
Para Reader yang Othor sayangi, kita masuk ke Season 2 dari buku Aku, Apa Adanya. Terima kasih.
...~ ☘️☘️☘️🌹🌹🌹🌹🌹☘️☘️☘️ ~...
Reana berjalan berbaris dengan para wisudawan dan wisudawati untuk mengambil foto bersama. Melirik pada Alika yang tersenyum padanya di baris belakang samping kanannya. Mereka terlihat begitu cantik dengan riasan dengan sanggulnya lengkap dengan seragam toga yang menjadi bagian yang paling wajib dikenakan saat wisuda.
Seluruh wisudawan dan wisudawati terlihat sama dengan jubah berwarna hitam yang menutupi tubuh mereka hingga sebatas lutut itu. Seluruhnya mengenakan sleber atau yang dikenal dengan kerah wisuda. Melingkar di dada di baju toga para wisuda. Samir atau kalung wisuda yang terbuat dari bahan bludru pun telah melingkar memanjang untuk menggantungkan medali wisuda mereka. Dan yang paling penting adalah topi wisuda. Penutup kepala dengan tepi atas berbentuk segi lima dengan seutas tali dengan ujung rumbai yang menjulur .
Acara wisuda adalah momen yang paling di tunggu-tunggu oleh mahasiswa tingkat akhir karena memerlukan perjuangan yang tak mudah untuk mencapai tahap ini. Begitu juga dengan Reana dan sahabatnya Alika. Setelah menjalani masa perkuliahan bertahun-tahun, acara wisuda menjadi proses akhir kegiatan akademik di perguruan tinggi mereka. Sebuah momen yang menjadi pengukuhan gelar berakhirnya masa-masa mereka menjadi seorang mahasiswa.
Bu Ridha Lia tersenyum, menatap dari deretan bangku yang disediakan untuk para orang tua. Setitik bening bertengger di sudut matanya. Ibu itu pun segera menunduk untuk menghapus air mata itu. Lagi-lagi Reana menoleh ke arah Alika membuat tali rumbai yang menjulur itu bergerak melambai-lambai.
Alika tersenyum menatap ke arahnya. Reana telah berdiri di posisinya menunggu barisan lain di depan tersusun hingga lengkap sesuai dengan jumlahnya. Tiba-tiba gadis itu merasakan saku rok batiknya bergetar. Segera gadis itu mengangkat seragam toga-nya, merogoh-rogoh untuk meraih ponsel di saku samping kanannya itu. Alika tertawa tertahan melihat tingkah Reana.
"Kenapa?" bisik Alika dari samping belakang.
Reana hanya menggeleng dan segera meraih ponselnya. Menunduk untuk melihat notifikasi dari pesan. Mulutnya ternganga hanya dengan melihat notifikasi itu.
"Apa?" bisik Alika penasaran.
"BERSIAP!" Belum sempat gadis itu memberi tahu, fotografer wisuda meminta semua wisudawan untuk bersiap.
Reana pun kembali menghadap ke depan, Alika tersenyum melihat gadis yang sekarang lebih periang itu. Setelah tersenyum menatap ke arah kamera fotografer, gadis itu segera melirik kembali ke layar ponselnya.
Reana terkejut saat melihat tampilan foto yang baru saja diterimanya. Reana segera menunjukkannya pada Alika. Sahabat Reana itu kaget hingga ternganga. Terlihat di sana Nico dengan latar belakang labirin di taman belakang kampus mereka.
"SEKALI LAGI." Terdengar kembali fotografer memberi instruksi.
Semua kembali menatap lurus ke depan. Dengan senyum yang mengembang di bibir Reana, gadis itu bertahan menatap lurus ke kamera. Begitu fotografer menyatakan "OK" Reana kembali menoleh pada Alika. Gadis itu tak dapat menahan rasa bahagia mengingat laki-laki yang dicintainya telah berada di taman belakang kampus mereka.
Nico, begitu tamat kuliah di minta untuk melanjutkan pendidikannya sambil bekerja di perusahaan ayahnya di New York. Membuat kedua sejoli itu harus berpisah sementara.
__ADS_1
Dua tahun berpisah tanpa bertemu sama sekali karena telepon suara atau video call tak mereka lakukan. Semua itu demi permintaan Reana yang ingin konsentrasi menyelesaikan kuliahnya. Sehari di New York, laki-laki itu langsung menelpon Reana. Alhasil Reana seharian hanya termenung tak bisa melakukan apa pun, kuliah atau bekerja tak bisa dilakukannya dengan konsentrasi.
Akhirnya Reana memutuskan untuk tak berhubungan dengan Nico hingga dirinya berhasil menamatkan kuliahnya. Nico tentu saja tak setuju, begitu menginjakkan kaki di New York laki-laki itu langsung merindukan gadis yang dicintainya itu.
Nico, tak ingin membantah tapi juga tak setuju. Diam-diam saat libur kuliah laki-laki itu pulang hanya untuk menatap gadis yang dicintainya itu dari jauh. Itu yang bisa dilakukannya dan itu sudah cukup. Menatap dari jauh wajahnya yang cantik dan senyumnya yang tak lagi disembunyikan. Itu sudah cukup bagi Nico, membuatnya bisa bertahan tak menemui gadis itu.
