
Sepanjang jalan angkutan umum itu Reana berpikir-pikir siapa laki-laki yang menyapanya tadi. Wanita itu sama sekali tak bisa mengingat-ingat pernah kenal di mana. Tanpa sengaja saat melintasi sebuah rumah sakit daerah Reana terkejut.
Matanya terbelalak karena kembali melihat laki-laki yang baru bicara dengannya tadi. Yose turun dari sebuah mobil dengan mengenakan jubah putih yang menjadi ciri khas seorang dokter. Reana termenung sendiri, mengingat-ingat siapa laki-laki yang sok akrab dengannya tadi.
Seorang dokter, berarti jurusan IPA, siapa ya? Batin Reana bertanya-tanya.
Mengingat-ingat kakak kelas jurusan IPA. Wanita itu langsung menggelengkan kepalanya. Sejak SMP gadis itu tak bergaul karena sibuk membantu ibunya mencari nafkah. Apalagi saat bersekolah di SMA itu. Begitu sampai di sekolah Reana langsung membantu ibunya berjualan.
Kapan aku kenal kakak kelas jurusan IPA? tanya Reana dalam hati.
Laki-laki itu bahkan mengetahui namanya. Reana sibuk memikirkan di mana mengenal dokter tampan itu. Pusing memikirkan itu Reana menoleh ke luar jendela kaca angkutan umum itu. Menatap rumah di pinggir jalan.
Rumah-rumah di desa itu jarang memiliki pagar tinggi hingga dapat langsung melihat halaman-halamannya yang rata-rata luas ditumbuhi oleh pohon-pohon buah dan bunga-bunga yang indah.
Reana merasa pemilik rumah itu telah berbuat baik karena membiarkan hati orang-orang yang melihat taman indah itu menjadi sejuk. Bunga warna-warni yang ditanam langsung di tanah atau di dalam pot. Pot plastik atau pun pot dari tanah liat.
Reana teringat satu kejadian yang berkesan tentang bunga dalam pot tanah liat itu. Saat itu Reana mendapat tugas menanam pohon dari biji. Gadis itu memilih pot berbahan tanah liat karena awet. Kebetulan ada penjual pot tanah liat di sekitar rumahnya.
Setiap hari menyiram pohon mangga yang masih baru tumbuh itu. Daunnya masih kecil dan berwarna merah bening. Melihat tanaman itu telah tumbuh hati Reana sangat senang dan bersiap-siap untuk menyerahkannya pada guru mata pelajaran IPA.
Saat itu Reana sudah siap berangkat bersama ibunya sambil membawa barang bawaan ibunya dan juga pot berisi pohon mangga yang baru tumbuh. Namun, saat di dekat terminal, sepatu sekolahnya yang telah butut tiba-tiba koyak menganga.
Bu Ridha sedih melihat putrinya yang harus mengenakan sepatu itu hingga bentuknya tak jelas lagi seperti apa. Berkali-kali ibu itu memintanya membeli sepatu sekolah yang baru. Meski hanya bisa memberikan uang yang hanya cukup untuk membeli sepatu murahan. Namun, Reana selalu menolak.
"Masih bisa dipakai Ma, kita manfaatkan sampai titik darah penghabisan," ucapnya saat menolak untuk membeli sepatu sekolah baru.
__ADS_1
"Apa nggak malu selalu pakai sepatu butut itu setiap hari?" tanya Ridha Lia.
"Sepatu ini bilang sama Reana kalau dia bangga bisa bermanfaat semaksimal mungkin mengantar Reana ke sekolah hingga tetes darah penghabisan," ucap Reana.
Membuat Bu Ridha Lia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kini sepatu itu seperti telah meminta ampun. Tak sanggup lagi digunakan. Namun, Reana tak ingin membuang uang lebih banyak pada ibunya.
"Ma, Reana ke pasar dulu ya mau jahit sepatu. Udah koyak," ucap Reana.
Bu Ridha kaget, akhirnya sampai juga detik-detik Reana memanfaatkan sepatu itu. Namun, Reana justru ingin menjahit sepatu itu. Bu Ridha Lia pasrah dengan tekad putrinya. Berangkat lebih dulu ke sekolah sementara Reana mencari tukang sol sepatu.
