Aku, Apa Adanya

Aku, Apa Adanya
BAB 91 S2 ~ Pulang ~


__ADS_3

Reana meminta kesediaan Nico mengantarnya pulang ke rumah kost-nya. Meski Nico merasa heran tetapi akhirnya laki-laki itu mengantarnya hingga ke depan pagar rumah kost Reana. Laki-laki tak berani memaksakan kehendak melarang Reana pulang.


Meski masih merindukan istrinya tetapi Nico tak mau memaksakan kehendaknya pada gadis yang masih terlihat terguncang itu. Nico ingin Reana berada di tempat yang membuatnya nyaman. Sementara Reana menilai sikap Nico tak lagi ingin mempertahankannya. Reana mengira Nico bahagia jika Reana memilih kembali ke rumah kost-nya.


Reana tertunduk di depan pagar rumah kost itu. Tangannya sudah siap untuk mendorong pagar rumah kost-nya itu tetapi Reana tak kunjung melakukannya. Nico diam menunggu gadis itu masuk ke dalam pagar itu.


Tiba-tiba Reana membalik badan menatap suaminya dengan air mata yang mengalir deras. Reana berlari menghampiri suaminya. Memeluknya lalu mengecup pipi laki-laki yang dicintainya itu.


"Selamat tinggal Kak Nico," ucap Reana pelan.


"Apa?" Nico bingung, tak tahu apa maksud ucapan gadis itu.


Nico tak mendapatkan jawabannya karena Reana telah berlari masuk ke dalam pagar rumah dan kembali menutupnya. Bersandar di pagar itu lalu menangis terisak-isak. Reana merasa Nico benar-benar tak menginginkannya lagi. Sedikit pun Nica tak ingin menahannya di apartemen. Begitu Reana meminta diantar kembali ke rumah kost-nya, Nico tak menentang sama sekali.


Kak Nico tak ingin bersamaku lagi. Dia tak keberatan sedikit aku pergi, dia tak menahanku sama sekali, apa yang harus aku lakukan? Tak mungkin aku bertahan di sisinya, sementara di hatinya aku telah tersingkir. Baiklah Kak Nico, kita berpisah saja, aku tak ingin membuat hidupmu sulit. Semoga kehidupan Kakak bahagia, jerit hati Reana yang masih tersandar di pagar rumah kost-nya.


Pulang kembali ke rumah kost dengan mengenakan gaun pengantin yang compang camping. Masuk ke dalam rumah kost dalam keadaan menyedihkan dan selalu menangis. Membuat geger seluruh penghuni kost yang tak menyangka Reana mendadak pulang setelah menghilang tak tentu rimba.


Reana tidur di temani Cut Anisah. Senior bagi para penghuni kost rumah itu. Setelah menangis tanpa mau menjelaskan apa penyebab kesedihannya. Reana akhirnya tertidur setelah Cut Anisah menyisir helain rambut Reana dengan jari-jarinya.


Sesekali terdengar sisa isak tangisnya yang membuat tubuh gadis itu berguncang meski dalam keadaan telah tertidur. Cut Anisah dan penghuni kost lainnya bertanya-tanya apa yang terjadi pada diri Reana. Setelah menghilang karena diculik dan pulang dalam keadaan compang camping, wajah lebam sambil menangis. 


"Besok kita panggil Kak Nico. Kita kasih tahu kalau Kak Reana sudah pulang," ucap seorang penghuni kost.


"Kalau sekarang bagaimana?" tanya gadis yang lain.


"Jangan! Kasihan Kak Reana sudah tidur," ucap yang lain.


"Besok Kak Nico pasti senang, mengetahui istrinya sudah pulang," ucap yang lain.

__ADS_1


"Tapi apa yang terjadi ya? Lihat penampilannya Kak Reana yang seperti itu, apalagi pulang dalam keadaan menangis. Apa mungkin Kak Reana mengalami … pelecehan seksual?" tanya yang lain.


Semua mata langsung tertuju pada mahasiswi itu. Meski dari tadi mereka berpikiran seperti itu juga tetapi begitu ada yang menanyakan, mereka langsung merasa ngeri karena ternyata semua bisa berpikiran sama. Tadinya hanya berani menyimpulkan sendiri di dalam hati, tetapi begitu ada yang menyampaikan, semua merasa berpikiran sama.


Setelah itu merasa ngeri sendiri lalu merasa kasihan pada Reana. Obrolan tentang Tn. Malvin yang memperkosa Reana akhirnya disimpulkan sendiri oleh mereka karena semua rata-rata berpikiran sama. Obrolan itu pun sampai ke telinga Nico. Saat ingin menjenguk Reana, Nico mendengar para mahasiswi rumah kost itu sedang membicarakan tentang pemerkosaan yang dilakukan Tn. Malvin terhadap Reana.


Ternyata memang benar, Reana telah diperkosa Tn. Malvin. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku tak mungkin meninggalkannya karena itu, tapi bagaimana kami bisa melewati semua ini. Apa karena itu kah Reana meminta kembali ke rumah kost-nya? Dia tak ingin lagi tinggal di rumahku? Itukah maksudnya malam itu? Dia mengucapkan selamat tinggal padaku, apa dia ingin berpisah dariku? Tidak Reana! Jangan lakukan itu, aku mohon! Aku mungkin sulit menerima kenyataan kamu telah dinodai Tn. Malvin tapi tolong jangan menjauh dariku. Jangan tinggalkan aku, aku mohon Reana, jangan tinggalkan aku, batin Nico sambil menelungkupkan wajahnya di atas setir mobil. 


