
Nico meminta Reana beristirahat di kamar atau beranda belakang. Sementara dia sendiri ingin menemui kedua orang tuanya di kamar mereka. Nico merasa semuanya harus diperjelas dan dipercepat. Laki-laki itu sudah cukup bersabar menanti saat-saat untuk segera menikahi Reana.
Nico ingat dulu pernah bercanda mengajak gadis itu menikah begitu dirinya lulus. Tapi, Reana hanya tersenyum. Meski terlihat bercanda tapi itu niat hati yang sesungguhnya. Nico ingin gadis itu terikat pernikahan dengannya. Tapi tak mungkin, Nico wisuda sementara Reana masih di semester lima. Mana mungkin gadis itu bersedia. Sejak itu Nico harus bersabar menunggu hingga gadis itu di wisuda.
Begitu mengenakan toga tak ada alasan lagi bagi Reana menolaknya. Nico telah menahan diri dan bersabar menunggu hingga dua tahun lamanya. Kini dua menit pun tak sanggup ditahannya lagi.
Nico mengetuk pintu kamar orang tuanya. Setelah dipersilahkan, laki-laki itu perlahan membuka pintu dan melangkah masuk. Terlihat ibunya yang berdiri menghadap kaca jendela besar yang menghadap ke taman itu, sementara Tn. Alex berdiri di belakangnya.
Nico merasa ayahnya pasti sedang membujuk ibunya. Laki-laki itu pun segera mendekati mereka.
"Mommy maaf atas kejadian tadi. Aku tahu Mommy sudah berkorban besar untuk menyetujui rencana pernikahan kami. Sementara kami seperti anak-anak tak tahu diri meminta lebih banyak pengertian lagi," ucap Nico memulai pembicaraan dengan ibu dan ayahnya.
Ny. Cathrina menoleh sekilas lalu kembali menatap pemandangan di luar jendela dengan wajah yang masih kesal.
"Mommy! Aku … aku tidak tahu dari mana memulainya tapi … aku ingin Mommy tahu, Reana sangat berarti bagiku. Tak ada yang bisa menggantikan posisinya di hatiku. Tak ada yang lebih berharga bagiku kecuali Reana–"
"Apa? Jadi kami tidak ada artinya bagimu?" tanya Cathrina langsung.
"Bukan seperti itu Mommy, maksudku selain kalian! Tak ada yang lebih berharga bagiku selain kalian dan Reana," ungkap Nico sambil tersenyum.
Ny. Cathrina kembali mengalihkan pandangannya. Sementara itu Tn. Alex Rayne tersenyum melihat rona kecemburuan dari istrinya. Sangat mudah menarik perhatian istrinya jika berhubungan dengan Nico. Putra mereka itu adalah segala-galanya bagi mereka. Sementara Nico menyatakan Reana lah yang paling berarti baginya, tentu saja membuat Ny. Cathrina gerah.
"Aku dan Reana telah melewati masa yang sulit untuk menguatkan cinta kami. Banyak rintangan dan cobaan untuk membuktikan cinta kami. Dan kami berhasil melewati semua itu. Tapi ada satu hal yang sangat berharga dari semua cobaan itu. Reana … tidak! Aku … tak akan ada di dunia ini, saat ini. Jika bukan karena Reana," ungkap Nico.
"Apa maksudmu?" tanya Cathrina heran dan langsung menatap lurus pada putranya.
__ADS_1
Nico menghembuskan napas berat, saat teringat kembali Reana dengan gaun pengantinnya menahan terjangan peluru dari Tn. Malvin yang mengarah padanya. Melihat Reana yang bersimbah darah demi melindunginya, Nico justru berharap dirinyalah yang berada dalam posisi itu.
Sakit yang dirasakan Reana tak lebih sakit dari hatinya yang tak kuat melihat keputusan gadis itu untuk menyelamatkannya. Nico berharap dia yang mati daripada dia harus kehilangan gadis yang dicintainya itu. Semua pengorbanan Reana tak akan pernah dilupakannya.
"Kamu yakin, cintamu itu bukan karena ingin membalas budi padanya?" tanya Alex Rayne.
"Aku mencintainya jauh sebelum kejadian itu, Daddy. Peristiwa itu hanya untuk lebih membuktikan bahwa kami rela mati demi orang yang kami cintai. Mommy … Daddy mungkin tak memiliki putra lagi jika saat itu Reana tak mendorongku dan melindungiku dengan tubuhnya," ungkap Nico sambil tersenyum menunduk.