Hasilnya, Reana telat ke sekolah. Dengan berlari sekencang-kencangnya karena telat, gadis itu menenteng pot bunga berisi pohon mangga yang masih baru tumbuh itu. Tiba-tiba Reana terjatuh. Pot bunga itu pecah, isinya berantakan.
Gadis itu menatap pohon yang baru tumbuh itu dengan mata yang berkaca-kaca. Pohon yang masih rapuh itu pun ikut patah. Gadis itu merasa menyesal, hari itu telah dua kali terkena sial. Pertama sepatu yang koyak menganga. Kedua tugas IPA nya yang hancur berantakan.
"Ayo ikut," ucap seorang anak laki-laki yang langsung menarik tangan Reana.
Gadis itu tercengang karena seorang tak dikenalnya tiba-tiba menarik tangannya berlari. Ke suatu tempat, lebih herannya lagi. Laki-laki itu mengambil nama Reana yang tertulis di atas kertas di dalam pot bunga yang hancur itu.
Mau apa orang ini, batin Reana.
Melihat label namanya dalam genggaman anak cowok itu. Ternyata anak laki-laki tampan itu mengajaknya ke laboratorium IPA. Reana terkejut tapi hanya bisa mengikuti. Laki-laki itu menatap deretan tanaman yang ditaruh di lantai laboratorium. Tiba-tiba dia tersenyum dan mengambil sebuah tanaman dalam pot. Merobek label namanya lalu mengganti dengan label nama Reana.
"Reana Putri," ucapnya membaca label nama Reana lalu menyerahkan pot berisi pohon itu ke hadapan Reana.
"Ambillah," ucap cowok ganteng itu.
__ADS_1
"Tapi?"
"Ini sudah dinilai, sudah diserahkan tiga hari yang lalu," jelasnya yang langsung memaksa Reana menerima pot bunga itu.
Cowok ganteng itu memaksa Reana menerimanya dan menyuruh gadis itu segera masuk kelas. Reana keluar dari ruang laboratorium itu. Sebelum menghilang di balik pintu, Reana kembali ke menoleh ke arah laki-laki tampan itu.
Reana bahkan tak tahu siapa namanya. Tak sempat melihat name tag-nya. Tak tahu kelas berapa. Gadis itu hanya menatap sendu dengan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya pada cowok tampan itu meski hanya diucapkannya dalam hati. Laki-laki itu tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Aaah, ternyata dia?" tanya Reana pada dirinya sendiri.
"Siapa?" tanya Ridha Lia.
Reana hanya tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Reana sudah ingat sekarang siapa laki-laki yang menemani langkahnya tadi. Reana tersenyum-senyum mengingat saat-saat masih di sekolah dulu.
Sayang sekali, sejak saat itu dia tak pernah terlihat lagi. Bukan, bukan itu, aku yang kembali pada kesibukanku. Tak lagi sempat mengingat kenangan itu. Apalagi mencarinya, mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Oh, jahat sekali aku, bahkan tadi bertemu pun tetap tak sempat mengucapkan terima kasih. Maafkan aku Kak Yose, batin Reana.
Wanita itu melanjutkan aktivitasnya membantu ibunya berjualan di kantin sekolah. Kadang-kadang teringat lagi kenangan-kenangan saat masih sekolah di SMA itu. Reana tak mengingat banyak kenangan selain menjadi anak yang tak bergaul.
Penyendiri dan sibuk dengan urusan mencari nafkah. Baginya waktu, gunanya hanya untuk mencari uang. Tak ada waktu untuk bermain-main apalagi hanya untuk mengikuti dan membicarakan gerak-gerik para idola. Semua itu berlangsung hingga akhirnya menempuh jenjang kuliah.
Saat waktunya pulang, Reana kembali menempuh jalan yang sama. Kembali wanita itu menoleh ke arah rumah sakit daerah yang dilewati jalur angkutan umum itu. Namun, tak mobil Yose tak terlihat lagi. Wanita itu tadinya berpikir mungkin suatu saat bisa menemui laki-laki itu khusus untuk mengucapkan terima kasih atas bantuannya saat itu.
Saat melangkah pulang ke rumah dari terminal itu, Reana tertegun. Laki-laki yang seharian tadi melintas-lintas dipikirkannya kini ada di depan mata. Laki-laki itu tengah berdiri bersandar di mobilnya sambil memainkan kerikil di ujung sepatunya.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1