Sekian lama berpikir apa yang harus dilakukannya hingga akhirnya seseorang mengetuk kaca jendela mobilnya. Sontak Nico menoleh lalu membuka kaca jendela itu. Meski rasanya belum siap tapi saat seseorang bertanya padanya, mau tak mau Nico harus menjawab.


"Kak Nico kenapa di sini? Kenapa nggak masuk?" tanya seorang mahasiswi yang mengenali mobil Nico.


"Kak Nico tahu dari mana kalau Kak Reana sudah pulang?" tanya mahasiswi lainnya.


Mahasiswi lainnya langsung mengatakan kalau Nico pasti sering datang ke tempat itu hingga mendengar kabar tentang kepulangan Reana. Mahasiswi lain menanyakan kenapa Nico untuk langsung masuk ke dalam untuk mencari tahu tentang Reana.


Nico mengira maksud mereka ada malam di saat Reana minta diantar pulang. Padahal saat itu telah malam. Reana minta diantar pulang meski belum sempat makan malam. 


"Ya, kami pikir Kak Reana telah mati, terus arwahnya menangis di depan rumah–"


"Hush, apa sih lho, nggak penting amat," ucap mahasiswi lainnya.


"Hii, nggak penting? Tapi lho yang paling ketakutan waktu ngintip di balik jendela. Ngeliat Kak Reana nangis sendiri tengah malam, pake baju putih–"


"Iish, iya iya tapi itu nggak penting diceritain ke Kak Nico," ucap mahasiswi itu.


"Eh iya Kak Nico, ayo masuk. Tengokin Kak Reana," ajak mahasiswi itu.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Nico akhirnya.

__ADS_1


"Oh itu … kasihan sekali Kak, sehari-hari Kak Reana cuma termenung. Nggak makan kalau nggak dipaksa makan. Kami juga nggak berani memberitahu kedatangannya pada Kak Nico karena Kak Reana sendiri me … larang," jelas mahasiswi itu.


Tentu saja melarang, karena itulah alasannya dia kembali ke rumah kost ini. Karena tak ingin lagi bertemu denganku, batin Nico akhirnya tertunduk.


"Kak ayo masuk! Barangkali jika ketemu Kak Nico, hati Kak Reana jadi senang. Kak Reana bisa pulih lagi," ucap mahasiswi lainnya.


"Ya Kak, tengoklah istri Kakak. Kasihan sekali. Kami jadi risau melihatnya," ucap yang lain.


Mahasiswi itu langsung menyenggol mahasiswi yang baru bicara itu. Ucapannya seolah-olah kembalinya Reana ke rumah kost itu membuat keadaan rumah kost menjadi tak nyaman. Mahasiswi lain langsung memberi pengertian kalau mereka hanya kasihan melihat Reana yang menjadi penyendiri.


Ya, bagaimanapun juga Reana harus kembali bersamaku. Reana adalah istriku. Jika dia sakit, dia tak harus merepotkan orang lain, batin Nico.


"Boleh aku menemuinya?" tanya Nico.


"Ayo Kak, tentu saja boleh. Kayaknya langsung temui ke kamar juga nggak apa-apa ya? Kan Kak Nico udah resmi jadi suami Kak Reana," ucap mahasiswi lain.


Mahasiswi temannya mengangguk. Mereka pun mengantar Nico ke kamar Reana. Setelah itu melaporkan pada ibu kost kalau mereka  mengizinkan Nico masuk ke kamar Reana. Ibu kost yang juga merisaukan keadaan Reana,  juga mengizinkan suami Reana itu untuk menjenguk langsung ke kamarnya.


"Itu kan, boleh. Kalau Kak Reana yang disuruh keluar mungkin malah nggak mau," ucap mahasiswi berhati polos itu.


"Iya, iya, tentu saja boleh masuk. Mereka' kan sudah menikah," jawab mahasiswi lain.


Akhirnya Nico diminta untuk menemui Reana secara langsung. Saat diketuk pintu kamar, Reana sama sekali tak menyahut. Begitulah mereka setiap hari mengunjungi Reana. 


Cut Anisah yang memerintah mereka yang tak ada jadwal kuliah untuk memperhatikan makan siang Reana. Saat sarapan dan makan malam Cut Anisah yang turun tangan langsung mengurusi gadis yang masih termenung itu.


Saat masuk ke kamar itu, Nico langsung meneteskan air mata saat melihat istrinya yang hanya diam menatap kosong keluar jendela. Tak ada yang lebih membuat Reana terguncang selain merasa tak diinginkan oleh suaminya sendiri. Hampir sebulan di penjara dalam kekangan Tn. Malvin tak membuat Reana putus asa. Namun tak sampai hitungan jam di apartemen Nico, Reana merasakan kesedihan yang membuatnya seperti tak ingin hidup lagi.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2