"Kalau kami halangi kalian, apa yang akan kamu lakukan. Mengingat pengorbanan Reana padamu?" tanya Alex Rayne penasaran.
"Aku akan tetap menikahinya meski tak mendapat restu dari Mommy dan Daddy. Seperti yang sudah aku katakan tadi. Aku … mungkin sudah tak ada lagi. Aku tak akan sanggup mengecewakannya," ucap Nico.
Tn. Alex Rayne dan Ny. Cathrina terdiam. Mengingat cerita Nico tadi, diri mereka pun belum tentu sanggup melakukan hal seperti yang Reana lakukan.
"Saksi hidupnya banyak Mommy bahkan Tuan Malvin masih di penjara saat ini. Aku … tidak bisa menunda untuk mengesahkan Reana menjadi istriku. Bayangan Tuan Malvin yang saat ini masih ingin merebut Reana, membuatku tak bisa tidur dengan nyenyak," ungkap Nico.
Ny. Cathrina tertunduk, sementara Tn. Alex Rayne langsung menghampiri putranya. Setelah mendengar penuturan putranya. Mendengar kisah cinta mereka sejak awal bertemu hingga detik ini. Tuan yang bijaksana itu tak tega melihat Nico masih risau dengan status kebersamaan mereka.
Tn. Alex Rayne sendiri merasa sangat menyayangkan jika Nico akhirnya tak bisa memiliki Reana. Laki-laki setengah abad lebih itu menepuk bahu putranya. Setelah berpikir cukup keras, menimbang perasaan putra satu-satunya itu. Tn. Alex Rayne tiba pada satu kesimpulan.
"Kamu harus tetap menjadi CEO di perusahaan Daddy–"
"Tapi Dad?"
Ny. Cathrina mengangkat sebelah alisnya merasa heran dengan ucapan suaminya. Tingkah Tn. Alex Rayne yang seperti mendukung Nico tak sejalan dengan keputusannya. Tn. Alex Rayne masih memaksakan Nico mengambil alih perusahaannya.
__ADS_1
Sementara Nico tak bisa meninggalkan Reana yang juga tak bisa meninggalkan ibunya. Ny. Cathrina menatap suaminya dengan berkacak pinggang menuntut penjelasan dari suaminya.
"Jangan sia-siakan Reana! Jangan menuntut pengorbanan lebih banyak lagi darinya!" ucap Alex Rayne.
"Maksud Daddy? Nico harus merelakan Reana?" tanya Cathrina.
Nico heran dengan menatap kedua orang tuanya. Tn. Alex Rayne yang sejak awal seperti mendukungnya bersama Reana, justru kini memaksakan kehendaknya menerima posisi CEO di perusahaannya dan meminta Nico tak menuntut pengorbanan lagi pada Reana.
Sementara Ny. Cathrina yang tak menyetujui hubungannya dengan Reana justru seperti kesal karena suaminya yang memaksa Nico menerima perusahaannya.
"Daddy bilang, jangan sia-siakan Reana. Jangan sampai keputusan kita membuat anak itu mundur. Kamu tetap menjadi CEO di perusahaan Daddy. Kita tak boleh melepaskan Reana, jika dia tak bisa menghampiri kita, maka kita yang akan menghampirinya," ujar Alex Rayne.
"Maksud Daddy?" tanya Nico masih tak mengerti.
"Kita pindahkan kantor pusat perusahaan kita ke Indonesia. Kamu tetap menjadi CEO di sana dan Reana tak perlu meninggalkan mamanya," ucap Alex Rayne akhirnya.
"Benarkah Daddy?" tanya Nico tak percaya.
Tn. Alex Rayne mengangguk, Ny. Cathrina menggelengkan kepalanya, meski begitu dia tersenyum. Nico langsung memeluk keduanya bergantian. Berterima kasih atas keputusan orang tuanya yang berkorban begitu besar dan mengalah demi mewujudkan pernikahannya dengan Reana.
"Kamu putra kami satu-satunya, kebahagiaan kamu adalah prioritas kami," ucap Alex Rayne.
Nico tersenyum haru bahkan hingga menitikkan air mata. Tak menyangka orang tuanya bersedia mengalah demi seorang gadis yang berasal dari kalangan bawah.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1