"Permisi … maaf, permisi … maaf … maaf," ucap Reana yang tak sabar menunggu barisan depan berjalan kembali ke bangku masing-masing.
Gadis itu nekat, berjalan sendiri di antara wisudawan yang masih berbaris diam di panggung bertangga itu. Reana tak mengikuti barisannya namun berlari sendiri meninggalkan barisannya. Alika dan teman-teman sekelasnya tertawa saat melihat gadis itu berlari sambil mengangkat sedikit rok batiknya dengan sebelah tangan lainnya memegang tabung wisuda beludru berwarna merah maroon yang berisi ijazah dan transkrip nilainya.
Bu Ridha Lia, hingga menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putri satu-satunya itu. Namun hanya bisa diam menatap tak bisa berbuat apa-apa.
Reana berlari ke arah taman belakang kampus. Tepat di pintu masuk labirin, terlihat Nico yang sedang memandang ke arah lain. Langkah kakinya terhenti, gadis itu mengatur napasnya yang terengah-engah dengan mata yang berkaca-kaca.
Nico membalik badannya dan langsung tersenyum saat melihat Reana. Gadis itu langsung berlari ke arah laki-laki yang sangat dirindukannya itu. Melempar topi dan tabung wisudanya begitu saja. Reana menghambur ke dalam pelukan Nico. Laki-laki menyambut dan memeluknya erat.
Mereka saling bertukar kehangatan, Nico bahkan menghirup pangkal leher Reana dengan sangat dalam dan lama. Reana merenggangkan pelukannya untuk menatap wajah laki-laki tampan di hadapannya itu. Tak terkira betapa rindunya menatap manisnya senyum laki-laki yang pernah jadi idola di kampus itu.
Reana bahkan mempererat pelukannya dan menyusup lidahnya. Nico tersenyum di sela-sela aksinya membalas ciuman yang semakin membuat napas mereka tersengal-sengal. Nico mendorong tubuh Reana pelan karena tak bisa lagi bernapas. Reana termangu, senyumnya langsung menghilang. Dorongan pelan di tubuhnya terasa seperti sebuah penolakan baginya.
Kak Nico? Kenapa? Apa tidak menginginkan aku lagi? Dua tahun tidak bertemu, apa tidak menginginkan aku lagi? Apa Kakak telah menemukan gadis lain? Oh ya ampun, apa mungkin Kak Nico datang untuk memutuskan hubungan denganku? Batin Reana dengan mata yang berkaca-kaca.
"Reana! Kamu mau ke mana?" tanya Nico sambil tertawa kecil.
Melihat gadis itu yang terus saja bergerak mundur. Ditambah ekspresi Reana yang berubah 180°, begitu sedih dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Nico melangkah meraih tangan gadis itu dan menariknya mendekat.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Nico dengan tatapan yang lembut.
"Aku pikir Kakak tidak menginginkan aku lagi," ucap Reana dengan suara serak.
"Aku jauh-jauh datang ke sini langsung menemuimu, untuk apa?" tanya Nico.
__ADS_1
"Untuk memutuskan hubungan denganku?" tanya Reana.
"Ya betul! Aku ingin putus denganmu. Aku memang tidak mau jadi pacarmu lagi," ucap Nico menatap dalam ke wajah Reana.
"APA?"
Meski tadi berpikiran seperti itu tapi Reana tak menyangka kalau Nico mengucapkannya dengan begitu mudah.
"Tapi sebelumnya, aku butuh bantuanmu dulu. Aku membeli sesuatu dan aku memakainya setiap hari. Tapi sejak itu semua orang di sekitar selalu tertawa melihatku. Mereka bilang itu sangat tidak cocok untukku. Maukah kamu memakainya untukku?" tanya Nico.
"Apa?" tanya Reana bingung.
Nico mengangkat jari kelingkingnya ke hadapan Reana. Terlihat sebuah cincin berlian terselip di sana. Reana menatap cincin itu lalu beralih menatap Nico.
"Aku tak mau kamu jadi pacarku lagi, aku mau kamu jadi istriku," ucap Nico memperjelas niatnya.
Reana menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Mau 'kan, sayang?" tanya Nico.
Reana segera mengangguk, Nico langsung melepas cincin itu dan menyelipkan di jari manis Reana. Nico mengecup punggung tangan gadis yang dicintainya itu lalu merentangkan tangannya.
Reana kembali menghambur ke dalam pelukan Nico. Kali ini, laki-laki itu yang berinisiatif membenamkan bibirnya ke bibir gadis cantik itu. Reana membalas ciuman itu dengan hati yang berbunga-bunga.
"Ya ampun! Apa yang kalian lakukan ini?" Terdengar suara dari arah samping mereka. Nico segera melepas pelukannya dan menoleh ke arah suara, begitu juga dengan Reana.
"Mama." Terlihat Bu Ridha Lia berdiri menatap tajam ke arah mereka. Diantar oleh Alika yang berdiri dengan wajah yang terperangah di belakang Bu Ridha Lia.
Reana dan Nico saling berpandangan, lalu beralih menatap Ibunda Reana yang berdiri berkacak pinggang dengan raut wajah yang marah.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1