengan hati yang begitu bahagia.


Keesokan harinya mereka berkunjung ke rumah orang tua Nico. Laki-laki itu ingin menunjukkan bahwa rumah tangga mereka sekarang telah kembali seperti semula. Baik-baik saja dan masih saling mencintai. Tn. Alex menyambut hangat kedatangan Nico dan Reana. Ny. Cathrina bersikap biasa saja, sementara Angelica terlihat sangat kesal.


Terakhir saat Nico datang mengabarkan kalau dia terpilih kembali menjadi CEO di perusahaan, Nico bukannya bahagia tetapi terlihat menderita. Semua itu hanya diperlihatkannya di hadapan Angelica sementara di hadapan orang tuanya, Nico terlihat bahagia.


Melarikan diri dengan meminum minuman keras dengan alasan ingin merayakan kemenangannya. Nico justru semakin terlihat bersedih di mata Angelica. Menemani laki-laki yang sedang terluka itu, Angelica akhirnya mengetahui penyebab Nico bersedih.


Wanita itu tersenyum saat mendengar kalau Reana bersedia melayani nafsu seorang pemilik saham yang berpengaruh besar terhadap hasil pemilihan. Sejak datang hingga saat berbincang-bincang, Angelica selalu menatap tajam pada wanita yang selalu dirangkul Nico itu.


Seolah-olah ingin mencari cara untuk mengungkit kejadian malam itu. Nico yang frustasi hingga mabuk karena istrinya yang bersedia ditiduri laki-laki lain. Namun, tak sedikit pun Angelica mendapat celah untuk mengungkit masalah itu.


"Kalian menginap di sini ya? Besok hari libur, sekali-kali biarlah rumah ini terasa ramai kembali," pinta Alex Rayne.


Nico menoleh ke arah istrinya. Reana langsung mengangguk sambil tersenyum. Angelica muak  melihat Nico yang harus meminta pendapat pada istrinya. Sementara Tn. Alex Rayne bahagia karena permintaannya dikabulkan.


Mereka berbincang bahkan hingga malam. Tn. Alex Rayne tertawa saat mendengar cerita Nico dan tingkah karyawan di kantornya. Menjelang malam mereka beranjak ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Mereka beristirahat di ranjang sambil memeluk pasangan masing-masing. Berbeda dengan Angelica yang hingga tengah malam malah berjalan bolak-balik di kamarnya dengan hati kesal.


Keesokan paginya mereka bangun dengan hati riang. Seperti biasa Nico masih ingin bermanja-manja dengan istrinya di bawah selimut. Namun, terpaksa bangun saat pelayan membawa pesan dari balik pintu kalau pasangan suami istri itu ditunggu untuk sarapan pagi bersama.


Nico menatap cemberut ke arah istrinya. Reana tertawa dan meminta suaminya itu untuk bersiap-siap agar bisa sarapan pagi bersama. Dengan enggan Nico melangkah ke kamar mandi dan membersihkan diri sambil membayangkan aksi bercinta mereka tadi malam.


Begitu selesai bersiap-siap, mereka pun melangkah menuju ruang makan. Tn. Alex menyapa putra dan menantunya. Kali ini Reana tak peduli kalau Angelica menempati kursi yang biasa ditempatinya karena Reana merasa hanya bertamu di rumah itu. Wanita itu memilih duduk di samping Ny. Cathrina sementara Nico memilih duduk di samping istrinya.


Sebuah pemandangan yang tak seimbang. Ny. Cathrina dan suami istri itu duduk di sisi meja yang sama meninggalkan Angelica sendiri di sisi hadapannya. Sementara Tn. Alex tak pernah bergeser dari posisinya sebagai kepala keluarga.


Para pelayan mulai menghidangkan sarapan pagi itu. Sup jagung asparagus menjadi menu hari ini, Reana tersenyum pada bibi yang menaruh dihadapannya. Bibi itu pun balas tersenyum pada Reana seolah tahu Reana berterima kasih padanya karena menyuguhkan makanan kesukaannya.

__ADS_1


Aroma sup berbahan jagung dan ayam itu begitu menyeruak membuat Reana tak tahan dan merasa mual. Tak ada yang tahu tentang itu, Reana menoleh ke semua anggota keluarga,  semua menikmati seperti biasa. Reana merasa heran, aroma itu membuatnya eneg, sementara yang lain tak merasakan hal berbeda.


"Kenapa sayang?" tanya Nico melihat istrinya yang hanya memandangi mangkuk berisi sup kesukaannya itu.


Reana menggelengkan kepala sambil tersenyum. Wanita itu kembali mencoba untuk menyantapnya. Mengangkat sendok itu mendekat ke mulutnya membuat aroma itu semakin kuat. Reana segera meletakkan sendok itu dengan segera hingga menimbulkan bunyi. Sementara tangan kirinya menutup mulutnya.


"Kamu kenapa?" tanya Nico panik. Reana menggelengkan kepalanya juga tak mengerti.


"Nggak tahu Kak, perutku terasa mual," jawab Reana kembali menutup mulutnya yang serasa mau muntah.


"Bi tolong ambilkan air hangat Bi," teriak Nico.


Segera pelayan paruh baya itu membawakan air hangat untuk Reana. Nico bertanya apa ada yang salah dalam mengolah bahan makanan hari ini karena istrinya mual setelah memakan sup buatan Bibi itu. Sang pelayan itu menggelengkan kepalanya dengan heran.


"Nggak Kak, aku belum makan sup nya, sama sekali belum masuk ke dalam perutku," ucap Reana segera agar Nico tak menyalahkan pelayan itu.


"Nggak tahu Kak, setiap kali mencium aromanya, rasanya ingin …." ucap Reana terhenti.


Tak sanggup menyebutkan kata muntah. Mengucapkan kata itu otomatis membayangkannya membuat perut Reana semakin terasa dikocok. Tn. Rayne dan Ny. Cathrina menatap heran pada keduanya. Sementara Reana seperti sekuat tenaga menahan rasa mualnya.


"Ayo ke dokter," ajak Nico langsung.


"Tunggu Tuan," ucap pelayan itu langsung mengambil mangkuk berisi sup di hadapan Reana.


Bibi itu memintanya untuk minum air hangat itu. Ekspresi Reana terlihat lega. Bibi itu kembali mendekatkan sup itu ke hadapan Reana. Segera wanita itu kembali menutup mulutnya. Melihat itu Nico langsung memerintahkan untuk menyingkirkan sup itu dari hadapan Reana.


"Bawa ke belakang Bi, Reana tidak suka makanan itu. Bikinkan yang lain saja Bi," ucap Nico.

__ADS_1


"Nyonya bukannya nggak suka makanan ini Tuan. Ini masakan kesukaan Nyonya. Sepertinya Nyonya juga tidak perlu ke dokter, menurut saya dari tanda-tanda Nyonya Reana sedang hamil Tuan," jelas pelayan itu.


"Apa?" ucap semua yang ada situ tidak yakin.


"Ya Tuan, tadi saya coba jauhkan sup ini, Nyonya Reana tidak mual, saat saya dekatkan lagi, Nyonya langsung merasakan mual kerena itu, saya berpikiran Nyonya nggak tahan dengan aroma yang tajam, padahal biasanya Nyonya sangat suka makanan ini," ungkap pelayan itu sambil tersenyum.


"Benarkah sayang?" tanya Nico langsung menangkup wajah istrinya.


"Aku nggak tahu Kak," jawab Reana.


"Kalau begitu kita periksa ke dokter kandungan atau tes kehamilan sendiri dulu," ungkap Cathrina bersemangat.


"Nggak perlu Nyonya besar, ini sudah jelas hamil," ucap pelayan yang sudah sangat dipercaya keluarga itu.


"Aneh juga ya? Bertahun-tahun menikah tapi nggak pernah bisa hamil, tidur dengan laki-laki lain semalam saja, langsung ada hasil," ungkap Angelica.


"Apa? Apa maksudmu Angelica?" tanya Cathrina langsung dengan nada tinggi.


"Tanyakan pada Kak Nico. Kak Nico sendiri yang bilang kalau malam sebelum pengumuman pemilihan pimpinan perusahaan itu, dia itu menyerahkan dirinya pada pemegang saham agar mau mendukung Kak Nico–"


"Apa?" tanya Alex dan Cathrina.


"Cukup! Tutup mulutmu Angelica!" bentak Nico.


Tn. Alex Rayne dan Ny. Cathrina menatap ke arah Reana. Dengan air mata yang mengalir, Reana menggelengkan kepalanya. Baru saja keluarga itu merasakan kebahagiaan dengan harapan hadirnya keturunan mereka. Kini mereka dihadapkan pada kenyataan yang tak mampu mereka terima.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2